
Setelah berpamitan kepada Natalie, Zanna pun pergi meninggalkan kediaman William.
Di perjalanan, ia menghubungi Felix. Apakah semuanya sudah siap atau belum.
"Hallo bos," jawab Felix di panggilan.
"Apakah semuanya sudah siap?" tanya Zanna sambil melihat ke arah jendela mobil yang di tumpangi nya.
"Semuanya sudah siap Bos. Tinggal menunggu kedatangan anda."
"Baiklah, aku akan segera sampai."
"Baik, kami akan menunggu anda," jawab Felix dan panggilan pun di matikan.
.
.
Zanna menatap jalanan yang kini mulai ramai. Beberapa kali ia menghela napas mengingat balas dendamnya. Ia berpikir, setelah semuanya selesai, ia ingin hidup damai tanpa adanya pertumpahan darah. Dan untuk kelompok nya nanti, ia akan menyerahkan semuanya kepada Felix, orang kepercayaan nya.
Cukup lama di perjalan, Zanna pun turun di tengah jalan. Ia meminta supir taksi itu menurunkannya, karena ia tidak ingin tahu orang luar mengetahui tempat markasnya, selain anggotanya.
"Saya berhenti disini saja pak," pinta Zanna
"Baik Nona," jawab supir memberhentikan mobilnya.
Supir pun membuka pintu, mempersilahkan Zanna turun dari taksi nya. "Silahkan nona," Zanna mengangguk dan turun, setelah itu memberikan uang kepada supir sebagai ongkos taksinya.
Setelah menurunkan Zanna di pinggir jalan, supir itu pun pergi meninggalkan Zanna seorang diri.
Zanna mengambil ponsel nya dan menghubungi Felix.
"Jemput aku di jalan____" Zanna menyebutkan di mana ia sekarang.
"Baik nona," jawab Felix dan langsung bergegas menuju dimana Zanna berada.
Cukup lama Zanna menunggu, Felix pun sampai dengan motor besarnya. Dan tanpa menunggu lama, Zanna langsung naik, setelah itu mereka pergi menuju markas.
Sedangkan tak jauh dari sana, anak buah Tom sedang mengikuti mereka berdua. "Kemana tujuan nona muda ini?" gumamnya mengikuti dengan mobil hitamnya.
Cukup lama mengikuti, keningnya mengkerut saat melihat Zanna dan Felix masuk kesebuah jalan yang jarang di lewati. "Mau kemana sebenarnya nona ini? Kenapa lewat jalan yang tidak pernah di pakai," batinnya masih bingung, namun tetap mengikuti.
Dan sampailah ia mengikuti Zanna dan Felix ke sebuah bangunan besar namun tidak terawat.
"Tempat apa ini?" tanya nya pada diri sendiri dan turun dari mobil mengikuti mereka berdua dengan mengendap-endap.
Zanna yang sudah masuk bersama Felix ke bangunan itu, kini Zanna duduk di kursi dengan Felix dan Glen yang berdiri di depan mereka.
"Apakah semua sudah siap Glen?" tanya Zanna menopang kepalanya.
"Sudah bos. Semua nya sudah siap untuk penyerangan," jawab Glen.
"Bagus, nanti kita akan mulai langsung. Tapi untuk saat ini kita akan bermain dengan tikus yang sedari tadi mengikuti ku," ucap Zanna menyeringai membuat Glen dan Felox bingung.
"Tikus?" gumam mereka bingung.
Anak buah Tom yang mendengar gelagapan, karena Zanna mengetahui jika dirinya di ikuti.
"Tangkap tikus itu, jangan biarkan dia lolos," perintahnya kepada anak buah barunya.
Medengar perintah nona mudanya untuk menangkapnya, anak buah Tom langsung berlari untuk meloloskan diri. Namun karena ia berada di sarang Mafia nya Zanna, ia tidak bisa lolos dari kejaran anak buah nya dan kini dirinya di seret ke depan Zanna yang menatapnya penuh selidik.
Glek,
Anak buah Tom, menelan ludah kasar mendengar pertanyaan itu, bingung mau menjawab apa.
Felix yang melihat pria itu diam, menendang tubuh itu. Namun karena ia terbiasa dengan latihan keras, ia sama sekali tidak merintih.
"Apa kau tuli? Bos ku bertanya pada mu, siapa kau? Dan siapa yang menyuruh mu?" bentak Felix sambil menodongkan senjata.
"Turunkan senjata mu Felix, kau menakutinya," ucap Zanna masih dengan pandangan ke arah orang yang bersimpuh di depan nya.
"Tapi dia berani masuk ke markas kita, memang sepantasnya dia mati bos," Felix tetap tidak bisa menoleransi seseorang yang berani mengintai markasnya. Ia takut jika itu musuh yang mencoba mencari informasi kelompoknya.
"Biarkan aku yang bertanya. Kau diam saja," perintah Zanna. Felix pun dengan enggan menarik kembali tangan nya yang memegang senjata.
"Jika ini bukan permintaan bos ku, nyawa mu pastilah sudah melayang," ucap Felix menendang kembali tubuh itu.
Anak buah Tom hanya diam, menatap Felix dengan sengit. "Dasar badjingan! Berani ia mene dsng tubuh ku. Jika aku tidak berada di depan nona muda, sudah ku pastikan kau akan babak belur di tangan ku," batin anak buah Tom.
Felix yang melihat pandangan permusuhan itu, memukul kepala anak buah Tom, "Apa kau berniat membunuh ku?" tanya Felix geram.
Zanna yang melihat mengehela napas, ia tahu tempramen Felix yang kasar. "Sudah Nano, jangan buat dia takut dengan mu," ucap Zanna agar Felix berhenti.
"Awas kau, beruntung karena nona menahan ku jika tidak___!" tunjuk Felix di wajah anak buah Tom.
Anak buah Tom yang mendapat ancaman, tersenyum menyeringai, "Jika tidak apa? Kau pikir aku takut dengan mu? Tidak sama sekali," jawab anak buah Tom berani.
"Kau__!!!" Geram Felix melihat Anak buah Tom yang menantangnya.
"Cukup! Apa kau tidak mendengar perintah ku Nano?" tanya Zanna menatap Felix tajam. Felix yang di tatap langsung menunduk, "Maafkan saya bos," jawab Felix seperti anak kelinci yang takut kepada singa.
Anak buah Tom yang melihat nyali Felix menciut mendapat bentakan Zanna tertawa keras.
Hahahaha.........
Zanna yang melihat pria itu tertawa, bersedekap dada, menatap nya dengan tajam. "Apa yang kau tertawakan?" tanya Zanna dengan suara mengerikan.
Pria bernama Arzan itu langsung bungkam mendengar suara Zanna yang sepertinya marah kepada nya.
Setelah melihat Arzan diam, Zanna berjongkok dan menarik dagu Arzan agar menatapnya dengan pistol ditangannya. "Katakan siapa kau? Dan mau apa kau menyelinap di markas ku? Dan juga katakan siapa yang menyuruh mu?" tanya Zanna dengan wajah dingin.
"Sial, kenapa tatapan nona seperti tuan saja. Sungguh mengerikan," batin Arzan mengingat tatapan Nicko yang marah.
Arzan beberapa kali menelan ludahnya dengan kasar melihat wajah dingin dan mata seolah ingin membunuhnya dalam sekejab.
Zanna yang malas berurusan dengan orang yang lemot, mengacungkan senjatanya ke kening Arzan. "Cepat katakan! Jika kau membuat ku kesal, peluru ini akan menembus kepala mu," ancam nya dengan sungguh-sungguh.
Arzan sungguh bingung, apakah ia harus mengatakan atau tidak. Jika ia mengatakan terbongkar sudah jika tuan nya yang menyuruh. Tapi jika tidak, nyawanya mungkin akan melayang.
Tiba-tiba ia terbayang tubuhnya yang sudah di masukkan kedalam peti dan si kubur dalam tanah. Membayangkan itu, ia menggelengkan kepalanya cepat, "Tidak-tidak! Aku tidak mau mati cepat," ucapnya dalam hati.
Zanna dan lainnya yang melihat wajah pucat dan gelengan kepala, mengerutkan kening. Pikir mereka semua, ada apa dengan pria ini?
Setelah sadar kembali ia mengumpat lagi dalam hati bingung dengan jawaban apa yang akan di berikan kepada nona mudanya. "Sialan! Apa yang harus ku katakan."
.
.
Bersambung