
Zanna berdiri di tepi jalan menunggu kedatangan Felix. Namun baru saja ia menghubungi Felix, beberapa kendaraan bermotor datang menghampiri mereka. Zanna yang melihat beberapa orang bermotor itu langsung berlari menghindari beberapa orang yang ingin berbuat jahat kepada nya.
Zanna tahu jika beberapa pria itu adalah anak buah Mega yang mungkin saja di perintahkan olehnya untuk membunuh dirinya.
"Ternyata dia benar-benar ingin membunuh ku," batin Zanna terus berlari mencari tempat sepi.
Beberapa pria itu terus mengejar, hingga Zanna sampai di tempat yang cukup sepi. Ia berhenti, berdiri di depan mereka. Beberapa orang yang mengendarai motor itu berhenti dan setelah itu turun dari motor dengan membawa senjata di tangan mereka.
"Inikah gadis yang membuat bos kita kesal?" tanya seorang dari mereka yang berjumlah 6 orang.
"Ya. Kita selesaikan secepatnya. Buat wanita ini menjadi cacat dan potong tangan nya agar dia menyesal karena berani melawan bos kita," perintahnya
"Oke," jawab mereka semua berjalan dengan senyum jahat nya.
Zanna yang melihat memasang wajah dinginnya, menatap mereka semua, siap membunuh beberapa pria itu.
"Majulah," perintah Zanna menantang dengan suara dinginnya.
Beberapa pria itu saling pandang mendengar perintah Zanna, berpikir seolah Zanna mampu menghadapinya.
"Kau maju, bunuh dia. Aku yakin kau mampu membunuh gadis lemah itu," perintah salah satu dari mereka kepada temannya.
"Oke," jawabnya dan langsung maju, menyerang Zanna.
Namun saat pria itu mendekat, kaki Zanna langsung menendang tubuh itu hingga terpental.
Bugh,
Argh....,Uhuk...
Pria itu terbatuk karena merasakan tendangan Zanna yang ternyata cukup kuat. Semua yang ada disana terkejut melihat rekan mereka yang terpental dengan satu tendangan dari seorang wanita yang mereka anggap lemah.
"Dasar jala-ng! Beraninya kau melukai teman kami! Bunuh gadis itu dan cincang tubuhnya," perintah pada semua temannya dan di angguki oleh mereka semua.
Tanpa menunggu lagi, enam orang itu langsung menyerang Zanna bersamaan.
Bugh,
Bugh,
Bugh,
Mereka saling pukul dan menendang, dan juga melayangkan serangan menggunakan senjata tajam nya.
Sreek......
Sreek....
Bugh,
Zanna menghindari serangan itu dan menendang tubuh mereka, hingga membuat dari mereka terjatuh ke tanah.
"Sialan!" maki mereka karena tidak bisa menyentuh tubuh Zanna.
Zanna tersenyum mengejek. "Lemah," hinanya dan menyerang mereka lagi.
Bugh,
Bugh,
Argh.....Teriak mereka semua di hajar habis-habisan oleh Zanna.
Tak jauh dari sana, anak buah Nicko yang melihat hanya diam. Sebenarnya ia ingin membantu, namun saat melihat nona mudanya mampu menghadapi beberapa laki-laki itu, akhirnya ia hanya mengawasi nya, dan sesekali mengirim Vidio nona mudanya yang bertarung kepada tuan nya.
Nicko yang saat itu sedang rapat, membuka pesan yang di kirim anak buahnya. Ia membukanya, keningnya mengerut saat melihat istrinya yang begitu berani melawan beberapa pria yang menyerangnya.
Brak ...
Pukulnya di meja, membuat semua yang ada di ruang rapat terkejut dengan pukulan keras itu. Pikir mereka, bos mereka tidak puas dengan hasil rapat saat ini.
Tom yang ada di samping tuannya, bertanya tanya. Ada apa dengan tuannya? Tom menggeser tubuh nya mencoba melihat apa yang di lihat tuannya di ponsel itu. Saat mata itu melihat Vidio yang di tonton tuannya, mata nya juga terkejut dengan apa yang di lihat.
Bagaimana bisa nona nya bertarung dengan lihai seperti itu? Dan lagi, dia menghajar beberapa orang itu sendirian, tanpa seorang yang membantu nya. Pikir Tom dalam benaknya.
Semua orang yang ada di tempat itu menelan ludah dengan kasar saat melihat kemarahan bos mereka. Mereka diam, tidak ingin mengeluarkan sepatah kata pun, takut menjadi pelampiasan bos mereka yang kejam.
"Bawa aku ke tempat itu, minta orang yang mengawasi Nana untuk menangkap mereka semua," perintah Nicko dengan wajah mengerikan.
"Baik tuan," jawab Tom mengangguk dan membawa Nicko pergi dari ruang rapat itu, dan membuat semua orang yang tadi susah bernapas kini menjadi lega kembali setelah kepergian tuannya.
Tom membawa tuannya ke mobil, dan sebelum itu ia menghubungi anak buahnya untuk membantu nona mudanya menangkap mereka.
Zanna memukul mereka, hingga membuat mereka lemah tak berdaya. Zanna menatap mereka dengan wajah dingin. Namun tiba-tiba dari arah samping, sebuah peluru melesat ke arahnya.
Door ...
Peluru itu menembus lengan nya membuat dirinya terluka dan darah keluar dari lengan itu. Anak buah Nicko yang hendak membantu nona nya dan Felix yang baru tiba, berteriak keras saat melihat nona mereka di tembak oleh seseorang yang tidak di ketahui itu siapa.
"Nona!"
"Bos!"
Teriak mereka bersama.
Zanna yang merasakan lengan nya di tembak, melihat ke arah tempat dimana tembakan itu berasal, mengabaikan teriakan mereka berdua. Saat matanya melihat seseorang hendak kabur saat dirinya mengetahui, Zanna langsung berlari mengejar pelaku yang menembaknya itu. Felix dan Anak buah Nicko yang melihat nona nya pergi, diam di tempat.
"Kau, jaga mereka," tunjuk Felix berbicara kepada anak buah Nicko untuk menjaga ke enam orang itu. "Aku akan mengejar nona, dan menangkap pelakunya," lanjutnya dan di angguki anak buah Nicko.
Felix pun pergi mengejar bosnya untuk menangkap orang itu. Sedangkan Zanna yang melihat orang itu kabur, ia mengambil kayu besar dan melemparkan nya ke arah orang yang berlari itu.
Bugh,
Lemparan kayu tepat menghantam punggung orang itu hingga membuatnya terjatuh ke tanah. Zanna yang melihat, langsung berlari dan menginjak punggung orang itu, menahan nya dengan kuat.
"Mau kabur kemana kau?" tekannya dan mengambil senjata api dari tangan orang yang menembaknya.
"Heh, beraninya kau menembak ku," todong nya senjata itu ke arah kepala orang yang ternyata adalah seorang pria.
"Lepaskan aku," pintanya dengan mencoba mendorong tubuhnya ke atas agar bisa menyingkirkan kaki Zanna dari punggung nya.
"Jangan mimpi aku akan melepaskan mu."
Door...
Argh..!!! Jeritnya saat paha itu di tembak oleh Zanna.
Door...
Zanna kembali menembakkan senjata nya ke paha satunya lagi.
Felix yang baru sampai langsung menahan pria itu, membantu Zanna. "Maaf kan saya bos, saya terlambat," ucap Felix menunduk.
"Tahu salah ternyata! Terima hukuman mu setelah ini."
'Baik nona," jawab Felix masih menunduk dengan menahan pria yang ada di tangannya ini.
"Bawa pria ini bersama dengan yang lainnya," perintahnya berjalan menuju tempat semula.
Sesampainya disana, ia terkejut melihat Nicko yang ada disana dengan wajah mengerikannya, menatap Zanna dengan wajah dinginnya. "Kenapa dia ada disini? Bukankah seharusnya dia ada di kantor?" batin Zanna berpikir.
Zanna menghampiri sambil tangannya memegang lengan yang terluka. Menahan agar darah itu tidak terus mengalir keluar.
"Bawa mereka semua," perintah Nicko kepada Tom untuk membawa ke tujuh pria itu ke markas mereka.
"Baik tuan," jawab Tom dan langsung membawa mereka semua kedalam mobil. Namun sebelum itu, ia menghubungi anak buah yang lainnya untuk membantu membawa orang-orang yang telah membahayakan nona mudanya itu.
Sedangkan Zanna yang mendengar nada suaminya yang marah hanya diam. Ia tahu setelah ini pasti suami nya akan mengoceh dengan panjang kali lebar.
.
.
.
Bersambung