
Zanna menghubungi nomor Felix, "Semoga nomornya aktif," gumam Zanna.
Detik kemudian, nomor yang ia hubungi pun tersambung. Wajah Zanna begitu senang saat tau nomor Felix masih aktif.
"Hallo, dengan siapa?" jawab Felix di seberang telepon.
"Apa kabar Felix Adreno?"
Felix yang melihat nomor asing menghubunginya mengerutkan kening, tidak mengenal siapa pemiliknya.
"Siapa kau?" Tanya Felix pemasaran, pasalnya wanita itu mengenal nama lengkap yang diberikan Bosnya. Karena selama ini tidak ada yang mengetahui nama terakhirnya selain Zanna.
"Kau tidak mengenalku Nano?" Zanna memanggil nama panggilan yang selalu ia gunakan untuk memanggil Felix.
"Jangan banyak ba*cot! Katakan siapa kau?" Felix sudah menaikkan nada suara nya karena marah dengan orang yang lancang memanggil nama nya dengan panggilan Nano, karena menurutnya nama itu hanya Zanna lah yang berhak memanggil nya dengan panggilan itu.
"Uh, kau tetap saja tidak sabaran dan selalu emosi. Ku harap setelah bos mu pergi kau tidak ubanan?"
"Breng*sek! Katakan siapa kau? Jangan buat aku marah karena kelancangan mu sialan!"
Zanna yang mendengar itu tentu saja langsung marah. "Dasar baji*ngan! Berani nya dia berkata kasar pada ku," batin Zanna kesal.
"Dasar berandal bang*sat! Kau berani berkata kasar padaku? Apa kau sudah tidak sayang nyawa?" Kesal Zanna dengan nada tinggi, hingga beberapa penumpang bus menoleh ke arahnya. Zanna yang tahu tidak peduli, mengabaikan pandangan mereka semua.
Felix yang mendengar bertambah marah. Ingin sekali ia membunuh wanita yang saat ini berbicara dengan nya.
"Akan ku bunuh kau sialan! Berani nya kau kepada ku."
"Dasar tidak tahu diri! Kau benar-benar sudah pikun sekarang Nano. Aku Zanna, bos mu baji*ngan,"
"Zanna…?" gumam Felix berpikir. Namun sedetik kemudian, ia tertawa keras. "Jangan pikir aku akan percaya dengan omong kosong mu wanita sialan! Aku sudah menyelidiki Nona Zanna ku, ia telah mati karena kecelakaan bus pada saat dia melarikan diri. Kau pikir aku akan percaya dengan semua omong kosong mu itu? Tidak, sama sekali."
Zanna yang mendengar sungguh sangat marah. Berpikir Felix akan langsung mengenal nya, tapi ini malah sebaliknya. Felix malah menuduh nya yang tidak-tidak.
"Aku benar-benar ingin membunuhmu Felix sialan!"
Felix diam saat mendengar suara yang nampak tidak asing saat marah, seperti suara bosnya. "Tidak-tidak, ini tidak mungkin," batin Felix sedikit takut, berharap itu bukan Zanna.
"Temui aku ditempat ____" Zanna menyebutkan suatu tempat untuk mereka bertemu. Felix pun menyetujui dan akan datang menemui Zanna. Ia berpikir akan membunuh wanita itu jika Zanna berani berbohong kepadanya, mengaku sebagai Zanna, bosnya.
🖤
🖤
Di lain tempat, Tom sudah sampai di kediaman William. Dan saat ini sedang bersama tuan mudanya.
"Tuan, tadi saya bertemu dengan nona muda saat hendak kemari," jelas Tom
"Dimana?"
"Di sebuah halte bus tak jauh dari sini. Saya tidak tahu ia hendak kemana, karena saat saya ingin menghampirinya, nona susah masuk dan bus pun pergi."
"Kau tahu kemana tujuan bus itu?"
"Sepertinya ke kota tetangga tuan muda," jawab Tom yang hanya berasumsi.
"Jika itu benar, kenapa dia pergi kesana? Apa sebenarnya yang dia lakukan?" Nicko berpikir keras.
"Tom coba kau cari tahu kemana Nana pergi. Beberapa hari ini, dia sering pergi tanpa izin ku. Dan ku yakin kepergian nya tentang semua ini." Perintah nya dan di angguki Tom. "Baik tuan muda."
Nicko larut dalam lamunan nya, berpikir kemana Zanna sering pergi. Nicko berharap Zanna tidak ketemuan dengan laki-laki lain.
"Mungkinkah dia ketemuan dengan kekasihnya?" Tanya Nicko.
"Saya tidak tahu tuan. Saya akan menyelidiki nya," jawab Tom
"Minta pada anak buah mu saja untuk mencari tahu nya. Kau tetap berada didekat ku."
"Baik tuan."
🖤
Zanna yang cukup lama di perjalan kini telah sampai di kota yang dia tuju, kota dimana dia dengan semua kenangan nya bersama dengan anak buahnya.
"Akhirnya aku datang ke tempat ini lagi," Zanna melihat sekeliling, menghirup udara yang ia rindukan. "Cih, walaupun aku senang, tapi rasanya begitu menyesakkan. Awas kau Mega! Aku akan menghancurkan mu dan mencincang tubuh jala*ng mu itu," wajah Zanna langsung berubah, nampak dingin dan menyeramkan.
Zanna pergi meninggalkan tempatnya dan menuju tempat ia akan bertemu dengan Felix. Felix yang sedang tidak bertugas, langsung pergi menuju tempat dimana Zanna membuat janji temu dengannya.
Tak berapa lama, Felix sampai dan disana terlihatlah seorang gadis berdiri membelakanginya. Mata nya menyipit, penasaran dengan wanita yang ingin bertemu dengan nya. Pikirnya, apakah gadis pemujanya?
Felix benar-benar terlalu percaya diri jika ada penggemar yang menyukai nya.
Perlahan ia turun dari motor dan berjalan ke arah Zanna. Sedangkan Zanna yang sudah tahu kedatangan Felix hanya diam, menatap pemandangan air terjun di depan nya.
Felix yang kini sudah berada di belakang Zanna diam, bersedekap dada sambil melihat punggung wanita yang memunggungi nya.
"Siapa kau?" Tanya Felix selidik.
Perlahan Zanna membalikkan tubuhnya, dan kini mereka saling berhadapan. Felix mengerutkan kening karena sama sekali tidak mengenal wanita di depan nya ini.
"Lama tidak berjumpa Nano," sapa Zanna dengan senyum kecil nya, namun nampak mengerikan
"Jangan basa basi. Siapa kau?"
"Aku Zanna, bos mu," jawab Zanna santai sambil bersedekap dada menatap Felix.
Felix yang mendengar gadis itu mengaku menjadi bosnya langsung mengeluarkan pistolnya dan menodongkan nya ke arah Zanna.
"Jangan main-main dengan ku. Aku bisa membunuhmu sekarang!" ancam Felix perlahan menarik pelatuk nya.
"Cih, berani sekali kau! Kau pikir aku takut dengan senjata mu itu? Tidak!" Zanna juga mengeluarkan senjatanya dan menodongkannya ke arah Felix. Kedua nya saling menodongkan senjata masing-masing ke kepala lawan.
"Aku juga bisa membunuhmu Nano. Tapi itu tidak akan ku lakukan karena kau berguna untuk ku. Aku akan mengatakan nya. Aku Zanna, pemimpin Mafia ZANNALOA, yang dikhianati Mega, rekan nya sendiri dan kabur atas permintaan mu saat pertarungan itu."
Felix yang mendengar mengerutkan kening, pasalnya tidak ada yang tahu selain Zanna dan Felix, karena Felix sendiri yang meminta Zanna untuk pergi menyelamatkan diri dari musuhnya, Mega dan Rubben yang mencoba membunuh bosnya.
Zanna menurunkan senjatanya dan berbalik menatap air terjun di depannya. "Namamu, Felix Adreno, nama itu aku yang memberikan, dan aku memanggilmu Nano karena kau ku anggap sebagai saudara ku sendiri layaknya Mega. Namun sialnya, dia begitu menjijikkan, menghianati ku dan ingin melenyapkan diri ku karena ingin menguasai apa yang ku miliki."
"Aku tahu kau pasti bingung karena aku mengetahui itu, apalagi dengan wajahku yang asing bagi mu," Zanna menoleh ke samping karena saat ini Felix berada di sampingnya, menatap nya.
"Saat aku kecelakaan, aku mengalami luka bakar di sekujur tubuh. Dan seorang dokter baik hati mengoperasi ku menggunakan wajah seorang korban dari kecelakaan itu. Dan akhirnya____yah seperti yang kau lihat. Aku menjadi orang asing di depan mu."
"Begitukah? Kau tidak membohongi ku?"
"Dasar bodoh," pukulnya di kepala Felix. "Mana mungkin aku membohongimu. Semuanya sudah aku ceritakan, selain aku, Zanna mana mungkin ada orang yang tahu siapa nama panggilan dan nama lengkap mu bodoh!"
Felix menggaruk kepala nya yang tidak gatal, membenarkan ucapan Zanna. "Jadi, kau benar-benar bos ku?"
"Jika kau masih meragukan ku, aku akan membunuhmu Nano-nano," kesalnya menatap tajam Felix. Felix hanya nyengir saja. Setelah mendengar semuanya Felix percaya jika gadis di depan nya adalah Zanna, bosnya.
.
.
Obrolan mereka pun cukup panjang di pertemuan awal mereka. Zanna bertanya tanya dimana Felix saat ini tinggal. Dan ternyata masih di tempat sama, di markas ZANNALOA bergabung dengan Mega.
Zanna pun minta Felix untuk memata-matai Mega di markas dan meminta untuk mencari anggota yang masih setia dengan nya. Dan Felix pun menyetujui permintaan itu, untuk membantu orang yang berjasa selama ini untuknya. Karena tanpa Zanna yang pernah menyelamatkan nyawanya, mungkin saat ini Felix sudah mati dikeroyok oleh beberapa preman yang saat itu ingin membunuhnya.
"Aku percaya pada mu, lakukan dengan baik agar Mega tidak menyadarinya. Dan jangan sampai anak buah nya mengetahui niat kita mengumpulkan pasukan lagi," ucap Zanna dan di angguki Felix.
.
.
Bersambung