
Dena yang di tarik kini sampai di tempat Zanna, ia menatap kakaknya yang kini berdiri berhadapan dengan seorang pria.
"Jika kau berani membunuhnya, aku akan menembak kepala gadis ini," ancam pria yang menawan Dena dengan menodongkan pistolnya ke kepala Dena.
"Kak!" panggil Dena menatapnya dengan pandangan permohonan.
Zanna yang melihat Dena berada dalam tahanan pria itu menatap dengan dingin. "Berani sekali kau mengancam ku!"
Door.....
Zanna tanpa segan membunuh pria yang ada di depannya. Pria yang telah ia tembak itu langsung tumbang dengan bersimbah darah. Sedangkan pria yang saat ini menahan Dena perlahan mundur, ia tidak menyangka jika gadis yang ingin dia bunuh begitu berani dan tidak peduli dengan ancamannya, walaupun ia menggunakan adiknya sebagai sandra. Pikirnya, apakah gadis itu sama sekali tidak peduli jika adiknya mati?
Melihat pria itu berjalan mundur masih dengan menyeret Dena, Zanna ikut maju sesuai langkah mereka yabg mundur. "Jika kau masih maju, aku benar-benar akan membunuhnya," ancamnya lagi menggunakan Dena yang ada di tangannya.
"Lakukan jika kau berani," tantang Zanna terus melangkah ke depan.
Pria itu bimbang, apakah ia benar-benar akan membunuh gadis yang ada tangannya atau malah tidak. Jika ia membunuh, pasti dirinya tidak akan di lepas oleh wanita gila yang saat ini memegang senjata itu. Tapi jika tidak, dirinya juga akan mati. "Sialan!" umpatnya saat bingung dengan keputusannya.
Perlahan tangannya menarik pelatuk senjata itu. Zanna yang melihat matanya menyipit. Saat jari itu bergerak, Zanna dengan cepat mengangkat tangannya dan menembak lengan pria itu.
Door....
Argh!! Teriak pria itu kesakitan saat tangannya merasakan peluru masuk kedalam lengannya. Ia yang merasakan sakit tidak sadar jika dia sudah melepaskan tawanannya. Dena yang bisa lolos langsung berlari ke arah kakaknya.
"Bersembunyilah, kakak akan mengurus pria itu," perintahnya dan di angguki Dena. Dena dengan cepat berlari mencari tempat bersembunyi yang aman.
Melihat Dena yang sudah pergi, Zanna mengarahkan senjata itu ke arah pria itu. Menembakkan senjatanya dengan cepat.
Door....
Door....
Door....
Pria itu yang melihat kegilaan wanita itu berlari dan sesekali menembak ke arah Zanna. Zanna terus mengejar dan terus menembaknya tanpa henti.
"Kau tidak akan bisa kabur lagi badjingan!" Zanna terus menembak pria itu.
Door...
Door...
Argh!!! Teriaknya saat pria itu kembali mendapatkan tembakan di tubuhnya. "Dasar wanita gila," gumamnya masih menghindari tembakan itu.
Namun sialnya, tiba-tiba dirinya kesandung rumput jalar dan akhirnya jatuh tengkurap. "Sialan!" Pria itu mencoba bangun, namun sebuah senjata menempel di kepala belakang. Dengan perlahan pria itu menoleh, di lihatnya wanita cantik tersenyum dengan senyuman yang begitu mengerikan
"Jangan bunuh aku, ku mohon," pintanya mundur dengan tubuh masih di tanah.
"Memohonlah dengan benar," jawab Zanna dengan nada dingin.
Pria itu berpikir, jika dia memohon dengan benar nyawanya mungkin akan selamat. Namun pemikirannya salah, saat dirinya hendak merangkak ke kaki Zanna, Zanna malah menembak punggung tangan itu.
Door...
"Berani kau menatap ku seperti itu." Zanna menembak paha pria itu membuat pria itu kembali menjerit keras.
Zanna terus menembak bagian-bagian tubuh pria itu, hingga pria itu tak berdaya di tangannya.
"Inilah akibatnya jika kalian berani mengusik ku," ucap Zanna menembak pria itu tepat di keningnya, pria itu langsung mati dan tumbang di depannya.
Zanna malas berurusan lama-lama dengan pria yang tidak mau mengatakan siapa yang menyuruhnya itu. Lebih baik membunuhnya dengan cepat dari pada membuang waktunya yang berharga.
Saat dirinya membalikkan tubuh, ia terkejut karena Natalie dan Mattew berdiri di depannya bersama anak buah mereka dengan tatapan terkejutnya.
"Apakah mereka melihat aku membunuh pria itu?" batin Zanna berpikir. Jika itu benar, pastinya mertuanya itu akan memiliki banyak pertanyaan untuknya. "Sial!"
Zanna maju, menghampiri mertuanya, "Pa, ma," sapa Zanna kepada mereka berdua.
Mattew hanya menatap, tidak menjawab sapaan itu. "Lebih baik kita langsung kembali," perintahnya dan lang di angguki semuanya.
Zanna mengikuti mereka dengan tangan yang masih memegang senjatanya. Zanna mengambil ponselnya yang ada di saku untuk memberitahu pada Nicko, bahwa papanya tahu dirinya membunuh seseorang.
"Papa dan mama melihat ku membunuh seseorang. Pulanglah kerumah, aku yakin mereka berdua akan memberikan pertanyaan banyak pada ku," tulisnya pesan itu pada suaminya.
Nicko yang mendapat pesan itu langsung bergegas untuk pulang. Ia takut papanya akan memberikan pertanyaan yang aneh-aneh pada istrinya itu. Sebelum itu ia menghubungi Tom untuk mengantarkan nya pulang.
Tom yang mendapat perintah itu langsung bergegas menuju ruangan tuannya.
"Apa ada yang terjadi tuan?" tanya Tom karena mendapat perintah dadakan itu
"Papa mengetahui istri ku membunuh seseorang. Aku takut dia akan bertanya yang aneh-aneh tentangnya, dan mencurigai nya. Kita harus secepatnya datang kesana," Ucap Nicko sambil memakai jasnya.
Tom mengangguk, setelah itu mereka berdua pergi menuju Kediaman William. Sedangkan di kediaman William, Zanna dan lainnya duduk di kursi. Mereka semua menatap Zanna meminta penjelasan dengan apa yang mereka lihat tadi.
Zanna yang di lihat oleh mereka semua hanya diam, ia akan berbicara jika suaminya telah datang. Namun Mattew sepertinya tidak sabar menunggu kedatangan putra nya itu, karena beberapa kali Mattew menghela napasnya.
"Tidak bisakah kau mengatakannya sendiri?Kenapa harus menunggu kedatangan Nicko?" Mattew benar-benar tidak sabar mendengar penjelasan menantunya itu. Menantu yang ternyata begitu sangat berani membunuh tanpa rasa takut sedikitpun.
"Aku tetap tidak akan mengatakannya, pa," jawab Zanna masih dengan pendiriannya. Tidak akan mengatakan apapun tentang dirinya pada mertuanya itu.
Hah, lagi-pagi Mattew menghela napas. Natalie yang melihat suaminya tidak sabar mengelus lengan itu, meminta agar suami nya tetap sabar sampai putra nya datang.
Cukup lama mereka menunggu, Nicko dan Tom pun datang. Tom mendorong kursi roda itu sampai dimana semuanya berkumpul.
Zanna yang melihat suaminya datang tersenyum manis, sangat manis, sampai-sampai pikiran liarnya muncul di kepalanya. "Sial! Kenapa aku memikirkan dia berada di atas ku? Ini bukan saatnya memikirkan hal itu Nick," kesalnya karena memiliki pikiran mesum saat melihat wajah cantik istrinya yang menurutnya menggoda itu.
Nicko tetap duduk di kursi roda, berada di samping Zanna. Ia memegang tangan itu memberikan ketenangan untuk istrinya. Mattew yang melihat kemesraan putranya sebenarnya begitu suka. Namun saat mengingat menantunya yang sepertinya berbahaya, ia menjadi waspada. Takut menantunya akan membuat keluarga dalam bahaya.
.
.
.
Bersambung