
Setelah bertanya kepada dokter tentang kesehatan Yuna, dokter pun mengizinkan Yuna untuk pulang kerumah, karena kesehatan dan luka-luka Yuna sudah pulih.
Zanna dan Natalie, serta Yuna dan Dena kini kembali ke kediaman William. Namun saat di pertengahan jalan, mobil mereka di hadang oleh dua mobil berwarna hitam. Zanna yang melihat mobil berhenti di depannya langsung menginjak rem secara mendadak hingga membuat suara decitan dari ban mobil begitu nyaring di telinga.
Zanna dan Yuna yang melihat mengerutkan kening, berpikir siapa mereka. Sedangkan Natalie dan Dena wajah nya sudah pucat pasi, mereka yakin bahwa mobil yang menghadang mereka itu pastilah tidak memiliki niat baik.
"Si-siapa mereka?" tanya Natalie memeluk Dena yang ada di sampingnya.
"Ma, Dena takut ma," jawab Dena memeluk erat Natalie.
"Mama akan menghubungi papa mu, memintanya untuk mengirimkan anak buahnya untuk membantu kita," Natalie mencari ponsel nya untuk menghubungi Mattew.
Zanna yang mendengar Natalie dan Dena ketakutan menatap Yuna, Yuna mengangguk. Namun Zanna menolak tatapan itu, karena ia tahu Yuna maksud anggukan itu.
"Tetaplah disini, jangan ada yang keluar," pinta Zanna memperingati.
"Kamu mau apa sayang?" tanya Natalie saat Zanna mengambil sesuatu di bawah kursi bawahnya.
"Mama tetaplah disini. Jangan sedikitpun membuka pintu," perintah Zanna dan mengambil senjatanya, mengisi dengan peluru.
Dena dan Natalie yang melihat Zanna memegang senjatanya, terkejut. Mereka begitu syok melihat senjata berbahaya itu ada di tangan Zanna. Sedangkan Yuna langsung menahan nona mudanya saat Zanna hendak membuka pintu.
"Nona, jangan keluar. Biarkan saya yang menghadapi mereka."
"Kau tetaplah disini. Kondisi tubuh mu baru pulih. Jadi lebih baik kamu tetap di dalam mobil menjaga mama dan Dena," jawab Zanna.
Sedangkan di dalam mobil yang menghadang Zanna, beberapa pria keluar dengan membawa senjatanya di tangan. Mereka mengangkatnya dan langsung menembakkan senjatanya ke arah mobil Zanna.
Door...
Door...
Door...
Zanna yang melihat mereka menyerangnya, ia juga menembakkan senjatanya kearah mereka.
Door...
Door...
Door...
Zanna yang sudah keluar dari mobil berlari menjauh dari tempat itu. Berharap mereka tidak menyakiti Natalie, Dena dan Yuna.
Mereka yang melihat Zanna terus berlari, mengejar. Dan menembakkan senjata nya ke arah Zanna. Zanna menghindar, menghindari peluru yang melesat ke arah nya. Sesekali ia bersembunyi di balik pohon untuk menghindari tembakan itu agar tidak mengenai tubuh nya.
Door...
Zanna menembakkan senjatanya ke arah mereka. Satu pelurunya berhasil menembus salah satu dari mereka, membuat pria yang terkena tembakan itu langsung tumbang.
Mereka semua yang melihat satu rekannya mati langsung mencari keberadaan Zanna yang tiba-tiba menghilang dari pandangannya.
"Sial! Dimana dia?"
Beberapa pria itu mencari di sekitar. Namun saat mereka fokus pada pencarian nya, satu rekan nya kembali terkena tembakan Zanna.
"Hati-hati. Perempuan itu tidak mudah untuk kita hadapi. Kita harus selalu waspada."
Semuanya siaga, berjalan perlahan sambil melihat sekeliling.
Door...
Door...
"Dasar wanita sialan, keluar kau!" teriaknya dan siap menembakkan senjatanya. "Jika kau tidak keluar, aku akan meminta anak buah ku yang ada di mobil membunuh orang-orang mu itu," ancamnya agar Zanna keluar dari persembunyiannya.
Zanna yang sedang bersembunyi di balik pohon besar, malah mengisi pelurunya. Dan setelah itu menembakkan senjatanya kearah mereka.
Door...
Door...
Door...
Zanna menembakkan senjatanya tanpa henti membuat beberapa dari mereka mati. Kini tinggallah dua pria yang masih hidup dengan luka di lengan dan kaki karena tembakan Zanna.
Zanna berjalan sambil memegang senjatanya menuju ke arah mereka. Mereka yang masih memegang senjata, mengangkatnya dan siap menembak Zanna. Namun sebelum mereka menembakkan senjatanya ke arah Zanna, zanna lebih dulu menarik pelatuk nya dan menembak mereka berdua.
Door...
Argh.....!!!
Teriak mereka saat tembakan itu mengenai lengannya satu nya mereka. Zanna hanya menaikkan satu alisnya, masih terus berjalan menghampiri mereka.
"Jangan mendekat!" teriak mereka takut karena Zanna begitu mengerikan.
Zanna yang sudah berada di dekat mereka, langsung menodongkan senjatanya di kening pria itu. Sedangkan pria yang satunya sudah gemetar dan bersimpuh di tanah saat tangan Zanna satunya menodongkan senjatanya juga ke kepala itu.
"Jangan bunuh kami nona. Maafkan kami karena mengganggu anda," mohon pria yang bersimpuh itu. Namun Zanna seakan tidak peduli. Ia menatap dengan dingin dan langsung menembak kepala itu tiga kali, hingga pria itu mati seketika di hadapannya.
Temannya pria yang baru saja di bunuh itu badannya gemetaran, keringat keluar dari keningnya. Zanna menekan moncong senjata itu, "Katakan siapa yang menyuruh mu?"
Pria itu menelan ludahnya dengan kasar, takut. Apalagi saat merasakan senjata di depannya semakin menekan kepalanya. "Jika kau berani berbohong dengan ku, peluru ini akan menembus isi kepala mu. Cepat katakan!" bentak Zanna dengan nada tinggi. Namun sebelum pria itu mengatakannya, suara seseorang menghentikannya.
"Jika kau berani membunuhnya, aku akan menembak kepala gadis ini," ancamnya sambil menodongkan pistolnya ke kepala Dena. Ya, gadis yang di tawan itu adalah Dena.
Pada saat itu Dena, Natalie dan Yuna masih tetap berada di dalam mobil. Tiba-tiba seorang datang dengan membawa kayu besar memecahkan kaca mobil itu, membuat Natalie dan Dena menjerit ketakutan.
Yuna yang melihat tentu saja harus melindungi mereka. Yuna keluar dan melawan pria itu. Namun karena ia baru saja pulang dari rumah sakit, membuat tenaganya belum pulih sepenuhnya. Dan hal itu membuat pria itu dengan mudah untuk mengalahkan nya.
Bugh,
Bugh,
Bugh,
Yuna di pukul oleh pria itu membuat Yuna tergeletak tak sadarkan diri. Dena dan Natalie yang melihat sungguh ketakutan, beberapa kali ia menjerit memohon agar pria itu tidak membunuhnya. Tapi pria itu seolah tidak peduli, ia terus menendang tubuh yang terkulai itu dengan kuat.
Setelah Yuna benar-benar tidak berdaya, pria itu menghampiri Natalie dan Dena yang ada di dalam mobil. Mereka berdua saling berpelukan, takut pria itu berbuat macam-macam kepada mereka.
"Jangan mendekat!" teriak Natalie, namun tidak di pedulikan oleh pria itu.
Pria itu menarik paksa Dena. Dena yang di tarik memberontak, dan Natalie mencoba menolongnya. Tapi sialnya, Natalie malah mendapatkan pukulan keras ke kepalanya hingga membuat Natalie langsung pingsan.
"Mama...!!" teriak Dena saat Natalie pingsan, matanya menangis melihat hal itu. Dena menatap pria itu, masih berusaha melepas cekalan tangan yang kuat itu. "Lepaskan aku," Dena terus memberontak. Namun pria yang tidak memiliki kesabaran itu menjadi kesal saat Dena terus saja melawan. Pria itu menampar pipi Dena dengan keras membuat Dena bertambah menangis.
"Ku mohon lepaskan aku!"
Pria itu tidak peduli, ia terus menarik Dena dan membawanya ke arah Zanna berada.
.
.
Bersambung