ZANNA

ZANNA
ZANNA Bagian 52, Dendam



Zanna yang mendapat kabar dari Yuna, bahwa Dena dalam bahaya kini sampai di tempat kejadian. Zanna begitu terkejut saat melihat Yuna tergeletak di pangkuan Dena yang menangis. Dengan cepat Zanna turun dari mobil dan menghampiri mereka.


"Dena..!" panggil Zanna.


Dena yang mendengar menoleh ke arah suara, di lihatnya kakaknya telah datang. "Kakak, hiks.." Dena kembali menangis saat mengingat kejadian yang baru saja di alaminya.


"Apa yang terjadi? Kenapa Yuna seperti ini?" tanya Zanna melihat ke arah Yuna.


"Kak Yuna, kak Yuna, hiks....." Dena tidak sanggup mengatakannya.


"Sudah jangan menangis, kita pergi ke rumah sakit sekarang," ucap Zanna dan di angguki Dena.


Pria yang sedari berdiri di samping mereka seolah tidak terlihat sedikit pun oleh Zanna. Dan pria itu sedikit kesal karena wanita cantik yang baru datang mengabaikan nya. "Biar saya mengantarkan kalian ke rumah sakit," ucap pria itu menawarkan diri.


Zanna yang mendengar suara asing seorang pria langsung mendongak, menatap pria itu. "Siapa anda?" tanya Zanna dengan kening mengkerut, menyelidik.


"Dia kakak yang menolong kami kak," jawab Dena menjelaskan.


Zanna menatap pria itu, menyelidik. "Oh, begitu. Terimakasih karena anda telah menolong adik dan teman saya. Dan untuk tawaran nya, maaf saya tidak ingin merepotkan anda. Saya bisa pergi sendiri," tolak Zanna tidak ingin merepotkan orang lain dan tidak ingin dekat dengan pria asing. Yah walaupun pria itu telah menolong Dena, namun untuk berjaga-jaga dia tidak akan terlalu percaya dengan orang asing itu. Lagian dia juga tidak mau suami pencemburu nya itu tahu jika dia bersama dengan seorang pria, bisa-bisa dirinya akan di habisi di atas ranjang semalaman penuh. Memikirkan itu, Zanna bergidik ngeri.


Pria itu diam mendengar penolakan Zanna. Setelah itu tersenyum manis, "Baiklah, saya juga tidak bisa memaksa. Tapi izinkan saya membawa nya ke mobil anda," tunjuk nya pada Yuna.


Zanna mengizinkan, dan pria itu pun mengangkat tubuh Yuna dalam mobil Zanna. Dena masuk kedalam mobil, duduk di samping Yuna dengan memangku kepala Yuna di pangkuannya.


Zanna berdiri di samping mobil saling berhadapan dengan pria asing itu. "Sekali lagi terimaksih karena telah menolong mereka," ucap Zanna sekali lagi.


"Tidak masalah, itu sudah tugas kita harus saling membantu," jawab pria itu menatap manik mata indah Zanna.


Zanna yang melihat pria itu menatap nya dengan aneh, langsung izin pergi dari tempat itu. Ia tidak ingin berlama-lama bersama pria yang yang menurutnya sedikit aneh. "Saya pergi dulu," pamitnya dan di angguki pria asing itu.


Zanna pun menyalakan mobil dan pergi dari tempat itu, meninggalkan pria asing yang terus melihat kepergiannya. Zanna melihat dari kaca spion, "Pria yang aneh," gumam Zanna merasa ada yang aneh dengan pria itu. Dari cara pandang pria itu seakan menginginkannya. "Aku tidak boleh bertemu dengan pria itu lagi. Aku merasa pria itu tidaklah baik."


Zanna pergi menuju rumah sakit. Dan setelah sampai, Zanna meminta dokter untuk merawat luka Yuna. Zanna duduk di kursi tunggu bersama dengan Dena. Tiba-tiba ponselnya berdering, ia mengambilnya dan di lihatnya suami posesifnya itu menghubungi.


"Apa?" jawab Zanna seperti biasa, nampak dingin.


"Dimana?"


"Jangan pura-pura bertanya, aku yakin kamu pasti tahu aku ada dimana," jawab Zanna ketus karena Nicko pura-pura tidak tahu keberadaan dirinya sekarang. Zanna yakin suami nya itu tahu jika dirinya berada di rumah sakit. Dan ia juga yakin suaminya itu pasti tahu dirinya berbicara dengan pria asing itu. Mengingat itu, Zanna sangat kesal, berharap suaminya tidak marah dan berakhir memberikan hukuman.


Sebenarnya Zanna bisa saja melawan Nicko, tapi entah kenapa saat Nicko menyentuhnya, dirinya sama sekali tidak bisa menolak. Dan malah menikmati semua itu. Zanna sebenarnya kesal dengan dirinya sendiri. Mura-han pikirnya pada diri sendiri.


Nicko terkekeh mendengar itu, sungguh manis sekali istrinya jika lagi kesal. "Aku ingin mencium nya," batinnya dengan bibir tersenyum.


Tom yang berada di sana memutar bola matanya malas, "Dasar bucin."


Ponsel Tom bergetar, di lihat nya anak buahnya menghubunginya. "Tuan saya keluar sebentar," pamitnya dan di angguki Nicko.


Tom pun keluar dari ruangan itu. "Ada apa?" tanya Tom pada anak buahnya.


"Orang yang ingin mencelakai nona muda sudah berada di negara kita tuan. Leon, pria itu sudah tiba di negara kita dengan banyak anak buahnya," jelasnya dan membuat kening tim mengkerut.


"Leon?" pikirnya mengingat. "Oh ya, aku ingat. Awasi pria itu. Jika dia bertindak halangi langkah nya, jangan sampai dia menyentuh nona muda kita."


"Baik tuan."


Tom pun mengakhiri panggilan itu. Ia diam, menghela napas. Sungguh banyak sekali yang harus ia urus. Masalah tuannya belum selesai, kini masalah nona mudanya. Sungguh nona muda nya ini membuat dirinya repot. Belum tahu siapa sebenarnya nona nya ini, tapi musuh selalu berdatangan ingin mengambil nyawanya.


"Hah, Anda sungguh membuat saya repot nona."


.


.


Di tempat lain, pria asing yang menolong Dena kini sudah berada di kantornya.


"Bagaimana dengan rencana anda tadi tuan?" tanya asistennya.


"Dia nampak dingin, dan tidak ingin di dekati sedikit pun. Dia sungguh menarik, membuat ku menginginkannya," ucap pria asing itu melepas topeng wajah nya.


Pria itu memakai wajah palsu saat menolong Dena. Di tidak ingin identitasnya di ketahui oleh Nicko, karena ia tahu Nicko pasti menempatkan beberapa orang untuk menjaga istri nya itu.


"Sungguh wanita yang di miliki Nicko ini membuat ku menginginkannya. Wajah itu, nampak meminta untuk di lindungi. Namun saat orang siap mengulurkan tangan nya, ia menancapkan duri-durinya menolak orang asing untuk mendekati nya."


"Hahahha........Ini sungguh menarik. Jika aku terus mendekati nya, aku yakin Nicko akan marah. Dan memfokuskan pikirannya pada wanita nya. Dan di saat itu aku akan memporak porandakan perusahaan nya, dan membuatnya menjadi gelandangan. Memohon dan bersujud di bawah kaki ku," pria itu mengepalkan tangan, berharap secepatnya dia dapat menjatuhkan pria yang sangat dia benci. Keluarga William, keluarga yang sangat ingin di hancurkan menjadi debu.


Saat mengingat kejadian masa lampau, ia begitu marah. Mengepalkan tangan dengan erat. "Perbuatan yang kalian buat akan ku kembalikan 100 kali lipat. Kalian harus merasakan apa yang ku rasakan karena kehilangan orang yang ku sayangi," marahnya dengan wajah merah dan rahang mengeras.


Asisten pria itu yang melihat kemarahan tuannya, hanya diam. Ia tahu tuannya itu sangat membenci keluarga William. Karena satu orang yang membuatnya menderita, semuanya pun kena imbas dari kebencian dan dendam nya. Termasuk Nicko.


.


.


.


Bersambung