ZANNA

ZANNA
ZANNA Bagian 81, Merancang Ngidam



Zanna berdiri di hadapan suaminya, memegang tangan dan memberikan benda kecil itu di telapak tangan Nicko. 


"Bukalah mata mu," pinta Zanna dengan senyum manisnya. 


Perlahan Nicko membuka matanya, menatap istrinya. Dan setelah itu melihat ke arah tangannya karena merasa ada suatu benda di telapak tangannya. Kening Nicko berkerut menatap benda itu. "I-ini," tatapnya pada istrinya, tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Ya, apakah kamu senang?" Tanya Zanna tersenyum melihat reaksi suaminya.


"Apakah a-aku akan menjadi Daddy?" Tanya Nicko sambil mengusap rambutnya tidak percaya bahwa keinginannya memiliki anak ternyata terkabul.


"Tentu saja kamu akan menjadi Daddy, dan aku akan menjadi Mommy," jawab Zanna membuat Nicko langsung memeluk Zanna dan menciumnya, berterimakasih karena Zanna bersedia mengandung anaknya. 


"Terimakasih Baby, terimakasih," ucapnya dengan mata berair karena haru. Zanna yang melihat mengusap air mata itu agar tidak menetes.


"Kenapa menangis?"


"Ini air mata bahagia Baby. Terimakasih karena bersedia menjadi ibu dari anak-anakku," jawab Nicko mencium seluruh wajah Zanna. "I love you." 


"I love you to."


Mereka pun merasakan kebahagiaan yang tak terhingga dengan hadirnya janin di perut Zanna. Nicko akan menjadi suami siap siaga untuk istrinya dalam menjaga istri dan janin yang masih dalam kandungan itu.


Kebahagian itu tidak hanya di rasakan oleh mereka berdua. Nicko dengan senangnya mengabarkan kabar bahagia itu kepada kedua orang tuanya. Mattew dan Natalie yang mendengar kabar itu ikut bahagia karena akan menerima cucu dari putra nya.


Mereka semua siap siaga jika Zanna nantinya akan ngidam. Namun siap siaganya mereka semuanya sia-sia, karena Zanna sama sekali tidak ngidam dan tidak menginginkan apapun. Bahkan muntah saja Zanna tidak, hingga membuat semuanya bingung. Karena biasanya seorang wanita yang hamil pasti akan mengalami hal itu. Tapi untuk Zanna semuanya tidak, ia juga tidak pilih-pilih makanan, semuanya habis di makannya. 


Kadang Natalie, Nicko dan Mattew bingung melihat Zanna yang banyak makan hingga membuat tubuhnya bundar. Zanna juga tidak peduli dengan bentuk tubuhnya. Jika Nicko mengkritiknya, mengatakan tubuhnya gemuk, maka Zanna akan memberi pelajaran kepada suaminya itu. Memukulnya menjadikan bahan latihannya. Ya, walaupun Zanna hamil, ia masih tetap olahraga ringan untuk kesehatannya dan bayinya. 


"Baby," ucap Nicko sambil memeluk perut Zanna yang sudah besar. 


"Apa?" Tanya Zanna mengusap kepala suaminya.


"Kenapa hamil mu tidak seperti ibu-ibu lainnya?"


"Memang kenapa?" Tanya Zanna bingung. 


"Kamu tidak ngidam dan tidak muntah-muntah. Aku hanya heran saja sayang, atau memang ada yang seperti itu atau kamu menahannya agar tidak menyusahkan ku?"


Zanna yang mendengar terkekeh. "Apa kamu ingin seperti wanita lainnya yang setiap pagi mual dan ngidam?"


Nicko diam. Lalu mendongak menatap istrinya. "Untuk mual aku lebih suka kamu tidak mengalami hal itu. Namun untuk ngidam mu aku ingin merasakan rasanya seorang suami yang di perintah oleh istri karena menginginkan sesuatu."


Zanna yang mendengar menaikkan sebelah alisnya. Bukankah seharusnya suaminya itu senang karena dirinya tidak mengalami hal itu? Namun ini tidak, Nicko terus menggerutu karena dirinya tidak ngidam sama sekali dan tidak menyusahkan.


"Hah," Zanna menghela nafasnya. "Baiklah, aku akan ngidam nanti. Tapi, tidak tahu kapan itu. Akan ku pikirkan nanti," jawab Zanna aneh. Berpikir kapan ngidamnya bisa di lakukan olehnya menyenangkan suami.


"Akan ku tunggu itu," jawab Nicko begitu senang akhirnya akan melakukan sesuatu untuk anaknya.


.


.


Bersambung.