ZANNA

ZANNA
ZANNA Bagian 62, Meminta Penjelasan



Melihat Nicko yang telah datang. Mattew pun langsung memulai pertanyaannya, karena dia sudah tidak sabar mendengar penjelasan dari mereka berdua.


"Sekarang suami mu telah datang. Apakah sudah bisa memulai menjelaskan semuanya pada papa dan mama mu ini?"


Zanna menatap Nicko, Nicko menggelengkan kepala. Ia sendiri yang akan berbicara kepada papanya, menjelaskan semuanya tentang istrinya itu.


"Biar aku yang menjelaskan semuanya pada mu," jawab Nicko menatap papa nya. Sebenarnya ia sangat malas. Namun demi menutupi siapa istrinya, dia rela berbicara banyak kepada kedua orang tuanya itu.


Namun sebelum menjelaskan Nicko memastikan jika kedua orang tuanya benar-benar melihat apa yang di lakukan oleh istrinya. "Apakah kalian melihat istri ku melakukan hal yang membuat kalian terkejut?"


"Tentu saja kami melihatnya. Bahkan dengan mata kami sendiri istri mu itu membunuh banyak orang tanpa rasa takut sedikitpun. Dena dan ibu mu juga melihat jika istri mu itu memiliki senjata untuk membunuh mereka semua," jawab Mattew sambil melirik Zanna yang tenang. "Sekarang jelaskan, kenapa istri mu bisa melakukan itu. Bahkan dia membawa senjata yang menakutkan itu."


"Aku yang menyuruhnya membawanya untuk perlindungan diri," jawab Nicko santai, membuat semuanya mengerutkan kening. Pikir mereka, apa-apaan putra nya ini? Memberikan barang berbahaya untuk melindungi diri. Bukankah bisa menempatkan pengawal untuk menjaganya, dan tidak perlu repot-repot memberikan senjata mematikan itu. 


"Apa tidak bisa kau memberikan pengawal bayangan untuk melindungi istri mu? Lagian apa perlu sampai segitunya memberikan senjata pada seorang wanita. Memang istrimu banyak memiliki musuh sampai memberikan itu padanya?" Pertanyaan beruntun keluar dari bibir Mattew.


"Tidak perlu ku jawab, karena aku sudah memberikannya. Jadi dia berhak menggunakannya untuk melindungi diri seperti saat tadi."


"Dasar anak kurang ajar! Papa mu ini bertanya, seharusnya kau menjawabnya dengan rinci, bukan malah malas menjawab nya. Apa kau tidak takut jika kau memberikan barang itu dan dia menggunakan untuk hal yang tidak baik di keluarga kita?"


"Aku percaya padanya. Dia tidak akan melakukan hal itu pada keluarga ku," jawabnya sambil melihat ke arah Zanna. Zanna tersenyum, tentu saja dia tidak akan melakukan hal itu pada keluarga suaminya.


"Benarkah? Apakah ucapanmu bisa di percaya," tanya Mattew menyelidik.


"Tentu saja. Jika itu terjadi, aku sendiri yang akan mengurusnya," jawabnya dan seolah memberikan ancaman untuk Zanna agar tidak melakukan sesuatu pada keluarganya.


Zanna yang mendengar itu tentu saja tahu maksud Nicko. "Kalian tenang saja, aku tidak akan melakukan hal itu pada keluarga suami ku," jelas Zanna, namun masih tidak bisa dipercaya oleh Mattew.


"Akan ku pegang kata-kata mu. Jika kau berani menyentuh sedikitpun keluarga ku, aku tidak akan segan untuk membunuh mu," ancam Mattew tidak main-main. "Lalu sekarang jelaskan, kenapa mereka menghadang mu?" Tanya Mattew masih janggal dengan kejadian tadi. Ia berpikir masih ada yang disembunyikan menantunya itu darinya, dan itu pasti sangat tidak sederhana.


"Mungkin mereka ingin membunuh istri ku. Bukankah kau tahu banyak musuh yang ingin mencelakai ku. Mungkin dengan membunuh istri ku, mereka bisa menjatuhkan ku," jawab Nicko masih menyembunyikan rahasia istrinya.


Mattew yang pintar tentu tidak percaya begitu saja. Namun ia akan berpura-pura percaya dengan apa yang dikatakan putranya itu. Tidak mungkin jika musuh Nicko mau berurusan dengan seorang wanita. Pastinya mereka akan langsung mencari masalah dengan Nicko, apalagi saat ini Nicko sedang lumpuh. Bukankah itu mempermudah mereka untuk membunuh Nicko. Tapi ini malah sebaliknya, mereka harus repot-repot berurusan dengan istri Nicko. Sungguh sangat aneh bukan?


Mattew akan mencari tahu sendiri kenyataan nya. Jika mengandalkan penjelasan Nicko dan Zanna dia tidak akan mendapatkan penjelasan yang jujur tentang menantunya itu. Sudah di pastikan putranya itu pasti menutupi kebenaran istrinya padanya. "Lebih baik aku mencari tahu sendiri siapa sebenarnya menantu ku ini," batinnya dengan mata menatap Zanna masih penuh selidik.


Zanna yang melihat tatapan itu menghela napas. Ia tahu jika mertuanya itu pasti tidak akan percaya begitu saja dengan apa yang di katakan Nicko. Dan ia percaya jika mertuanya itu pasti akan mencari tahu siapa dirinya sebenarnya. 


.


.


"Kapan dia akan memulainya? Dan menemukannya. Aku sudah muak bersama dengan pria ini. Aku rindu padanya," batin Mega merindukan orang yang di cintainya. Setelah dia keluar dari rumah sakit, dia akan menemui prianya. Bagaimanapun caranya dia harus bertemu dengan 'Dia'.


Setelah meluapkan semua emosinya, Frans menghampiri Mega. "Sayang maafkan aku. Anak buah ku gagal membunuh wanita itu." Elusnya di kepala Mega. Mega yang merasakan ingin sekali ia menepis tangan itu, namun untuk kepura-puraan nya, Mega tersenyum manis. "Tidak apa, aku tahu wanita itu kuat. Jadi kamu tidak perlu merasa bersalah pada ku," jawab Mega menyentuh tangan Frans.


Frans tersenyum manis dan mengecup kening itu dengan lembut. "Aku pergi dulu, ada sesuatu yang harus ku urus. Tidak apa-apakan jika kamu sendiri disini?" 


"Tidak apa, pergilah. Aku bisa menjaga diri ku sendiri." 


Frans pun pergi meninggalkan Mega sendirian. Mega yang melihat Frans telah pergi mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang di rindukannya. 


"Hallo Baby. Ada apa menghubungi ku?" Tanya pria itu.


"Apa aku tidak boleh menghubungi kekasih ku?"


"Hahaha….tentu saja boleh Baby. Ada apa hm…? Seperti nya kamu sangat kesal hari ini?"


"Aku kesal dengan pria itu. Dia sangat tidak berguna, selalu gagal membunuh wanita yang ingin ku bunuh," kesalnya mengingat kebodohan Frans. "Lalu dirimu kapan akan memulai urusan itu?"


"Bersabarlah, aku baru saja akan memulainya. Sambil mencari tahu dimana wanita itu berada," jawabnya. 


"Segera cari tahu wanita itu, aku tidak mau dia membuat repot diriku lagi. Kau pasti sudah mendengar markas ku dihancurkan oleh anak buahnya itukan? Felix si sialan itu."


"Ya, aku mendengarnya."


"Baguslah. Kalau begitu. Segeralah temukan dia, dan urus urusan mu itu. Setelah itu kita habisi wanita itu." 


"Baiklah, akan ku lakukan semua perintah mu, ratuku," jawab pria itu membuat Mega tersenyum merona. 


Panggilan pun berakhir. Pria yang di hubungi Mega, tersenyum. Ia juga sama merindukan wanitanya, wanita yang sangat dia cintai sepenuh hati. Namun saat mengingat urusannya belum selesai, ia belum bisa bertemu dengan wanita nya itu. Ia hanya bisa mempercayakan wanitanya pada Frans, pria bodoh yang sudah ia atur untuk bersama dengan Mega.


.


.


.


Bersambung