ZANNA

ZANNA
ZANNA Bagian 29, Bermain



Zanna kini sudah sampai di kediaman Mirdad tanpa memberitahukan kepada penghuni rumah. Ia turun dari motor dan berjalan masuk. Namun saat ia membuka pintu, betapa terkejutnya ia mendengar suara jeritan dari dalam rumah.


Zanna yang mengenal suara itu langsung berlari ke sumber suara. Saat sampai matanya melotot, betapa terkejutnya ia melihat adiknya di pukul cambuk oleh Rebecca.


Ctar,


Argh....jerit Dena saat cambukan itu mengenai tubuhnya.


Dena yang saat ini tidak membuat sarapan untuknya mendapatkan amukan dari Rebecca dan Sonia. Namun untuk saat ini hanya Rebecca yang memberikan pelajaran untuk Dena, tidak untuk Sonia, yang sedang duduk santai, mengikir kuku cantiknya sambil melihat Dena yang siksa.


Zanna yang berdiri di belakang mereka, mengepalkan tangan dengan erat. Wajahnya memerah karena marah, "APA YANG KALIAN LAKUKAN?" Bentak Zanna dengan keras.


Mendengar suara yang di kenalnya, Sonia, Rebecca dan Dena menoleh ke arah Zanna yang kini menatap nya dengan tajam.


Dena yang melihat kakaknya datang, tersenyum kecil, "Ka-kak," panggilnya lirih dan setelah itu pingsan.


Melihat Dena yang pingsan, Zanna langsung berlari menghampiri tubuh lemah itu. "Dena, bangun!" perintahnya sambil menepuk-nepuk pipi Dena, wajahnya sudah memucat karena siksaan yang di berikan Rebecca dan Sonia setiap hari.


Melihat itu, Zanna langsung mengangkat tubuh itu untuk membawanya kerumah sakit. Namun saat berdiri di depan mereka, Zanna menatap sengit. "Aku akan membuat perhitungan dengan kalian dengan apa yang kalian lakukan dengan adik ku," ucap Zanna dengan nada mengerikan dan membuat Sonia dan Rebecca merinding.


Setelah mengatakan itu, Zanna membawa Dena pergi kerumah sakit dengan menggunakan mobil milik Rebecca. Zanna mengambil kunci itu dengan paksa dari tangan Rebecca, dengan mengancamnya menggunakan senjata yang ia bawa.


Setelah sampai di rumah sakit, dan Dena sudah di tangani oleh dokter, Zanna pun pergi kembali ke kediaman Mirdad.


Namun sebelum Zanna sampai, Sonia dan Rebecca ketakutan melihat Zanna yang membawa senjata di tangan nya.


"Ma, bagaimana ini ma? Becca takut jika ia sungguh sungguh membunuh kita. Apa yang akan kita lakukan?" tanya Rebecca panik.


"Mama juga tidak tahu Becca, mama bingung," Sonia bingung dengan apa yang akan di lakukan nya.


Sebenarnya ia begitu takut melihat Zanna yang membawa senjata tadi, apalagi melihat Zanna yang menembak guci hingga pecah tanpa melihat. Mengingat itu ia bergidik ngeri. "Dari mana dia mendapat kan senjata berbahaya itu?" gumam Sonia lirih, terus berpikir.


Rebecca yang melihat Sonia malah melamun menjadi kesal, "Ma, ayo dong ma pikir. Jangan melamun aja."


"Diam lah Becca, mama pusing,"Jawab nya sambil memijit kepala nya yang berdenyut.


Rebecca terus mondar-mandir berpikir, apa yang harus dia lakukan untuk menyelamatkan nyawanya dari tangan Zanna. Ia tahu Zanna tidak akan main main membunuh nya karena berani menyiksa adiknya hingga terluka parah.


Cukup lama berpikir, Rebecca pun mendapat jalan keluar, "Kabur. Ya, kabur. Aku harus kabur, aku tidak mau mati konyol di tangan gadis gila itu," gumam Rebecca dan langsung menyeret tangan mama nya.


"Becca, apa yang kau lakukan? Kau mau membawa Mama kemana?" tanya Sonia yang mengikuti langkah Rebecca.


"Kita harus pergi dari sini, ma. Gadis gila itu pasti akan datang dan membunuh kita. Sebelum dia datang kita harus cepat meninggalkan tempat ini," jawab Rebecca.


"Apakah benar seperti itu?"


"Tentu saja, Cepetan kita harus mengemasi barang kita dan pergi dari sini."


Mereka berdua pun mengemasi barang mereka ke dalam koper. Setelah selesai, mereka pun menyeretnya dan pergi dari rumah itu. Namun sial nya saat mereka hendak masuk kedalam mobil. Di pintu gerbang, mobil yang di tumpangi Zanna tiba.


Rebecca yang melihat mengepalkan tangan. "Sial! Kenapa ia sudah sampai. Apakah ini akhir dari hidup ku?" batinnya melihat Zanna.


Sonia yang tahu, langsung masuk mobil. Namun saat Rebecca akan menghidupkan mobil, mobil nya tidak dapat menyala. "Sialan! Ayo hidup, ku mohon," Gumam Rebecca masih mencoba menyalakan mobilnya sambil sesekali menoleh ke arah Zanna.


Argh! Pukul nya pada setir mobil.


"Bagaimana? Ayo cepat nyalakan Becca. Lihat dia keluar dari mobil dan berjalan ke arah kita," perintah Sonia saat melihat Zanna keluar dari mobil sambil membawa pistol di tangan nya. Wajahnya memucat, membayangkan tubuh nya akan bersimbah darah.


"Becca cepat nyalakan," perintahnya lagi.


"Ini tidak bisa nyala ma," jawab Rebecca masih mencoba menyalakan. Namun saat Rebecca masih tetap menyalakan mobil, ia terkejut mendengar sura pecahan kaca.


Kaca pintu mobil sebelah Sonia pecah karena pukulan kayu yang di hantamkan oleh Zanna. Dan itu membuat Sonia terkejut apalagi tiba-tiba merasakan cekikan di lehernya.


"Mau lari kemana kau!" tanya Zanna dengan tangan mencekik leher Sonia.


"Le-lepas!" pintanya lirih dengan mencoba melepas tangan Zanna


Rebecca yang melihat mama nya di cekik oleh Zanna, melotot. "APA YANG KAU LAKUKAN? LEPASKAN MAMA KU," bentaknya mencoba menolong Sonia lepas dari tangan Zanna.


Zanna acuh, wajahnya datar tanpa ekspresi menatap Rebecca yang membentaknya. "DASAR JALA-NG! LEPASKAN TANGAN MU DARI MAMA KU," Bentaknya lagi masih mencoba melepas.


"To-long ma-ma," pinta Sonia.


Rebecca menangis melihat mama nya yang di cekik oleh Zanna. Zanna tak peduli ia terus menekan tangannya tanpa mau melepas, walaupun tangan Rebecca mencoba melepasnya dari leher Sonia. Namun walaupun Rebecca dan Sonia terus berusaha, tenaga mereka tetap kalah. Mereka tidak bisa melepas tangan Zanna yang kuat.


Rebecca yang tetap tidak berhasil, melepas mencoba menyalakan mobil dan kabur dari tepat itu. Dan betapa ia senang, karena mobil yang sedari tadi tidak menyala akhirnya kini hidup juga.


Rebecca mengambil tas nya dan memukul kepala Zanna. "Lepaskan mama ku."


Bugh,


Bugh,


Bugh,


Zanna yang marah menodongkan senjata nya dan menembak Rebecca di bahu.


Door.....


Argh! Jerit Rebecca merasakan sakit di bahunya.


Namun karena takut mati dan harus bisa menyelamatkan diri, ia menginjak pedal gas dan pergi dari tempat itu.


Zanna yang melihat Rebecca kabur, membiarkan nya. Memang itu lah niat nya. Sedetik kemudian, senyum smirk muncul di bibir manisnya. Namun itu sangat mengerikan. "Ayo kita bermain," gumamnya memutar senjatanya di tangan, dan setelah itu masuk kedalam mobil, menginjak pedal gas, dan pergi menyusul mobil Rebecca.


Zanna akan mengejar dan membuat mereka takut, berharap ia bisa membuat mereka kecelakaan di jalan.


Bersambung.


Ayo dukung karya Autor agar rame. 🙏🙏