
Satu bulan kemudian, Felix, Glen dan Faro, berhasil mengumpulkan banyak anggota yang mereka rampas, baik itu dari geng bandit kecil ataupun kelompok geng besar untuk di jadikannya anggota Mafia ZANNALOA.
Sedangkan Zanna sendiri tidak ikut dalam hal itu, karena dia harus menemani adiknya yang sendirian di rumah keluarga Mirdad. Zanna juga sudah meminta izin kepada Natalie dan mertuanya itu telah menyetujui nya, tentunya dengan bertanya apakah Nicko juga mengizinkannya. Dan lagi-lagi Zanna berbohong bahwa Nicko telah menyetujuinya.
Sedangkan Nicko yang berobat dengan di tangani seorang dokter terbaik di negara itu, kini sedikit demi sedikit ada kemajuan, ia bisa berjalan perlahan dengan di bantu oleh Boy yang setia menemani nya.
"Perlahan tuan, jangan terburu-buru," ucap Boy memperingati.
"Kau itu cerewet sekali. Aku tahu itu," kesalnya karena Boy terus-menerus memperingatinya sampai telinga nya rasanya panas mendengar peringatan itu setiap kali.
Langkah demi langkah ia mencoba untuk berjalan. Sesekali ia akan terjatuh, dan dengan sigap Boy akan membantu tuan nya, agar apa yang di inginkan tuan nya lekas terpenuhi. Berjalan layak nya dirinya dulu, dan menjadi pria yang gagah serta di hormati oleh semua orang.
.
.
Beberapa bulan kemudian.
Zanna yang berhasil mengumpulkan banyak kekuatan, kini akhirnya dirinya terendus oleh musuhnya, Mega dan Rubben.
"Kurang ajar! Jadi wanita sialan itu benar-benar masih hidup. Dan kini dia mencoba mengumpulkan kekuatan untuk melawan kita," Rubben benar-benar marah saat tahu Zanna masih hidup. "Selidiki dimana markas mereka. Dan kalian harus menemukannya," perintahnya pada anak buahnya.
"Baik bos," jawab anak buah nya dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Wajah Rubben mengeras, napasnya naik turun mengingat Zanna masih hidup. "Aku harus segera membunuhnya. Jika tidak! Dialah yang akan membunuhku duluan," gumam nya mengepalkan tangan.
.
.
Sedangkan di negara lain, seorang wanita cantik sedang duduk di pangkuan seorang pria yang memiliki tato serigala di dadanya.
"Bantu aku membunuh seseorang," pinta seorang wanita cantik itu yang tak lain adalah Rebecca.
Setelah kecelakan itu, Rebecca mengalami kerusakan di wajahnya. Melihat wajahnya yang buruk, Rebecca pergi ke negara asing untuk melakukan operasi wajah agar ia tidak malu jika berjumpa dengan orang lain.
Dan setelah operasi nya berhasil. Ia mencoba mencari seorang pria kuat untuk membalaskan dendam nya terhadap Zanna, wanita yang merusak hidup nya, dan kehilangan orang yang di sayangi nya, Sonia.
Ya, Sonia telah meninggal setelah beberapa minggu kecelakaan waktu itu. Karena fisiknya yang sudah tua, akhirnya ia tidak bisa menahan sakit di tubuhnya, dan akhirnya menghembuskan nafasnya terakhir di rumah sakit dimana ia di rawat.
Rebecca yang melihat mama nya meninggalkan nya sendirian di dunia, akan membalaskan dendamnya terhadap Zanna yang berani merenggut nyawa wanita yang dia sayangi. Ia akan melakukan apapun agar Zanna mati di tangan nya, menyusul mama nya di alam baka.
Pria yang tak lain adalah kekasih Rebecca, mengelus wajah kekasih nya. "Siapa yang ingin kau bunuh?" Tanya pria bernama Leon.
"Wanita yang membuat ku menderita, dia bernama Nana," jawab nya dengan pandangan penuh dendam.
"Nana? Apakah dia wanita yang ada di negaramu Baby?" Tanya Leon mengendus leher putih Rebecca.
"Ya, dia ada disana. Dan dia juga adalah adik tiri ku," jelas Rebecca penuh dendam.
"Baiklah, aku akan membantu mu. Tapi puaskan aku dulu," ucap Leon langsung mendorong tubuh Rebecca dan mengukungnya. Dan setelah itu terjadilah ada yang seharusnya terjadi.
.
.
Namun Geng Hunter tidak mengetahui jika ada yang melindungi Zanna nantinya, yaitu Geng Reaper milik Nicko William yang tak kalah bengis nya dengan Geng Hunter.
.
.
Di kediaman William, Zanna bersiap untuk menjemput suami nya di bandara. Ia merasa malas, namun apa daya jika Natalie yang menyuruhnya.
"Pergilah ke bandara, jemput suami mu. Dia pasti akan senang jika kamu ikut menjemputnya," perintahnya dengan lembut.
"Baik ma, aku akan menjemputnya," jawab Zanna. "Oh ya ma, titip Dena ya," pinta Zanna dan di angguki Natalie.
"Kamu tenang saja, mama akan menjaga nya." Natalie mengelus kepala gadis remaja di samping nya.
"Kakak pergilah, tidak usah memikirkan aku. Mama Natalie pasti akan menjaga ku. Sekarang lebih baik kakak cepat jemput kakak ipar ku, aku yakin dia juga pasti menunggu kedatangan mu," ucap Dena tersenyum manis.
"Hah, baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu. Jaga diri kalian di rumah."
Zanna pun pergi dengan langkah malas menuju mobil. Ia sebenarnya sangat malas bertemu pria yang selalu mengganggu nya itu. Baik ada atau tidak nya dia di samping nya, pria itu terus saja mengganggu nya lewat panggilan dengan kata-kata yang selalu membuatnya kesal setengah mati.
Nicko memang telah berubah, ia sering mengucapkan kata yang menurut Zanna sungguh menggelikan. 'Aku rindu dengan mu. Aku sayang pada mu. Dan masih banyak lainnya kata yang di ucapkan pria nomor satu itu'.
Zanna yang berada di kursi penumpang memandang jalanan kota yang nampak ramai. Beberapa kali ia menghela napas, bingung dengan apa yang akan di lakukan nya saat bertemu dengan Nicko. Mungkin kah dia akan melakukan adegan seperti seorang istri yang layaknya menyambut kedatangan suami. Memeluk dan mencium nya. Tidak! Zanna menggelengkan kepala, dia tidak akan melakukan hal bodoh itu.
"Menjijikkan," gumam nya pelan. Supir yang sedang mengemudi mendengar gumaman Zanna bertanya.
"Apa yang menjijikkan nona muda?"
"Ah, tidak ada," jawab nya cepat. Zanna kembali menghela napas. "Sialan! Kenapa aku terus memikirkan dia sih? Menyebalkan!"
Beberapa menit perjalanan, Zanna akhirnya sampai di bandara. Ia menunggu kedatang suami tercinta nya. Ralat, suami menyebalkan nya.
Tak berapa lama, pria yang di tunggu nya kini telah sampai dengan di temani oleh Boy. Boy mendorong kursi roda tuan nya menuju Zanna berada.
"Kamu menunggu ku Baby?" Tanya Nicko tersenyum manis, namun malah mendapatkan tatapan permusuhan.
Melihat itu, Nicko tertawa. Inilah yang ia rindukan selama berbulan bulan di negara orang. Wajah penuh permusuhan dari istri nya. Istri yang perlahan membuat dirinya jatuh hati. Namun ia harus ekstra sabar mengambil hati wanita itu, karena Zanna benar-benar susah untuk di taklukan.
"Sudah ku katakan, jangan panggil aku dengan panggilan menggelikan itu," kesal nya bersedekap dada, menatap marah suami nya.
Nicko hanya mengulas senyum kecil nya mendengar itu. Sedangkan Boy yang ada disana hanya bisa menggaruk kepala nya yang tidak gatal. Hampir setiap hari ia mendengar keributan itu dari tuan dan nona nya. Yah walaupun hanya lewat panggilan. Namun itu menurutnya tuan dan nona nya memang benar benar serasi.
Bersambung.