
Zanna menatap dingin pria yang bersimpuh di depannya. Setelah itu ia menyerahkan Dena pada Nicko. Zanna menatap pria di depannya dengan pandangan ingin membunuh. Menurutnya Leon juga termasuk orang yang harus di bunuh, karena ikut andil dalam hal penyiksaan Dena, yah walaupun Leon tidak melakukan secara langsung dengan tangannya. Tapi menurut Zanna itu sama saja.
"Aku bukan orang suci. Jadi jangan memohon pengampunan dari ku," ucap Zanna menodongkan pistolnya di depan Leon.
Leon yang melihat menelan ludah. Ia tahu akan seperti ini akhirnya. Mati di tangan orang yang ia ganggu.
Door…
Satu tembakan tepat di kening Leon, dan Leon pun tumbang di di depannya, mati di tangan Zanna.
Nicko yang melihat tidak peduli, karena menurutnya itu sangat pantas di lakukan istrinya pada orang yang berani bermain dengan nya.
Dan hari itu, hari kematian Leon dan Rebecca karena keberanian mereka melawan Zanna, yang memang bukanlah lawan untuk mereka.
Setelah berhasil menyelamatkan Dena, Nicko beserta anak buahnya pergi meninggalkan bangunan itu menuju rumah sakit. Sepanjang jalan, Zanna mengelus kepala Dena yang berada di pangkuannya dengan kasih sayang. Hidup seorang diri hanya di temani bawahannya tanpa memiliki saudara kandung membuat Zanna benar-benar menyayangi Dena layaknya saudara kandung. Ia berjanji akan menjaga Dena sepenuh hati, layaknya seorang kakak yang menjaga adiknya.
Sesampainya mereka di rumah sakit, Dena langsung mendapatkan perawatan dari seorang dokter yang mengenal Nicko William, pengusaha sukses dari keluarga William.
Nicko yang saat ini berada di ruangan Dena, duduk bersama Zanna di sofa, mengelus kepala Zanna dengan lembut. Zanna yang merasakan hanya melirik saja dengan pandangan seperti biasa, datar.
"Sayang, ayo lah. Kenapa selalu memberikan tatapan itu terus terhadap ku? Aku kan suami mu. Apalagi kita sudah sering____" belum selesai Nicko menyelesaikan ucapannya, Zanna sudah menatapnya dengan tajam. Seolah berkata, jika mengatakan lebih akan di bunuh.
Nicko yang melihat itu langsung diam, dengan cengengesan. "Baiklah-baiklah, tidak akan memaksamu menatap ku dengan memuja."
"Cih, siapa juga yang ingin memuja mu. Tampang pas-pasan seperti itu ingin di puja. Jangan mimpi!" Jawab Zanna membuat Nicko menatap serius. Mungkinkah pendengaran salah, pikirnya.
"Tampang pas-pasan? Sayang aku ini tampan lo," Nicko tidak terima wajah tampannya di bilang pas-pasan. Padahal selama Zanna di bawah kukungan nya, Zanna akan selalu memandangnya dengan penuh kagum, tidak seperti jika tidak berada di kukungan nya. Zanna akan berubah dingin dan datar.
Kadang Nicko bertanya-tanya. Kenapa bisa seorang wanita lebih dingin dari nya, dan itu sialnya wanita itu adalah istrinya, istri yang sangat di cintainya.
Zanna yang mendengar ucapan suaminya yang mengatakan dirinya sendiri tampan, memutar bola matanya malas. Jika boleh jujur, memang Zanna akui suami nya itu memanglah tampan. Namun gengsi yang membuatnya mengatakan jujur bahwa Zanna mengakui ketampanan suaminya.
"Tidak bisakah kau diam! Aku ingin istirahat," ucap Zanna menutup matanya, meminta Nicko untuk tidak mengganggu nya.
Mendengar itu, Nicko menghela nafasnya. "Hah, baiklah," jawabnya saat melihat Zanna mulai menutup matanya. Nicko berpikir, mungkin istrinya itu memanglah lelah.
.
.
Di markas Reaper, Chris berusaha keras mencari petunjuk siapa itu Edgar. Sedangkan di lain tempat, tempatnya di markas Mafia Red Wolf, seorang asisten melaporkan kepada tuannya, bahwa ada seseorang yang mencoba membobol data tuannya.
"Ada apa?" Tanya pria itu.
"Ada seseorang yang mencoba mencari data pribadi anda tuan. Dan saat ini saya sedang menyelidikinya," jelas asisten itu.
"Masih saya cari tuan," Jelas nya.
"Baiklah, kabarkan kepada ku, jika kau sudah menemukan siapa itu."
"Baik tuan."
"Oh ya, bagaimana yang ku minta? Apa kau menemukan petunjuk tentang Zanna?"
"Sebentar lagi tuan. Kami ingin memastikan apakah itu benar wanita itu atau bukan," jelas asisten itu.
"Baiklah. Aku ingin secepatnya, ku tunggu informasinya."
Panggilan itu berakhir. Pria itu menatap keluar jendela dengan menyesap rokoknya, menghembuskan nya hingga membuat asap mengepul kecil di depannya.
"Dimana kau berada? Sungguh membuat ku repot," kesalnya hanya karena seorang wanita. Namun ia sungguh harus berhati-hati dengan wanita itu, karena wanita itu adalah hal yang menurutnya sangat berbahaya.
"Jika tidak bisa membunuh dan melihat mayatnya sendiri, aku tidak akan pernah tenang," gumamnya menyesap rokoknya kembali dan menghembuskan nya.
Di markas Reaper, Chris terus mengotak-atik komputernya, mencari sesuatu tentang kebenaran pria itu.
Chris diam, menunggu munculnya gambar pria yang menjadi targetnya. Ia berharap gambar yang akan muncul itu benar-benar pria itu. Pria yang menjadi musuh tuan nya.
Cukup lama menunggu, wajah pemilik asli nama Edgar terpampang jelas di komputer Chris. "Robbin," gumam Chris akhirnya mengetahui siapa itu Edgar.
Chris sudah menebak jika Edgar itu adalah Robbin, orang yang mencelakai tuannya dan merubah wajahnya menjadi Edgar agar tidak di ketahui oleh tuannya, Nicko William.
Setelah mengetahui siapa itu Edgar yang tak lain adalah Robbin, Chris pun langsung mengirimkan informasi itu kepada Nicko. Sedangkan di tempat Mafia Red Wolf, asisten itu kesal tidak karena tidak bisa menghentikan siapa yang membobol datanya. Namun kekesalan nya mereda saat menemukan sebuah informasi yang akan membuat tuannya senang. Zanna, asisten itu menemukan keberadaan Zanna berada, dari retasannya saat Zanna kabur dari kejaran anak buah Rubben saat itu.
"Nana Mirdad," gumam asisten itu saat melihat data yang berhasil ia dapatkan kan. Sungguh ia tidak menyangka jika musuhnya itu ternyata selalu terlibat dengan mereka dalam identitas menjadi istri Nicko William.
"Heh, tuan pasti akan senang mendengar laporan yang akan ku berikan," ucapnya dan mengirim informasi itu kepada tuannya.
Pria yang mendapatkan notifikasi pesan dari asistennya langsung membuka pesan itu dan membaca. Saat matanya membaca data itu, pria itu terkejut dengan kenyataan itu. Ia ingin sekali tertawa, ia tidak menyangka jika musuh wanita nya ternyata adalah wanita yang ternyata tak jauh darinya.
"Hahaha….aku tidak menyangka jika wanita itu adalah milik Nicko sialan itu! Heh, ini sungguh kebetulan dan ini akan semakin menarik." Gumamnya tidak menyangka jika akan melawan dua orang sekaligus. Satu musuhnya masa lalu, satu nya lagi musuh yang mengancamnya.
Setelah mengetahui kenyataan itu, pria itu langsung meminta asisten nya untuk melakukan penyerangan besar-besaran secara terbuka kepada Zanna terlebih dahulu. Karena menurutnya Zanna lebih pantas mati lebih dulu ketimbang Nicko yang akan menjadi target kedua setelah membunuh Zanna.
Asisten itu pun menjalankan perintah yang di berikan tuannya, dan mengumumkan kepada semua bawahannya untuk mempersiapkan penyerangan membunuh Zanna.
Bersambung