
Sedang Tom yang saat ini sedang rapat mengumpat kesal, karena tuan nya seenak jidat memerintahkan nya untuk menjemput. Pikirnya, bukankah tuannya itu sudah di jemput oleh nona muda dan sopir nya? Dan ini apa? Dia meminta nya untuk menjemputnya. Apakah bosnya ini terlalu sayang kepada nya, sehingga setiap kali harus ada dirinya?
Tom, menghentikan rapat nya dan langsung pergi dari ruangan itu. Semua yang ada di tempat itu saling pandang, bingung. Kenapa asisten bos mereka tiba tiba pergi? Mungkin kah mereka melakukan kesalahan? Pikir mereka semua bertanya-tanya.
Beberapa menit perjalanan, Tom akhirnya sampai di tempat Nicko dan lainnya berada. Saat turun dari mobil, Tom mengerutkan kening melihat Boy dan sopir pribadi Nicko berdiri di luar mobil. Sedangkan sang tuan tidak ada batang hidung nya sama sekali, alias duduk santai di dalam mobil bersama Zanna yang sedang bersungut-sungut.
"Kenapa kalian di luar?" Tanya Tom tidak tahu permasalahan nya.
"Jangan tanya, sekarang lebih baik kau masuk dan bawa tuan pulang," jawab Boy mendorong tubuh Tom agar masuk kedalam mobil. Takut tuan yang sedari tadi menunggu bertambah murka.
Tom yang di dorong, mencoba menahan tubuhnya. "Hei, kenapa kau mendorong ku? Jawab dulu pertanyaan ku," pintanya.
"Tidak akan ku menjawab. Kau akan tahu nanti. Buruan masuk, dan bawa tuan kembali,"
Brak,
Boy menutup pintu. Dan setelah itu kabur bersama supir menggunakan mobil Tom.
Sedangkan Tom yang berada di dalam mobil, melirik bos nya lewat kaca. "Kenapa rasanya aku sedang masuk kedalam neraka? Ada apa dengan mereka?" Batinnya melihat Zanna yang seperti marah sedangkan Nicko diam tanpa kata.
Saat melamun berpikir tentang mereka berdua, ia mendapat perintah untuk segera menjalankan mobilnya. Tom yang mendengar perintah itu langsung menyalakan mobil.
"Jalan," perintahnya.
"Baik tuan," jawab nya dan langsung melajukan mobilnya.
Nicko menoleh ke arah samping, di lihatnya istrinya masih dengan wajah marahnya. "Baby," panggilnya dengan lembut.
Tom yang mendengar langsung tersedak ludah nya mendengar panggilan geli itu, panggilan yang menurut nya tidak pantas di ucapkan Nicko William yang keras.
"Apakah tuan sekarang menjadi gila? Sejak kapan tuan memanggil nona dengan panggilan Baby? Rasanya aku ingin tertawa keras saat dia memanggil Baby, sangat aneh dan menggelikan," batin Tom terkikik geli.
Zanna yang mendengar kikikan Tom, langsung menendang kursi depan nya. "Apa yang kau tertawakan asisten sialan!?" Marah Zanna dengan wajah menyeramkan.
"Ah, tidak ada nona. Saya hanya teringat dengan film yang saya tonton tadi," jawab Tom berbohong.
"Apakah waktu mu banyak santai Tom? Sampai kau bisa menonton sebuah film?" Tanya Nicko dengan nada seperti sebuah ancaman.
"Sialan! Kenapa mulut ini asal ngomong," "batinnya berharap dirinya tidak di kirim ke Planet Mars.
"Tidak tuan, saya sibuk," jawab Tom cepat.
"Sesibuk apa diri mu? Aku rasa kau hanya menulis dan menulis," ucap nya menaikkan sebelah alisnya.
Tom yang mendengar terbengong. Bukankah memang kerjaan nya menulis, menandatangi berkas. Lalu apa maksudnya ini? Atau jangan-jangan otak tuan nya benar-benar sudah eror? Tom hanya menatap Nicko dari kaca. Berharap tuan nya tidak lagi stres.
"Tapi saya memang sibuk tuan. Jika anda kembali lagi nanti ke kantor, anda akan tahu sesibuk apa diri saya," jawab Tom santai tanpa berpikir bahwa ucapannya akan membuat nya dalam bahaya
"Oh ya ampun! Apa sebenarnya yang di katakan tuan ini. Aku kan sama sekali tidak mengatakan itu. Kenapa dia punya pemikiran seperti itu?" kesal nya dalam hati.
Melihat Tom yang nampak kesal, Nicko bertanya lagi. "Ku rasa kau sudah bosan bersama ku Tom. Apa kau meminta ku untuk segera memecat mu?" Tanya Nicko menyelidik.
"Tidak tuan, saya tidak ingin di pecat. Jika saya di pecat bagaimana dengan calon istri saya nanti," jawab Tom memelas, memasang wajah permohonan nya.
Mendengar ucapan Tom yang ngelantur sampai calon istri, membuat Nicko tertawa keras. Zanna yang berada di sampingnya menoleh, menatap suami nya. "Apakah asisten itu mengatakan sesuatu yang salah, sehingga kau tertawa begitu lepas?" Tanya Zanna tidak mengerti.
Mendengar pertanyaan itu, Nicko langsung diam dan mengangkat dagu Zanna. "Pria seperti mereka mana mungkin memiliki calon istri jika aku tidak mengizinkan nya. Jika sampai dia saat ini memilikinya berarti mereka siap melihat calon istrinya mati di tangan ku," jawab Nicko membuat Zanna terkejut.
"Apa maksud mu? Apa mungkin kau melarang mereka untuk berkeluarga?"
"Tentu saja. Karena itu memang janjinya. Sebelum aku meminta nya untuk mencari pasangan, sampai mereka mati pun mereka tidak pernah menikah."
Zanna menepis tangan itu, "Dasar gila!"
"Aku memang gila," jawab Nicko santai. "Tapi aku akan mengizinkan mencari pasangan, namun semuanya tergantung pada mu."
Zanna yang mendengar mengerutkan kening, bingung dengan maksud yang di katakan Nicko. Melihat wajah bingung istrinya, ia tersenyum smirk. "Jika kau ingin tahu alasan nya, cium aku," pintanya tak tahu malu.
Wajah Zanna langsung memerah, setelah itu mendorong wajah menyebalkan itu, "Mati saja kau!" Kesal nya di tingkat ubun ubun. Sungguh suaminya itu semenjak pulang dari luar negeri menjadi sangat aneh, mencoba untuk selalu mendekati nya.
..
..
Sesampainya di kediaman William, Zanna keluar lebih dulu, dan berdiri bersedekap dada tanpa membantu suaminya yang turun dengan di bantu Tom, duduk di kursi roda.
Ia masih merasa kesal dengan tingkah menyebalkan Nicko. Dan setelah itu mereka masuk kedalam rumah. Disana mereka sudah di sambut oleh Natalie dan Dena yang tersenyum manis.
Selamat datang kembali sayang," sapa Natalie namun hanya di jawab satu kata 'Em' saja. Zanna yang mendengar ingin sekali menampol wajah menyebalkan itu.
Natalie yang sudah terbiasa dengan jawaban itu hanya tersenyum kecil, setelah itu meminta mereka untuk segera istirahat. Ia tahu putra tiri nya itu pasti sangat lah lelah. "Pergilah istirahat, Mama yakin kamu pasti lelah," perintah Natalie dengan nada lembut. Namun lagi-lagi nicko mengacuhkannya dan meminta Tom membawanya ke kamar.
Zanna yang melihat suami nya sudah pergi, mendekati Natalie. Ia tahu hubungan ibu dan anak itu sedang tidak baik-baik saja. Tapi entah apa Zanna tidak tahu masalah nya. Karena Zanna sendiri tidak mengetahui jika Natalie adalah ibu sambung Nicko William.
Zanna memegang kedua tangan Natalie, "Ma, maafkan sikap Nicko. Aku tahu mama pasti sakit hati dengan sikap cuek dan dinginnya. Tapi percayalah, suatu saat dia pasti akan bersikap hangat dengan mama," ucap Zanna menenangkan.
Natalie tersenyum, namun dalam hati ia begitu sedih. sudah bertahun tahun lama nya semenjak ia menikah dengan Mattew, Nicko tidak pernah mau menganggapnya sebagai ibu. Dan hari ini masih tetap sama seperti sebelum sebelumnya, sungguh menyakitkan. "Terimakasih sayang, dan mama akan menunggu nya," jawab Natalie. "Sekarang pergilah, susul suami mu," perintah nya dan di angguki Zanna.
Zanna pun pergi meninggalkan mereka menuju kamar dimana Nicko sedang menunggu nya.
Bersambung