ZANNA

ZANNA
ZANNA Bagian 49, Sakit Pinggang



Nicko dan Tom kembali ke kantor, ia menyerahkan urusan Zanna kepada Yuna, karena di kantor masih banyak pekerjaaan yang harus ia selesaikan.


Di rumah sakit, Felix datang. Namun saat Felix masuk, Yuna yang berada dalam kamar itu langsung menyerang Felix.


Bugh,


Felix di jatuhkan dalam sekali serang, dan kini tubuh yang berada di lantai itu di tekan oleh Yuna.


"Siapa kau?" Tanya Yuna yang tidak mengenal Felix. Pikirnya, Felix adalah orang yang jahat yang ingin mencelakai nona mudanya.


"Hei, apa-apaan kau ini. Lepaskan aku," Felix meronta, mencoba lepas dari gadis yang tiba-tiba menyerang nya saat masuk.


"Katakan, mau apa kau disini? Jika kau memiliki niat tidak baik, aku akan membunuh mu," ancam Yuna menekan tubuh itu dengan kuat.


"Dasar gadis gila! Lepaskan aku. Aku bawahan nona," jawab Felix kesal karena tubuhnya di tindih oleh seorang gadis.


Mata Yuna menyipit, menyelidik. Berpikir apakah yang di katakan pria di bawahnya ini benar atau tidak. Jika pria ini berbohong takutnya nona nya dalam bahaya.


Yuna mencari sesuatu di tubuh Felix, menggeledah sesuatu yang mungkin saja dapat membahayakan nyawanya dan nyawa nona muda nya.


"Hei, apa yang kau lakukan? Lancang," marah Felix karena gadis itu menggeledah, mencari sesuatu tubuh nya. Membalik tubuh itu, dan kini saling berhadapan dengan tubuh Yuna masih di atas Felix


"Diam kau!" bentak Yuan masih mencari.


"Jangan sentuh bagian itu!" marah Felix saat Yuna mencari di saku depan Felix.


"Memang apa yang akan ku sentuh? Bagian yang tidak akan perubah ini," dengan nakal Yuna memukul adik Felix dan langsung membuat Felix merintih.


"Dasar gadis gila!" kesalnya dan kini mendorong Yuna, mengukungnya sambil mencekik leher itu.


"Le-lepaskan a-ku," tangan Yuna mencoba menyingkirkan tangan Felix dari leher nya, dengan kaki menendang-nendang.


Felix tidak memperdulikan gadis yang meronta itu. Ia masih menatap dingin wajah gadis cantik di bawahnya. Tiba-tiba suara seorang wanita membuat nya terkejut saat mendengar ucapan wanita itu.


"Jika kau ingin melakukan itu, jangan di lantai. Terlalu keras, bisa membuat wanita mu sakit pinggang," ucap Zanna yang baru bangun dan di suguhi pemandangan yang belum pernah ia lihat sama sekali. Felix bersama dengan seorang wanita. Zanna sebenarnya tahu jika Felix sedang mencekik gadis itu, gadis yang belum pernah ia lihat. Entah siapa, Zanna tidak tahu.


Felix dan Yuna saling pandang mendengar itu, 'Sakit pinggang' Memang apa yang mereka lakukan? Sadar dengan pose tubuh mereka yang mungkin saja membuat semua orang gagal fokus saat melihatnya, Yuna pun mendorong tubuh Felix dari atasnya.


Felix dan Yuna berdiri, membenahi pakaiannya dan berjalan menghampiri Zanna yang terus menatap mereka berdua. Zanna menaikkan satu alisnya, ia tahu mereka tidak melakukan itu. Namun tiba-tiba pikiran licik keluar dari kepala nya. Ia ingin mengerjai anak buah nya itu, dengan menggodanya.


"Jika kalian ingin bermesraan, cari lah hotel. Kenapa harus di lantai," ucap Zanna dan membuat mereka langsung panik.


"Tidak nona. Itu tidak seperti yang anda pikirkan," jawab mereka berdua kompak. Wajah keduanya bersemu, karena di tuduh seperti itu oleh nona muda mereka.


"Oh ya. Tapi yang ku lihat____" Zanna berpikir dengan tangan berada di dagu, menatap mereka berdua secara bergantian. Yuna dan Felix saling pandang.


"Itu tidak yang seperti anda pikirkan bos. Kami tadi hanya saling salah paham, mengira jika masing-masing dari kami adalah musuh. Dan terjadilah, seperti yang anda lihat," jelas Felix.


Felix menatap bosnya, "Bagaimana keadaan anda?" tanya Felix melihat lengan bosnya.


Yuna yang melihat lengan nona mudanya langsung terkejut saat melihat bahu itu terekspos, tidak tertutup oleh selimut. Ia baru sadar jika nona mudanya tidak memakai pakaian sama sekali. Yuna memukul bahu Felix dengan keras, membuat Felix menatapnya tajam. "Jangan menatap ku seperti itu. Dan jangan melihat nona muda," marah Yuna balik membalas tajam.


"Kenapa?" tanya Felix dan melihat ke arah bosnya. Tahu apa yang di maksud gadis itu, Felix langsung membalikkan tubuh nya. "Bos, saya keluar dulu."


"Pergi sana," jawab Yuna ketus. Felix melirik sebentar, setelah itu pergi keluar meninggalkan dua wanita itu.


Melihat Felix sudah pergi. Yuna langsung membenarkan selimut itu. "Nona, maaf saya mengusir bawahan anda. Saat ini anda sedang tidak memakai pakaian, jika tuan sampai tahu, saya bisa di bunuh oleh tuan karena membiarkan tubuh nona di lihat pria lain."


Zanna melihat tubuh nya, dan ternyata ia tidak memakai pakaian. Ia menghela napas, lupa jika tadi habis bermain dengan suaminya. Zanna turun dari ranjang, melihat itu Yuna membantu. "Biar saya antar kekamar mandi. Saya akan melayani anda."


"Melayani? Zanna menatap gadis di sampingnya. "Tidak! Aku bisa sendiri," tolak Zanna.


"Tapi nona, saya sudah di perintahkan tuan untuk menjaga anda. Dan saya pun juga harus melayani anda dengan baik. Jadi biarkan saya melayani anda mandi."


"Aku tidak mau, kau duduklah saja. Tunggu aku selesai dan kita berbicara," tolak Zanna yang tidak ingin di layani. Apa-apaan pikirnya. Walaupun sama-sama perempuan tapi tidak juga harus di mandikan. Dirinya sudah besar, bahkan sekarang sudah memiliki suami. Jadi tidak mungkin dirinya meminta seorang gadis melayani dirinya dan pastinya akan melihat seluruh tubuhnya.


Yuna yang mendengar penolakan itu, matanya berkaca-kaca. Ia berpikir jika nona nya tidak suka dengannya. "Nona membenci ku! Nona tidak ingin saya layani!"


Zanna yang melihat mengerutkan kening, "Hei, kenapa kau menangis? Bukan itu maksud ku. Aku hanya tidak ingin tubuh ku di lihat orang lain selain suami ku. Jika dia tahu tubuh ku di lihat oleh mu, pastinya dia akan langsung mencekik mu," Zanna mencoba menakut-nakuti gadis itu.


Mendengar itu, Yuna memegang lehernya, berkhayal tuannya mencekik lehernya. Berpikir tentang itu, Yuna dengan cepat menggelengkan kepala. "Tidak, saya masih ingin hidup."


Zanna yang melihat tersenyum kecil. "Baiklah, kau duduk saja. Tunggu aku selesai mandi," ucap Zanna menuju kamar mandi. Namun sebelum masuk, ia meminta Yuna untuk menyiapkan pakaian untuk nya. Yuna mengangguk, dan setelah itu meminta pakaian pasien kepada seorang perawat.


.


.


Di tempat lain, Mega di buat terkejut oleh beberapa mayat anak buahnya yang dia kirim untuk membunuh Zanna. Semua nya mati dengan cara mengenaskan.


Mega yang saat itu menunggu laporan keberhasilan anak buahnya, mendapatkan panggilan dari salah satu nomor anak buahnya, yang mengatakan, meminta Mega untuk datang ke suatu tempat. Mega berpikir bahwa mereka berhasil membunuh Zanna dan memintanya datang untuk melihat mayat itu. Tapi saat sampai, bukannya melihat mayat Zanna, melainkan malah melihat ke tujuh anak buah nya tergeletak dengan tubuh tak bernyawa.


.


.


.


.


Bersambung.