
Pelayan wanita itu masuk dan meletakkan nampannya di atas meja. Setelah meletakkan makanan itu, pelayan wanita itu undur diri. Zanna mengambil makanan itu di atas piring, membawanya ke tempat Nicko berada. Zanna duduk di samping suami nya yang terus menatapnya.
"Kenapa menatap ku seperti ku?" Tanya nya sambil meniup nasi di sendok untuk di suapkan kepada suaminya.
"Istri ku semakin cantik, dan aku semakin mencintainya," jawab Nicko membuat Zanna bersemu. Sungguh manis sekali mulut suami nya itu sekarang.
Zanna mengabaikan. Entah kenapa ia tampak seperti anak muda yang baru mengenal cinta. Jantungnya berdetak cepat saat mendengar kata manis dari bibir suaminya itu. Sungguh pintar sekali suaminya itu membuatnya merona.
"Makanlah, jangan banyak bicara," ucapnya dan menyuapi. Nicko yang di suapi langsung melahapnya, karena tidak ingin membuang kesempatan langka ini, istrinya menyuapi setelah lama menikah. Uh, sungguh membuat hati bang Nicko bahagia.
"Memang kenapa? Apa kamu ingin aku segera sembuh?" Tanya Nicko dengan pertanyaan aneh dan membuat Zanna menatapnya.
"Tentu saja agar kamu cepat sembuh," jawab Zanna cepat.
"Apa sudah tidak sabar berada di bawah kukungan ku?" Tanya Nicko langsung mendapatkan pelototan dari istrinya. Nicko yang melihat Zanna terkejut, langsung tertawa. Sungguh manis sekali istrinya itu.
Nicko berpikir, setelah sembuh nanti ia akan bekerja keras untuk mendapatkan momongan. Membayangkan dirinya di panggil Daddy, Nicko sungguh tidak sabar lagi.
"Baby," panggil Nicko dengan manja."
"Apa?" Tanya Zanna masih setia menyuapi.
"Setelah aku sembuh kita harus bekerja keras ya!"
"Kerja keras! Untuk apa?"
"Membuat Dede' bayi. Aku ingin kita memiliki Baby setelah ini. Pernikahan kita sudah cukup lama. Untuk sebelumnya aku menyadari jika kamu pasti belum mau. Namun untuk saat ini ku harap kamu mengabulkan keinginan ku. Aku menginginkan baby dari mu," jelas Nicko membuat Zanna diam, berpikir. Mungkinkah suami nya sungguh menginginkan anak dari nya? Jika iya, Zanna tidak bisa menolaknya. Lagian untuk saat ini mungkin sudah saat nya mereka memiliki seorang anak, karena tidak ada musuh mereka lagi di antara mereka.
"Baiklah," jawab Zanna mengangguk. Nicko yang mendengar Zanna setuju dengan permintaan nya, langsung memeluk istrinya.
"Terimakasih Baby, terimakasih," ucap Nicko dengan bahagia, mencium seluruh wajah Zanna dengan penuh cinta.
Setelah selesai menyuapi Nicko, malam itu mereka berdua pun langsung tidur dengan lelap. Tidak memikirkan hal-hal seperti sebelum nya karena adanya musuh mereka. Dan kini mereka hanya tinggal menata kebahagiaan untuk menjaga keharmonisan rumah tangga yang akan mereka jalani layaknya suami istri pada umumnya. Mempunyai momongan dan mencintai satu sama lain.
.
.
"Baby," peluk Nicko sambil menyandarkan dagu di bahu istrinya yang baru mandi.
"Apa?" Tanya Zanna masih dengan mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Apakah belum ada tanda-tanda?" Elusnya di perut istrinya.
Zanna yang tahu maksud suaminya, melepas pelukan itu dan menatap suaminya. Menangkup wajah itu dengan kedua tangannya.
Cup,
Ciumnya di pipi Nicko. Nicko yang melihat istrinya mencium nya, kini berganti dengannya, menangkup wajah istrinya dan mencium bibir Zanna dengan lembut. Zanna yang tahu akan seperti itu terkekeh, mendorong dada itu.
"Cukup! Kamu akan membuat ku sesak napas," Nicko yang melihat di ciumannya lepas, cemberut. Masih ingin menikmati bibir manis istrinya. Zanna yang melihat bibir manyun suaminya tersenyum, "Jika masih cemberut seperti itu aku tidak akan memberikan mu surprise."
"Surprise? Memang kamu akan memberikan ku hadiah?" Tanya Nicko dan di angguki Zanna. "Tapi aku sedang tidak ulang tahun Baby."
"Tidak masalah. Bukankah memberikan hadiah tidak hanya saat ulang tahun? Saat ini aku akan memberikannya hadiah itu untuk mu. Tapi sebelum itu kamu harus menutup mata terlebih dahulu," perintah Zanna membuat Nicko bingung. Namun tetap menuruti perintah itu, memejamkan mata dan menunggu istrinya memintanya membuka mata.
Zanna pergi dari hadapan suaminya yang menutup mata, mengambil sesuatu yang tadi pagi baru ia gunakan. Perlahan Zanna kembali kehadapan suaminya, tersenyum kecil membayangkan mimik wajah suaminya yang pasti akan terkejut bercampur senang.
Apakah itu?
Jeng…..
Jeng…..
Bersambung.