
Arzan bingung, ia berpikir keras. Sesekali ia menatap wajah ayu Zanna. "Sial! Haruskan aku jujur?" batinnya berperang dengan janjinya yang tidak akan mengatakan siapa yang menyuruhnya.
Namun saat mengingat nyawanya lebih berharga, Arsan ingin mengingkari. "Maafkan aku tuan muda, maafkan aku tuan Tom. Aku sayang nyawa ku, diri ku belum kawin. Jadi ku harap anda berdua tidak menyalahkan aku," Arzan berbicara sendiri dalam hati, berdoa semoga kedua tuannya tidak akan membunuhnya. Jika pun nantinya dia akan mati di tangan tuan mudanya, lebih baik masih bisa merasakan hidup, yah walaupun beberapa jam saja.
"Hidup sebagai bawahan yah beginilah, nasib mu memang kurang bagus Arzan," gumamnya kecil meratapi nasib nya yang kurang beruntung.
Zanna yang melihat Arzan seperti berperang dengan batinnya membentak, "KAU TIDAK MENDENGAR PERTANYAAN KU?" marahnya dengan wajah mengerikan.
Glek,
Arzan langsung menatap wajah Zanna, "Maafkan saya nona muda, saya mengaku salah," jawab Arzan.
Zanna yang mendengar Arzan memanggilnya nona muda mengerutkan kening, "Nona muda," gumamnya lirih.
"Katakan siapa yang menyuruh mu?" tanya Zanna berharap bukan Nicko lah yang menyuruh pria di depannya ini.
"Tu-tuan muda," jawab Arzan menunduk.
"Nicko?" tanya Zanna memastikan.
"Benar nona muda."
Mendengar itu Zanna berdiri. Ia berkacak pinggang, mendengar suaminya lah yang meminta pria itu membuntutinya.
"Dasar suami sialan! Beraninya dia mengintai ku. Awas saja kau!" kesalnya dengan napas memburu dan kembali menatap Arzan.
"Siapa nama mu?"
"Arzan nona," jawab Arzan cepat.
"Arzan. Oh jadi nama mu Arzan. Apakah tuan muda mu itu secara pribadi meminta mu untuk mengawasi ku?"
"Tidak nona muda, yang memerintah langsung saya adalah Tuan Tom," jawab Arzan.
"Tom, asisten itu kan?" ucap Zanna memastikan.
"Benar nona."
"Tidak asisten, tidak tuan nya, mereka berdua sama saja, menyebalkan!" gumam Zanna kesal.
Felix dan Glen yang berada di tempat itu hanya saling pandang, "Jadi pria ini suruhan suami bos?" batin mereka berdua.
Zanna meminta anak buahnya untuk melepaskan ikatan itu dari tubuh Arzan. Ia ingin mengintrogasi pria itu, apakah ia sudah mengetahui segala nya atau belum.
"Duduk," perintahnya sambil menopang kepala nya di kursi dengan kaki di silang.
"Katakan, apa saja yang sudah kau laporkan pada tuan mu itu? Aku yakin kau sudah mendapatkan banyak informasi tentang diri ku."
Arzan menatap Zanna, ia menggeleng. "Tidak nona, saya tidak mendapatkan banyak informasi dari anda. Saya hanya mendapatkan informasi yang anda lakukan saat anda di tempat tuan ini," tunjuk nya pada Glen.
"Jadi sejak saat itu kau membuntuti ku?"
"Benar nona," jawab Arzan mengangguk.
"Hah, sudah ku duga dia pasti akan curiga dengan seringnya aku keluar rumah. Baiklah, pergilah. Mulai sekarang jangan pernah membuntuti ku, aku akan mengatakan sendiri padanya," jelas Zanna.
"Tapi__"
Pikirnya, jika sampai nona muda nya meminta tuan muda untuk membunuhnya, pastinya hari itu juga nyawanya akan melayang. "Baik nona, saya tidak akan mengatakan nya kepada tuan Tom," jawab Arzan membuat Zanna tersenyum smirk.
"Bagus. Itu memang keputusan yang baik untuk mu. Sayangi nyawamu selagi masih menempel di tubuh. Sekarang pergilah," usir nya dengan mengibaskan tangan.
Arzan yang mendapat perintah untuk dirinya segera pergi, langsung berdiri dan membungkuk. "Terimakasih nona, karena masih mengampuni nyawa saya. Kalau begitu saya pergi dulu," pamitnya dan di angguki Zanna.
Arzan pun pergi meninggalkan tempat itu. Felix yang melihat Arzan sudah pergi bertanya, "Kenapa anda tidak membunuhnya saja bos? Saya khawatir dia akan mengingkari ucapan nya."
"Aku tahu dia akan mengingkari nya, karena suami ku lah yang memerintah. Tapi biarlah, walaupun aku berusaha menutupi, pria itu pasti akan tahu juga. Kekuasaan nya membuat nya mudah mengetahui apa yang dia inginkan," jawab Zanna.
Felix pun hanya bisa diam, ia tahu siapa suami bosnya ini, Nicko William seorang penguasa nomor satu di negara nya. Tidak ada yang tidak bisa dia lakukan. Namun karena kecelakaan waktu itu membuat dirinya seolah menghilang dari dunia, dan sekarang ia akan muncul kembali di muka umum seperti sebelum nya setelah pengobatan diam-diamnya berhasil. Dan semoga saja ia berhasil dan bisa membuat wanita nakal nya tunduk padanya.
.
.
Malam hari, Zanna dan yang lainnya sudah siap menyerang Markas Ball Busters.
"Apa kalian semua sudah siap?"
"Sudah bos. Dan semuanya sudah dengan senjata mereka masing-masing," jawab Glen.
"Bagus, ayo kita buat mereka tunduk dengan kita," ucap Zanna memberi semangat kepada pasukannya.
Semuanya pun berangkat dengan banyak mobil yang sudah di siapkan. Arzan yang sebenarnya tidak pergi, mengikuti mereka menuju Markas Ball Busters untuk melihat perampokan kelompok itu.
Zanna memberikan perintah kepada Glen dan Felix untuk membantunya melawan ketua Ball Busters agar tunduk padanya, sehingga tidak menimbulkan banyak anggota yang terluka nantinya. Baik dari kelompok Zanna maupun Ball Busters, sehingga bisa menguntungkan dirinya.
Cukup lama mereka berkendara, akhirnya mereka sampai. Zanna pun memerintah anak buahnya yang berada di dalam mobil paling depan untuk menabrak pintu gerbang markas Ball Busters agar terbuka lebar. Namun suara keras itu membuat anggota Ball Busters langsung siaga dengan musuh yang datang tiba-tiba.
Zanna berserta pasukannya langsung keluar dari mobil, berbaris di belakang Zanna dengan senjata yang berada di tangan mereka masing-masing. Sedangkan anggota Ball Busters dengan cepat mengambil senjata mereka untuk melawan anggota Zanna.
Ketua Ball Busters bernama Faro langsung datang melihat keributan itu. Ia berdiri di depan anak buahnya menatap rombongan Zanna.
"SIAPA KAU? BERANINYA DATANG KETEMPAT KU! APA KALIAN SEMUA INGIN MATI?" Mata Faro melotot menatap Zanna, ia sangat marah karena ada sekelompok asing yang datang mengacau di tempatnya.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Aku datang kesini membuat kesepakatan pada mu. Jadilah anak buah ku," ucap nya santai seolah tidak itu begitu mudah.
Faro yang mendengar Zanna begitu santai meminta nya menjadi bawahan nya mengepalkan tangan, rahang nya mengeras hingga membuat giginya gemerutuk karena marah.
"WANITA SIALAN! BERANINYA KAU BERBICARA SEPERTI ITU. KAU AKAN MENYESAL KARENA BERURUSAN DENGAN KU," marahnya dan meminta anak buahnya untuk menyerang anggota Zanna.
"SERANG MEREKA! BUNUH SEMUANYA. JIKA PERLU JANGAN SISAKAN SATU PUN DARI MEREKA," teriaknya dengan lantang.
Zanna yang mendengar Faro meminta anak buahnya menyerang anggota nya, Zanna pun juga berteriak dengan keras, "SERANG MEREKA!" perintahnya dan langsung anak buahnya menyerang Geng Ball Busters.
.
.
.
Bersambung