
Saat wanita itu berhasil menghindari panah Faro, tiba-tiba dari arah lain sebuah tembakan melayang ke arah nya.
Door....
Satu peluru melesat menembus lengan nya.
Argh...!
Pekik wanita itu dengan keras saat lengan nya terkena tembakan. Darah keluar dari lengan nya membuat dirinya meringis karena sakit.
"Sialan! Mereka ternyata tidak melepaskan aku," gumamnya berlari mencoba kabur dari kejaran dua kendaraan itu.
"Ayo kejar, jangan biarkan mangsa kabur dari buruan kita," teriak Zanna keras memberi semangat.
Brum....
Brum....
Wanita itu yang mendengar sangat kesal namun juga takut. "Dasar wanita gila! Argh...." teriaknya saat anak panah menyerempet pipinya.
"Sialan!" maki nya terus berlari di dalam hutan itu untuk menghindari kejaran mereka.
Zanna dan Faro terus menembakkan senjata nya dan melesatkan anak panah untuk memburu wanita itu.
Door....
Argh!
Teriak ya saat kaki ya terkena tembakan Faro.
"Bagus, bidikan yang baik," ucap Zanna memberikan jempolnya. Faro yang melihat hanya tersenyum setelah itu kembali mengejar wanita yang sedang pincang karena terluka.
Door...
Kini giliran Zanna yang mengenai sasaran tepat di punggung gadis itu, hingga gadis itu tumbang di tahan. Tubuh nya seakan tidak kuat berlari karena banyaknya luka yang di berikan oleh mereka. Apalagi saat melewati ranting ranting di hutan yang terus saja menyayat tubuhnya, hingga membuatnya bertambah terluka.
Zanna dan mereka bertiga turun dari motor, menghampiri wanita itu dengan memegang senjatanya. Wanita itu yang terjatuh mencoba bangun dan kabur. Namun sebelum itu terjadi, Zanna menginjak punggung yang terkena tembakan nya dan menekannya.
Argh.....! Teriak wanita itu kesakitan.
"Apakah sakit?" tanya Zanna semakin menekan.
Argh....! Teriak nya kembali semakin keras. "Le-lepaskan a-ku wanita jala-ng."
"Heh, masih sempat-sempat nya mengumpat ku dengan kata buruk seperti itu. Heh, rasakan ini," kesalnya semakin menekan dan membuat wanita itu menjerit lebih keras.
Zanna mengambil mengangkat pistolnya dan menembakkan ke arah bahu Wanita itu sebelahnya.
Door....
Argh.....!
Namun saat Zanna ingin menembakkan senjatanya lagi, ponselnya berdering. "Badjingan mana yang mengganggu ku," kesalnya dan mengambil ponsel yang ada di saku nya.
Di lihatnya nama suami nya yang memanggil. Melihat itu ia mendengus kesal. Ia pergi dari tempat itu dan meminta mereka bertiga untuk mengiris wanita itu.
"Ada apa?" tanya Zanna dengan nada kesal.
Nicko yang mendengar mengerutkan kening. "Ada apa dengan nya? Kenapa dia nampak marah?" batinnya bertanya-tanya.
Saat memikirkan apa yang membuat Zanna marah, tiba-tiba ia mendengar pekikan keras dari sambungan di telepon.
"Apa itu?" tanya Nicko
"Tentu saja ada hal penting."
"Apa?" tanya Zanna dengan nada dinginnya.
"Sialan! Kenapa gadis ini menanggapi ku dengan suara dinginnya. Tidak bisakah dia sedikit lembut dan mesra?" kesalnya dalam hati.
Argh.....! Teriak wanita itu lagi saat Faro menancapkan ujung anak panah nya di kaki wanita itu. Lagi lagi Nicko mendengar teriakan itu, dan itu sungguh membuatnya penasaran.
"Apa itu? Kenapa ada yang berteriak?" tanya Nicko penasaran.
"Tidak perlu kau hiraukan suara itu. Sekarang katakan, ada perlu apa kau menghubungi ku?" tanya Zanna lagi, kesal karena Nicko tidak menjawab pertanyaan nya kenapa dia menghubungi nya di saat dirinya bersenang-senang.
"Aku kangen kamu Baby," jawab Nicko membuat wajah Zanna langsung merona.
"Apakah hanya ini yang ingin kau katakan?" tanya Zanna mengerutkan kening
"Iya. Aku memang merindukan mu, makanya aku menghubungi mu," jawab nya lagi dan membuat Zanna menepuk keningnya sendiri.
"Tidak bisakah kau bersikap dewasa. Mengganggu waktu ku saja," kesal nya dan memutuskan panggilan.
Nicko yang ada di kantor tersenyum, ia tahu istrinya itu pasti saat ini sedang marah karena dirinya mengganggu waktu nya. Apalagi jika tidak salah, pasti nya istri nya itu sedang bersenang-senang. Tapi entah apa, yang jelas sepertinya istrinya sedang bermain dengan seorang wanita dalam artian menyiksa seseorang.
"Aku tahu suara wanita yang berteriak itu pastilah tidak baik-baik saja. Dan ku yakin kamulah pelakunya. Sungguh membuat ku semakin penasaran saja. Tapi ketimbang penasaran tentang itu, aku lebih ingin melakukan sesuatu hal dengan mu malam ini. Tunggu aku Baby, aku akan membuat mu kesal lagi," gumam nya dengan niat ingin membuat istrinya semakin kesal.
Zanna yang sekarang menyiksa wanita itu entah kenapa tiba-tiba punggung merasa merinding. "Kenapa aku memiliki firasat buruk ya," ucapnya dalam hati.
Cukup puas menyiksa wanita itu hingga tak berdaya, Zanna dan lainnya pergi dari tempat itu, meninggalkan wanita itu tergelatak tak berdaya. Dan mungkin saja malam itu dia menjadi santapan binatang buas di hutan itu.
Sore hari Zanna Kembali kekediaman William, membersihkan tubuh dan membantu mertuanya memasak di dapur dengan di temani oleh Dena.
Setelah selesai dengan semuanya, mereka menata semua masakannya di atas meja untuk makan malam bersama.
Zanna kembali di kamar nya. Namun saat dirinya membuka pintu, ia terkejut melihat suaminya yang ternyata sudah pulang dan kini sedang membuka kemeja nya.
"Bantu aku membuka pakaian ini," perintahnya.
"Kau punya tangan, kenapa tidak membuka nya sendiri?" jawab Zanna acuh. Namun saat diri nya melewati Nicko, tangan itu menarik pinggang itu dan kini berada di pelukannya.
"Aku meminta mu. Bukankah tidak masalah meminta istri untuk membantu?"
Zanna diam, menatap wajah suaminya yang menurutnya sangat sempurna. Nicko yang yang melihat tersenyum, ia tahu istrinya itu terpesona dengan ketampanan nya. "Aku tahu aku tampan sayang," ucap Nicko mengelus pipinya dengan jarinya.
Mendengar itu, Zanna langsung membuang muka. Wajah nya merona karena ketahuan mengagumi ketampanan suaminya. "Siapa yang bilang diri mu tampan? Mata mana yang melihat itu. Aku rasa matanya sudah rabun." elak Zanna masih membuang muka.
Nicko terkekeh. Ia tahu mengahadapi wanita yang keras ini tidaklah mudah. "Bukankah baru saja ada yang mengagumi ketampanan ku," tarik wajah itu menghadap nya.
"Siapa? Aku?" tunjuk nya pada diri sendiri dan di angguki Nicko. "Cih! Siapa juga yang mengatakan itu. Dasar nar____" Belum selesai Zanna meneruskan ucapannya, Nicko sudah membungkam bibir itu dengan bibirnya.
Em.... Zanna memukul dada itu. Dan Nicko semakin mempererat pelukannya sehingga membuat Zanna semakin menempel dan susah untuk memukulnya.
Nicko melu-mat, menye-sap bibir ranum yang sudah menjadi candunya itu. Seperti biasa Zanna tidak boleh menolak, dan harus menuruti apa yang di inginkan Nicko. Si tuan pemaksa itu.
.
.
.
Bersambung