ZANNA

ZANNA
ZANNA Bagian 65, Suara Tidak Asing



Kening Tom mengkerut saat mendengar laporan itu. Nicko yang melihat Tom diam, bertanya. "Ada apa?" Tanya Nicko menatap Tom.


"Ada masalah di markas, tuan."


"Apa yang terjadi?" Tanya Nicko ingin tahu.


"Markas di serang oleh sekelompok orang tak di kenal tuan."


"Di serang!! Badjingan mana yang berani melakukan itu? Kita kembali secepatnya. Jangan sampai mereka menghancurkan markas ku," perintah Nicko langsung di angguki Tom.


Mereka berdua masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan tempat itu. Sedangkan di tempat lain, Zanna kini berhadapan dengan beberapa pria yang mengejarnya. Sambil mengendarai motornya, Zanna mengambil pistolnya dan menembakkan nya ke arah pria yang mengejarnya.


Door…


Door…


Dua tembakan berhasil menjatuhkan dua orang yang mengendarai motor. Melihat itu Zanna menampilkan senyum remehnya, dan setelahnya menarik gas, menambah kecepatan motornya.


Bruuum…


Bruuum…


Aksi kejar-kejaran itu berlangsung cukup lama. Mereka saling adu tembak untuk membunuh target mereka. Zanna sesekali menembakkan senjatanya kembali, menjatuhkan satu persatu musuhnya. Zanna yang pandai menggunakan motor, membuat musuhnya tidak mudah untuk menangkap nya. Zanna bagai seorang pembalap yang handal, mengendarai motornya dengan sangat lihai.


Beberapa orang yang mengejarnya kini menjadi semakin sedikit, karena di jatuhkan oleh Zanna menggunakan pistolnya. Dan kini tinggal dua motor dengan empat orang yang masih mengejarnya.


Zanna mengerem motornya secara mendadak dan memutar motornya berbalik arah ke arah musuhnya. Saat dekat dengan mereka, Zanna melepas kedua tangannya dan mengambil dua senjatanya yang ada di paha, menembakkan ke arah mereka.


Door…


Door…


Dua tembakan mengarah ke arah pengendara motor itu, membuat motor itu oleng dan jatuh. Dua orang yang tertembak tadi langsung mati, dan dua orang yang di bonceng masih hidup dan kini berdiri menatap Zanna yang masih tetap berada di atas motor besarnya. 


Zanna tersenyum menyeringai. 


Ciiit….


Zanna memutar motor nya dan melaju kencang ke arah dua pria itu. Dua pria yang melihat terkejut karena Zanna berniat menabraknya. Salah satu dari mereka mengeluarkan rantai dan menghantamkan nya ke Zanna. Zanna yang melihat langsung menangkap rantai itu dan melilitkannya di tangan, setelah itu menarik rantai itu hingga membuat pria itu tertarik motor Zanna yang melaju.


Argh……


Zanna membawa pria itu ke jalan, menyeretnya dengan paksa. Saat melihat truk besar di depannya, bibir Zanna tersenyum. Ia melepas rantai itu dan memutar motor meninggalkan pria itu di depan truk besar itu. Dan sedetik kemudian truk itu langsung menabrak tubuh itu.


Argh!!!!


Teriak nya saat ban mobil itu melindasnya hingga hancur. Zanna yang melihat langsung meninggalkan orang itu menyusul satu orang yang tersisa.


Seorang penjaga kediaman Mattew yang mengikuti Zanna bergidik ngeri melihat kekejaman nona mudanya. Ia menelan ludah, seakan tidak sanggup melihat nona mudanya yang begitu sadis membunuh musuhnya. Tubuhnya gemetar, seakan tidak sanggup melihat cara nona mudanya membunuh orang-orang tadi. Tapi demi mengikuti nona mudanya, ia harus kuat melihat kesadisan istri tuannya itu untuk di laporkan nya kepada tuan nya.


Zanna yang telah pergi, kini sampai di depan pria itu. Zanna turun dari motor, berjalan dengan melemaskan otot-otot nya. "Ayo kita selesaikan ini secepatnya." 


Pria yang berdiri sedikit jauh langsung menyerang Zanna, memukulnya ke arah wajah. Melihat itu dengan cepat Zanna menangkap tangan itu dan menendang perut pria itu dan memutar tangan hingga membuat tubuh pria itu membelakanginya. Setelah itu menendang punggung itu dengan kuat.


Bug,


"Kurang ajar!" Marahnya saat dirinya di kalahkan oleh seorang wanita. 


"Lemah," hina Zanna membuat wajah pria itu memerah karena marah.


"Mati lah kau!" Tanpa basa-basi pria itu menyerang Zanna.


Bug,


"Bagus! Kau berhasil melukai ku," kini Zanna yang menyerah lebih dulu memukul dan menendang nya.


Bug,


Bug,


Bug,


Adu tinju pun berlangsung sengit. Tidak ada yang mau mengalah, dan hanya ingin menjatuhkan satu sama lain. Pria itu tak main-main, menyerang Zanna dengan semua kekuatannya, begitupun dengan Zanna yang mengerahkan kekuatan nya untuk mengalahkan pria itu.


Bug,


Zanna menendang dan meninju dagu pria itu hingga membuat pria itu memuntahkan seteguk darah dari mulutnya. Pria itu lemas dan akhirnya tumbang. Zanna yang tubuh serta wajahnya terluka karena pertarungannya dengan pria itu berjalan menghampiri pria yang saat ini sedang lemah karena mendapatkan pukulan demi pukulan dari nya.


"Katakan siapa yang memerintah mu?" Tanya Zanna menodongkan pistolnya di kepala pria itu.


Pria itu mendongak, menatap Zanna dengan pandangan mengejek. "Lebih baik kau membunuhku, karena aku tetap tidak akan mengatakan siapa yang menyuruh ku," jawab pria itu membuat Zanna memandangnya dengan dingin.


Tidak berguna."


Door…


Door…


Zanna menembak pria itu hingga mati. Melihat semuanya telah selesai, Zanna kembali memasukkan pistolnya di dalam jaket, agar tidak ada yang melihatnya membawa senjata.


Zanna membalikkan tubuhnya, hendak meninggalkan tempat itu. Namun baru saja kaki itu melangkah, terdengar suara ponsel berdering. Zanna yang mendengar langsung mencari ponsel itu. Di lihatnya nama 'Tuan' tertera di ponsel itu.


Zanna dengan cepat mengangkat panggilan itu, dan mendengar orang itu berbicara.


"Bagaimana? Apa kau berhasil membunuh wanita itu?" Tanya seorang pria yang membuat kening Zanna berkerut, karena menurutnya suara itu sangatlah tidak asing di telinganya. 


"Kenapa suara ini nampak tidak asing?" Batin Zanna masih mendengar suara itu.


"Jika kalian berhasil membunuhnya, bawa mayatnya ke markas. Aku akan memotretnya dan memberikan fotonya pada Nicko sialan itu!" Perintah pria yang tidak di kenal.


"Nicko!! Apakah pria ini musuh Nicko?" Pikir Zanna semakin bingung. Zanna tetap diam, membuat pria itu mengerutkan kening, curiga. Bahwa yang sedang berbicara dengan nya adalah orang lain.


"Siapa ini?" Tanyanya dengan nada tinggi.


"Tentu saja orang yang ingin kau bunuh," jawab Zanna membuat pria itu terkejut.


"Kau!!!"


"Kenapa? Kaget karena aku tidak mati? Tentu saja aku tidak akan mati hanya karena anak buah mu yang payah itu. Jika kau menginginkan ku mati, datanglah pada ku dan ambil nyawaku dengan tanganmu sendiri," ucap Zanna membuat pria yang berbicara dengannya menjadi marah. Ia mengeratkan kepalan tangannya, rahangnya mengeras, matanya memerah, seakan siap menelan mangsa yang ada di depannya.


"Dasar jala-ng sialan! Beraninya kau menantang ku. Lihatlah suatu saat aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri dan membuat suami mu gila karena kepergian mu."


"Akan ku tunggu tuan tak di kenal," jawab Zanna santai dan memutus panggilan. Setelah itu menginjak ponsel itu hingga hancur dan pergi meninggalkan tempat itu. 


..


..


Bersambung