
Nicko kembali menatap istrinya, menatap wajah cantik itu dengan pandangan marah. Tangan Nicko membuka jaket milik istrinya. Entah kenapa ia berpikir, bahwa bukan hanya wajah saja yang terluka, tapi tubuh Zanna juga pasti terluka.
Zanna yang melihat suaminya melepas jaket yang di kenakan nya, matanya mendelik. Pikirnya, apa-apaan suaminya itu. "Mau apa?" Tanyanya mencoba menahan jaketnya.
"Melepasnya," jawab Nicko menyingkirkan tangan Zanna dari jaket itu.
"Apa kau gila?" Tanya Zanna berpikir Nicko akan berbuat aneh-aneh di depan Tom.
Nicko mengerutkan kening, memang apa yang di pikirkan istrinya itu? Apakah istrinya berpikir, ia akan bermain di depan Tom. "Dasar mesum," batin Nicko tersenyum.
"Apa yang kau pikirkan memang, hm…? Apa kamu berharap suami mu ini melakukannya di sini Baby?" Tanya Nicko, dan Zanna hanya diam saja, menatap wajah suaminya. "Kenapa pikiran mu sekarang menjadi mesum?" Cubitnya di hidung mancung itu. "Suami mu ini hanya ingin memeriksa, apakah ada yang terluka selain di wajah?"
Zanna yang mendengar wajahnya langsung merona. Pikirnya suaminya akan berbuat mesum di mobil, karena biasanya suaminya memang tidak tahu tempat jika menginginkannya. Zanna membuang muka, malu karena memiliki pemikiran kotor itu. Nicko yang melihat semburat merah dipipi istrinya, mengecup pipi pelan, takut istrinya kesakitan karena luka yang di sentuh.
Cup,
Zanna menatap Nicko dengan tajam, beraninya mencuri cium di depan orang. Nicko hanya tersenyum, menampilkan deretan gigi putihnya.
"Sini aku lihat," dengan perlahan Nicko membuka jaket itu. Saat Jaket itu terlepas dari tubuh Zanna, Nicko mengelus napasnya dengan kasar, karena melihat luka sayatan di lengan Zanna. "Pergi ke rumah sakit," perintahnya pada Tom.
"Baik tuan," jawab Tom.
.
.
Sesampainya di rumah sakit, Nicko tidak membiarkan Zanna untuk berjalan sendiri. Ia memakai masker di wajahnya agar tidak ada yang mengenalinya, dan menggendong wanitanya masuk ke rumah sakit miliknya.
Ia meminta Tom untuk meminta bibinya untuk mengobati istrinya. Tak lama Leani datang dengan tergesa-gesa, saat mendengar istri Nicko terluka. Namun saat sampai dan melihat Zanna hanya terluka sayatan kecil dan lebam di wajah, ia menghela nafas lega, karena lukanya ternyata tidak separah yang ia bayangkan.
Dengan telaten Leani mengobati luka Zanna. Zanna yang diobati terus memperhatikan wanita yang saat ini mengobati lukanya. Nampak tidak asing, pikir Zanna.
Leani yang tahu di perhatikan, manatap Zanna, "Kenapa menatap ku seperti itu?" Tanya Leani.
"Anda nampak tidak asing di mata ku," jawab Zanna masih berusaha mengingat wanita yang di depannya ini.
Leani yang mendengar tersenyum, "Tentu saja wajah ku tidak asing di mata mu. Karena aku ini bibi mu," jelas Leani
"Bibi?" Gumam Zanna lupa.
"Ya, Baby. Dia pernah datang di pernikahan kita. Mungkin kamu lupa karena banyak nya orang yang kamu temui di hari itu," jelas Nicko mengelus kepala Zanna.
Leani tersenyum. Namun sedetik kemudian ia terkejut, saat melihat keponakannya berdiri di depannya, mengelus kepala istrinya itu. "Nick, kau!" Tunjuk nya yang tidak menyadari jika Nicko ternyata bisa berjalan.
"Ya, bi. Aku sudah bisa berjalan. Tapi ku minta, bibi jangan mengatakan semua ini pada pria tua itu," jelas Nicko.
"Pria tua? Maksud mu papa mu?" Tanya Leani dan tidak di jawab Nicko, diam. Malas menjawab pertanyaan itu.
Melihat itu Leani, menghela napas dengan berat. "Pria tua itu pun adalah papa mu. Jadi jangan mengatakan seperti itu. Nanti kita bicara setelah bibi mengobati istri mu sampai selesai." Lagi-lagi Nicko tidak menjawab membuat Zanna mencubit pinggang itu.
Nicko yang pinggangnya di cubit menatap istrinya, "Kenapa mencubit ku?"
"Setidaknya jawablah ucapan bibi. Tidak hanya diam seperti itu," jawab Zanna dan Nicko langsung menjawab 'Hm'. Mendengar itu Zanna sangat kesal. Ia menarik lengan itu agar mendekat ke wajahnya, dan Zanna membisikan sesuatu di telinga Nicko. "Jika kamu seperti ini jangan harap naik di atas tubuh ku."
Nicko yang mendengar menatap istrinya tidak percaya. Apa-apaan pikirnya? Kenapa main ancaman segala?
"Baiklah." Jawab Leani.
Setelah cukup lama mengobati Zanna, kini semuanya telah selesai. "Istirahatlah disini terlebih dahulu. Bibi akan berbicara dengan suami mu."
Zanna mengangguk. Dan setelah itu Nicko dsn Leani meninggalkan dirinya seorang diri di ruangan itu.
.
.
Kini Nicko pun berada di ruangan Leani, dengan Leani yang duduk di samping Nicko. "Sejak kapan kamu bisa berjalan? Kenapa bibi tidak tahu?"
"Sudah lama. Hanya saja aku malas mengatakan nya."
"Lalu kenapa kenapa kamu masih berpura-pura lumpuh?" Tanya Leani masih penasaran.
"Hah, bibi tahu sendiri bukan jika aku lumpuh karena apa? Aku belum bisa menunjukkan diri ku yang sekarang karena musuh ku itu belum aku temukan. Dan saat ini sepertinya dia mencoba kembali menghancurkan diri ku. Hari ini pun ia kembali mencoba mencelakai ku. Begitu pun dengan istri ku, dia juga bergerak untuk mencoba membunuh istri ku."
"Maksud mu luka istri mu karena hal ini? Musuh mu yang melakukannya?"
"Sepertinya seperti itu. Tidak mungkin Zanna dikeroyok orang jika itu bukan karena pria sialan itu," kesalnya marah saat mengingat wajah musuhnya.
Leani yang mendengar suatu nama asing yang keluar dari bibir Nicko langsung bertanya, "Tunggu-tunggu. Kamu tadi bilang apa? Zanna? Siapa Zanna?" Tanya Leani bingung karena tidak mengenal pemilik nama Zanna.
Nicko menatap bibinya, "Zanna itu istri ku," jelas Nicko.
"Zanna?" Gumam Leani. Ia ingat jika wanita yang di tolong nya itu bukanlah Nana. "Jadi nama wanita itu Zanna?" Ucapnya dan diangguki Nicko. "Dia mengatakan sendiri pada mu, atau kamu yang menyelidikinya sampai tahu siapa dia?"
"Dia mengatakan sendiri pada ku." Leani mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
.
.
Di tempat lain, pria yang saat ini menghadiri acara di kediaman tuan Abimanyu, meninju tembok saat mendengar laporan anak buahnya, bahwa anak buah yang dia kirim di markas Nicko dan menghadang Nicko semuanya kalah dan mati di tangan mereka semua. "Bajingan itu benar- benar tidak bisa di biarkan," marahnya kesal karena susah membunuh Nicko William.
"Begitu pun dengan istri Nicko itu tuan. Wanita itu juga susah untuk di hadapi. Kita mengirim ada 8 orang, tapi satupun dari mereka tidak ada yang kembali, dan semuanya juga mati di tangan wanita itu," jelas asistennya yang berdiri di belakang nya.
Mendengar Asistennya mengatakan tentang istri Nicko, wajah pria itu semakin mengeras. Ia ingat perkataan Zanna terakhir di telepon yang menantang kedatangannya. "Dasar wanita jala-ng," kesalnya. Namun saat mengingat nada suara istri Nicko yang tidak asing di telepon, ia mengernyitkan keningnya. "Aku seperti tidak asing dengan suara itu. Tapi siapa?" Gumamnya mengingat.
.
.
.
Bersambung