
Beberapa hari kemudian, Seorang gadis bersama dengan seorang pria turun dari jet pribadinya, dengan beberapa pengawal yang turun menyambutnya terlebih dulu.
"Silahkan nona, tuan."
Pria dan wanita itu mengabaikan dan berjalan menuju mobil dan pergi meninggalkan bandara dengan di kawal beberapa mobil di belakang nya.
"Sayang, kita sudah sampai di negara ku. Ku harap kau menepati janji mu untuk membalaskan dendam ku pada wanita sialan itu," ucap Rebecca dengan begitu manja, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu, Leon.
"Kau tenang saja, aku pasti akan membantu mu membalaskan dendam pada wanita itu."
"Tapi kamu jangan langsung pada Nana, akan susah kamu menyentuhnya. Lebih baik pada adiknya, karena itu adalah kelemahannya."
"Adiknya? Yah, itu lebih bagus. Kita akan menculik adiknya agar dia masuk keperangkap kita dan menyerahkan diri sendiri.
Rebecca memeluk tubuh itu. Dia puas dengan rencana kekasihnya untuk membuat Zanna masuk perangkapnya. "Lihatlah pembalasan ku. Akan ku buat kau memohon di bawah kaki ku, Nana Mirdad," batin Rebecca begitu penuh dendam.
.
.
Di sebuah bangunan mewah, pria dengan wajah tampan nya duduk di kursi, menyesap rokoknya sambil menatap foto wanita cantik di ponselnya.
"Hari ini akan ku mulai untuk mendekati mu, mengambil hati mu dari Nicko William. Tunggu kedatangan ku."
Pria itu, memasukkan ponselnya, berdiri memerintahkan anak buahnya untuk menjalankan rencananya.
"Culik gadis bernama Dena, jalankan sesuai rencana," perintahnya
"Baik tuan," jawab beberapa anak buahnya.
Beberapa pria bertubuh kekar itu pergi dari hadapan tuannya, untuk melakukan tugas yang di berikan oleh tuan mereka.
.
.
Di kediaman William, Zanna meminta Yuna untuk menjemput adiknya di sekolah. Karena dirinya hari ini akan bertemu dengan Felix untuk membahas balas dendam nya kepada Mega dan Rubben.
Karena musuh nya bukan hanya Mega dan Rubben, Zanna berniat mempercepat rencananya agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan nya.
.
.
Di sekolah Dena. Dena berdiri di tepi jalan, depan sekolah. Ia menunggu orang yang menjemputnya.
"Kenapa lama sekali sih? Bukankah kak Yuna janji akan menjemput ku lebih cepat," gumam nya sambil meliha mobil yang lewat di depannya.
Tanpa di ketahui olehnya, di tepat sedikit jauh. Sebuah mobil hitam berhenti. Beberapa pria turun dan berjalan menghampiri Dena.
Dua orang di antaranya tiba-tiba mencekal tangan Dena dan menariknya. Dena terkejut karena tiba-tiba ada orang yang menariknya dengan paksa. "Siapa kalian? Lepaskan aku," teriak nya meronta mencoba lepas dari beberapa dua pria itu.
"Diam, dan menurutlah," perintahnya masih menyeret Dena dengan paksa.
"Tolong lepaskan aku. Tolong! Tolong!" Dena berteriak meminta tolong, berharap ada yang menolong nya.
Dua pria itu yang mendengar Dena berteriak meminta tolong langsung membekap mulut itu agar tidak ada orang yang mendengar nya.
Sedangkan Yuna yang baru sampai matanya terkejut melihat Dena di seret oleh beberapa pria bertubuh kekar. "Siapa mereka? Kenapa mereka membawa Dena? Tidak, mereka pasti bukan orang baik," Yuna keluar dari mobil. Sebelum itu, ia menghubungi nona mudanya bahwa ada sekelompok orang ingin membawa Dena.
Zanna yang mendapatkan pesan itu langsung bergegas pergi meninggalkan Felix yang kebingungan.
Yuna memasukkan ponselnya lagi dan berlari ke arah beberapa pria itu.
Bugh,
Yuna menendang tubuh seorang yang menarik paksa Dena, hingga tangan itu terlepas dari tangan Dena.
"Kak Yuna," Dena mencoba melepas tangan pria yang masih mencengkram lengannya.
Bugh,
Bugh,
Bugh,
Mereka pun bertarung, menendang dan meninju untuk mengalahkan satu sama lain. Pria besar itu melawan dengan sungguh-sungguh karena ternyata wanita yang di hadapi nya bukanlah gadis biasa. Gadis yang pandai ilmu beladiri.
Bugh,
Satu pukulan menghantam perut Yuna hingga membuat Yuna terjatuh. Dena yang melihat begitu takut, ia berteriak keras saat Yuna di kalahkan oleh pria besar itu.
"Kak Yuna!" panggilnya dengan khawatir.
Yuna yang mendapatkan pukulan itu bangun kembali. Namun sebelum dia melawan beberapa pira lainnya maju dan menyerang Yuna. Yuna yang hanya sendirian akhirnya kalah oleh mereka. Tubuh Yuna babak belur penuh luka. Dena yang melihat menangis histeris melihat Yuna yang begitu mengenaskan.
"Lepaskan kak Yuna!" mohon Dena pada mereka. "Kalian ingin membawa ku kan? Bawa aku saja. Tapi ku mohon jangan sakiti kak Yuna," Dena masih dengan air mata yang terus mengalir deras.
"Kau pikir aku akan melepaskan nya gadis kecil? Kami bukan orang baik yang akan melepaskan orang yang berani melawan kami. Bunuh gadis itu," perintahnya pada temannya untuk membunuh Yuna.
"Jangan! Ku mohon jangan bunuh kak Yuna, hiks....hiks....Tolong ku mohon jangan membunuhnya." pinta nya lagi dengan mencoba lepas dan membantu Yuna yang terkulai lemas
"Jangan hiraukan gadis ini, bunuh saja gadis itu," perintah dari seorang yang menahan Dena.
"Tidak!" teriak Dena agar tidak mengizinkan.
Satu pria berjalan dengan tangan memegang pisau, mendekati Yuna. Dena beberapa kali menggelengkan kepala, memohon agar mereka tidak melakukan itu. Pria itu siap menghunuskan pisau itu ke perut Yuna. Namun sebelum pisau itu menancap di perut Yuna, dari arah belakang Dena, suara seorang pria menghentikan pria itu.
"Lepaskan mereka," perintah pria yang memiliki tubuh tinggi dan gagah.
Semua mata melihat ke arah pria yang baru datang itu. Semua berdecih, meremehkan pria itu. "Jangan ikut campur dengan urusan orang, jika kau tidak ingin mati di tangan kami," jawab seorang pria yang memegang pisau di tangannya
Pria itu tersenyum kecil, terus berjalan mendekati mereka. Beberapa pria itu yang melihat pria asing itu terus berjalan mendekati nya tanpa rasa takut, dengan cepat mereka menghadang.
"Jangan lanjutkan langkah mu," perintahnya dan langsung mendapatkan tonjokan di muka.
Bugh,
Argh!
"Badjingan! Beraninya kau!" usapnya pada wajahnya yang sangat sakit karena pukulan keras pria itu. "Bunuh pria itu," perintahnya pada temannya
Beberapa pria itu pun langsung menyerang pria asing itu secara bersamaan.
Bugh,
Bugh,
Bugh,
Pria asing itu dengan terlatih menghajar beberapa pria itu dengan bringas. Dan dalam sekejap, beberapa pira itu tumbang. Pria itu menginjak salah seorang dari mereka dan menekannya. "Lepaskan mereka berdua. Atau kalian mati di tangan ku," ancamnya dengan wajah begitu mengerikan.
Pria yang menahan Dena dan Yuna pun saling pandang, setelah itu mengangguk. "Baiklah, kami akan melepaskan mereka. Tapi ku mohon jangan bunuh kami semua," Pinta pria yang menahan Yuna.
"Pergilah," perintahnya dan langsung melepaskan Yuna dan Dena. Membawa rekan-rekan nya yang terluka kedalam mobil dan pergi meninggalkan tempat itu.
Dena yang lepas dari pria itu langsung berlari kearah Yuna yang tergeletak lemas. Sedangkan pria itu berdiri di samping mereka, menatap mereka dengan diam.
.
.
.
Bersambung