
Chris yang saat ini sudah mengetahui siapa Edgar langsung mengirimkan informasi itu. Entah kenapa ia berpikir, Edgar/Robbin akan memulai perang dengan mereka.
Ting,
Bunyi pesan masuk di ponsel Nicko. Ia yang baru saja akan memejamkan matanya langsung bangun dan membuka pesan di Email nya. Saat mata itu melihat, ia hanya diam dengan wajah dinginnya.
Zanna yang berada di samping Nicko mengintip dari ekor matanya, dengan apa yang di lakukan suaminya itu. Saat matanya mengintip, ia melihat wajah yang tidak enak di pandang. Suaminya itu nampak datar dan dingin. Seolah sedang menahan amarahnya.
"Ada apa dengan nya?" Batin Zanna bertanya-tanya. Zanna sudah lama tidak melihat wajah yang begitu dingin di wajah suaminya itu. Walaupun dia marah, tapi ia tetap menunjukkan wajah biasanya, walaupun itu sedikit kesal.
Zanna juga melihat tangan Nicko yang mengepal, entah apa yang membuat suaminya marah. Tapi Zanna berpikir, pasti tentang pesan yang di terima suaminya itu. Dari siapa Zanna sendiri tidak tahu. Tapi rasa penasarannya membuat dirinya bangun dan bertanya kepada Nicko. "Apa terjadi sesuatu?" Tanya Zanna menatap suaminya yang berada di samping dirinya.
Nicko menoleh, menatap Zanna. Menatap wajah istrinya yang begitu cantik di matanya. Tangannya terulur menyentuh wajah itu, "Apapun yang terjadi dengan ku nanti, ku harap kamu tetap mencintai ku, Baby," ucap Nicko membuat Zanna tidak mengerti.
"Ada apa dengan mu?" Tanya Zanna bingung.
"Tidak ada apa-apa," elusnya di kepala Zanna. Nicko berdiri dan pergi ke kamar mandi meninggalkan Zanna dengan ponsel miliknya. Zanna yang melihat hanya mengerutkan kening, masih dengan menatap punggung suaminya yang menghilang masuk kedalam kamar mandi.
"Ada apa dengan nya? Aneh sekali," gumamnya dan melirik ke arah ponsel yang ada di dekatnya.
Rasa penasaran dengan pesan yang membuat suaminya memiliki suasana hati buruk, ia pun mengambilnya dan membuka pesan email itu. Di dalamnya terlihat nama asistennya. Ia pun membukanya dan membacanya. Namun ia tidak begitu terkejut dengan pesan itu, karena Chris hanya mengirimkan pesan berbunyi, 'Edgar adalah Robbin'.
"Robbin, siapa Robbin?" Pikir Zanna bingung.
Karena tidak mengenal siapa itu Robin, Zanna pun menutup pesan itu dan meletakkan kembali ponsel itu di sampingnya. Zanna yang susah untuk tidur kembali akhirnya mengotak-atik ponselnya membuka pesan di WhatsApp nya. Namun saat membukanya, ia melihat sebuah nomor yang tidak di kenal. Saat ingin membuka pesan itu, Nicko datang, dan pamit pada Zanna untuk pergi menemui Chris karena ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan. Zanna mengangguk dan membiarkan Nicko pergi untuk menemui Chris.
Setelah Nicko pergi, Zanna mendekati Dena yang berbaring di ranjang pasien, mengelus lembut kepala itu dan mengecup kening gadis kecilnya.
"Cepatlah sembuh. Kakak ingin melihat mu seperti sebelumnya, tertawa dengan bahagia," gumam Zanna dan duduk kembali di sofa. Membaringkan tubuhnya dan membuka pesan dari nomor asing itu.
Jari Zanna menekan pesan itu dan terlihatlah bunyi pesan yang membuat Zanna mengerutkan kening.
"Lama tidak bertegur sapa, kawan ku."
Zanna yang tidak tahu siapa itu, langsung membalas pesan dari nomor tak di kanal itu.
"Siapa kau?"
Pria yang mengirim pesan itu tertawa saat membaca pesan Zanna. Ia mengetik pesan, membalas pesan Zanna.
"Sudah lama, tapi cepat sekali kamu tidak mengenal ku. Apakah begitu mudah melupakan ku my heart?" Bunyi pesan yang tidak asing bagi Zanna. Panggilan yang sering ia dengar dari seseorang.
"Rubben!"
"Hahaha……akhirnya kau mengenal ku my heart. Bagaimana diri mu, apakah kau baik-baik saja?"
Pria itu yang melihat ponselnya bergetar langsung mengangkatnya saat tahu siapa yang menghubungi nya.
"Cepat juga ingin mendengar suara ku my heart," jawab pria itu.
Zanna yang mendengar suara itu, mengernyit. Benar-benar seperti suara Rubben. Namun entah kenapa di waktu dekat ini ia juga pernah mendengar suara itu. Cukup lama berpikir, Zanna ingat dan ternyata itu adalah suara orang yang sama menghubunginya saat dirinya di kejar oleh 8 orang bermotor.
"Kau!"
"Ya, ini aku. Rubben mu. Rubben yang akan mengambil nyawa mu."
"Cih! Jangan mimpi kau bisa mengambil nyawa ku badjingan! Sebelum kau mengambil nyawaku, nyawamu lah yang akan lebih dulu ku ambil dari tubuh mu," marah Zanna saat mengetahui jika itu benar-benar Rubben.
"Hahahaha……mengambil nyawa ku? Baiklah, akan ku tunggu kau. Akan ku kirimkan alamat nya, dimana kita akan menyelesaikan urusan kita," jelas Rubben tertawa.
Zanna muak mendengar suara pria yang sangat ingin dia bunuh itu. Ia mematikan panggilan itu dan langsung menghubungi Glen untuk menyiapkan pasukan dan persenjataan lengkap untuk peperangan yang akan di langsungkan esok hari.
Geln yang mendapatkan perintah itu langsung mengumumkan kepada pasukan mafia ZANNALOA untuk mempersiapkan diri dalam peperangan esok hari. Glen beserta pasukannya keluar dari markas Geng Reaper dengan alasan akan kembali ke markas mereka karena mereka di tempat itu tidak memiliki kegiatan sama sekali.
Chris memberi izin tanpa curiga jika mereka akan melakukan perang besar dengan Rubben. Sehingga Chris pun mengizinkan begitu pun dengan Tom yang juga mengizinkan, karena mereka tidak bisa melarang mereka kembali ke markas mereka sendiri. Di karenakan mereka juga memiliki urusan dengan Edgar/Robbin.
Setelah mereka pergi dari Markas Reaper, Glen, Faro dan Felix yang sudah sembuh menyiapkan semua keperluan untuk peperangan dengan Rubben dan tentunya dengan Mega juga.
"Siapkan semuanya, jangan sampai kita kekurangan persenjataan," perintah Felix.
"Baik bos," jawab semuanya kompak.
Sedangkan di tempat lain di Markas Rubben, Mega duduk bersama dengan Rubben mendengar penjelasan Rubben yang mengatakan jika wanita yang selama ini membuat masalah dengannya adalah Zanna. Mega yang mendengar itu tentu saja terkejut, ia tidak menyangka jika orang yang selalu membuatnya kesal itu adalah musuhnya, wanita yang ia cari dan ingin ia bunuh.
"Jadi wanita itu adalah Zanna si jala-ng itu?"
"Hm," Rubben mengangguk. "Dan aku sudah mengatakan kepadanya bahwa besok aku akan melawan nya." Jelas nya.
"Aku akan ikut seperti biasa. Akan ku bunuh wanita sialan itu!" Marahnya dengan penuh dendam.
Rubben mengelus kepala Mega dengan lembut, "Baiklah, persiapkan semua persenjataan mu. Karena tidak akan mudah melawan wanita itu. Dan ku harap tidak ada bantuan yang bersama dengan nya." Mega mengangguk, berharap Zanna tidak mencari bantuan.
.
.
Bersambung