ZANNA

ZANNA
ZANNA Bagian 78, Kematian Mega



Nicko yang melihat Zanna dalam keadaan terdesak langsung berlari ke arah mereka bertiga. Rubben dan Mega yang melihat Zanna kalah oleh mereka berdua tersenyum senang. Mega yang memang menginginkan Zanna mati mengeluarkan senjata api nya, dan mengarahkan ke arah Zanna. Namun sebelum peluru itu melesat ke arah Zanna, peluru dari senjata Nicko lebih dulu menembak tangan Mega.


Door…


Argh! Teriak Mega saat lengan tangannya di tembak oleh seseorang. Mega dan Rubben melihat ke arah siapa yang menembak itu. Saat mereka melihat Rubben dan Mega terkejut karena itu adalah Nicko. 


"Nicko!" gumam Rubben tidak percaya melihat Nicko berada di pertarungan ini. Bukankah Nicko lumpuh dan saat ini Geng Reaper sedang melawan adiknya? Lalu kenapa bisa dia ada disini? Mungkinkah Robbin telah mati? Pikir Rubben menatap Nicko dengan banyak pertanyaan di benaknya.


Melihat kesempatan untuk menjauh, Zanna bangun dan sedikit menjauh dari mereka sambil memegang luka di dada nya karena pukulan dua orang picik itu.


Nicko berjalan ke arah mereka dengan tatapan tajamnya kepada dua Mega dan Rubben. "Kenapa wajah ini seperti Robbin? Mungkinkah___?" Lamunan Nicko buyar saat suara Rubben bertanya.


"Apa kau telah membunuh adik ku?" Tanya Rubben dengan suara menahan amarah.


"Adik?" Gumam Nicko berpikir. Setelah mengetahui jika Robbin adalah adik pria di depannya ia mengangguk. "Ya, aku telah membunuh adik lemah mu itu," jawabnya langsung membuat Rubben naik pitam, marah dengan wajah yang sudah memerah karena emosi.


"Badjingan! Beraninya kau membunuhnya."


"Tentu saja berani! Kenapa aku harus tidak berani?"


"Brengsek! Kau harus mati di tangan ku sebagai ganti nyawa adikku yang kau bunuh," marah Rubben langsung menyerang Nicko tanpa memperdulikan Zanna lagi. Baginya membunuh Nicko saat ini adalah hal penting untuk membalaskan dendam adiknya, Robbin.


Bug,


Bug,


Bug,


Mereka berdua pun bertarung untuk mengalahkan satu sama lain.  Rubben yang marah mengeluarkan semua tenaganya untuk mengalahkan Nicko. Nicko pun juga tidak menahan lagi, ia juga menyerang dengan seluruh kekuatannya. 


Pertarungan mereka sungguh sangat sengit karena mereka berdua memiliki tenaga yang sama kuatnya. Keduanya saling tonjok dan pukul, menyerang sebisa mungkin agar bisa melukai musuhnya.


Sedangkan Mega yang melihat pertarungan itu mengabaikan. Ia menatap Zanna, begitupun dengan Zanna yang menatap Mega. "Ayo, urus-urusan kita. Jangan pedulikan mereka berdua," ucap Mega menantang. Padahal tadi ia sudah kalah di tangan Zanna, namun karena adanya yang membantu Zanna pun akhirnya kalah.


Mendengar itu Zanna tersenyum mengejek, "Apa kau tidak takut tubuh mu itu ku jadikan bahan latihan ku?"


"Sialan! Siapa yang ingin menjadi bahan latihan mu. Sebaliknya, kaulah yang akan ku menjadikan bahan latihan ku," jawab Mega dan langsung menyerang Zanna.


Bug,


Bug,


Plak,


Zanna menangkis pukulan Mega yang mengarah padanya. Lalu saat mendapatkan kesempatan itu, Zanna menampar dengan keras pipi itu hingga memerah. 


Zanna yang melihat wajah Mega semakin marah tersenyum, "Ups, tangan ku licin. Jadi aku sengaja memukul wajah cantik mu itu," jawab Zanna malah semakin memperjelas ucapannya, bahwa dirinya memang sengaja.


"Kau!" Marah nya dan kembali menyerang. Mega terus menyerang Zanna, namun serangan tidak pernah berhasil dan malah sebaliknya Zanna berhasil memukul Mega.


Plak,


Plak,


Bug,


Dua tamparan beruntun berhasil membuat wajah Mega semakin bengkak dan setelah itu mendapatkan tendangan di perut membuat Mega terjatuh dengan tubuh yang semakin terluka.


"Bagaimana tamparan dan tendangan ku, lembut bukan?" Ucap Zanna berjalan menghampiri Mega yang perlahan mundur.


"Jangan mendekat," bentak Mega saat Zanna berjalan ke arahnya dengan membawa senjata api di tangannya.


"Hei, kenapa? Takutkah?" Ledek Zanna dengan senyum anehnya. 


Wajah Mega terlihat pucat, entah kenapa saat ini ia begitu takut dengan Zanna. Mungkin karena dirinya takut mati. Padahal sebelumnya ia sangat percaya diri bisa mengalahkan Zanna, dan kini malah sebaliknya Zanna lah yang percaya diri akan bisa membunuh Mega.


"Ku mohon, jangan bunuh aku. Aku tahu aku salah Zanna, maafkan aku. Aku siap bersujud di kaki mu, asalkan kamu tidak membunuh ku," pinta Mega dengan mengatupkan tangannya di dada, memohon agar Zanna mau mengampuni dan memaafkan nya.


Melihat itu Zanna tertawa keras. "Hahahahaha……dimana Mega yang penuh dengan kesombongan itu. Kenapa saat ini yang ku lihat adalah Mega yang takut akan kematian?" Zanna menyentuh dagu Mega sambil menodongkan senjatanya di kening. "Apa kau takut dengan senjata ku ini? Em, atau dengan senjata ku yang lain?" Tanya Zanna menatap wajah Mega yang sudah tidak cantik lagi itu, karena banyak lebam di wajahnya.


"Sebenarnya aku bingung, bagaimana cara aku menyiksa mu, sahabat ku. Atau seperti yang ku alami. Membakar mu dan setelah itu membunuh dan mengoyak tubuh mu," ucap Zanna dengan senyum mengerikannya. Mega yang mendengar apa yang di katakan Zanna tentang cara membunuhnya, menelan ludah, takut. Dia tidak ingin diperlakukan seperti itu.


"Tidak, tidak! Ku mohon jangan lakukan itu," mohon Mega sangat takut. Lagi-lagi Zanna tertawa keras melihat Mega memohon padanya. 


Zanna menepuk wajah itu dengan pelan. "Kau pikir dengan permohonan mu ini dapat membuat ku memaafkan mu? Tidak! Tidak akan pernah ku maafkan atas semua penghianatan mu itu."


Door…


Door…


"Hah, hah, ku mohon jangan lakukan itu. Zanna ingatlah pertemanan kita dulu. Aku melakukan itu karena aku khilaf," Mega menekan pahanya karena sakit sambil dengan napas tersengal-sengal karena menahan rasa sakit.


"Khilaf? Hahaha……kau pikir aku percaya dengan apa yang kau katakan bahwa diri mu khilaf? Dalam hatiku tidak akan pernah percaya bahwa kamu pernah berbuat khilaf pada ku," marah nya dan menembak lengan Mega.


Door…


Argh! 


Jerit Mega kembali saat tubuhnya di tembak lagi oleh Zanna. Mega menatap tajam Zanna dengan marah, mengeluarkan sifat aslinya bahwa ucapan kata maaf yang baru saja ia ucapkan hanyalah omong kosong belaka.


"Dasar jala-ng! Jika ada kehidupan lagi aku akan membunuh dan mencincang mu karena berbuat seperti ini pada ku."


Zanna yang melihat sifat asli Mega, tersenyum kecil. "Ini baru Mega yang kukenal, penuh rasa dendam dan tidak terima. Tapi asal kau tahu Mega. Aku Zanna, tidak akan membiarkan mu membunuh ku walaupun ada kehidupan mendatang. Yang ada akan ku bunuh setiap ada kehidupan itu. Seratus, seribu, bahkan puluhan ribu, akulah yang akan tetap membunuh mu terlebih dahulu. Selamat tinggal, selamat menikmati hidup mu di neraka."


Door…


Door…


Door…


Zanna menendang tubuh Mega hingga terlentang setelah itu menembak berulangkali perut Mega hingga darah memuncrat dan setelah itu Mega mati dengan cara mengenaskan.


Zanna yang melihat Mega sudah mati, masih menatap benci saat mengingat penghianatan itu. Mencoba membunuhnya dengan bersekongkol dengan Rubben. Zanna yang masih memegang senjata apinya masih ingin melupakan kemarahannya. Ia, menembak kembali dada Mega, meluapkan semua emosi dan dendamnya. "Mati kau!" 


Tubuh Mega benar-benar menjadi pelampiasan Zanna. Darah begitu banyak keluar dari tubuh itu. Melihat pelurunya sudah habis, Zanna membuangnya dan menendang tubuh tak bernyawa itu, setelah itu pergi ke tempat Nicko dan Rubben bertarung.


Saat ini tinggal Rubben yang belum mati. Ia akan membunuh Rubben dengan tangannya sendiri. Ia mengambil sebuah senjata tajam panjang yang tergeletak saat melewati. Mungkin itu senjata milik anak buah Rubben yang telah mati, pikirnya.


Zanna menggunakan senjata panjang itu saat ada anak buah Rubben hendak menghalangi jalannya. menebas dan menghunuskan senjata panjang itu ke tubuh mereka. Bahkan Zanna tak segan memotong kepala mereka jika berani padanya. Saat ini Zanna benar-benar sangat marah, ingin segera mengakhiri pertarungan ini.


Sudah hampir satu hari mereka bertarung, namun semuanya belum selesai. Zanna terus berjalan ke arah Nicko masih dengan mengayunkan senjatanya, membantu anak buahnya membunuh musuh-musuh itu.


Saat sampai di tempat Nicko dan Rubben bertarung, Zanna begitu terkejut dengan apa yang di lihatnya. Nicko ditikam oleh anak buah Rubben dari belakang.


Zanna mengepalkan tangan, marah dengan apa yang di lihatnya. "Beraninya kalian!" Marahnya dan langsung berlari ke arah mereka.


Syuuut..


Craas…


Zanna menebas kepala pria yang menikam Nicko hingga kepala itu menggelinding ke tanah. Nicko ambruk dengan luka di tubuhnya. Selain mendapatkan tikaman itu, Nicko juga mendapatkan tikaman dari Rubben. 


Uhuk…uhuk…


Zanna yang melihat suaminya lemah menahan kepala itu dalam pangkuannya. Wajah Zanna nampak bingung dan takut. Takut kehilangan suaminya. "Jangan tinggalkan aku," ucap Zanna lirih. Nicko yang melihat tersenyum kecil, tangannya terulur menyentuh pipi Zanna yang meneteskan air mata. Ia mengusapnya, tidak menyangka jika Zanna bisa menangis.


"Jangan menangis. Nanti tidak cantik lagi," ucap Nicko dengan suara lirih, lemah.


Namun Zanna tidak memperdulikan itu, air matanya tetap menetes takut Nicko meninggalkan dirinya. "Jangan menangis Baby, jangan menangis. Aku tidak apa-apa." Jelas Nicko. Tapi tidak membuat Zanna percaya, karena Zanna melihat Nicko memuntahkan darah dari mulutnya.


"Tidak, tidak! Kamu harus bertahan. Ku mohon jangan tinggalkan aku," pinta Zanna dan membuat Nicko terharu karena Zanna tidak menginginkannya pergi.


"Katakan, jika kamu mencintai ku."


"Aku mencintai mu. Sangat mencintaimu," ucap Zanna tanpa ragu. Nicko yang baru pertama kali mendengar ucapan Zanna mencintainya tersenyum bahagia, ia memejamkan mata untuk menahan sakit di tubuhnya.


Zanna yang melihat Nicko memejamkan mata langsung berteriak keras, berpikir Nicko telah mati. "Tidak..! Jangan tinggalkan aku."


Rubben yang berdiri di depan mereka tertawa keras melihat Nicko yang menurutnya mati. Ia tidak memperdulikan jika tawanya akan membuat Zanna sangat marah.


Zanna menatap Rubben dengan mata yang memerah, tangannya perlahan mengambil senjata tajam panjang itu dan dengan perlahan meletakkan kepala Nicko di tanah. Berdiri dan berjalan mendekat ke arah Rubben. 


"Jangan harap kau akan hidup setelah ini," ucap Zanna dengan nada mengerikan.


.


.


.


.


Bersambung.