
Pertarungan antar dua kubu pun terjadi. Zanna yang semula berniat tidak membunuh anggota Ball Busters akhirnya mau tidak mau meminta anak buah nya untuk membunuh mereka, karena jika tidak, anak buahnya lah yang akan mati di tangan mereka.
Sedangkan dirinya di bantu Tom dan Glen mengalahkan Faro yang seorang diri karena semua anak buahnya melawan anak buah Zanna.
"Badjingan! Berani nya keroyokan," marahnya saat mendapatkan tendangan dari Zanna tepat di dada.
Zanna hanya menaikkan satu alisnya, dengan senyum smirk nya. "Aku tidak peduli, asalkan kau tunduk di bawah kaki ku," jawab Zanna dan langsung menyerang Faro kembali tanpa memberi jeda untuknya bernapas.
Ketiga nya menyerang, menghajar Faro dengan bringas.
Bugh,
Bugh,
Bugh,
"Argh.....Badjingan! Sialan! Setan kalian!" Faro terus mengumpat saat tubuhnya menjadi bulan bulanan ketiga orang uang seperti iblis itu.
Bugh,
Faro terjatuh dengan tubuh terkulai lemah. Nafas nya memburu karena mereka menghajarnya tanpa henti. Bibirnya pun sobek dan darah keluar di sela-sela sudut bibirnya.
"Uhuk.....Uhuk...., kurang ajar kalian! Dasar iblis," ucap nya sambil memegang dadanya yang terasa sakit.
Zanna berjalan mendekati Faro dan menginjak kepala itu dengan kaki nya. "Mulut mu memang minta di robek agar tidak terus mengumpat," ucap Zanna menekan kakinya hingga membuat Faro merintih.
"Argh....Wanita biadab! Jika kau mampu lawan aku sendiri," Faro masih tidak terima dia di perlakukan seperti itu oleh seorang wanita.
"Cih, kamu pikir aku tidak mampu mengalahkan mu? Kau salah, aku cukup mampu hanya mengalahkan mu. Hanya saja aku malas terlalu lama berada di sini," jawab Zanna dan memberi kode kepala Glen dan Felix untuk menghentikan pertarungan antara anak buah nya dan anak buah Faro.
Mereka berdua mengangguk dan pergi untuk menghentikan mereka. Felix menembakkan senjata berulang kalian dan berteriak keras hingga membuat mereka semua berhenti.
"Dengarkan perintah ku! Kalian dari anggota Ball Busters jika kalian tidak ingin bos kalian mati maka tunduklah di bawah kaki bos kami."
Semua anak buah Faro terkejut mendengar itu. Pikir mereka, apa mungkin bosnya kalah oleh wanita itu.
Salah seorang anak buah Faro berkata kata tidak percaya, "Kami tidak percaya, jika bos kami kalah oleh wanita itu," jawabnya lantang.
"Kau tidak percaya?" tanya Felix dan di angguki semuanya.
Namun tak lama semuanya terkejut melihat Zanna menyeret paksa Faro dengan senjata yang di arahkan kepalanya.
"Bos," panggil mereka semua tidak percaya.
Bugh,
Zanna menendang tubuh itu hingga bersimpuh di depan semua anak buahnya. "Lihat baik-baik. Ini adalah bis kalian yang telah kita kalahkan. Jika kalian ingin dia hidup maka jadilah bawahan ku, dan aku akan membiarkan kalian semua hidup. Tapi jika kalian menolak, kalian semua akan mati di tempat ini," ucap Zanna lantang dan langsung membuat anak buahnya mengarahkan senjatanya ke arah anak buah Faro.
Faro menatap sengit wanita yang ada di sampingnya, menodongkan senjata ke arah nya. Namun saat melihat anak buahnya di ambang kematian, ia menghela nafas dengan kasar. " Jangan bunuh mereka. Aku sebagai ketua mengaku kalah, dan kami semua akan tunduk pada mu," jawab nya dan membuat semuanya menatap ke arahnya.
"Kami menyerah," ucap semua anak buah Faro.
Melihat itu Zanna tertawa keras, "Hahahaha........Bagus, bagus. Inilah yang ku harapkan. Tapi kalian harus ingat! Jika kalian berani mencoba memberontak, kalian akan tahu akibatnya. Karena aku tidak akan segan-segan melenyapkan kalian semua," ucapnya dengan nada berubah mengerikan.
"Bawa mereka semua, kita kembali ke markas kita. Dan jangan lupa, ambil semua senjata mereka," perintahnya kepada anak buahnya.
"Baik Bos," jawab mereka semua kompak.
Dengan segera, anak buah Zanna mengambil semua senjata milik Ball Busters di dalam gudang, serta banyak mobil untuk mengangkut mereka ke markas ZANNALOA, markas batu mereka.
Sedangkan yang sudah mati, Zanna meminta anak buahnya membakar tubuh yang tidak bernyawa itu lagi.
.
.
Setelah mengalahkan dan menundukkan kelompok Ball Busters di bawah kepemimpinan nya, Zanna pun meminta kepada Felix dan Glen untuk mengurus semuanya di markas. Sedangkan dirinya akan pergi ke kediaman Mirdad untuk menjenguk adiknya esok hari.
.
.
Keesokan hari, Zanna sudah bersiap pergi dari markas. Ia akan menggunakan motor besar yang di miliki Felix untuk pergi kekediaman Mirdad.
"Aku pergi dulu, jaga markas. Dan jika ada sesuatu hal yang penting, laporkan pada ku," ucap Zanna.
"Baik Bos. Hati-hati di jalan," Felix dan Glen mengantarkan nya sampai halaman markas. Zanna mengangguk dan naik di atas motor, setelah itu pergi meninggalkan tempat itu.
Di perjalan, Zanna teringat adik angkat nya Dena yang sudah lama tidak ia jumpai. "Bagaimana kabar nya? Apakah dia baik-baik saja? Semoga saja dia baik-baik saja. Dan semoga dua wanita itu memperlakukan Dena dengan baik. Tapi jika tidak! Lihat lah aku akan membuatnya menyesal," batin Zanna mengendarai motornya menuju kediaman Mirdad.
Di tempat lain, Nicko sedang melakukan terapi nya untuk kesembuhan kakinya. Ia tidak sabar untuk segera pulih dan memberikan pelajaran kepada istri nakalnya yang suka keluyuran.
Baru saja ia mendapatkan laporan dari anak buah nya tentang apa yang di lakukan istri nakal nya itu. "Dasar wanita nakal, awas saja kau! Setelah aku kembali tak akan ku biarkan kau bermain dengan senjata mu itu. Dan kau hanya boleh memainkan senjata yang ku miliki ini," gumamnya lirih.
Ya, Arzan mau tidak mau mengatakan apa yang di lihat nya, karena ancaman tuan muda nya yang tiba-tiba menghubunginya. Dan hal itu membuat Nicko tahu segala nya tentang istrinya yang menyembunyikan indentitasnya.
"Siapa sebenarnya diri mu sebelum kau menjadi istri ku?" gumam Nicko berpikir, ia benar-benar harus menyelidiki siapa istrinya sebenarnya dan sepertinya istrinya itu memiliki identitas yang begitu rumit.
.
.
.
Bersambung