
Wajah Mega mengeras. "Badjingan! Kurang ajar! Dasar jala-ng," marahnya dengan tangan mengepal erat. Ia mengingat gadis yang ingin dia bunuh karena berani menamparnya, "Beraninya kau membunuh anak buah ku jala-ng. Awas kau! Tidak akan ku lepaskan sampai aku berhasil mengambil nyawa mu. Akan ku cincang tubuh jala-ng mu itu," marah nya dengan wanita yang akan menjadi musuhnya.
Mega tidak tahu musuh baru nya ini sebenarnya adalah musuh lama nya, yang menginginkan dirinya mati. Zanna, sabahat nya dulu saat dirinya masih bersama di Mafia ZANNALOA.
Zanna membuat kesempatan itu. Kesempatan membuat Mega bermusuhan dengan nya, agar mempermudah untuk membunuh Mega dengan dirinya yang baru, dengan identitas Nana Mirdad, istri Nicko William.
Zanna tahu setelah ini Mega akan mencari informasi tentang dirinya. Dan inilah kesempatan untuk melakukan perang dengan Mega dan Rubben, dengan terang-terangan.
Zanna sudah siap untuk melakukan perang itu, karena kelompoknya saat ini sudah lah cukup untuk melawan kelompok Mega dan Rubben. Apalagi ia tahu, suaminya pastilah tidak akan membiarkan dirinya melawan mereka sendirian.
Zanna tahu jika sebenarnya Nicko sudah menyelidikinya, hanya saja sepertinya suaminya belum tahu siapa dirinya yang asli di balik wajah Nana Mirdad itu.
Mega pergi meninggalkan mayat anak buahnya tergelak di tempat itu. Dia menghubungi Rubben untuk meminta bantuan, mencari tahu siapa wanita yang berani menyinggungnya ini.
"Bantu aku mencari tahu wanita yang berani menampar ku di Mall xx," perintahnya dan di setujui Rubben.
Tak berselang lama, Rubben mengirim informasi itu dengan di bantu anak buah nya, meretas CCTV di Mall itu.
"Nana Mirdad, putri pertama dari istri kedua keluarga Mirdad. Dan sekarang menjadi istri seorang pengusaha sukses di negara ini, Nicko William, seorang ahli waris keluarga William."
Mega membaca pesan itu berpikir keras. Kenapa wanita yang ingin dia bunuh adalah seorang menantu keluarga William, keluarga yang memiliki kuasa tinggi di negara nya ini? "Sialan! Kenapa wanita itu menjadi wanitanya orang itu? Ini akan sedikit lebih susah untuk memberi pelajaran pada wanita sialan itu. Tapi jika aku tidak membalas penghinaan ini. Aku Mega, mungkin akan di tertawakan oleh Zanna, saat tahu aku tidak memiliki keberanian melawan menantu keluarga William. Tapi jika aku tidak membunuh nya_____Ah sial!" umpatnya dengan pikiran bimbang.
Mega pergi kembali ke hotel. Saat sampai, pria yang bersama nya sudah berada di dalam kamar itu. "Dari mana?" tanya pria bernama Frans.
"Dari luar, ingin membuat pelajaran pada gadis yang menampar ku. Namun sialnya saat aku menyuruh beberapa orang, mereka malah mati mengenaskan di tangan wanita itu," jelasnya dan duduk di pangkuan Frans.
Frans membelai wajah cantik itu, "Jika wanita itu mampu membunuh ya, berarti wanita itu bukan wanita biasa," jelas Frans dengan wajah menelusup ke leher Mega, menghirup aroma wangi di tubuh itu.
"Dia memang bukan wanita biasa," jawab Mega saat mengingat siapa wanita itu sebenarnya, istri Nicko William.
"Berarti kau harus lebih hati-hati saat berhadapan dengan wanita itu." ucap Frans dan di angguki Mega. "Jika kamu butuh bantuan ku, aku akan membantu mu sayang."
"Tidak! Aku bisa sendiri," tolaknya.
"Baiklah. Sekarang layani aku, aku butuh pelayanan ekstra dari mu," Frans langsung menarik wajah itu, mencium bibir itu dengan kasar. Mega menyambutnya dan mereka berdua pun melakukan hal intim di dalam kamar hotel itu.
.
.
Di rumah sakit, Felix dan Yuna duduk di depan Zanna. Ia menatap bergantian mereka berdua yang saat ini sepertinya masih belum akur.
Nano, dia adalah Yuna. Wanita yang di kirim suami ku untuk menjaga ku. Ku harap kau bisa baik dengan nya,"
Felix menoleh, menatap wajah gadis yang juga menatapnya. "Jangan harap aku bersikap baik dengan nya," batinnya kesal saat mengingat gadis menyebalkan itu menyentil adik kecilnya.
Yuna pun sama, tidak akan pernah bersikap baik dengan Felix. Karena menurutnya Felix itu sangat menyebalkan.
"Apa! Penakut kau bilang?" tatapnya dengan pandangan tajam. "Kau!" tunjuk nya di dada Felix, "Kau belum tahu siapa tuan sebenarnya. Jika kau tahu, aku yakin yang tidak akan mampu mengatakan hal itu."
Zanna yang melihat mereka berdebat kembali, memijit pelipisnya, pusing dengan perdebatan mereka bedua. "Cukup!" bentak Zanna membuat mereka berdua langsung diam.
"Dengarkan aku. Kalian tahu apa yang ku alami hari ini bukan?" Mereka berdua mengangguk tahu. "Wanita itu! Wanita yang hari ini mencoba membunuh ku karena aku balik menamparnya pasti tidak akan melepaskan ku. Wanita itu pasti menyelidiki siapa aku sebenarnya. Jadi ku minta pada kalian untuk selalu waspada di samping ku."
"Baik nona," jawab mereka berdua kompak.
.
.
Malam hari, Nicko langsung pergi ke rumah sakit untuk menemui istrinya. Ia meminta Felix dan Yuna pergi meninggalkan mereka, karena Nicko ingin menghabiskan malamnya dengan istri nya itu.
"Kenapa kau meminta mereka pergi?" tanya Zanna sibuk dengan ponselnya.
"Tentu saja ingin berduaan dengan istri ku," jawabnya dan naik ke atas ranjang, setelah melepas jas hitam nya. Memeluk pinggang itu, memejamkan mata, menghirup aroma wangi tubuh Zanna yang sudah menjadi candunya.
"Siapa itu Mega?" tanya Nicko langsung membuat Zanna menatapnya dengan kening berkerut.
"Mega? Memang siapa itu Mega?" tanya Zanna balik bertanya, seolah dirinya tidak mengenal nama wanita itu.
"Tidak perlu aku mengatakan nya, aku yakin kau pasti mengerti dengan pertanyaan ku ini," jawab Nicko mengambil ponsel itu dari tangan Zanna dan meletakkan di sampingnya. Menarik tubuh itu agar berbaring di sampingnya dan memeluknya.
"Tidak bisakah kau tidak seperti ini?" tanya Zanna mengalihkan pertanyaan Nicko tentang Mega.
"Tidak bisa. Aku suka memeluk mu. Jangan larang aku atau kau akan tahu akibatnya," ucapnya dengan kebiasaan mengancamnya.
Zanna akhirnya diam. Dia sedang malas meladeni kegilaan suaminya jika sudah menyentuh tubuhnya, seakan tidak ada kata lelah pada diri suami nya itu. "Ini baru benar. Aku berikan hadiah untuk mu."
Cup....
Nicko mencium pipi itu. Zanna yang melihat melotot. "Apa-apaan ini. Hadiah? Cih, aku malas mendapatkan hadian seperti ini. Tapi jika tidak menerima, aku yakin dia akan langsung menyerang ku," batin Zanna kesal.
Namun pikiran Zanna salah. Walaupun ia menolak atau tetap patuh, Nicko tetap saja tidak melepas istrinya itu. Nicko kembali memaksa dan akhirnya, lagi-lagi Zanna di buat kesal oleh suaminya itu, karena Nicko melakukan nya lagi tanpa henti.
"Jangan menolak hadiah dari suami mu. Berbanggalah karena aku memberikan kenikmatan ini untuk mu," ucap Nicko yang tidak ingin di bantah.
"Sialan!" umpat Zanna kesal mendengar kata hadiah dari suaminya itu.Jika dia boleh membantah, ia akan menolak hadiah itu. Tapi walaupun sekuat tenaga dia menolak, Nicko tidak membiarkan Zanna untuk menolak ataupun kabur. Ia akan kembali membawa tubuh itu di bawah kukungan nya dan berakhir dengan bibir mende-sah di bawah pria yang berstatus suaminya itu. Pria yang setiap hari gila menjamah tubuhnya.
.
.
Bersambung