ZANNA

ZANNA
ZANNA Bagian 38, Pagi Indah



Setelah membereskan diri dari sisa keringat olahraga malam nya, Zanna berjalan keluar lebih dulu dari kamar mandi, meninggalkan suaminya yang mengguyur tubuh itu di bawah shower.


Nicko hanya melirik sekilas, dan tersenyum kecil. "Aku tahu setelah ini pasti akan ada perang dingin, "Batinnya masih menikmati air yang mengguyur tubuhnya.


Sedangkan di kamar, Zanna terus mengumpat kesal karena Nicko mengulang kegiatannya lagi. "Apa dia pikir ini tidak sakit! Dasar setan alas!" kesalnya sambil mengambil pakaian di lemari.


Zanna mengambil pakaian yang tertutup, berjaga-jaga jika Serigala itu akan menerkamnya lagi. "Jika sampai dia melakukannya lagi, akan ku cincang miliknya," gumam nya memakai pakaiannya.


Zanna tidak menyadari jika seseorang bersandar di dinding sambil bersedekap dada menatap dirinya yang sedang berpakaian, sambil terkekeh di dalam hati mendengar gumaman Zanna.


"Sebelum kamu mencincang ku, akulah yang akan memakan mu," batinnya dan berjalan menghampiri Zanna.


Grep...


Tangan nakal itu memeluk nya dari belakang, dan menyandarkan kepalanya di bahu. Zanna yang mendapatkan pelukan itu menjerit karena kaget.


"Apa yang kau lakukan?" bentak Zanna dengan marah


"Tentu saja memeluk mu," jawab Nicko santai dan mengendus leher Zanna.


Zanna yang merasakan geli mendorong kepala itu. "Jangan berulah lagi. Aku benar-benar akan membuat mu menyesal jika kau mengulangnya lagi," ancam nya dan malah membuat Nicko menaikkan alis seolah berkata 'Oh ya'


Melihat wajah menyebalkan itu, ingin sekali Zanna memukul kepala suami mesum nya itu.


"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan mengulang lagi untuk saat ini. Tapi tidak untuk besok," jawab nya tersenyum manis. Namun senyum itu tidak meluluhkan hati Zanna, tapi malah membuat Zanna semakin kesal.


"Tidak ada besok-besok lagi," jawabnya dan mengambil Bra untuk di pakai nya. Ia sudah tidak peduli jika Nicko melihatnya. Toh, dia juga sudah melihat semuanya, pikirnya.


Nicko yang melihat Zanna mengambil Bra langsung mengambil nya dengan paksa. Namun sebelum Zanna berkata, Nicko memakaikan itu pada bagian kenyal milik istrinya yang menjadi kesukaan nya.


"Aku akan memakaikannya."


"Aku bisa sendiri, pergilah," Perintahnya mencoba mengambil barang miliknya.


"Diam lah, biarkan aku yang memakaikan nya. Kamu istri ku, aku berhak melayani mu." ucapnya memakaikan dengan telaten. Zanna yang malas berdebat memutar bola matanya malas, dan akhrinya membiarkan Nicko memakaikan semua pakaian nya.


Namun masih sempat-sempat nya Nicko mencari kesempatan, dan hal itu membuat Zanna memaki dan mengumpatnya kesal. Bagaimana tidak marah, Nicko malah memainkan benda kenyal nya dengan tangan nya. Dan itu sungguh membuat dirinya marah, sampai sampai Nicko mendapatkan pukulan di kepalanya.


"Sayang, kenapa memukul ku?" tanya nya dengan wajah semelas mungkin.


"Itu hukuman karena tangan mu masih lancang," kesalnya dengan bersungut.


"Tapikan bukan salah kepala ku."


"Oh, apa tangan mu ingin ku potong, begitu maksud mu?"


"Tidak!" tolak nya cepat.


Dan perdebatan itu berakhir saat kedua nya sudah di atas ranjang. Zanna memejamkan mata, karena tubuhnya yang lelah. Tiba-tiba perutnya berbunyi, lapar karena belum makan malam tadi.


"Lapar?" tanya Nicko dan malah hanya mendapat lirikan, bukan jawaban.


Nicko yang melihat mende-sah. Tanpa bertanya lagi, ia menghubungi pelayan di dapur untuk mengantarkan makanan ke kamarnya.


"Aku sudah menghubungi pelayan, tunggu sampai mereka membawakan kita makan malam," ucapnya memberitahu. Zanna lagi-lagi tidak menjawab, ia terlalu lelah untuk berbicara.


Tak menunggu lama, pelayan itu datang membawa nampan berisikan makanan. Nicko turun dari ranjang dan duduk di kursi roda, mendorongnya kearah pintu. Zanna yang melihat hanya diam, menatap suaminya yang bertingkah seakan masih lumpuh.


"Bawa sini, biar aku saja yang membawanya," pelayan itu menyerahkannya, "Pergilah," perintah Nicko meminta pelayan itu untuk kembali ke dapur.


"Baik tuan," jawab Pelayan muda itu membungkuk, dan pergi dari hadapan Nicko.


Setelah pelayan itu pergi, Nicko menutup pintu nya dan berjalan sambil membawa nampan menuju meja, meletakkan makanan itu di atas nya.


Setelah meletakkan, Nicko berjalan ke arah Zanna dan langsung membopong tubuh itu ke kursi, karena ia tahu Zanna masih kesusahan untuk berjalan.


Zanna hanya membiarkan, dia sedang malas berdebat. Sudah cukup lelah mulutnya berbicara malam ini.


Diletakkannya dengan perlahan. Dan setelah itu melayani Zanna dengan mengambilkan makanan di atas piring.


Nicko duduk di samping Zanna sambil memegang piring di tangan nya. "Aku akan menyuapi mu."


"Aku bisa sendiri. Kamu makanlah. Aku yakin kau pasti juga kelaparan," ucap nya mengambil piring di tangan Nicko.


Nicko menahan nya, tidak mengizinkan Zanna untuk makan sendiri. Ia ingin menyuapi, jadi Zanna harus nurut untuk dia suapi. "Menurut lah. Jika tidak, aku akan mengulanginya lagi olahraga nya di sofa ini," ancamnya dan mau tidak mau Zanna pun membuka mulutnya saat Nicko menyuapinya.


Acara makan malam dengan suap-suapan itu akhirnya usai. Dan kini mereka berdua tidur di atas ranjang karena tubuh mereka yang sudah lelah. Lelah karena membuat Dede Bayi.


Malam hari, mereka tidak saling menyadari jika keduanya saling berpelukan, mencari kehangatan di tubuh mereka masing-masing.


Pagi harinya, Nicko bangun lebih dulu, Ia membuka mata, hal pertama yang di lihatnya adalah wajah cantik Zanna yang berada dalam pelukannya. "Kamu memanglah cantik, pantas menjadi wanita ku," gumamnya lirih sambil mengelus wajah mulus Zanna dengan lembut.


Zanna sama sekali tidak terganggu dengan sentuhan itu, mungkin karena ia sangat kelelahan. Apalagi tidak seperti biasanya Zanna akan bangun kesiangan.


Nicko yang hari ini berencana untuk pergi kekantor harus membatalkannya, karena masih ingin berduaan dengan istri yang mulai di cintai nya ini.


Cup,


Nicko mencium kening itu dengan lembut dan mempererat pelukannya. Zanna hanya menggeliat dan menyelusup di dada Nicko mencari kehangatan. Nicko tersenyum kecil. Namun saat menikmati pagi harinya, Ponsel Zanna berdering.


Nicko melihat Zanna, apakah istrinya itu bangun. Namun ternyata tidak. Dan akhirnya dirinya mengambil ponsel milik istrinya itu. Di lihatnya nama Nano yang menghubunginya.


"Nano? Siapa Nano?" gumamnya kecil dan menggeser tombol hijau karena ponsel Zanna tidak terkunci, mempermudahkan nya untuk mengangkat panggilan.


"Siapa?" tanya Nicko dengan suara dingin.


Nano yang mendengar mengerutkan kening. "Kenapa suara pria?" batinnya melihat kembali nomor yang ia hubungi. Dan benar bahwa ini nomor milik bosnya.


Namun saat ingat jika Nona nya telah bersuami, Nano pun menjawab. "Perkenalkan saya Felix tuan, bawahan Nona," jelas Felix takut suami bos nya salah paham.


Nicko yang mendengar diam, berpikir nama Felix. Apakah benar bahwa Felix anak buah istri nya? Atau sebenarnya bukan.


.


.


*Bersambung


Sepi ya, Autor ingin menangis😭😭😭


Lebay DECH, lebay DECH.


Terimakasih yang masih setia membaca karya Autor*.