ZANNA

ZANNA
ZANNA Bagian 59, Jujur.



Zanna mendongak, menatap suaminya. Nicko yang merasakan pergerakan menunduk, melihat arah Zanna yang dalam dekapannya.


"Sudah bangun?" Zanna mengangguk dan mempererat pelukannya sambil menatap mata suami nya.


"Aku mendengar gumaman mu. Apakah kamu benar-benar ingin tahu siapa aku?" tanya Zanna membuat Nicko diam, berpikir. Apakah jika dia mengatakan iya, istrinya tidak akan marah dengannya. Namun semua yang di pikirkan salah karena Zanna mengatakan siapa dirinya.


'Jika aku mengatakannya, kamu tidak akan meninggalkan aku kan?" tanya Zanna menatap dengan sungguh-sungguh, berharap yang tidak diinginkannya tidak akan terjadi.


Kening Nicko berkerut tentang apa yang di katakan Zanna. Dalam hati nya, Nicko tertawa. Apakah istrinya itu takut bahwa dirinya tidak akan mencintainya dan akan berakhir meninggalkan nya. Sungguh bodoh, pikirnya.


'Apa yang kamu pikirkan? Apakah ini yang kamu takutkan hm....?" Zanna dengan cepat mengangguk dengan raut wajah yang begitu menggemaskan.


Nicko yang melihat itu sungguh sangat gemas, ia mencium kening itu dengan sayang.


"Katakan! Aku janji tetap akan mencintai mu dan selalu bersama dengan mu. Tidak akan pernah meninggalkan mu selamanya."


Zanna yang mendengar, diam dengan mata menatap manik indah suaminya itu. "Janji?"


"Janji," jawab Nicko dengan tersenyum, mempererat pelukan itu. "Bicaralah, aku akan mendengarkannya."


Zanna diam sebelum mengatakan semuanya. "Benar apa yang kau pikirkan. Aku memang bukanlah Nana," jelas Zanna. Nicko diam, masih ingin mendengar kelanjutannya.


"Nama ku Zanna. Aku adalah seorang ketua Mafia ZANNALOA,_______" Zanna mengatakan semuanya tentang dirinya pada Nicko, membuat Nicko beberapa kali mengerutkan kening tentang siapa istrinya sebenarnya.


Cukup lama bercerita, Zanna akhirnya selesai. Menatap suami, mencari tahu apakah suami nya kecewa atau tidak dengannya setelah tahu siapa dirinya sebenarnya.


"Apa kamu kecewa karena aku bukan Nana?" tanya Zanna meminta jawaban.


Nicko masih diam, tidak menjawab pertanyaan istrinya. Zanna yang melihat menghela napas, ia tahu suami pasti terkejut dan kecewa. "Aku tidak akan lagi memaksa mu untuk tetap mencintai ku. Jika kamu ingin membuang ku, aku akan pergi." Zanna melepas pelukannya, bangun dan turun dari ranjang. Namun sebelum Zanna berdiri meninggalkan nya, Nicko menarik tangan itu dan membuat Zanna jatuh ke ranjang.


Nicko mengukung tubuh itu di bawahnya, saling menatap manik mata masing-masing. "Siapa yang mengizinkan mu pergi hm....? Sudahkah mendapatkan persetujuan ku?" Tanya Nicko mengelus wajah cantik itu.


Zanna hanya diam menatap semuanya, setelahnya mengalungkan tangannya ke leher Nicko, menarik dan mencium bibir suaminya.


Nicko yang merasakan bibirnya di cium, langsung memperdalam ciumannya, melu-mat dan menye-sapnya. Dengan napas memburu, kedua nya saling bertautan menikmati kegiatannya. Sedangkan Nicko yang tidak puas hanya di bibir, ia menyusuri leher dan tubuh Zanna dengan kecupan-kecupan kecil yang meninggalkan banyak tanda merah di tubuh itu.


Zanna yang merasakan sentuhan itu bibirnya mende-sah nikmat. Dan entah sejak kapan juga suaminya melepas semua pakaiannya, karena tubuhnya saat ini sudah polos tanpa kain sedikit pun. Begitu pun dengan Nicko sendiri, ia juga polos dengan singkong bakar yang sudah berdiri tegak, siap berperang di sarangnya.


Dengan perlahan, Nicko mengarahkan singkong itu ke inti Zanna membuat Zanna mende-sah nikmat saat merasakan sesuatu menerobos bagian intinya.


Nicko yang melihat Zanna begitu menikmati miliknya, mencium bibir itu dan melu-matnya. Dengan perlahan, Nicko menggerakkan pinggulnya, memasukkan dan mengelurkan singkong bakar itu dengan perlahan. Zanna yang merasakan pergerakan penuh kenikmatan itu bibirnya tidak bisa diam, terus mengeluarkan suara indahnya yang membuat Nicko semakin semangat untuk memberikan kepuasan kepada Istrinya, Zanna.


"Baby! Aku mencintai mu," di kecupnya kening itu dengan masih melakukan olahraga paginya.


.


.


.


Jika di tempat keluarga William Zanna sedang menikmati pagi indahnya, berbeda dengan Pria yang saat ini sedang menikmati secangkir kopi di pagi harinya. Pria itu sedang mendengar penjelasan asistennya.


"Tuan, sepertinya untuk menjatuhkan Nicko William sangatlah susah. Nicko memiliki kekuasaan yang cukup tinggi di negara ini, jika kita salah bergerak kita bisa dalam masalah."


Pria itu diam, berpikir. Bagaimana caranya untuk menjatuhkan musuhnya itu. Ingin dia menghancurkan Nicko dengan cara menghancurkan hubungannya dengan istrinya sepertinya sudah tidak mungkin lagi. Karena dari apa tanggapan Zanna padanya sudah jelas, bahwa Zanna bukan tipe wanita yang mudah tertarik dan tergoda dengan pria lain. Dan hal itu membuat dirinya tidak bisa mendekati Zanna, karena Zanna penuh dengan sifat menyelidik.


"Bagaimana kalau kita buat istrinya dalam masalah. Saya yakin dia tidak akan tinggal diam, dan pastinya dia akan pergi dari acara itu. Setelah itu kita hadang dia______" Asisten pria itu menjelaskan rencananya.


Pria itu tertawa keras, mendengar rencana itu. "Oke, oke. Kita lakukan rencana itu." jawab pria itu dengan senyum seringai nya.


.


.


keesokan harinya, Zanna pergi ke rumah sakit menjemput Yuna dengan di temani Dena. Sedangkan Natalie, ibu mertuanya menemani Yuna di rumah sakit.


Untuk Felix sendiri, Zanna sudah menjenguknya, dan semua urusan Felix ia serahkan kepada anak buah Nicko untuk menjaganya. Sedangkan semua anak buah Zanna, ia serahkan sepenuhnya kepada suaminya, dan saat ini anggota Zanna telah bergabung menjadi satu kedalam kelompok Geng Reaper yang di miliki oleh Nicko. Zanna tidak keberatan, karena ia yakin suaminya akan mengurus mereka dengan baik.


Untuk Rubben sendiri, Zanna malas untuk mengurus nya. Ia menyerahkan penyiksaan itu pada suaminya, karena Zanna hanya akan menyiksa Mega, jika dia berhasil menangkap wanita sialan itu.


Kini Zanna sampai di rumah sakit, berjalan menuju ruangan Yuna di rawat.


"Apakah hari ini kita akan menjemput Kak Yuna kak?" tanya Dena berjalan bersama Zanna.


"Jika sudah di perbolehkan pulang, kita akan pulang," jelas Zanna tersenyum.


Zanna dan Dena kini telah sampai di depan pintu kamar rawat Yuna. Zanna membuka pintu itu dan masuk kedalam bersama Dena. Natalie yang melihat tersenyum. "Kalian sudah datang? Kemarilah," pinta nya. Zanna dan Dena langsung menghampiri Natalie dan memeluknya ibu mertuanya itu.


"Maaf ma, baru datang. Pasti sangat merepotkan mama menjaga Yuna."


"Tidak sayang. Yuna sudah mama anggap putri mama sendiri," jawab Natalie penuh kasih sayang.


Zanna melihat ke arah Yuna dan menghampiri Yuna yang tersenyum kepadanya. "Maaf nona, saya merepotkan anda semua."


"Tidak, aku malah berterimakasih karena kamu melindungi Dena."


"Ya kak. Kakak sama sekali tidak merepotkan, malah aku lah yang merepotkan hingga membuat kakak seperti ini," sahut Dena dan duduk di samping Yuna. "Aku ingin sekali menghajar pria-pria sialan itu dan memasukkan mereka ke penjara. Tapi......"


"Kenapa?" tanya Yuna menatap, begitupun dengan Natalie dan Zanna.


"Aku tidak tahu siapa mereka dan dimana mereka sekarang," jawab Dena sedih. Jika saja waktu itu dia kuat, pastinya dia akan bisa mengalahkan mereka dan tidak akan membuat Yuna terluka.


Semuanya yang melihat Dena nampak sedih, saling melirik, dan tersenyum. Mereka tahu apa yang di pikirkan gadis remaja itu.


"Kamu tidak perlu khawatir sayang, Papa mu pasti akan menemukan mereka," jawab Natalie dengan menyebutkan papa, yang berarti Mattew, suaminya yang sekarang sudah menjadi papa angkat Dena.


Dena memgangguk, mengerti. Ia percaya pria-pria sialan itu pasti akan di temukan dan akan mendapatkan balasan yang setimpal karena perbuatannya.


.


.


.


Bersambung.


"Merah darahku adalah ungkapan bahwa semangat yang berkobar tidak akan padam hingga tetesan darah terakhir. Putih tulangku adalah mental baja yang tidak akan pernah pudar walau panasnya peluru menembus tubuh."


SELAMAT HUT RI 77 TAHUN.