ZANNA

ZANNA
ZANNA Bagian 32, Mengetahui Fakta Zanna Hidup



Setelah mengabari apa yang terjadi, Chris pun pergi meninggalkan tempat itu. 


Di lain tempat, Zanna yang baru saja membuat Sonia dan Rebecca mengalami kecelakaan, kini ia berada di rumah sakit tempat dimana Dena dirawat.


Zanna masuk keruangan Dena berada. Dan berdiri di sampingnya, mengelus kepala Dena dengan lembut. Dena yang merasakan sentuhan lembut, membuka mata, "Kak," gumamnya lirih melihat kakaknya yang datang.


"Bagaimana keadaanmu, apa sudah lebih baik?" Tanya Zanna menatap wajah Dena yang pucat.


"Em, Dena sudah merasa lebih baik," jawabnya sambil memberikan senyum nya.


"Syukurlah. Maafkan kakak karena tidak bisa menjaga mu, sehingga kamu mengalami hal seperti ini." Ucap Zanna sedih.


"Kakak tidak salah, akulah yang salah karena tidak bisa melindungi diri sendiri." 


Zanna tersenyum sambil mengelus kepala Dena dengan lembut. "Hari ini kakak akan menemani mu hingga sembuh. Jadi istirahatlah." Dena mengangguk dan memejamkan mata. 


Setelah melihat Dena tidur, Zanna pindang ke sofa yang ada di ruangan itu. Dan baru saja menyandarkan tubuh nya di sofa, ponsel nya berdering.


"Siapa sih? Mengganggu saja," Kesalnya dan mengambil ponselnya di saku. Saat tahu siapa itu, Zanna mendengus. "Tidak bisakah dia tidak menggangu ku? Menyebalkan!" Angkat nya pada panggilan itu.


"Ada apa?" Tanya nya dengan nada kesal.


Nicko yang mendengar tersenyum kecil, ia tahu istrinya pasti kesal karena dia menghubungi nya. "Kau marah?" Bukan nya menjawab Nicko malah balik bertanya.


"Aku bertanya, bukan malah kau balik bertanya!" 


"Tentu saja aku merindukan mu, makanya aku menghubungi mu," jawab Nicko serius dan membuat Zanna terdiam, berpikir, apakah yang di ucapkan pria itu benar bahwa dia merindukan nya? Namun ternyata pikiran nya salah, suami nya sama sekali tidak merindukan nya dan itu hanyalah candaan untuknya.


"Hahahaha……apakah kau percaya aku mengatakan itu?" Tanya nya sambil tertawa terbahak.


Wajah Zanna memerah, Karena tahu ia dipermainkan, "Sialan! Dasar Nicko badjingan!" Marahnya memaki Nicko di telepon. Jika saja Nicko ada di tempat itu sudah di pastikan Zanna akan menendang pria itu.


"Jika kau menghubungi ku hanya untuk membuat ku kesal, lebih baik jangan pernah menghubungi sialan!" 


"Oke, oke. Maafkan aku sayang, aku minta maaf karena membuat mu marah," ucap Nicko membuat Zanna bertambah marah 


"Siapa yang sayang mu? Jangan panggil aku dengan panggilan menjijikkan itu, menyebalkan."


"Tentu saja diri mu, memang siapa lagi? Bukan kah hanya kamu istri ku?"


"Tutup mulut busuk mu! Ucapan mu tidak akan pernah ku percaya."


"Sekarang bisa di percaya."


"Lebih baik kau diam! Aku benar benar akan mencincang mu," ucapnya dengan napas memburu karena marah dengan suaminya yang menyebalkan.


"Hahaha…..istri ku ternyata memang rubah galak, tidak akan mudah untuk di rayu dan di taklukan," ucap Nicko langsung membuat kepala Zanna mengepul karena menghina nya dengan menyamakan dirinya sebagai seekor rubah.


"Dasar badjingan sialan! Ku bunuh kau!" Marahnya di tingkat level tinggi.


Nicko yang mendengar Zanna semakin marah menjadi bingung, "Kenapa dia malah marah? Apakah ucapan ku salah?" Pikirnya dalam hati sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Nicko tidak mengetahui jika Zanna marah karena dia menyebut dirinya rubah, padahal Zanna adalah wanita yang cantik dan cerdas serta berani. Tapi saat dirinya disamakan dengan hewan berbulu itu ia sungguh tidak terima. Zanna terus saja memaki dan marah marah.


Malam itu setelah cukup lama mereka beradu mulut lewat panggilan, Zanna akhirnya mengakhiri panggilan itu secara sepihak, karena dia terus-terusan di buat kesal dan marah oleh laki-laki yang tidak bisa membuat dirinya tenang sedikit pun itu.


Nicko yang ada di luar negeri tersenyum kecil mengingat perdebatan mereka berdua. "Ternyata asik juga berbicara dengan nya. Dia membuat ku memiliki hiburan, dan benar-benar sangat pemarah," ucapnya sambil tersenyum smirk.


.


.


Sedangkan di tempat Mega, wanita itu menopang kepala nya meminta informasi yang di perintahkan nya untuk tetap mencari keberadaan Zanna. 


"Apa kau sudah menemukannya?" Tanya Mega pada pria di depan nya, Juan nama pria itu.


"Dari informasi terakhir, wanita itu di bawa di rumah sakit XX dalam keadaan masih hidup. Namun saya belum memastikan apakah itu benar atau tidak. Karena mencari informasi di rumah sakit itu sangat lah susah. Anda tahu sendiri siapa pemilik rumah sakit itu, keluarga William, keluarga nomor satu negara ini. Jadi kita tidak dapat dengan mudah mengorek informasi setiap pasien rumah sakit itu." Jawab Juan.


"Jadi begitu. Berarti jika kita bisa mengetahui nya kita akan tahu apakah Zanna hidup atau telah mati."


"Benar nona," jawab Juan mengangguk.


"Apakah kamu benar-benar tidak bisa masuk kerumah sakit itu untuk mencari informasi?" Tanya Mega dengan wajah menggoda, kebiasaan Mega jika melihat wajah tampan seorang pria. Baik itu bawahan atau pun bukan, ia memang suka belaian.


Juan yang melihat menatap penuh minat, ia tahu jika wanita itu sedang menggoda nya. "Akan aku usahakan," jawab nya melihat tubuh Sexy dengan balutan pakaian minim.


Merasa tidak tahan dengan godaan itu, Juan berdiri dari tempat duduk nya dan menghampiri Mega tanpa kedip. Sedetik kemudian Juan mengangkat tubuh itu dan membawanya ke sebuah kamar, ke tempat mereka akan melakukan hal gila, menikmati indahnya surga dunia. 


.


.


Sedangkan Felix yang kini menjaga markas baru nya bersama Glen, kini sedang menangkap seorang mata-mata yang mengintai nya dua hari ini. Mata-mata itu adalah anak buah Mega, yang penasaran karena akhir-akhir ini melihat Felix yang sering keluar markas tanpa adanya misi. Dan secara diam-diam ia mengikuti Felix tanpa memberitahu Mega. Beruntung Felix dapat menangkapnya sebelum pria itu mengatakan semuanya kepada Mega. Jika itu sudah terjadi, Mega pasti tidak akan melepaskan Zanna sebelum Zanna memulai balas dendam nya.


Bugh,


Felix melempar tubuh itu ke lantai dengan tangan terikat di belakang. "Sejak kapan kau membuntuti ku sialan!?" Tanya Felix dengan wajah memerah karena marah.


Pria itu menatap Felix dengan pandangan dingin. "Jadi kau berniat memberontak terhadap Bos Mega?" 


"Dasar sialan! Aku bertanya, bukan malah balik bertanya." Kesal nya dan menendang lagi tubuh itu.


"Kau itu badjingan! Dan ku yakin apa yang kau lakukan di belakang Bos Mega akan terungkap, walaupun kau menyembunyikan nya dengan rapat. Niat mu untuk memberontak pasti akan di ketahui olehnya walaupun kau membunuh ku sekarang," ucap nya yang yakin karena ia pasti akan mati hari ini.


"Hahaha…..mungkin lain waktu niat ku memberontak memang akan terungkap, aku tahu itu. Tapi, semua itu akan terbongkar setelah aku berhasil mengumpulkan kekuatan untuk membunuh mereka semua. Tidak untuk saat ini," jelas nya. 


"Dan agar saat ini semua rencana ku tidak kacau, kau harus mati,"  Felix menodongkan senjatanya dan menarik pelatuk nya.


Door….


Satu tembakan tepat mengenai kening pria itu dan membuat pria itu langsung mati mengenaskan. 


Melihat pria itu mati, Felix meminta anggota nya untuk selalu waspada tentang adanya mata-mata yang mengintai di markasnya


Bersambung.