
Setelah Tom dan lainnya pergi, kini tinggallah Zanna dan Nicko. Nicko yang masih duduk di kursi roda membuka suara.
"Apa masih tetap mau disana?" tanya Nicko dengan nada masih dingin.
Zanna yang tahu maksud ucapan itu langsung bergegas mendekat. Melihat itu, Nicko langsung berdiri dan mengangkat tubuh itu masuk kedalam mobil, dan membawanya kerumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Nicko meminta dokter untuk segera menangani istrinya, mengambil peluru yang bersarang di lengan istri nakal nya itu.
Di ruang perawatan, Zanna yang sudah melakukan operasi pengangkatan peluru, berbaring di ranjang pasien dengan di tatap oleh pria yang saat ini tetap menatapnya dengan pandangan dingin.
Nicko bersedekap dada, berdiri di sampingnya. "Apa masih mau diam?" ucap Nicko dengan pertanyaan aneh yang sebenarnya meminta Zanna untuk mengatakan kejadian itu pada nya. Tentang, kenapa dirinya bisa berkelahi dengan beberapa pria bersenjata itu.
Zanna hanya memutar bola matanya malas, melihat Nicko yang menurutnya menyebalkan. Bukankah itu tidak masalah baginya untuk berkelahi dengan seseorang? Bahkan dirinya saja sudah sering bertarung dan membunuh sebelum nya. Dan sekarang seolah dirinya baru pertama kali berkelahi dan di marahi karena ketahuan.
"Tidak ada yang perlu di jelaskan," jawab Zanna santai dengan membuang muka.
Nicko yang mendengar jawaban itu mengeraskan rahang, ia mendekati istrinya, mengukungnya dan mencengkram dagu itu menghadapnya.
"Katakan sekali lagi?"
"Tidak ada yang perlu di jelaskan," jawab Zanna masih sama.
Mendengar itu, Nicko berpikir Zanna tidak menghargainya, ia langsung mencium bibir itu dan melu-mat nya. Namun ciuman itu tidak lah kasar, malah itu begitu lembut. Zanna yang merasakan mengerutkan kening. Berpikir, bukankah suaminya marah? Tapi dari apa yang di rasakan nya, suaminya itu sebenarnya tidaklah benar-benar marah padanya.
Zanna mendorong tubuh itu. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya dengan tatapan kesal.
"Tentu saja menghukum mu," jawab nya dengan tangan membuka jas dan kemeja nya.
Zanna yang melihat melolot, ia tahu apa yang akan di lakukan suaminya.
"Ini rumah sakit, jangan macam-macam."
"Kenapa? Rumah sakit ini milik ku, aku bosnya. Jadi terserah diri ku. Jika ada yang melarang ku akan ku pecat dia dari sini," jawab Nicko.
"Dasar gila!"
"Aku memang gila Baby. Tapi kamu lebih gila dari ku." jawab Nicko dan langsung mengukung tubuh itu setelah melepas pakaian nya.
"Nicko sialan! Jangan menyentuh ku," Zanna mencoba memberontak, namun tangan nya di tahan oleh Nicko. "Ah, lepaskan aku sialan!"
"Terus lah mengumpat. Semakin kau mengumpat, semakin pula aku akan membuat mu menjerit," jawab Nicko menyusupkan wajah nya di leher Zanna, dan menggigitnya pelan.
Arh....
De-sah Zanna saat merasakan gigitan itu Dan hal itu membuat Nicko tersenyum kecil. Ia tahu, Zanna akan lemah jika dia sudah ber-ulah.
Nicko terus membuat Zanna menjerit dan mende-sah secara bersamaan. Apalagi saat Nicko menerobos bagian inti nya, dan itu membuat mereka berdua lupa bahwa mereka ada di rumah sakit. Dan juga lupa jika Zanna sedang terluka.
Nicko benar-benar tidak membiarkan Zanna istirahat. Tubuh Zanna seolah benar-benar membuat nya gila dan candu. Setiap bagian tubuh itu membuat nya terus menginginkan dan menginginkan.
Keduanya hanyut dalam kenikmatan, sampai tidak menyadari seseorang membuka pintu kamar itu.
Ckleek.....
Tom yang tidak tahu jika tuan dan nona nya sedang memadu cinta terkejut, melihat mereka berdua yang sedang ehem...ehem....
Tom, menghela napas. Dia berdiri di samping pintu, menjaga pintu itu agar tidak ada orang yang masuk menyelonong seperti dirinya.
Dua anak buah nya yang datang bersama dengan nya juga diam, mereka tahu apa yang di lakukan tuannya di dalam. Karena mereka juga mendengar suara dari dalam ruangan itu. Yah, walaupun tidak terlalu keras.
Tom memainkan ponselnya, sesekali dalam hati mengumpat bosnya yang mulai gila itu. "Tidak biasakan kalian bermain di rumah? Ini tempat umum. Dan juga kecilkan suara kalian, membuat telinga para jomblo ini menderita."
.
.
Di tempat lain, Mega sangat kesal lantaran anak buahnya belum ada yang kembali.
"Mengurus satu wanita saja tidak becus," kesal nya dengan napas tidak beratur.
Mega menghubungi anak buahnya, namun panggilannya tidak di jawab sama sekali. Dan itu lagi-lagi membuat nya kesal.
"Breng-sek! Kemana mereka? Kenapa tidak mengangkat panggilan ku?"
Mega saat ini berada di dalam kamar hotel. Ia berada di sana atas perintah pria yang yang membawanya, dan saat ini dirinya di minta menunggu pria itu, karena pria itu sedang ada sesuatu yang harus di kerjakan.
Di markas Geng Reaper. Anak buah Mega di tawan oleh anak buah Nicko. Masing-masing dari mereka di ikat oleh rantai untuk mempermudahkan tuannya nanti menyiksa mereka.
Tubuh mereka bertujuh sudah lemas, karena anak buah Nicko yang juga menghajar nya hingga sama sekali tidak memiliki tenaga. Mereka tidak bisa melawan karena kekuatan yang menahan nya cukup mengerikan. Mereka juga tidak bisa mengabari bos mereka, yang pastinya sedang menunggu kedatangan dan laporan dari mereka.
.
.
Di kamar rawat Zanna. Zanna terus saja mengumpat karena Nicko tak henti-hentinya membuat nya lelah. Tubuh nya di bolak-balik layaknya gorengan oleh suami nya itu.
Walaupun hati nya mengumpat, namun bibirnya selalu saja mende-sah dengan gerakan tubuh yang mengguncangnya.
"Cukup! Aku lelah."
"Ini baru dua kali Baby, tidak mungkin kamu lelah. Bertarung saja tadi kamu tidak lelah, sekarang melayani suami tampan mu ini kamu berkata lelah. Sungguh ini tidak adil," jawabnya masih dengan pinggul yang bergerak.
Nicko memeluknya dari belakang, menggigit telinga itu dengan gemas, karena sedari tadi istrinya itu selalu berkata lelah, lelah dan lelah.
"Enak saja minta sudah. Tadi aja menendang dan meninju tidak lelah sama sekali. Dan sekarang ku berikan kenikmatan, bilang lelah terus menerus. Tidak akan ku biarkan kau menolak ku yang baik hati ini memberikan kenikmatan untuk mu. Aku akan membuat mu puas dengan tenaga turbo ku ini," batinnya dan terus mengguncang tubuh Zanna dan tidak membiarkan bibir Zanna diam, mende-sah dan mende-sah.
Di luar, Tom dan dua anak buahnya hanya diam, menunggu bosnya selesai dengan urusannya. Namun cukup lama mereka menunggu, bos mereka tidak kunjung keluar juga. Dan malah membuat telinganya semakin panas, mendengar suara de-sahan nona muda nya yang semakin lama semakin nyaring saja".
"Sialan bos ini!" umpatnya dan melihat dua anak buah nya yang berdiri dengan tenang. "Kalian pergi lah, biar aku yang menunggu bos disini sampai dia selesai," perintahnya dan diangguki keduanya.
Mereka pun langsung pergi, meninggalkan Tom sendirian disana, yang tentunya pasti membuatnya semakin kesal.
.
.
.
Bersambung