ZANNA

ZANNA
ZANNA Bagian 58, Kejahilan Nicko



Setelah Nicko selesai dengan urusannya, Chris pun di minta untuk membawanya kembali. Sebelum itu Chris diminta untuk memberitahukan kepada anak buahnya untuk pergi meninggalkan tempat itu.


Di dalam mobil, Zanna cemberut karena Nicko selalu memaksanya. Zanna benar-benar kesal karena suaminya itu tidak tahu tempat untuk bermain. Setiap kali dia menginginkan, maka harus di turuti. Jika tidak, Zanna akan lebih mendapatkan gempuran tanpa henti.


Nicko menoleh, mengangkat dagu istrinya. Menatap wanitanya yang sedang cemberut.


Cup,


Dengan nakalnya Nicko malah membuat Zanna semakin kesal. "Apa-apaan pria ini? Beraninya mencium ku lagi. Apa dia belum puas mencium seluruh tubuh ku tadi," kesal Zanna dalam hati sambil menatap Nicko dengan tajam.


Melihat Zanna semakin kesal, Nicko malah mencium seluruh wajah Zanna. Menjahili istri nakalnya itu.


"Tidak bisakah kau berhenti!" kesal Zanna mendorong wajah itu menjauh darinya.


"Tidak bisa Baby," jawab Nicko dengan senyum manisnya.


Zanna yang melihat membuang muka, malas melihat wajah tampan tapi menyebalkan itu. Nicko menggeser tubuhnya, semakin dekat dengan istrinya. Tangan nakalnya mulai bergerak ke tubuh Zanna. Zanna yang melihat langsung memberikan tatapan mematikannya. "Mau apa tangan mu?"


"Tentu saja menyentuh mu Baby. Sayang jika tidak di sentuh lagi," jawab Nicko membuat Chris yang ada di depan tersedak ludahnya.


Uhuk...Uhuk...


Nicko langsung menatap Chris, pikirnya berani sekali Chris mengeluarkan suaranya. Mengganggu konsentrasinya menjahili istrinya.


Chris yang melihat tuannya dari kaca menatap nya tajam, langsung meminta maaf karena lancang mengeluarkan suaranya.


Nicko kembali menatap istrinya yang sedang menatap nya dengan pandangan membunuh, ia nyengir, menampilkan gigi putihnya. Ia sama sekali tidak takut dengan kemarahan istrinya, malah ia semakin senang jika istrinya sedang marah. Menurutnya istrinya itu sangat menggemaskan jika sedang marah.


"Kamu semakin cantik jika marah seperti ini," puji Nicko langsung mendapatkan jitakan di kepala.


Sedangkan Chris yang mendengar tertawa dalam hati mendengar ucapan tuannya. "Semoga dunia tidak akan runtuh mendengar ucapan aneh tuan."


Nicko mengusap kepalanya karena mendapatkan jitakan istrinya, "Sakit sayang!" rengeknya manja, namun tidak di perdulikan.


Kesal karena Zanna mengabaikannya, tangan Nicko dengan nakal masuk kedalam Jas miliknya yang di pakai Zanna. Zanna yang merasakan sesuatu mengelusnya, melihat ke bawah, matanya melotot, dan dengan cepat memukul tangan Nicko yang jahil.


"Jika tangan mu masih tidak diam, aku tidak akan memberikannya lagi pada mu. Tidak ada jatah setiap malam," ancam Zanna langsung membuat Nicko diam. Tidak ada jatah, pikirnya.


Tiba-tiba kata itu berputar di kepalanya.


"Tidak ada jatah"


"Tidak ada jatah"


"Tidak!" teriak Nicko menggelang. "Baby, mana bisa seperti itu. Kau mau membunuh ku?" tatap Nicko dengan wajah melasnya.


Zanna bersedekap dada, kekeh dengan pendiriannya. Mengabaikan Nicko yang memelas.


"Baby...!"


"Tidak ada jatah." jawab Zanna lagi


'Baby...!"


"Masih berbicara selamanya tidak ada jatah." ancamnya lagi dan langsung membaut Nicko menelan ludah, lemas mendengar itu. Walaupun ia suka memaksa, tapi jika Zanna tidak bisa bekerjasama rasanya semuanya hambar, tidak ada bumbu. Terasa biasa dan tidak luar biasa.


Dengan lemas, Nicko menyandarkan tubuhnya, diam dengan wajah lesunya. Chris yang melihat terkikik kecil. Nicko yang melihat langsung menendang kursi itu, kesal karena di tertawakan bawahannya.


.


.


.


Sesampainya di rumah, Nicko langsung membawa Zanna masuk kekamar mereka. beruntung saat mereka sampai semua penghuni rumah tidak ada di rumah, sehingga mereka tidak melihat Nicko yang sedang menggendong Zanna. Pikirnya mereka mungkin menemani Dena dan Yuna di rumah sakit.


Nicko yang membopong tubuh itu langsung membawanya ke kamar mandi, meletakkan Zanna di bathtub. Dan setelah itu mengisi airnya untuk mandi bersama.


Setelah acara mandi bersama selesai, Zanna dan Nicko langsung mengistirahatkan tubuhnya yang lelah di atas kasur kesayangannya.


.


.


Di tempat lain, di rumah sakit dimana Mega berada. Wanita itu begitu marah saat mendapatkan kabar bahwa markasnya di hancurkan oleh kelompok Felix dan seorang wanita.


"Kurang ajar! Siapa wanita itu?" marahnya dengan napas memburu.


"Tenang lah sayang, jaga emosi mu. Kamu masih sakit," pinta Frans dengan lembut.


"Kau bilang tenang? Tidak! Aku tidak bisa. Wanita itu harus ku bunuh dan ku hancurkan."


"Pulihkan tubuh mu terlebih dahulu. Setelah itu lakukan apa yang kamu mau," Frans mengelus kepala itu dengan lembut. Entah kenapa dia begitu mencintai wanita yang suka gonta-ganti pasangan itu. Padahal sudah jelas Mega bukanlah gadis yang baik. Jika dirinya tidak bersama dengannya, Mega selalu menghabiskan waktunya bersama pria lain di ranjang. Dan walaupun itu di ketahui olehnya, Frans tetap mencintai dengan sepenuh hati. Huh, dasar laki-laki bodoh, pikir Autor.


"Bantu aku mencari tahu siapa wanita itu," pinta Mega menatap Frans dengan lembut.


"Aku sudah tahu siapa wanita itu. Wanita itu adalah wanita yang telah menghajar mu," jawab Frans.


"Apa!!!" teriak Mega rerkejut, karena wanita yang menghancurkan markasnya adalah wanita yang sama. Wanita yang ingin dia bunuh karena berani membuat wajahnya babak belur.


Mega mengepalkan tangan, dan menatap Frans. "Bantu aku membunuh wanita itu."


"Kamu tenang saja, aku akan membunuhnya." jawab Frans dan mencium bibir Mega dengan lembut, dan menuntut. Setelah itu terjadilah perang ranjang di rumah sakit itu.


..


..


Pagi hari, Nicko lebih dulu bangun. Di lihatnya istrinya masih tidur pulas. Ia menarik tubuh itu dalam dekapannya. "Sampai aku membantu mu pun, aku belum tahu siapa dirimu," gumam Nicko mencium kening itu dengan singkat.


Zanna yang meraskan ciuman itu, perlahan membuka mata. Di lihatnya dada bidang suami nya. Dengan diam, ia mendengar gumaman suami nya lagi.


"Jika aku bertanya langsung tentang siapa dirimu, apakah kamu akan marah Baby?"


Zanna masih diam. Dalam hati, apakah suaminya benar-benar ingin mengetahui siapa dirinya? Tapi jika dia mengatakannya, apakah Nicko akan mencintainya seperti saat ini? Jika tidak! Bukankah itu akan menyakiti hatinya? Apalagi di saat dirinya pas lagi sayang-sayange. Hah, sungguh membuatnya gundah.


.


.


Bersambung