
Sonia yang benar-benar marah kepada Dena, sudah kesetanan. Ia tidak memperdulikan jeritan Dena yang kesakitan.
"Ma-afin De-na Ma," rintih Dena yang merasakan sakit di tubuh nya.
"Aku muak mendengar kata maaf mu tiap hari. Kau itu tidak berguna, dan selalu menyusahkan dan merugikan ku," teriak Sonia marah.
Sonia seperti ingin membunuh Dena yang selalu membuat nya marah. Bagaimana tidak, apapun yang di lakukan dan di kerjakan Dena selalu saja salah dan berakhir kerugian. Sebelum nya Dena membuat pakaian Sonia terbakar saat menggosok. Merusak pakaian Rebecca yang akan di gunakan saat acara ulah tahun rekan nya. Dan sekarang merusak ponsel mahal Sonia. Entah besok apalagi yang akan di rusak oleh Dena yang ceroboh.
Rebecca yang melihat hanya melipat tangan nya sambil duduk di sofa, mengabaikan Dena yang di hajar oleh Sonia. "Rasain, memang enak kena amuk lagi," batinnya senang melihat Dena yang di siksa.
Merasa lelah memukul Dena, Sonia membuang sapu itu ke lantai. Dan menatap Dena penuh kebencian. "Ingat gadis sialan, jangan pernah kau mengadukan ini kepada kakak mu. Jika sampai itu terjadi, aku akan membunuh mu dan membuat kakak mu menderita," ucap nya memberikan ancaman.
Mendengar itu Dena berusaha mengangkat kepala nya, menatap Sonia, "Jangan ma, jangan sakiti kakak. Aku tidak akan pernah mengadu kepada kakak. Dena janji," ucap nya dengan suara lirih.
"Bagus, janji mu aku pegang. Tapi jika sampai sedikit saja kau mengatakan bahwa kami tidak baik kepada mu, bersiap lah angkat kaki dari rumah ini."
"Dena tidak akan mengatakan kepada kakak. Jika Dena mengingkari, silahkan bunuh Dena," jawab Dena yang sidah pasrah.
"Sekarang pergi kau dari hadapan ku. Urus luka mu sendiri," usirnya muak melihat wajah Dena.
Dengan mencoba bangun, ia sekuat tenaga pergi meninggalkan tempat itu untuk menjauh dari Sonia. Ia akan mengobati luka nya sendiri jika sampai di kamarnya. Dengan langkah tertatih dan terseok-seok, ia melangkah kan kaki nya dengan langkah kecil menuju kamar tidur nya.
Sonia yang melihat memasang wajah sinisnya. "Kenapa tidak mati saja. Menyebalkan!" ucap Sonia dan bergabung dengan putrinya, Rebecca.
.
.
Di lain tempat, Zanna kini sendiri di dalam kamar tanpa suaminya, menghubungi Felix.
"Apa ada yang bisa saya bantu bos?" tanya Felix di seberang telepon.
"Besok jangan lupa kita ke tempat kelompok Geng Ball Busters. Kita akan membuat mereka tunduk di bawah kelompok kita. Hubungi Glen untuk membawa pasukan bersenjatanya untuk menundukkan mereka semua," perintahnya.
"Baik Bos, akan saya sampaikan," jawab Felix
"Bagus. Oh ya, jangan sampai kau ketahuan Mega saat keluar dari markas, itu akan beresiko jika sampai dia tahu," ucap Zanna memperingati.
"Saya akan melakukan nya secara diam-diam agar dia tidak curiga dengan saya nona," jelas Felix.
"Em, tetap hati-hati."
"Baik Bos," jawab Felix dan memutus panggilan. Dan setelah nya ia akan menghubungi Glen untuk mempersiapkan semua, menjalan kan misi mereka esok hari. Dan Felix pun menghubungi dan menjelaskan rencana nya atas perintah Zanna, bos mereka.
Glen pun menyetujui dan mengumpulkan pasukannya, serta mempersiapkan persenjataan mereka untuk esok hari, menyerang Geng Ball Busters.
..
..
Malam hari, Zanna yang berada di kamar sedang rebahan sambil memainkan ponselnya, tiba-tiba satu panggilan masuk. Zanna yang melihat siapa yang menghubungi mengumpat kesal, "Apa-apaan dia! Kenapa menghubungi?" gumamnya menatap nama di layar ponselnya.
Nicko yang baru sampai, mengumpat kesal karena Zanna malah memutus panggilan nya, "Dasar gadis sialan! Berani nya dia mematikan panggilan ku. Awas kau ya," kesal nya dan kembali menghubungi Zanna.
Zanna yang melihat Nicko menghubungi kembali, mengeratkan cengkraman ponselnya, marah karena Nicko mengganggu waktu santainya. Karena kesal ia menggeser tombol hijau dan berbicara dengan keras, "MAU APA KAU MENGHUBUNGI KU NICKO SIALAN! APA KAU TIDAK TAHU KAU MENGGANGGU WAKTU SANTAI KU? BADJINGAN!" marah Zanna tidak peduli jika ucapannya begitu kasar. Lagian dia juga seorang bos Mafia, ucapan seperti itu bukanlah apa-apa menurutnya. Bahkan membunuh pun tidak masalah baginya.
Nicko yang mendengar suara keras Zanna menjauhkan ponselnya dari telinganya, "Kasar sekali," batinnya menatap ponselnya.
"Dasar kurang ajar! Beraninya berteriak pada ku. Apa kau ingin aku tuli karena suara jelek mu itu?" kesal Nicko
Zanna yang mendengar tidak peduli. Ia kembali berteriak, "BODO AMAT! MAU KAU TULI ATAU TELINGA MU PUTUS SEKALIAN, AKU TIDAK PEDULI. JANGAN GANGGU WAKTU SANTAI KU," Zanna memutus panggilan dengan sepihak.
Nicko yang melihat panggilan nya di matikan, menatap ponsel nya, "Kurang ajar, dia semakin berani dengan ku. Lihat lah setelah aku sembuh aku tidak akan melepaskan mu," gumamnya dengan rahang mengeras melihat Zanna yang begitu berani pada nya, pikirnya Zanna tidak melunak sedikit pun terhadapnya. Dan malah semakin berani jika ia mengganggu dirinya. Atau mungkin kemarahan nya hari ini karena ulah nya yang berani mencium nya dan meraba tubuhnya.
"Saat mengingat itu, aku ingin sekali menghabisinya. Tapi, ah____Dasar kaki sialan, kau membuat ku tidak berguna," kesalnya saat mengingat kakinya yang lumpuh dan tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Zanna.
"Aku harus segera sembuh dan membuat perhitungan dengan nya," gumamnya tersenyum smirk dengan rencana yang akan ia lakukan.
.
.
Keesokan harinya Zanna bersiap akan melakukan rencana nya menuju geng Ball Busters untuk menundukkan mereka agar menjadi pengikutnya. Ia meminta Felix dan Glen berserta yang lainnya menunggu kedatangan nya.
Zanna keluar dari kamar, menuju lift untuk kelantai bawah. Saat keluar dari rumah, ia melihat Natalie sedang menyiram tanaman bunga di depan rumah.
Natalie yang melihat bertanya, "Mau kemana sayang?"
Zanna menghampiri Natalie, "Nana mau ke rumah ma, menjenguk keluarga ku. Sudah lama Nana tidak pulang, rindu dengan mereka," jawab Zanna berbohong.
Natalie yang yang mendengar tersenyum. Ia mengelus lengan Zanna dengan sayang, "Pergilah. Mereka pasti juga merindukan mu. Apalagi adik mu," ucap Natalie.
"Mama mengizinkan ku?"
"Tentu saja, itukan juga rumah mu. Mama tidak bisa melarang mu, dan mengekang mu untuk tetap disini. Mama malah senang jika kamu juga sering menjenguk mereka."
Zanna tersenyum kecil, mertuanya ini sungguh sangat baik dan pengertian. Zanna memeluk Natalie, "Terimakasih ma sudah mengizinkan ku. Mungkin aku akan menginap disana," jelas nya.
"Ya, tidak apa-apa. Nikmati waktu mu disana. Oh ya, kamu sudah meminta izin dengan Nicko kan?" tanya Natalie.
Zanna tersenyum dan mengangguk. Natalie yang melihat tersenyum. "Baiklah, pergilah. Sampaikan salam ku kepada keluarga mu ya," ucap Natalie.
"Baik ma. Aku pergi dulu ya. Jaga diri Mama di rumah," ucap Zanna dan pergi meninggalkan Natalie yang masih menatap punggung nya hingga menghilang dari pandangannya.
.
.
.
Bersambung