ZANNA

ZANNA
ZANNA Bagian 40, Siapa Nana?



Setelah berbicara dengan Felix, keduanya pun pergi dari tempat itu. Sedangkan Nicko masih setia membuntuti istrinya yang naik taksi, entah mau kemana.


Melihat taksi Zanna berhenti di sebuah Apotik, Nicko mengerutkan kening. "Mau apa di disini?" batin Nicko bertanya tanya.


Zanna yang sudah membeli sesuatu yang dibutuhkannya, kini masuk lagi dalam taksi dan pergi dari tempat itu. Sedangkan Nicko yang masih penasaran dengan apa yang di beli Zanna, ia turun dan bertanya kepada petugas apotik.


"Boleh saya tahu, apa yang di beli wanita tadi?" tanya Nicko.


"Oh nona tadi! Nona tadi membeli pil kontrasepsi tuan," jelas wanita


"Pil apa itu?" tanya Nicko yang tidak tahu.


"Pil pencegah kehamilan tuan," jelas Wanita itu.


"Pil pencegah kehamilan?" gumam Nicko mengerti. "Oh baiklah, terimakasih pemberitahuan nya. Kalau begitu saya pergi dulu," pamit Nicko dan kembali masuk kedalam mobil.


Dia diam, tidak menyalakan mobil, berpikir tentang obat yang di beli Zanna. "Apakah dia tidak ingin mengandung anak ku?" gumamnya dan setelah itu pergi dari tempat itu.


Nicko akan berpikir positif. Mungkin saja istrinya memang belum ingin memiliki anak untuk saat ini. Ia akan bertanya jika nanti saat di rumah, agar semuanya jelas.


Sedangkan Zanna kini sudah sampai di rumah, ia masuk kedalam kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya yang masih lelah. Sebelum itu ia meminum obat yang di belinya tadi untuk mencegah dirinya hamil.


Bukan Zanna tidak mau hamil. Namun untuk saat ini urusan nya belum terselesaikan, membalas dendam dengan Mega dan Rubben. Dan dengan musuh barunya yang belum jelas itu.


Zanna merebahkan tubuhnya di ranjang, dan setelah itu tidur. Sedangkan Nicko menghubungi Boy untuk mengantarkannya kerumah sakit milik keluarga William. Ia akan bertanya kepada bibinya yang mengurus rumah sakit itu, Bibi Leani, seorang dokter wanita yang mengoperasi wajah Zanna menggunakan wajah Nana Mirdad.


Setelah Boy datang, kini mereka berdua pergi kerumah sakit untuk bertanya tentang Zanna.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah sakit. Boy membantu tuannya duduk di kursi roda dan setelah itu mendorongnya menuju ruangan bibinya.


Sebelum sampai tadi, Nicko sudah menghubungi Leani bahwa dirinya akan datang bertemu dengan nya. Sedangkan Leani kini menunggu kedatangan keponakannya yang pastinya ada hal penting yang ingin di bicarakan.


Setelah sampai di depan pintu ruangan Leani, Boy membukakan pintu dan masuk kedalam ruangan Leani.


Leani yang melihat ponakannya datang langsung menghampiri, dan memeluknya. "Lama tidak bertemu dengan mu Nic. Bagaimana kabar mu?" tanya Leani di balas pelukan Nicko.


"Aku baik-baik saja," jawab Nicko, dan Leani tersenyum. Entah kenapa, ia merasa ada perubahan di diri keponakan nya itu. Tapi entahlah, Leani tidak tahu.


Leani duduk di sofa, sedangkan Nicko masih tetap di kursi roda.


"Apakah ada hal yang ingin kau sampaikan?" tanya Leani memulai pembicaraan.


"Em..." jawabnya mengangguk.


"Tentang?" tanya Leani penasaran sambil menaikkan satu alisnya.


"Nana," jawabnya singkat.


"Nana? Memang ada apa dengan Nana?" tanya Leani pura pura tidak tahu arah pertanyaan itu.


Leani tahu jika Nicko akan bertanya tentang Nana, yang sebenarnya bukan Nana. Tapi jika di tanya siapa nama pemilik wajah itu, tentu saja Leani juga tidak tahu. Karena saat itu ia pun juga tidak mengenali siapa pemilik tubuh.


Nicko menghela napas, "Hah, aku yakin bibi pasti tahu maksud ku. Tidak perlu ku jelaskan buka?" ucap Nicko malas berbicara banyak.


Nicko mengerutkan kening, "Jadi Nana memang bukan Nana?" tanya Nicko balik bertanya.


"Bibi tanya pada mu, bukan malah balik tanya!" kesal Leani cemberut.


"Aku curiga karena sikapnya tidak seperti Nana sebelum nya."


"Maksudnya?" tanya Leani juga penasaran,


"Aku sudah menyelidiki siapa Nana sebelum menikah dengannya, dan semua informasi itu tidak ada satupun yang ada di dirinya. Nana yang katanya pendiam, tidak banyak omong, penakut dan culun. Tapi yang ku lihat, tidak ada sedikit pun semua itu di diri Nana sekarang. Dia seolah menjadi orang lain. Bahkan bisa di bilang, dia begitu berani," jelas Nicko panjang


"Begitu ya," Leani mengangguk-anggukkan kepala nya, mengerti. "Sebenarnya bibi juga tidak tahu siapa Nana yang sekarang ini," jelas Leani sambil berpikir.


"Maksudnya?" Nicko mengerutkan kening, bingung dengan maksud yang di katakan Leani.


"Waktu itu_______," Leani menceritakan semuanya kepada Nicko. Nicko mendengarkan nya dengan seksama, bahkan seringkali ia mengerutkan kening mendengar cerita itu.


Cukup lama Leani bercerita, Leani pun berkata, "Seperti itu lah kejadian nya. Aku tahu jika kamu memiliki kontrak nikah dengan keluarga Mirdad, jadi aku meminta papa mu untuk sebisa mungkin mengambil Nana sebagai pendamping mu. Yah, walaupun sebenarnya Rebecca lah calon mu. Tapi entah kenapa aku lebih suka dengan Nana sebagai calon mu, mendampingi mu agar merubah diri mu yang saat itu terpuruk dalam cinta Aurel."


Nicko diam, membenarkan semua itu, bahwa sekarang dia bisa melupakan Aurel. Bahkan sekarang ia semakin gila karena mencintai istrinya itu.


"Lalu siapa sebenarnya dia?" tanya Nicko.


"Bibi tidak tahu. Kau cari tahu saja sendiri. Gunakan anak buah mu untuk mencari tahu siapa istri mu itu sebenarnya. Bukankah itu mudah untuk mu mencari tahu identitasnya."


"Ya, aku akan menyelidikinya." jawab Nicko. "Boy hubungi Arzan untuk menghadap ku, aku yakin selama dia membuntuti Istri ku, dia sedikit tahu siapa wanita ku itu," perintahnya dan di angguki Boy.


Setelah berbicara dengan Leani, dan mencari tahu siapa istrinya sebenarnya, Nicko pun pergi dari rumah sakit, kembali ke rumah untuk menunggu Arzan menjelaskan semuanya.


.


.


Sesampainya di rumah, Boy pun kembali ke markas Geng Reaper. Sedangkan Nicko pergi menuju kamarnya untuk melihat istrinya, karena ia tahu Zanna pasti ada di kamarnya.


Perlahan Nicko membuka pintu dan masuk ke kamar. Matanya menangkap seorang wanita yang sedang tidur diatas ranjang dengan begitu nyenyaknya. Ia menutup pintu dan menguncinya, perlahan ia berjalan menghampiri Zanna dan duduk di sisi ranjang.


Tangan nya terulur mengusap kepala itu dengan lembut, "Siapa sebenarnya diri mu ini?" gumamnya lirih dan mengecup kening itu dengan sayang.


Zanna yang merasa sentuhan bibir itu perlahan membuka mata. Di lihatnya wajah suami ada di depan nya, menatap nya dengan senyuman.


"Senyum mu sangat jelek," ucap Zanna dengan wajah datar.


Nicko yang mendengar mengusap kepala itu dengan gemas. Sungguh mulut istri nya itu begitu beracun.


.


.


Bersambung.