ZANNA

ZANNA
ZANNA Bagian 48, Menyiksa



Cukup lama Tom menunggu, kini akhirnya ia bisa menghadap bosnya.


"Sudah berapa lama kau berdiri di luar?" tanya Nicko menye-sap rokoknya.


"Em, dari anda memulai nya," jawab Tom jujur.


"Sialan! Kau mendengar semuanya?" Nicko melempar seputung rokok di wajah Tom.


"Tidak sengaja tuan muda," jawab Tom.


"Tidak sengaja, tapi sampai selesai," jawab Nicko kesal karena Tom telah mendengar suara indah istrinya.


Nicko menoleh ke arah ranjang, apakah istrinya bangun atau tidak. Tapi ternyata istri tidak lah bangun. Tom yang juga ikut melihat arah pandang Nicko langsung mendapatkan tendangan di kakinya.


"Apa yang kau lihat? Istri ku sedang tidur bertelanjang."


"Tidak melihat apapun tuan Lagian yang terlihat hanya rambutnya saja," jawab Tom langsung mendapatkan pelototan tuan mudanya itu.


Tom melihat langsung menunduk dan meminta maaf karena lancang melihat kepala Zanna.


"Hanya terlihat rambutnya saja, matanya sudah mau keluar. Bagaimana jika aku berhasil melihat tubuh telanjang nya, mungkin mata itu keluar dan mengejar ku. Duh amit, amit," batin Tom dengan tubuh bergidik


Nicko yang melihat mengerutkan. "Apa yang kau pikirkan? Jangan sampai kau berpikir tentang istri ku. Ku bunuh kau!"


"Saya tidak berani tuan," jawab Tom.


"Bagus. Sekarang katakan apa yang mau kau katakan," perintahnya menyandarkan tubuh dan menyesap rokok nya.


Semua orang yang kita bawa tadi, beberapa telah mati tuan. Dan kini tinggal seorang yang belum mati. Anda mau mengintrogasi nya sendiri atau biarkan kami mengintrogasi nya?" tanya Tom menatap tuannya.


"Kalian menyiksanya?"


"Benar tuan. Anak buah kita tidak bisa menahan untuk membuat mereka mati. Maafkan mereka karena lancang tanpa perintah anda."


"Tidak masalah, hanya semut kecil. Biarkan mereka mendapat hiburan. Dan untuk seorang itu aku sendiri yang akan menanganinya.


"Baik tuan."


"Oh ya, apa kau tahu siapa bos dari dua orang yang kau tangkap sebelumnya?"


"Sudah tuan, mereka dari kelompok Geng Hunter dari Itali. Dan ketua kelompok mereka adalah Leon," jelas Tom


"Leon? Hm... baik lah. Awasi jika orang-orang itu bergerak di negara ini. Oh ya, minta anak buah kita yang wanita untuk datang kesini menemani istri ku. Kita akan pergi ke markas," perintahnya.


"Baik tuan," jawab Tom dan langsung menghubungi anak buah wanita nya untuk segera datang.


Beberapa menit kemudian wanita datang dan kini ada bersama dengan mereka berdua.


"Kau tunggu nona mu. Jangan ganggu dia untuk saat ini, biarkan dia istirahat," perintahnya pada wanita bernama Yuna.


"Baik tuan," jawab Yuna mengangguk mengerti.


Nicko mendekati istrinya, mengelus kepala itu dengan lembut dan mencium kening itu dengan hati-hati, takut Zanna akan terbangun.


"Aku pergi dulu Baby. Istirahatlah, ada Yuna yang menjaga mu."


Setelah mengatakan itu, Nicko dan Tom langsung pergi meninggalkan Zanna dan Yuna. Dsn kini mereka berdua pergi menuju markasnya untuk memberikan perhitungan kepada seorang anak buah Mega.


Beberapa menit perjalanan, Tom dan Nicko kini telah sampai di markas.


"Selamat datang Tuan," ucap setiap anak buahnya yang di lewati nya. Nicko hanya diam, dengan wajah dinginnya.


Sesampainya di tempat seorang yang tawan itu, Nicko langsung menghampiri pria yang yang di ikat dengan rantai itu. Pria itu mendongak melihat seseorang yang mendekatinya.


"Siapa pria ini?" batinnya berpikir nampak asing dengan wajah Nicko.


"Siapa kau?" tanya pria yang menembak Zanna.


"Tidak pantas kau tahu siapa aku," jawabnya menatap dingin, "Katakan kenapa kau ingin membunuh wanita ku? Dan siapa yang menyuruh mu? Aku tidak suka basa basi. Jika kau tidak mengatakannya, aku akan menyiksa mu dan membunuh mu."


Pria itu diam, jika pun ia mengatakan pasti dirinya juga akan mati. Ia tahu pria di depannya pastilah bos dari mereka yang berdiri di belakang pria yang memiliki aura mendominasi ini.


"Aku tidak akan mengatakan nya."


"Baiklah. Karena ini keputusan mu bersiaplah menghadapi malaikat maut ini," ucap Nicko memberi kode lewat tangannya untuk mengambilkan peralatan siksaan kepada anak buahnya.


Anak buahnya mengambilkan senjata itu, berbagai senjata yang begitu mengerikan. Dan memberikan nya kepada tuan mereka.


"Ini tuan," serahnya meletakkan di samping Nicko.


Pria yang ada di depan Nicko menelan ludah saat melihat berbagai macam senjata tajam di dalam kotak tepat di depannya. Nicko mengambil salah satunya yang berupa pisau kecil yang sangat runcing dan tajam. Pisau itu mempu mengoyak kulit hingga terlepas dari tubuh.


"Apa kau masih tidak mau mengatakan siapa tuan mu," Pisau kecil itu menempel di pipi, bergerak seiring gerakan tangan Nicko.


"Tidak!" jawab pria itu pasti, dan langsung membuat tangan yang memegang senjata itu memotong telinga pria itu hingga putus.


Argh...!


Pria itu berteriak saat merasakan rasa sakit di telinga nya. Darah menetes di bagian itu, namun dirinya tidak bisa meraba hanya bisa merasa. Rasa sakit itu sungguh luar biasa. Matanya menatap Nicko dengan bibir yang meringis menahan sakit.


"Katakan," perintahnya lagi ingin mengetahui siapa gerangan yang ingin mencelakai wanita tercinta nya.


"Aku tidak akan mengatakannya lagi," jawab pria itu, dan di susul dengan jeritan keras dari mulutnya.


Argh...!!!


Rasa sakit kembali di rasakan saat Nicko menancapkan pisau runcing itu di bahu hingga tembus di tulangnya.


Napasnya terengah-engah menahan sakit. Namun Nicko tidak berhenti. Setiap kali dia bertanya dan pria itu tidak menjawab pertanyaan, bagian tubuh lainnya akan mendapatkan siksaan dan selalu berakhir membuatnya menjerit keras.


Darah mengalir di bagian-bagian tubuh di mana Nicko menancapkan pisau itu. Wajah pria itu nampak pucat, tubuhnya lemas. Dia tidak kuat mengangkat kepalanya hanya untuk membalas tatapan dari Nicko. Seolah nyawanya sudah berada di tenggorakan yang sedikit saja bisa menghilang dari tubuh nya jika dia menjerit lagi.


"Sekarang katakan," perintahnya dengan mengangkat dagu itu dengan tangannya yang berlumuran darah dari pria itu.


Dengan mata sayu, pria itu mencoba menatap Nicko. Bibir nya bergerak, suara lirih keluar dari bibirnya. Namun tidak begitu jelas. 'Me-ga' Satu kata yang membuat Nicko teringat dengan nama musuh Zanna.


Nicko melepas pria itu, berdiri dan menyerahkan pisau itu kepada anak buahnya. Tom mengambilkan sapu tangan untuk membersihkan noda darah di tangan tuannya.


"Ini tuan."


Nicko mengambil dan membersihkan tangannya, "Biarkan dia mati kehabisan darah. Setelah dia mati, bakar mayat nya," perintahnya dan di angguki Tom.


"Baik tuan."


"Selidiki siapa yang bertemu dengan istri ku hari ini. Dan juga cari tahu siapa itu Mega?"


"Baik tuan," jawab Tom mengangguk, menuruti perintah tuannya.


.


.


.


.


.


Bersambung