ZANNA

ZANNA
ZANNA Bagian 41, Akting



Nicko saat ini sedang berada di ruang kerja nya bersama dengan Arzan. meminta penjelasan yang mungkin belum ia ketahui tentang Istrinya.


"Katakan," perintahnya dengan satu kata yang sudah menjelaskan bahwa Arzan harus mengatakan semuanya.


Arzan mengangguk. "Saat saya mengintai nona muda waktu itu, mereka sering kali memanggil nona dengan panggilan bos. Dan dari yang saya lihat, nona muda memanglah ketua dari kelompok itu. Sebuah kelompok Mafia, kalau tidak salah dengar ada yang menyebut nama nya Mafia ZANNALOA. Namun pada saat saya mengintai, kelompok nona masih kecil dan saat itu mereka sedang ingin mengumpulkan banyak anggota untuk balas dendam. Tapi saya tidak tahu mereka akan membalas dendam dengan siapa, karena mereka tidak menyebutkannya."


Nicko mengangguk-angguk kan kepalanya. Untuk orang yang itu Nicko tahu bahwa itu Mega dan Rubben. Namun masalah disini dia tidak tahu siapa mereka berdua, dan dari mana asalnya.


"Apa kau tahu tempat markas istri ku?" tanya Nicko dan di angguki Arzan.


"Saya tahu bos."


"Bagus. Oh ya, aku minta kau menyelidiki sekelompok orang yang sedang mencari keberadaan istri ku," perintah Nicko mengingat pembicaraan Zanna dengan Felix, bahwa ada sekelompok orang yang mencari keberadaan Zanna.


"Sekelompok orang? Siapa bos?" tanya Arzan tidak tahu.


"Mana aku tahu. Makanya aku memerintah mu untuk mencari siapa orang itu. Jika aku tahu, tidak mungkin aku menyuruh mu bodoh!" kesal Nicko pada anak buahnya yang satu ini.


"Hehehe.....iya ya. Baiklah bos, akan saya laksanakan," ucap Arzan sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. Sungguh bodoh mulut nya, pikir Arzan.


"Jika bisa secepatnya kau harus mengetahui siapa mereka. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan istri ku."


"Baik."


Pembicaraan keduanya pun selesai. Nicko kembali ke kamarnya. Di lihatnya istrinya sedang memainkan ponsel nya. "Apakah dia sedang balas pesan dengan pria bernama Nano-nano itu?" kesal nya dalam hati, alias cemburu.


Nicko berjalan menghampiri Zanna dan merampas ponsel itu dari tangan nya. Zanna yang melihat sikap kurang ajar suami langsung menatap tajam. "Kembalikan ponsel ku," pinta Zanna dengan nada kesal.


Nicko malah duduk di samping istrinya, menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang, dan membuka ponsel itu tanpa memperdulikan istrinya yang mendelik padanya.


"Apa yang kau lakukan?" bentak nya sambil mencoba merampas ponsel nya dari tangan Nicko.


"Diam lah," ucap nya dan menarik tubuh itu dalam dekapannya.


"Apaan sih, lepas tidak!"


"Tidak!" jawab Nicko santai membaca pesan Zanna yang ternyata memang sedang Chatting-an dengan Permen Nano-nano.


"Siapa ini?" tunjuk Nicko pada nomor Felix.


"Bukan urusan mu. Bawa sini ponsel ku."


"Jawab dulu pertanyaan ku. Apa hubungan mu dengan nya?"


Nicko yang ingin Zanna mengatakan jujur, namun ternyata tidak jujur, mencengkram dagu itu. "Kau tahu aku tidak suka ada kebohongan. Katakan dengan jujur, siapa dia?" tanya Nicko menatap Zanna, dengan pandangan seolah ingin menelannya.


"Jika aku jujur aku yakin kau akan menendang ku. Bahkan mungkin kau akan membunuh ku," batin Zanna balas menatap.


Zanna berpikir, jika dia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang ketua mafia, pastinya Nicko akan waspada terhadap nya. Takut Nicko akan membunuh nya, karena menurut nya dirinya berbahaya, yang bisa saja membunuh suami serta keluarga nya untuk kepentingan. Yang jelas Nicko tidak mungkin mau memelihara seorang mafia yang bisa saja membunuhnya kapan pun.


Nicko terus menatap, meminta Zanna untuk jujur siapa dirinya. "Cepat katakan, siapa kamu dan siapa dia," batinnya berharap.


"Dia hanya orang ku," jawab Zanna mengatakan jujur bahwa Felix adalah orang nya, bawahannya.


"Orang mu? Kau memiliki anak buah?" tanya Nicko ingin mengorek informasi.


Zanna mengerutkan kening, dengan pertanyaan itu. Ia tahu Nicko ingin mengetahui sesuatu. Tapi pikirnya, ini bukan saat yang tepat.


"Sejak kapan Nana Mirdad memiliki anak buah? Bukankah Nana Mirdad itu adalah seorang gadis cupu yang penakut? Tapi dari yang ku lihat, semuanya tidak ada pada diri mu. Bahkan kamu sangat berani, tidak penakut sama sekali. Dan lagi ternyata kau memiliki anak buah. Wow, sungguh mengejutkan bukan. Katakan kau Nana Mirdad atau bukan?" tanya Nicko membuat Zanna diam.


"Sialan! Kenapa dia mengatakan itu. Bukankah sebelumnya dia tidak pernah berbicara seperti ini? Bahkan dia nampak acuh dan tidak mau tahu tentang apa yang ku lakukan. Lalu sekarang, kenapa dia seolah ingin tahu? Jangan bilang dia mencurigai ku, kalau sebenarnya aku bukanlah Nana yang sesungguhnya," batin Zanna berperang dengan pikirannya.


"Hehehe.....kena kau. Kau pasti berpikir aku mencurigai mu kan? Cepat katakan bahwa kau bukanlah Nana Mirdad yang sesungguhnya," batin Nicko dengan senyum seringainya


"Hah," Zanna menghela napasnya, Nicko yang melihat berpikir Zanna akan mengatakan jika dirinya bukanlah Nana Mirdad. Namun pikiran nya salah, Zanna malah melakukan sesuatu yang tidak di sangka oleh Nicko.


"Sayang, kenapa kamu berbicara seperti itu? Aku merasa kamu tidak mempercayai ku, bahwa aku adalah Nana Mirdad sungguhan. Aku sungguh sedih sekali, hiks....hiks...." Zanna berakting sambil menunjukkan wajah sedihnya. "Jika kamu mencurigai ku, kenapa kamu meniduri ku. Hati ku sakit mendengar mu menuduh ku, bahwa aku bukanlah Nana. Lebih baik kita tidak usah bersama jika tidak ada rasa percaya di hati mu, hiks.....hiks.... Dan jangan harap kau meminta jatah lagi dari ku," ucap Zanna dengan kata terakhir penuh ancaman.


Nicko yang mendengar tentu saja terkejut, apalagi melihat Zanna yang tidak seperti biasanya, berakting seolah dirinya teraniaya, menangis. Uh sungguh membuat Nicko ingin sekali tertawa keras melihat wajah menyedihkan itu. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, menahan tawa yang ingin meledak. Namun saat mengingat ucapan terakhir penuh ancaman, bahwa dirinya tidak boleh menyentuhnya lagi langsung mengangkat dagu itu, menatapnya.


"Kau berkata, jangan berharap menyentuh mu begitu?" tanya Nicko dan di angguki Zanna.


"Enak saja. Walaupun aku ragu, kau tetap lah istri ku. tidak akan ku biarkan kau menolak ku," ucap Nicko mencium bibir Zanna dengan paksa.


Zanna yang mendapatkan serangan itu tentu saja kesal. Apalagi ia tahu pasti setelah ini, ia akan di gempur oleh pria sialan di depannya ini.


"Kenapa aku harus mengatakan itu. Sialan! Menggali kuburan sendiri," batinnya merutuki kebodohan nya karena mengatakan sesuatu yang tidak di senangi oleh Nicko yang sedang senang-senangnya menyentuh tubuh nya.


.


.


Bersambung.


Jangan lupa like dan komen nya.