
Beberapa pria yang menculik Dena, membawa Dena pergi dari sekolahan itu tanpa ada yang menghalangi. Baik itu siswa atau pun guru. Guru yang ada di sekolahan itu juga melaporkan kepada polisi. Namun saat polisi datang, para penculik itu sudah pergi meninggalkan tempat itu.
Hari itu Dena memang tidak di antar oleh Yuna seperti biasanya, karena Yuna sedang berada di markas, untuk membantu Chris menyelidiki seseorang.
Kepala sekolah yang tahu Dena di culik oleh seseorang langsung menghubungi Tuan Mattew, bahwa ada sekelompok penculik yang membawa Dena.
"Hallo dengan siapa?" Tanya Mattew yang sudah berada di kantor.
"Maaf mengganggu anda tuan William. Saya kepala sekolah di mana Dena bersekolah, tuan," jawab kepala sekolah dan membuat Mattew mengerutkan kening. Pikirnya, kenapa kepala sekolah Dena menghubunginya?
"Ada apa pak kepala? Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya Mattew penasaran.
"Saya ingin mengabarkan bahwa pagi ini ada kejadian di sekolah. Putri bapak, Dena baru saja di culik oleh sekelompok orang yang tidak kami kenal," jelas kepala sekolah dan langsung membuat Mattew terkejut.
"Apa!!! Bagaimana bisa?" Ucap Mattew dengan nada tinggi. Namun saat sadar dia menggunakan nada tinggi kepada kepala sekolah Dena, Mattew langsung meminta maaf karena tidak sopan. "Maafkan saya pak, saya sungguh terkejut."
"Tidak masalah pak. Saya tadi sudah melaporkan kepada polisi, dan polisi akan menyelidiki siapa pelakunya."
"Baiklah. Terimakasih pak, karena sudah mengabari saya."
"Sama-sama," jawab kepala sekolah dan panggilan pun berakhir.
Mattew yang mendengar kabar bahwa Dena di culik, gelisah. Ia langsung mencari nomor ponsel putra nya dan menghubungi. Entah kenapa ia yakin bahwa penculik itu ada kaitannya dengan musuh Nicko.
Tut…
Tut…
Tut…
"Hm..!!" Jawab Nicko cuek.
Mattew yang mendengar benar-benar sangat kesal. Ingin sekali ia menjadikan anak nya kecebong lagi dan di masukkan nya kedalam tubuhnya kembali.
"Tidak bisakah kau menjawab dengan benar?"
"Apa?" Jawab Nicko dengan satu kata. Mattew yang malas berdebat akhirnya mengalah, tidak akan menang jika berbicara dengan putra nya itu. Malah semakin ia kesal, semakin pula Nicko datar dan acuh.
"Dena di culik," jelas Mattew dan langsung membuat Nicko terkejut, seakan tidak percaya dengan apa yang katakan papanya itu.
"Kamu tidak bercanda?" Tanya Nicko memastikan.
"Buat apa papa bercanda dengan mu, terlalu malas," jawab Mattew. "Lebih baik kamu segera cari Dena. Jika tidak, papa tidak yakin dia masih hidup. Dan ku rasa pelakunya adalah musuh mu."
Nicko mengepalkan tangan. Mungkinkah pelakunya adalah Edgar? "Sialan!" Umpatnya kesal dan memutus panggilan. Mattew yang melihat panggilan di putus sepihak, mengumpat kesal anak laki-laki nya itu. "Dasar anak durhaka!"
Nicko yang mendapatkan kabar bahwa Dena di culik langsung menghubungi Tom, dan meminta anak buahnya mencari keberadaan Dena. Zanna yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menghampiri Nicko saat mendengar bahwa Dena di culik oleh sekelompok orang tak di kenal.
"Apa yang terjadi?" Tanya Zanna. Nicko yang mendengar langsung menatap istrinya dan memutus panggilannya terhadap Tom.
"Dena di culik. Tapi kamu tenang saja, aku sudah meminta anak buah ku untuk mencari keberadaan Dena berada," jelas Nicko membuat Zanna terkejut.
"Dena di culik? Bagaimana bisa dia di culik? Siapa pelakunya?" Tanya Zanna khawatir, ia tidak menyangka jika Dena akan mengalami hal itu. Ia sungguh takut akan terjadi sesuatu dengan adiknya itu.
"Belum tahu siapa pelakunya. Aku sudah memerintahkan Tom untuk mencari tahu. Jika mereka sudah mengetahui, kita akan langsung menyelamatkan Dena," jawab Nicko menenangkan Zanna, membawa Zanna untuk duduk di sofa.
.
.
Di tempat lain, dimana Dena di tahan. Saat ini tubuh gadis remaja itu sedang di ikat di sebuah kursi dengan mulut di bungkam dengan kain.
"Hmm…hmmm…." Dena mencoba lepas dari ikatan itu, menggoyangkan tubuhnya, berharap ikatan itu longgar.
"Lepaskan aku. Siapa kalian?" Tanya Dena dalam hati sambil melihat beberapa pria berdiri di dekatnya, menjaga dirinya.
Tak lama muncul seseorang dengan sepatu hak tinggi, berjalan ke arahnya. Dena yang melihat siapa itu matanya melotot, terkejut dengan apa yang di lihat, Rebecca.
"Hm…hm…" Dena berusaha berbicara, namun tidak bisa karena mulutnya di bungkam.
Rebecca yang melihat, Dena ingin berbicara mendekati gadis itu, mengangkat dagunya menghadapnya. "Kau pasti masih mengenal ku walaupun wajahku berubah, adik ku sayang."
"Hm…hm…"
Melihat Dena tidak menjawab, Rebecca terkekeh. "Ah, aku lupa bahwa mulut mu sedang di bungkam. Baiklah, akan kakak lepas," Rebecca melepas kain itu, dan Dena pun bisa bernapas dengan lega.
"Kak, apa-apaan ini? Kenapa kakak membawa ke tempat ini? Dan kenapa memperlakukan Dena seperti ini?" Tanya Dena tidak mengerti, kenapa Rebecca memperlakukannya seperti orang asing, padahal mereka adalah keluarga.
"Sst…." tutup nya di bibir Dena dengan jari telunjuk. "Kamu terlalu banyak tanya, adik ku sayang. Aku akan menjawab pertanyaan mu, tapi hanya satu saja," ucapnya berdiri bersedekap dada menatap Dena yang ada di depannya. "Alasan ku membawa mu kesini adalah, untuk membuat mu menderita, memberikan pelajaran terhadap kakak mu itu, Nana si jala-ng itu," kesalnya saat mengingat wajah Zanna yang sangat menyebalkan.
"Maksud kakak apa? Dena tidak mengerti?" Tanya Dena bingung
"Tentu saja kamu tidak akan mengerti. Dengan diri mu yang menjadi sandra, aku yakin kakak mu itu pasti akan khawatir. Ah, mungkin saja saat ini kakak mu sedang kelimpungan mencari diri mu yang hilang. Asal kau tahu Dena, aku melakukan ini semua karena kakak mu, kakak mu!" Teriaknya marah saat mengingat Zanna membuat mama nya meninggal.
Dena yang mendengar suara tinggi itu, kaget. Ia menatap Rebecca masih dengan pandangan bertanya-tanya.
"Kau tahu kenapa aku melakukan ini, semuanya berawal dari Nana sialan itu! Dia lah yang membuat ku membeci nya, dan ingin sekali aku membunuh nya," marahnya dengan napas memburu.
"Membunuh? Kenapa kakak mau membunuh Kak Nana? Apa salahnya?" Tanya Dena masih tidak mengerti. Rebecca yang memdenagr pertanyaan tentang kesalah Zanna apa, tangan Rebecca mencekik leher Dena dengan kuat, hingga membuat Dena terbatuk-batuk.
"Kau bilang apa salahnya hm…? Salahnya banyak," ucapnya masih mencekik leher Dena.
"Kak, le-pas-in De-na."
Rebecca yang menatap wajah Dena yang sedikit pucat karena tidak bisa bernapas, tersenyum menyeringai. "Kau ingin tahu alasan aku ingin membunuhnya? Akan aku jawab. Aku ingin membunuh nya karena dia berani membunuh Mama ku dan mencoba membunuh ku," marahnya semakin mencekik leher Dena, membuat Dena lebih pucat.
Dena menggelengkan kepala dengan pelan, tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Rebecca. Wajah Dena benar-benar pucat, karena cekikan itu. Rebecca yang melihat langsung melepaskan tangannya, tidak membiarkan Dena mati begitu cepat di tangannya.
.
.
.
Bersambung