ZANNA

ZANNA
ZANNA Bagian 68, Rebecca dan Leon Memulai Aksinya.



Zanna dan pria itu seakan memiliki pemikiran sama, bahwa mereka pernah mendengar suara masing-masing dari mereka. Nampak tidak asing, namun mereka lupa.


Setelah acara di kediaman Tuan Abimanyu selesai, pria itu pergi dari tempat itu. Ia menghubungi seseorang, untuk menemuinya malam ini.


Wanita yang di hubungi pria itu langsung senang, karena kekasihnya meminta untuk bertemu dengan nya. Dengan pakaian yang sexy dan dandanan yang cetar membahana, wanita itu pergi dari apartemennya menuju tempat dimana pria itu berada.


Wanita itu adalah Mega, kekasih pria itu. Entah mimpi apa semalam, ia akan bertemu dengan kekasihnya yang lama tidak bertemu setelah terakhir mereka bersama saat membuat Zanna pergi dari markasnya.


Mega mengendarai mobilnya, senyuman nya selalu terukir di bibir manisnya, membayangkan pertemuannya dengan pria nya itu. " Aku sudah tidak sabar bertemu dengan mu," gumam Mega dengan bahagia.


.


.


Pria yang menghubungi Mega, kini sampai di sebuah villa. Asisten pria itu meninggalkan tuannya, karena ia tahu tuannya hari ini pasti tidak ingin di ganggu, apalagi saat bersama dengan kekasihnya itu.


Cukup lama Mega berkendara di malam hari, kini Mega sampai di sebuah villa mewah, villa milik kekasihnya.


Mega turun dari mobil, berjalan masuk ke dalam Villa. Saat baru saja masuk, dirinya di sambut pelukan oleh pria itu, "Aku merindukan mu Baby," peluknya sambil mengendus leher Mega, menghirup aroma wangi kekasihnya.


"Kamu pikir hanya diri mu yang rindu? Aku juga sangat merindukan mu," jawab Mega melepas tangan yang melingkar di perutnya, berbalik tubuh menghadap pria nya.


Mega menyentuh pipi pria itu dengan kedua tangannya.


Cup,


Kecupan singkat Mega berikan di bibir pria itu. Pria itu yang merasakan kecupan singkat di bibirnya tidak terima. Ia menarik tengkuk Mega dan mencium bibir itu dengan rakus, saling melu-mat dan menye-sap menikmati rasa manis bibir mereka masing-masing.


Pria itu membopong tubuh Mega ke kamar untuk melepas rindu yang sudah cukup lama tidak ia rasakan. Dan malam itu, mereka berdua melepas rindu di atas ranjang yang berukuran king size itu. Menikmati kenikmatan surga dunia.


.


.


Sedangkan di rumah sakit, Nicko menemani istrinya yang sedang beristirahat. Saat hendak memejamkan mata, telinga Nicko mendengar suara pintu di ketuk.


"Masuk," perintahnya dan Tom pun masuk setelah mendapatkan izin.


Tom berjalan menghampiri tuannya, "Maaf mengganggu waktu anda tuan."


"Tidak masalah," Nicko turun dari ranjang dan duduk di sofa. Sedangkan Tom masih setia berdiri di samping tuan mudanya itu. "Duduklah," perintahnya melihat Tom yang masih berdiri di sampingnya.


"Tidak tuan, saya berdiri saja," jawab Tom langsung mendapatkan tatapan tajam. Melihat itu Tom langsung dengan cepat duduk di sofa, takut tuannya akan menelannya hidup-hidup.


"Katakan, apa yang ingin kau sampaikan?" 


"Beberapa orang yang menyerang nona hari ini adalah kelompok yang sama, mereka dari kelompok Mafia Red Wolf," jelas Tom langsung membuat Nicko memukul sofa, marah saat mendengar kenyataan bahwa pelakunya juga dari kelompok yang sama.


"Benar-benar badjingan. Apa kau tahu dimana pria itu saat ini?"


"Dari yang Chris dapat, pria itu berada di kota yang sama dengan kita. Chris mendapatkan ini dari retasannya nya di kediaman tuan Abimanyu," tunjuknya pada sebuah rekaman CCTV. Nicko membukanya dan dilihatnya dua orang asing yang belum pernah ia lihat wajahnya itu.


"Dari yang Chris jelaskan, menurut dirinya pria itu adalah musuh anda,  Edgar Addison," jelas Tom.


"Edgar? Tapi kenapa wajahnya tidak seperti Edgar?" Tanya Nicko bingung. Karena setahu dia, Edgar tidak berwajah seperti itu. Atau mungkinkah pria itu melakukan perubahan wajah?


"Chris akan mencari tahu tuan. Dia akan mencari informasi itu, agar kita bisa secepatnya membunuh pria itu," jelas Tom.


"Baiklah, kirim rekaman itu di ponsel ku, aku akan menunjukkan kepada istri ku agar dia berhati hati jika bertemu dengan pria itu."


"Baik tuan," jawab Tom dan langsung mengirim rekaman itu.


.


.


Di lain tempat, Rebecca dan Leon akan merencanakan rencana besok pagi. Ia akan mengintai Dena di dekat sekolah agar mudah menculik Dena, asik Rebecca.


"Lakukan dengan baik, aku tidak ingin ada kesalahan," ucap Rebecca berada dalam pelukan Leon.


"Baik sayang, jangan khawatir. Aku akan melakukannya dengan baik," jelas Leon dan mengukung kembali tubuh yang baru saja ia jam-ah.


.


.


Pagi hari, di kediaman William. Dena, Natalie dan Mattew berada di meja makan. Natalie yang tidak melihat Zanna dan Nicko bertanya, "Dimana menantu dan putra kita pa? Mama dari kemarin tidak melihatnya?" 


Mattew yang tahu mereka ada di mana hanya diam, menyeruput teh nya. Sedangkan Dena dan Natalie menatap nya, berharap mendapatkan jawaban. Mattew yang melihat mereka berdua mantapnya menghela napas dan berkata, "Mereka sedang membuat cucu di luar. Mencari suasana baru, agar lekas jadi," jawab Mattew berbohong. Ia tidak mungkin mengatakan jika Nicko dan Zanna di rumah sakit, yang ada mereka berdua akan langsung datang dan tahu keadaan Zanna sekarang. 


Natalie dan Dena yang mendengar jawaban itu merasa aneh. Suasana baru? Pikirnya sangat aneh. Jika memang ingin suasana baru, kenapa tidak bulan madu saja di luar negeri? Dalam otak mereka berdua terus saja bertanya-tanya. Mattew yang melihat mereka berpikir keras langsung berdehem, berharap mereka berdua tidak memikirkan hal itu lagi.


"Ehem…ehem…tidak usah terlalu dipikirkan. Mereka berdua sudah dewasa, jadi biarkan mereka melakukan apapun yang mereka inginkan. Termasuk mencari suasana baru dalam hal itu," jelas Mattew dan membuat mereka berdua mengangguk. 


Setelah sarapan selesai, Mattew pergi ke kantor. Sedangkan Dena pergi ke sekolah dengan di antar oleh supir pribadi Nyonya Natalie.


Sesampainya di sekolah, supir itu menurunkan nona mudanya di depan sekolah. Dan setelahnya supir itu pergi meninggalkan Dena di depan pintu gerbang.


Saat Dena hendak masuk tiba-tiba dari belakang ia di sekap oleh seseorang yang tidak di kenal dengan membawa senjata api di tangan. Banyak siswa yang melihat, namun mereka tidak bisa menolong karena takut dengan ancaman beberapa pria yang menodongkan nya senjata itu ke arah mereka.


"Jika kalian berani maju dan menghentikan kami, jangan salahkan kami jika kami akan menembak kepala kalian," ancamnya dan langsung membuat takut semua siswa yang melihat.


Tidak ada seorang pun yang berani menghentikan penculik itu, termasuk satpam yang saat ini sedang di tawan oleh satu pria yang menodongkan senjatanya di kepala. Ingin sekali satpam itu melawan. Namun saat melihat pistol itu ada di keningnya, tubuh itu malah gemetar karena takut peluru yang ada di dalam senjata itu menembus isi kepalanya. 


.


.


Bersambung