
Hari ini, hari dimana Nicko akan pergi ke acara tuan Abimanyu. Saat ini Nicko berdiri memeluk pinggang istrinya yang sedang memasang dasi di lehernya sambil sesekali mencuri cium di pipi mulus itu.
"Diamlah! Jika kamu terus seperti ini akan susah aku memakaikan dasi mu," kesalnya dengan cemberut. Nicko tidak peduli, ia tetap melakukan kesukaannya, menciumi wajah istrinya yang menggemaskan.
Zanna yang melihat suaminya tidak peduli menghela napas, harus sabar dengan tingkah suaminya itu.
"Baby, aku pasti akan merindukanmu," ucap Nicko dengan manja.
"Tidak usah manja. Sudah tua, ingat umur," jawab Zanna menepis tangan yang memeluk pinggangnya.
"Baby!" Nicko cemberut saat tangannya di tepis oleh istrinya.
Zanna tidak peduli, ia meninggalkan suaminya dan pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri. Nicko yang melihat, menghela napas. "Istri tidak ada romantis-romantisnya sama sekali," gumamnya dan duduk di kursi, menunggu kedatangan Tom.
Beberapa menit membersihkan diri, Zanna pun keluar dengan hanya memakai handuk kecil yang melilit tubuhnya. Ia tidak tahu jika suaminya masih di kamar, karena pikirnya suaminya sudah berangkat ke tempat tuan Abimanyu. Nicko yang melihat istrinya hanya memakai handuk kecil yang menutup sebagian tubuhnya, menelan ludah. Apalagi saat melihat tetesan air yang turun di bahu istrinya. Ingin sekali ia menyesap air itu dan memberikan kecupan di bahu indah yang menggoda itu.
Perlahan ia berdiri, berjalan ke arah istrinya yang sedang mengusap rambut basahnya dengan tubuh yang membelakanginya. Zanna tidak menyadari hak itu karena suami nya begitu pelan berjalan ke arahnya.
Grep,
Nicko memeluk pinggang itu dan memberikan ciuman kecil di bahu mulus itu. Zanna yang merasakan tubuhnya di peluk secara mendadak oleh Nicko tentu saja membuat dirinya terkejut, hingga berjingkat.
"Kau mengagetkan ku tahu. Kenapa juga masih belum berangkat?" Ucapnya sambil melepas tangan itu dari perutnya. Namun Nicko malah mempererat pelukan itu, membuat Zanna kesusahan melepasnya.
"Sayang kalau di lewatkan," jawab Nicko dengan senyum anehnya. Memutar tubuh itu menghadap ke arahnya.
"Mau apa?" Tanya Zanna melihat pandangan suaminya yang seperti ingin menelannya.
"Tentu saja mencicipi sesuatu yang manis. Tidak baik jika di abaikan," jawab Nicko langsung menarik handuk itu dan melemparkan asal.
Zanna yang melihat suami nya menarik paksa handuknya melotot tidak percaya. Pikirnya apa-apaan suaminya itu. Tidak mungkin kan dia meminta lagi setelah baru saja dia memberikannya.
"Tadikan sudah," jawab Zanna mencoba menahan tubuhnya yang di dorong suaminya ke ranjang.
"Tadi memang sudah, tapi sekarang belum. Lagian sangat di sayangkan jika tidak di rasakan lagi."
"Dasar maniak!" Kesal Zanna mendorong tubuh itu.
"Tidak apa-apa dengan istri. Sah-sah aja melakukan beberapa kali pun Baby."
"Tapi tidak____" belum selesai Zanna melanjutkan ucapannya, bibir Zanna sudah di bungkam oleh Nicko. Nicko melu-mat dengan lembut, menikmati bibir manis istrinya.
Saat Nicko asik menikmati kegiatannya, terdengar pintu di ketuk dari luar.
Tok…Tok…Tok…
"Tuan," panggil Tom di depan pintu kamar Nicko.
Zanna yang mendengar langsung mendorong tubuh itu. Sedangkan Nicko yang merasakan bibirnya lepas dari bibir Zanna, mendengus kesal. Apalagi saat mendengar suara orang yang mengganggunya itu. "Dasar asisten sialan!" Umpatnya masih tidak melepas pinggang istrinya.
"Asisten mu sudah datang, pergilah." Usirnya agar suaminya itu tidak mengukungnya kembali. Namun apa yang di harapkan tidak menjadi kenyataan, karena suaminya malah menghubungi Tom untuk menunggunya beberapa menit lagi.
"Tunggulah dibawah, ada urusan yang harus ku selesaikan," perintah nya dan Tom pun langsung mengiyakan, menunggu tuannya di lantai bawah. Ia tahu apa yang di lakukan tuannya itu, yang pasti sedang bermesraan dengan istrinya.
Dan benar saja seperti yang di pikirkan Tom, di lantai atas, Nicko sedang gelut di ranjang dengan istri tercintanya itu.
.
.
"Baik tuan," jawab semua anak buahnya yang berdiri di depannya.
Setelah memberi perintah itu, pria itu pergi ke tempat Abimanyu untuk menghadiri acara yang diselenggarakan oleh pengusaha itu. Sedangkan Nicko juga pergi setelah menyelesaikan tugasnya sebagai seorang suami, memberikan haknya pada istri tercintanya itu.
.
.
Sedangkan Zanna yang berada di rumah dengan santai menikmati hari nya tanpa suami yang selalu mengganggu nya.
"Hah, apa yang harus aku lakukan hari ini?" Gumamnya jenuh, karena tidak ada kegiatan. Namun tiba-tiba terbesit nama Felix di pikirannya. "Nano. Ya, aku akan menjenguknya saja. Sudah beberapa hari aku tidak menjenguknya, apakah sudah lebih baik atau belum?"
Zanna beranjak dari duduknya dan mengambil kunci motornya, pergi menuju tempat dimana Felix di rawat. Zanna juga tidak melupakan senjatanya yang ia selipkan di jaketnya untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu hal yang terjadi saat di jalan.
Penjaga rumah yang melihat nona mudanya keluar menggunakan motor langsung menghubungi tuannya.
"Tuan, nona muda pergi keluar rumah sendirian," jelas penjaga itu memberitahu tuannya yang memerintah dia untuk mengawasi nona mudanya itu.
"Ikuti dia. Dan jangan sampai kau di ketahui olehnya. Beritahu apa yang dia lakukan selama dia keluar dari rumah," perintah Mattew yang penasaran dengan menantunya.
"Baik tuan," jawab penjaga itu, dan setelah itu panggilan pun berakhir.
Zanna mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Namun saat matanya melihat ke arah spion, ia melihat beberapa pria bermotor seperti mengikutinya. "Apakah mereka mengikuti ku?" Batin Zanna langsung menambah kecepatan motornya.
Wuung….
Wuung….
Zanna mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, menghindari kejaran beberapa pria bermotor itu. Sedangkan penjaga yang diperintahkan oleh Mattew juga mengikuti nona mudanya. Ia menghubungi tuannya dan mengatakan jika nona mudanya dalam masalah.
"Ada apa?" Tanya Mattew yang saat ini berada di kantornya.
"Tuan, gawat! Nona muda saat ini sedang dalam masalah. Ia dikejar oleh beberapa orang bermotor dan sepertinya beberapa pria itu ingin membunuh nona muda," jelas penjaga itu.
"Apa!! Apa kamu tidak salah lihat?" Mattew terkejut karena menantunya lagi lagi berurusan dengan orang-orang yang berbahaya. Dan sepertinya mereka memang menginginkan nyawa menantunya itu. "Siapa sebenarnya kamu ini? Kenapa banyak sekali yang berurusan dengan mu?" Batin Mattew benar-benar di buat penasaran siapa menantunya itu.
"Ikuti mereka, jangan sampai kamu meninggalkan menantu ku itu. Selalu kabarkan apa yang terjadi. Aku akan menghubungi Nicko," perintah Mattew dan panggilan pun berakhir.
Mattew diam, berpikir keras. Sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa banyak orang yang selalu mencari masalah dengan menantunya? Apa benar jika menantunya hanya orang biasa seperti yang dia ketahui. Tapi jika dia hanyalah orang biasa tanpa keahlian, pastinya menantunya itu tidak akan berurusan dengan yang berbahaya seperti itu. Tapi ini? Ah, sungguh membuat Mattew bingung.
.
.
.
Bersambung