
Zanna mencengangkan dagu wanita dengan kuat, "Le-pas," ucap wanita itu menatap tajam wanita yang berani menyentuh nya.
Zanna menatap dengan dingin, tangan sebelahnya menengadah, meminta senjata kepada Felix.
Felix yang mengerti langsung mengambilkan dan memberikannya kepada Zanna.
"Kau tahu ini apa?" tanya Zanna menempelkan senjata kecil itu di pipi wanita itu. Rasa dingin menempel di kulitnya. Ia menatap benda tajam itu yang menyentuh kulit wajah nya sesuai gerakan Zanna mengelusnya.
"Jauh kan benda itu dari wajah ku!" Seru wanita itu bergidik ngeri, membayangkan jika benda tajam itu menggores wajah nya.
"Apa kau takut?" tanya Zanna menaikan sebelah alisnya. Wanita itu dan dua laki-laki lainnya yang melihat itu menelan ludah. Saat ini wajah Zanna menurutkan sungguh sangat menyeramkan..
"Ti-tidak!"
"Oh ya? Bagaimana jika kita bermain sebentar. Apakah kau masih tetap tidak takut? Atau malah semakin, sangat takut, " ucap Zanna memperhatikan wajah yang sedikit pucat itu. "Kau tahu aku punya banyak cara untuk bermain dengan mu. Kau ingin langsung mati atau....."
"Cukup! Lepaskan kami. Dan kami janji tidak akan mengganggu mu lagi. Kami pun tidak akan mengatakan semua ini kepada bos kita. Kamu hanya perlu melepaskan ku dan semuanya selesai," ucap wanita dengan napas naik turun, menahan rasa takut.
"Kau tidak bisa menegosiasi dengan ku. Kau pikir aku akan melepaskan santapan yang sudah berada di kandang ku? Tidak! Aku bukan orang yang mudah melepaskan nya. Tapi, em____ Mungkin bisa aku melepaskan mu. Hanya saja untuk mereka berdua kau harus membunuh nya dengan tangan mu sendiri. Jika kau tidak membunuh nya, jangan harap aku akan melepaskan mu," ucap Zanna dengan senyum menyeringai.
"Bagaimana? Apakah kau akan melakukan apa yang ku minta, atau kau akan menolak nya. Dan siap mati di tangan bawahan ku?" tanya Zanna memberikan pilihan.
Wanita itu diam, menatap kedua temannya. "Jangan percaya dengan apa yang di katakan nya. Jika pun kau membunuh kami, dia juga tidak akan melepaskan mu," ucap salah satu teman wanita itu.
Zanna yang mendengar tersenyum kecil. "Kau tidak usah khawatir. Aku tidak akan mengingkari apa yang ku ucapkan. Jika aku akan melepas, berarti aku akan melepaskannya," sela Zanna agar wanita itu tidak bimbang.
"Percayalah, dia itu wanita iblis. Tidak semudah itu dia akan melepaskan orang yang menganggu nya. Lebih baik kita mati sama-sama di tangan wanita itu, dari pada di antara kita ada yang berkhianat," ucap pria yang satunya lagi.
Wanita itu kembali diam, "Apakah jika aku membunuh mereka, wanita ini akan melepaskan ku? Tapi dari yang ku lihat, wanita ini akan menepati janjinya," batin wanita menatap Zanna.
Zanna hanya menaikkan sebelah alisnya, melihat wanita itu yang menatap nya. Seolah berpikir, bahwa dirinya akan ingkar janji.
"Aku tidak akan mengingkari nya, kau tenang saja. Sekarang pilih pilihan mu. Membunuh mereka atau mati di tangan anak buah ku," ucap Zanna lagi.
Wanita menatap Zanna, setelah itu mengangguk. "Baiklah, aku akan membunuh mereka. Tapi kau tidak boleh mengingkari janji mu untuk melepaskan ku," ucap Wanita itu dan tentu saja langsung di angguki Zanna.
Kedua pria itu tentu saja terkejut mendengar jawaban teman wanita nya. "Ternyata kau seperti ini. Tidak ada kesetiaan sama sekali dengan teman setim mu," ucap Pria itu menatap penuh amarah
"Maafkan aku. Masa depan ku masih panjang. Dan aku masih ingin hidup," jawab wanita itu mantap dengan keputusan nya.
"Baiklah, bunuh kami sekarang. Tapi setelah ini jangan menyesal jika wanita iblis itu akan membunuh mu juga."
Wanita itu seakan ragu dengan keputusan nya. Namun lagi-lagi Zanna berkata bahwa dirinya tidak akan mengingkari ucapannya, tentang melepaskan nya. Dan sangat yakin dengan pilihannya benar.
"Ambillah," perintahnya memberikan senjata. Wanita itu mengambil pistol yang di berikan Zanna untuk membunuh dua teman nya.
Felix, dan Glen menodongkan senjata nya ke arah wanita itu, takut wanita itu berbuat macam-macam. Sedangkan Zanna duduk manis di kursi, menopang kepala nya dengan senyum seringai nya.
"Lakukan," perintah Felix agar wanita itu segera membunuh dua pria yang sedang bersimpuh itu.
Door....
Door....
Dua peluru melesat masuk kedalam kepala dua pria itu dan keduanya pun langsung tergeletak tak bernyawa.
Zanna yang melihat bertepuk tangan.
Prok.... Prok.... Prok....
"Bagus-bagus, ternyata kau benar-benar melakukannya," jawab Zanna menghampiri wanita itu, berdiri di depannya.
"Aku sudah melakukan apa yang kau perintahkan. Sekarang kau harus menepati janji mu untuk melepaskan ku," ucap wanita itu ingin segera pergi dari tempat mengerikan itu.
"Tentu, tentu saja aku akan melepaskan mu," ucap Zanna tersenyum. "Sekarang pergilah, kami tidak akan menghalangi jalan mu," perintah Zanna, memberi kode anak buah nya untuk memberikan jalan wanita itu keluar dari markasnya.
Semuanya menyingkir, dan memberikan jalan kepada wanita itu. Dengan senang hati wanita itu langsung berjalan pergi meningalkan bangunan itu. Felix yang melihat bos nya membiarkan wanita pergi bertanya, "Kenapa anda melepaskannya bos?"
Zanna masih menatap wanita itu keluar dari markasnya. "Heh, waktunya berburu," gumam Zanna membuat Felix, Glen dan Faro mengernyit.
"Berburu?" gumam mereka bersama.
"Ayo, jangan lepaskan buruan kita. Ambil pistol kalian dan peralatan memanah. Jangan lupa kendaraan nya," perintah Zanna membuat merkwa bertiga mengerti maksud Zanna. Bahwa hari ini mereka akan bersenang-senang memburu buruan nya yang tak lain adalah wanita yang mereka lepaskan tadi.
Felix dan Glen mengambil motor mereka, sedang Zanna dan Faro mengambil senjata mereka. Kini mereka berempat siap untuk memburu wanita itu.
Felix dan Glen menyalakan motornya, Faro naik bersama dengan Glen. Sedangkan Zanna bersama dengan Felix.
Brum.....
Brum.....
Brum.....
Felix dan Glen langsung pergi mengejar wanita itu, mereka berpencar ke dua arah. Wanita yang tadi telah keluar dari markas ZANNALOA mengerutkan kening saat mendengar suara motor yang sepertinya semakin mendekat.
Wanita yang berjalan kaki itu semakin melangkahkan kakinya dengan lebar. Entah kenapa ia memiliki firasat buruk. Dan ternyata dugaan nya benar, firasat buruk itu terjadi saat melihat Glen dan Faro yang menembakkan senjata ke arah wanita itu.
Door....
Argh....! Teriak wanita itu menghindar dari tembakan. Wanita itu berlari untuk menghindari kejaran dua pria itu.
"Sialan! Kenapa mereka mengejar ku? Bukankah mereka akan melepaskan ku?" gumam wanita itu terus berlari di tengah hutan untuk menghindari kejaran mereka.
Syuut ...
Satu panah mengarah kearah nya, wanita itu yang melihat terkejut karena tiba-tiba ada anak panah yang melesat ke tubuhnya. Untung saja anak panah itu tidak mengenai tubuh indahnya. Jika itu sampai terjadi, mungkin diri nya akan langsung mati.