
Setelah membunuh semua orang itu, Zanna pergi meninggalkan tempat itu. Sedangkan seseorang yang membuntuti nya langsung menghubungi tuannya, bahwa nona mudanya berhasil mengalahkan semua orang yang menyerangnya.
Mattew yang di hubungi sungguh sangat terkejut dengan laporan yang di berikan penjaga rumahnya, bahwa Zanna berhasil mengalahkan beberapa orang itu sendirian. "Semakin membuat ku penasaran. Siapa sebenarnya menantu ku ini."
.
.
Di markas Reaper, terjadi perkelahian antara kelompok Geng Reaper dan kelompok tak di kenal itu. Semuanya bertarung, namun tidak membutuhkan waktu lama. Geng Reaper pun dengan mudah mengalahkan kelompok asing yang tiba-tiba menyerang itu.
Di dalam mobil Nicko. Nicko dan Tom kini sudah hampir sampai di markas Geng Reaper. Chris yang telah berhasil mengalahkan musuh yang menyerang menghubungi Tom yang saat ini bersama dengan tuannya.
"Bagaimana?" Tanya Tom memastikan. Apakah baik-baik saja atau tidak.
"Semuanya aman. Aku sudah mengalahkan semuanya," jelas Chris.
"Bagus. Lalu, apakah kau tau dari mana asal mereka?" Tanya Tom berharap Chris mendapatkan informasi siapa penyerang itu.
"Mereka berasal dari Mafia Red Wolf," jelas Chris dengan mengepalkan tangan. Ia tahu siapa pemimpin Red Wolf itu, ingin sekali ia membunuh pria sialan itu. Namun jika tidak ada perintah dari tuannya, tidak mungkin dirinya akan melakukan itu sendiri, walaupun sebenarnya ia sangat ingin menghabisi pria yang membuat tuannya pernah lumpuh itu.
Sedangkan Tom yang mendengar, langsung mengeraskan rahangnya, hingga giginya gemeretak karena marah mendengar siapa pelakunya. Tangannya menggenggam erat setir mobil, dengan nafas naik turun. Nicko yang berada di belakang Tom langsung bertanya saat Tom tidak lagi berbicara di telepon.
"Apa yang terjadi? Bagaimana keadaan disana?" Tanya Nicko dan langsung menyadarkan Tom.
"Semua nya sudah selesai diatasi tuan." Jelas Tom memutuskan panggilan Chris.
"Apakah Chris tahu siapa yang mengirim mereka?" Tanya Nicko dan di angguki Tom. "Siapa?" Sambungnya lagi ingin tahu siapa pelakunya. Ia berharap bukan pria itu yang mengirim begundal-begundal sialan itu. Sampai itu benar, sudah di pastikan pria benar sudah siap menantangnya dan berhadapan dengannya.
"Pria itu yang melakukannya tuan," jawab Tom dan langsung membuat Nicko marah, memukul kursi yang di tempati Tom.
"Kurang ajar! Berani nya dia!" Marah Nicko dengan nafas yang tidak teratur.
"Sepertinya pria itu sudah siap bertarung dengan kita tuan."
"Ya, kau benar. Sepertinya dia memang sudah mengibarkan bendera perang untuk kita. Oh ya, Tom. Apa menurut mu kejadian ini tidak terlalu aneh?"
"Aneh bagaimana tuan?" Tanya Tom tidak mengerti.
"Aku rasa otak mu semakin lelet Tom."
"Maafkan saya tuan?"
"Hah," Nicko menghela napas tidak ingin memarahi asisten itu, ia tahu asistennya itu banyak pekerjaan karena dirinya. Jadi untuk saat ini ia akan memaafkan asisten yang mulai bodoh itu. "Entah kenapa aku merasa kejadian hari ini semuanya adalah ulah pria itu, begitu pula dengan penyerangan istri ku hari ini," jelas Nicko yang memiliki pikiran bahwa terkait penyerangan Zanna hari ini ada campur tangan pria itu, musuhnya.
"Maksud anda, semua kejadian ini adalah pria itu yang melakukannya? Jika itu benar, berarti pria itu telah mengetahui siapa itu nona, tuan? Dan dia berniat membunuh nona."
"Ya, dia telah mengetahui istri ku dan mencoba menghancurkan ku dengan membunuh istri ku," Nicko semakin pusing. Walaupun ia tahu Zanna pandai bertarung, tapi ia tetap akan khawatir. Bagaimanapun Zanna seorang wanita yang pastinya suatu saat akan bisa kalah oleh orang yang menginginkan kematiannya. Entah siapa itu, Nicko tidak ingin sampai itu terjadi.
"Baik tuan."
"Kita ke tempat istri ku berada. Aku takut dia kenapa-napa." Tom mengangguk dan pergi menuju tempat dimana Zanna dan beberapa orang itu berada, sesuai alamat yang di berikan Mattew dari penjaga rumah itu.
Nicko mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Zanna. Namun beberapa kali Nicko menghubungi, panggilan itu tidak di angkat oleh pemilik nomor. "Sialan! Apa terjadi sesuatu dengannya?" Gumamnya melihat Zanna tidak mengangkat panggilannya.
"Lebih cepat Tom! Istri ku mungkin dalam bahaya," perintahnya dan Tom pun langsung menginjak pedal gasnya, melaju dengan kecepatan tinggi menuju tempat nona mudanya berada.
Saat, mereka menuju tempat dimana Zanna berada, mereka berdua melihat seorang wanita mengendarai motornya dengan tubuh yang terluka. Tom yang sepertinya melihat bahwa itu Zanna berkata. "Bukankah itu nona muda, tuan?"
"Ya, kau benar. Ikuti dia, sepertinya dia terluka," perintahnya dan memutar balik mobilnya mengejar Zanna.
Sedangkan Zanna yang melewati mobil itu tidak terlalu memperhatikan bahwa itu mobil suaminya, ia tetap mengendarai motornya menuju rumah sakit untuk mengobati lukanya. Karena jika ia langsung pulang, semua orang di rumah pasti sangat khawatir.
Tom mengejar motor yang di kendarai Zanna hingga sampai di depan nona mudanya dan berhenti tepat di depannya. Zanna yang melihat mobil berhenti menghalangi jalan nya langsung mengerem motornya. Mengerutkan kening, siapa lagi yang menghalangi jalannya. Zanna tidak terlalu hafal semua mobil milik suaminya itu, sehingga dia tidak tahu bahwa orang yang ada di dalam mobil adalah suaminya.
Nicko yang berada di dalam mobil langsung keluar menghampiri Zanna. Zanna yang melihat ternyata itu suaminya, menghela nafas lega karena ternyata itu bukanlah musuhnya.
Nicko langsung menarik tangan itu, membuat Zanna turun dari motor. Tanpa berkata sepatah kata pun, Nicko membawa Zanna masuk kedalam mobil membiarkan motor itu di jalanan.
Zanna tentu saja protes karena Nicko seenaknya sendiri. Bagaimana dengan motornya? Ah, mengingat motor mahal nya itu, Zanna menjadi kesal.
"Apa-apaan kau ini? Bagaimana dengan motor ku?" Tanya Zanna dengan wajah masam.
"Anak buah ku akan mengambilnya nanti. Sekarang jalan, Tom," perintah Nicko dan di angguki Tom.
"Baik tuan," jawabnya dan langsung melajukan mobilnya.
Nicko menatap istrinya yang masih menggunakan helm, ia tahu jika istrinya saat ini sangat kesal padanya. Ia mengulurkan tangan, membuka helm itu dari kepala Zanna. Saat helm itu terlepas, kening Nicko langsung berkerut, rahangnya mengeras, marah dengan apa yang di lihatnya. Bagaimana bisa wajah istrinya babak belur sampai seperti ini, pikirnya.
"Berani nya mereka membuat istri ku terluka!" Marahnya sambil mengelus wajah Zanna yang terdapat lebah. "Tom segera perintahkan Chris untuk menemukan mereka," perintahnya dengan nada marah.
"Baik tuan," jawab Tom dan langsung menghubungi Chris agar secepatnya mencari pelaku yang membuat nona mudanya terluka.
..
..
..
Bersambung
Maaf ya, baru up. Anak Autor lagi sakit. Jadi harus Nyambi dikit-dikit nulisnya 🙏🙏