
Siang hari, waktu nya makan siang. Zanna dan Nicko, serta Natalie sudah berada di meja makan.
Zanna mengambilkan makanan di atas piring untuk Nicko, namun dengan hati kesal. Sebenarnya ia begitu malas melayani suami nya itu, tapi karena disana ada mertuanya dengan terpaksa ia harus melayani Nicko layak nya suami istri yang saling menyayangi.
Setelah selesai mengambilkan makanan, ia menyerahkan piring itu di depan Nicko. "Makan tuh, awas jika kau tidak menghabiskan," tatap Zanna tanpa berbicara, namun itulah yang di artikan Nicko melihat tatapan kesal istrinya.
Nicko memberikan senyum manisnya, "Terimakasih sayang."
Zanna yang melihat mendengus, "Sialan! Senyuman nya kenapa manis seperti itu," batinnya dengan wajah memerah.
Natalie yang melihat tersenyum, namun saat melihat betapa banyak Zanna mengambilkan makanan untuk Nicko ia bingung, karena setahu nya Nicko tidak makan begitu banyak.
"Em, Nana. Apakah kamu tidak terlalu banyak mengambilkan makanan nya?"
Zanna yang mendengar melihat ke arah piring Nicko, setelah itu tersenyum manis ke arah Natalie. "Tidak Ma, itu cukup untuknya, karena Nana tahu pasti ia sangat lapar," jawab Zanna sambil mencubit pinggang Nicko agar ia menjawab iya, bahwa itu tidaklah banyak untuknya.
Nicko yang merasakan tangan Zanna mencubitnya langsung menggenggamnya. "Ya, ini tidak lah banyak, karena tenaga ku habis untuk nya tadi pagi," jawab Nicko yang mengatakan sesuatu yang ambigu.
Natalie yang bingung menatap mereka bergantian. Namun saat melihat leher Zanna ia tahu apa maksud Nicko. "Ah ya, Mama tahu. Makan lah yang banyak, Mama yakin kau pasti banyak mengeluarkan tenaga."
Zanna yang mendengar apa yang di katakan Natalie semakin bingung, "Apa yang di bicarakan mereka?" batinnya menatap Nicko minta penjelasan.
Nicko yang melihat wajah bingung Zanna, tersenyum kecil. Ia membisikkan sesuatu di telinga Zanna. "Wanita itu mengira kita melakukan olahraga ranjang."
Zanna yang mendengar melotot, "Badjingan! Aku yakin mama mengira seperti itu karena ucapan ambigu mu itu," balasnya berbisik.
"Tidak! Wanita itu tahu karena melihat leher mu," jawab Nicko dan langsung membuat Zanna meraba lehernya.
Natalie yang melihat tersenyum. "Tidak apa-apa, mama paham kok. Karena mama pernah muda juga," jawab Natalie tersenyum, dan memakan makanan nya.
Zanna ingin sekali berteriak karena Nicko membuat semuanya salah paham. Dan ia juga ingin menelan Nicko hidup-hidup, laki-laki yang menurutnya sangat menyebalkan.
.
.
Sore hari, Nicko siap berangkat ke luar negeri untuk menyembuhkan kakinya. Ia tidak mengatakan kepada siapapun tentang tujuan nya, baik kepada Zanna, Natalie maupun dengan Mattew. Ia hanya mengatakan kepada mereka semua, bahwa ada pekerjaan yang harus ia selesaikan disana.
Semua nya mengantarkan Nicko di depan rumah, "Aku pergi dulu, jaga diri mu selama aku tidak ada," ucap Nicko berpamitan kepada Zanna layaknya suami yang sangat mencintai, enggan untuk meninggalkan istrinya.
"Pergi ya pergi, kenapa harus so'-so'an pamit segala," batin Zanna memutar bola matanya malas. Namun saat mengingat disana ada Mattew dan Natalie ia harus berpura-pura.
"Ya, hati-hati di jalan. Jangan lupa hubungi aku jika nanti sudah sampai disana," jawab Zanna. Ingin sekali dia muntah mengingat apa yang di ucapkan nya.
Nicko yang mendengar ingin sekali tertawa, ia tahu istrinya itu pasti muak dengan ucapan nya sendiri. "Baiklah, aku pergi dulu," pamitnya pada semua dan di angguki semuanya nya.
Namun sebelum itu, Nicko meminta Zanna untuk mendekat.
"Mendekat lah, ada yang ingin ku katakan," perintahnya. Dan tanpa curiga, Zanna pun mendekatkan wajahnya.
Cup,
Kecupan singkat mendarat di pipi Zanna. Semuanya yang melihat hanya tersenyum. Berbeda dengan Zanna yang wajah nya sudah memerah. Merah karena marah dan bercampur malu.
"Sialan! Beraninya kau mencium ku di depan mereka semua. Argh! Aku ingin memukul kepala nya yang soak itu," batinnya berteriak.
..
..
Nicko pun berangkat ke bandara dengan di temani oleh Tom dan Boy. Namun saat di perjalanan, tepatnya saat lampu merah, Aurel sang mantan yang berada di dalam mobil samping Nicko terkejut melihat Nicko yang keluar dari rumah. Karena biasanya, Nicko sama sekali tidak pernah keluar rumah setelah mengalami kecelakaan.
"Mau kemana dia?" pikirnya ingin tahu.
Setelah lampu berubah menjadi hijau, mereka pun melajukan kendaraan mereka kembali. Tapi karena rasa penasaran nya, ia meminta supirnya untuk mengikuti kemana Nicko pergi. "Ikuti mobil itu pak."
"Baik nona," jawab supir dan membuntuti mobil Nicko.
Cukup lama Aurel mengikuti, mereka pun sampai di bandara. "Ternyata dia akan melakukan perjalanan jauh. Tapi kemana?" pikir nya. "Atau mungkin dia___" lanjutnya memiliki pikiran Nicko akan menyembuhkan kaki nya.
"Jika seperti yang ku duga benar, aku akan mendekatinya lagi. Aku tidak bisa melupakan nya, dia begitu sangat sempurna, kaya, gagah dan tampan. Namun untuk saat ini aku malas untuk mendekati nya, dia masihlah pria lumpuh yang sangat merepotkan. Biarkan istrinya itu yang mengurusnya untuk saat ini. Jika dia sembuh akan ku rebut lagi Nicko dari tangan wanita sialan itu," gumam Aurel licik berpikir Nicko akan mau kembali dengan nya.
Melihat Nicko menghilang dari pandangan nya, Aurel meminta supirnya untuk kembali, ketempat dimana dia akan bertemu dengan kekasihnya.
.
.
Di lain tepat, tepatnya di keluarga Mirdad, Dena saat ini sedang di siksa oleh Sonia dan Rebecca. Mereka tidak menepati janji nya yang akan menjaga dan merawat Dena dengan baik.
"Dasar anak kurang ajar! Beraninya kau melawan ku. Apa kau sekarang sudah berani karena kakak mu meminta ku untuk menjaga mu. Jangan mimpi, aku sama sekali tidak akan menuruti permintaan nya yang konyol itu. Enak saja meminta ku memperlakukan mu dengan baik. Kau itu anak sialan dari wanita murahan. Sampai mati pun aku tidak akan memperlakukan mu dengan baik," marahnya dan memukul Dena dengan sapu.
"Argh....Maafin Dena Ma," teriak Dena mendapatkan hukuman karena menjatuhkan ponsel saat membersihkan meja rias Sonia.
"Apa kamu pikir dengan meminta maaf, kau bisa mengganti ponsel ku yang mahal ha...? Tidak akan bisa. Sampai kau mati pun kau tidak akan bisa menggantinya," marahnya kesal dan masih terus memukul Dena.
Dena berteriak dan memohon ampun agar Sonia memaafkan nya. " Ampun ma, maafin Dena ma. Dena tahu Dena salah, Argh.....!" teriak nya saat gagang sapu itu menghantam tubuh nya. Rasa perih di tubuhnya membuat air matanya luruh. Tidak ada tempat untuknya berlindung. Dan jika ia mengatakan kepada kakak nya, ia takut kakak nya akan khawatir dan membuat kakaknya kepikiran dirinya terus. Ia tidak ingin, karena sekarang kakaknya sudah memiliki kehidupan sendiri. Jadi dia tidak boleh membuat kakaknya khawatir dengan nya. Ia harus kuat menjalani kehidupannya yang bagai di neraka ini.
.
.
Bersambung