
Chapter 69: Kebetulan
[???]
Minggu, 5 Mei..
Akari Keluar Dari Rumah...
[2]
"Are? Itu… Yui-chan Dan Aika-san"
"Uh? Aah, Mereka berdua Yaa"
Akari Dan Yang Lain Yang Sudah Berada Diluar Mall, Menunjuk Ke Suatu Arah Toko Buku, Melihat Yui Dan Noru Yang Masuk Ke Dalamnya.
"mmm"
"Semangat Sekali Yaa, Padahal Tadi Malam Kita Habis Bersenang Senang"
"Senpai, Ra-rasanya Perkataanmu Ada Yang Salah…"
Haruka Menunduk Ntah Kenapa…
"Ah, Bukan Itu, Kami Hanya Makan Makan Tadi Malam"
"Hum Hum! Dan Lagi Kami Makan Tidak Bayar!"
"HAH!! Ke-kejahatan!"
"tidak, Bukan Itu Lhoo, Akaza-san, Sebenarnya Kami Di Traktir Oleh Funami-san Dan Noru, Baik Sekali Yaa~"
Yui Dan Noru Lah Yang Men Traktir, Tapi Malah Tsurugi Yang Sombong.
"Yui-chan Dan Aika-san? Uh, Ra-rasanya Aku Jadi Agak Iri! Tapi Aku Heran Akan satu Hal"
"ahh… Kalau Soal Mereka Berdua Yang Kamu Herankan Itu… Tidak Usah Heran Lagi ^_^"
"eh?"
"Kamu… Boleh Anggap Itu Sebagai Kencan"
"Ke-kencan!!? Yu-yui-chan Dan Aika-san! Kencan!?"
"Ahaha, Heboh Sekali Yaa"
"Uh! Tapi Mereka Juga Terlihat Seperti Itu, Kenapa Aku Harus Kaget"
"Benar Kan? Uuhm"
Chitose Terlihat Berpikir Dikepalanya.
"tapi Kalau Tidak Salah, Mereka Itu Tidak Pacaran Loh"
"eehh?!"
Hanya Suatu Keterkejutan Akari akan Suatu Hal. Banyak Hal Yang Diberitahukan Pada Akari Selagi Tsurugi Menjelaskan Beberapa Hal Soal Kelompoknya Yang Di Beri Nama Yon Yon Oleh Pemimpinnya, Aika Noru.
[3]
Senin, 6 Mei.
Noru Keluar Dari Sebuah Rumah Biasa Dengan 2 Lantai, Memakai Seragam Smp Seiri Di Malam Hari, Ia Melihat Ke Dalam Rumah, Dari Pintu Depan Yang Terbuka, Seseorang Wanita Memakai Set Jaket Olahraga Biru Dengan Celananya, Rambutnya Coklat Agak Cerah Se Atas Bahu Dan Ahoge Di Atasnya Yang Agak Panjang, Berjalan Ke Pintu Depan Dengan Badan Rampingnya Yang Agak Kecil.
"Kalau Begitu Aku Pamit Pulang"
"Oh^, Hati Hati Dijalan Ya"
"Hai^… Ah Tsubasa-san, Bisakah Aku Pinjam Payung, Sepertinya Akan Hujan"
"*Huff , Baiklah"
Wanita Tersebut Masuk Dan Berbelok Ke Suatu Pintu, lalu Kembali Dengan Payung Putih Yang Agak Transparan.
"Horrah"
"Terimakasih, Aku Permisi"
"……"
Noru Mengambil Payungnya, Dan Agak Membungkukkan Dirinya Pada Wanita yang memakai Pakaian Olahraga barusan, Kemudian Pergi Dari Sana.
"Haah, Dia Sudah Besar saja yaa, Aah Waktu Kuingat Soal Sudah Besar… Nana Sebentar Lagi Mau Nikah… Gimana Pendapat Soal Mereka Berdua Waktu Mendengarnya Yaa…"
Wanita Tersebut Menutup Pintu Dari Dalam Dan Meregangkan Tangannya Ke Atas.
[4]
"Nana-san Yaa… Aku Sudah Tidak Heran Sih"
"Apa Apaan Maksudmu Itu, Bukannya Kau Harusnya Senang?"
"Apanya Senang?"
"Tetanggamu Ini Akhirnya Akan Menjalin Hubungan Kekeluargaan Dan Berpisah Dari Rumah Ini"
"Tidak Tidak, Bukannya Orang Tuamu Sekarang Tinggal Didesa Dan Akan Kesini Untuk Sementara Karna Pernikahanmu? Untuk Apa Kau Meninggalkan Rumah Ini?"
"………" {Seru Sekali Kalian Ngobrol}
"Ah~, Omong Omong, Kenapa Kalian Berdua Malah Kesini?"
"Rise-chan Tadi Mampir Ke Tempatku Dan Aku Tidak Punya Bahan Makanan, Jadinya Aku Ikut Makan Kesini"
"Seenaknya Sekali Kau Disini… Maah, Aku Buat Banyak Sih"
Di Ruang Tengah Dari Rumah Nishigaki-sensei, Okuro Dan Rise Ada Di Dalam, sedang Duduk Di Meja Dan Memakan Makan Malam Yang Dibuat Oleh Nishigaki Yang Memakai Kaos Merah Dan Celana Oren Panjang.
"Huff, Aku Penasaran Apa Pendapat Mereka Bertiga Soal Ini"
"Uh? Siapa Maksudmu?"
"*Glek *Glek, Ah, Mungkin Maksudnya Itu Sahabatnya"
Rise Bicara Dengan Normal Setelah Meminum Segelas Air
(Rise-chan, Apa Kamu Tidak Kembung? Aku Sepertinya Jadi Sering Melihatnya Minum Air…)
"Sahabat? Nana-san Punya Teman?"
"Ya Iyalah, Mereka Bertiga Mungkin Agak Terkejut Waktu Mendengarnya"
"mmm, Siapa Sahabatnya Itu? Apa kamu Tau, Rise-chan?"
"Etto… Guru Guru Wanita Lain Di Nanamori Chuugaku"
"Heehh"
"Etto… Siapa Saja?"
Rise Berwajah Bingung.
"Untuk Apa Aku Menyebut Nama Mereka, *Heh! lupakanlah hahaha, Horrah, Makan Saja"
"…… Baiklah"
"Baik… {Lah}"
"Nanggung Sekali Yaa, nih Minum"
Dengan Banyaknya Informasi Yang Belum Di Cerna, Okuro Kei Dan Matsumoto Rise Agak Kebingungan.
(S)
"*Achu"
"Uh? Kau Tidak Apa apa?"
"Ah, Tidak Apa, Aku Sepertinya Sedang Dibicarakan"
"bicarakan Apanya, Rumahmu Ini Agak Berdebu, Jangan Mengalihkan Perhatianku Begitu, Padahal Kau Itu Kurang Terkenal"
"uh, Jangan Bilang Begitu Laah, ibu"
Si Cewek Seni Yang Memakai Apron Biru, Agak Berteriak Ke Ibunya Yang Ada Di Sampingnya.
(B)
"*Uhuk Uhuk, Kenapa Ini… Perasaan Aku Tidak Kenapa Napa Barusan"
Si Cewek Basket Bicara Sendiri Ketika Menaiki Tangga Dirumahnya.
(K)
"………"
Si Cewek Kuudere Hanya Sedang Memasak Sesuatu Di Dapurnya.
[5]
"Chinatsu, Aku Mau Ketoko Buku Buat Beli Light Novel, Mau Ikut Tidak?"
"Light Novel?… Mmmm, Baiklah, Aku Ikut"
"Yosh, Aku Tunggu Dikamar"
"Katanya Mau Keluar, tapi Malah Kekamar"
"Ah, Maksudnya Beritahu Aku Dikamar, Siapa Tau Kalau Kamu Butuh Persiapan 2 Jam"
"-_-"
"jangan Menatapku Begitu"
"Naruto-kun"
"Siapa Yang Kau Panggil Naruto, Tapi! Aku Akan Jadi Hokage!"
"Kenapa kau Malah Menganggapnya Serius… Ayo Berangkat~"
"ayoo~"
Chinatsu Barusan Membuka Pintu Kamar Naru Dan Melihat Naru Yang Duduk Di Kursi Belajar, Melihat Ponselnya.
Memakai Kaos Hitam Dengan Jaket Putih Dengan Campuran Seperti Cat Warna Hitam, Singkatnya Jaket Tipis Tersebut Terlihat Unik.
Dan Celana Jeans Merah Gelap.
Rambutnya Terlihat Agak Acak Acakan Tapi Terlihat Cocok Dari pandangan Chinatsu.
Chinatsu Sendiri Memakai Baju Putih Yang Pas Di Badannya, Dimasukkan Ke Rok Hijau Ke Biruannya Yang Sepanjang Lututnya.
~
Mereka Berdua Kemudian Keluar Dari Rumah Pada jam 6 Sore, Melihat Matahari Yang Masih Berada Di Langit.
"Oh, Memangnya Masih Buka?"
"masih Laah"
"Memangnya Naru-kun Mau Beli Light Novel Apa?"
"etto… Seri Aruto Lalu Seri Sekai, Dan Yang Terakhir itu Seri Online"
"Mau Beli Berapa Banyak Sih…"
"Seri Aruto Aku Beli 5 Dulu… Sekai Hanya ada 3 Lalu Untuk Seri Online Aku Hanya Beli 3 Juga"
"Banyak Sekali, Aku Mau Membeli Buku Novel Misteri Yang Pernah Dibaca Yui-senpai"
"Jaa, Novel Romance?"
"Kenapa Kau Ngomongnya Pake Aksen Inggris Begitu -\_-"
"Mah Maah, Aku Hanya Meniru Senpaiku Yang Hebat Bahasa Inggris"
"Mmm… Romantis Yaa… Kamu Mau Menirunya?"
"nah, Bisa Jadi Refere- Aduh!"
Tamparan Lamban Mencapai Pipi Naru.
"hentikan! Aku Bilang Nanti Saja Kalau Mau Melakukan Hal Aneh aneh!"
"Eh…… \*Uhum Uhum, Baiklah…"
"…… Sampai Saat Itu… Tahanlah Dulu"
"…Rasanya Perkataanmu Agak Salah"
"Hentikan!!"
Tamparan Yang Lebih Keras.
Di Suatu Toko Buku, Naru Dan Chinatsu Sedang Mencari Cari.
"Naah"
"Uh? Apa Itu?"
"Seri 'Sekai'. Sampulnya Simpel Sekali"
"Sekai… Rasanya Aku Pernah Melihat Sampul Buku Ini…… Dimana Ya…… Uuh…… Ah! Ikeda-senpai Pernah Membaca Buku Ini Ketika Klub Ku Mau Membantu Pekerjaan Osis"
"Ikeda-senpai? Maksudmu Ikeda Chitose-san?"
"Ah^… Eh? (Kok Tau Sih? Ya Sudahlah, Itu Tidak Terlalu Penting, Siapa tau Mereka Pernah Bertemu) *Fuh, Tapi Waktu Ku Perhatikan, Ikeda-senpai Seperti Menyembunyikannya"
"Apa Apaan Tuh… Tapi Kata Senpaiku, Seri Ini Cukup Seru"
"Huuh, Jaa Nanti Aku Pinjam"
"SiIiIp"
Suara Tinggi Rendah Naru Terdengar Lalu, Mereka mengambil Buku Yang Akan Dibeli Oleh Mereka.
Naru Membawa 2 Kantong Kain Yang Dibawa Dari Rumah, Untuk Membawa Buku Yang Baru Dibelinya, Walaupun Buku Tersebut Berukuran Kertas A5 Yang Agak tebal, Tapi
Totalnya Ada 11 Buku Yang Dibeli Naru, Dan Chinatsu Hanya Membeli 2 Buku, Buku Cerita Misteri Yang Disukai Oleh Yui, Dan Buku Cerpen Romantis.
Matahari Sudah Terbenam… Jam Tangan Pemberian Chinatsu Ditangan Naru Menunjukkan Pukul 8 Malam.
"Guh, Capek"
"…… Yakin Kamu Bilang Begitu?"
"Tidak Juga Sih"
"… Omong Omong Naru-kun, Apa Kamu Punya Foto Seragam Sma Seiri?"
"Uh? Untuk apa? Yaah, tidak Punya Sih, Kan Aku Masih Smp"
"mmm, aku Hanya Mau Melihatnya, Barusan kepikiran, Nanti Aku Sma Bakalan Seperti Apa~ Yaa~"
"Chinatsu Ya Chinatsu, Tidak Akan Banyak Berubah, Semoga Saja, Tapi Ada Satu Hal Yang Kuharapkan Padamu Saat Sma Nanti"
"uh? Apa Itu?"
"Itu Rahasia"
"…… Pasti Ada hal Terlarang Didalamnya"
"Mungkin Benar, Mungkin Tidak, Bisa saja Di Omonganku Ini Ada Iblis Yang Tersegel"
"Apaan Sih Maksudmu… Mulutmu Bukanlah Buku Sihir"
"Maah Maah"
"Ah, Mengingat Soal Sihir, Aku Jadi Teringat Pada Suatu Karakter Anime"
"Anime?"
"Eh, Kyouko-senpai Sering Sekali Menyamakanku Dengan Karakter namanya Mirakurun"
"Mira… Kurun? Miracle?"
"Mungkin Itu Plesetannya"
"Coba Ku Cek"
Naru Mengeluarkan ponselnya, Masuk Ke Pencarian Online Dan Mencari 'Mirakurun'
Lalu Melihat, Chinatsu Memakai Kostum Mahou Shoujo.
"Hooh! Sejak Kapan Kau Jadi Pemeran Anime, Chinatsu?!"
"Huuh Huuh… Begitu Yaa, Hhmm… Kalau Aku Cari Doujin Dengan Cerita Yang Lainnya, Ada Nggak Yaah"
"Aah, Kalau Soal Doujin, Kyouko-senpai Juga katanya Membuat Doujin Soal Mirakurun Ini"
"Toshinou-san Melakukannya?… Mmm, mungkin Aku Akan Meminta pada Pacarnya Agar Bisa minta Salinannya nanti"
"Ugh, Kau Ini……"
Perjalanan Pulang Kerumah yang Begitu Panjang.
\[6\]
"………"
"………"
"lama Tak… Jumpa?"
"Ahahaha, Aku Tidak Menyangka kalau Kata kata itu Keluar Dari Mulutmu"
Seseorang Berbicara sambil Membelakangi Lawan Bicaranya Yang Duduk.
"…… Maah, Aku Ini Juga Orang Yang Memperhatikan Kondisi, Nyatanya, Kita Memang Sudah lama tidak bertemu… Secara langsung"
"Lalu Waktu Aku Mampir Kerumahmu Itu? Tidak dihitung?"
"Tidak, Anggap Saja Aku Melupakan Itu"
"Sakit Laah, Maah Itu Tidak masalah Sih, Lagipula Siapa yang Mau Mengingat Momen Ketika Dilempari Kulit Jeruk Begitu"
"………"
"Duduklah"
"Dari Dulu Aku Selalu Memikirkan Ini"
"Maksudmu… Kau Memikirkanku?"
"Aku Memegang Batu Ditanganku Kali Ini"
Sebuah Tangan Memegang Erat Dengan Batu Didalamnya, Kemudian Melemparnya Ke Tanah.
"…… Aku Merasakan Ada Aura Aneh Disekitarmu"
"… Aah, Maksudmu Aura Ini?"
Chizuru Merasakan Sedikit Tekanan Dibelakangnya, Ketika Souki Yang Duduk di Bangku Di Belakangnya, saling Membelakangi, Dan Mengatakan Seperti Dia Sengaja Mengeluarkan Aura.
"…… Eh^"
"Ini Karna Aku Raja iblis Didunia Ini"
"………"
"………"
"………"
"… Itu Bukan apa Apa, Waktu Aku Mengatakannya Seperti Mau Mengeluarkan Aura, Pemikiranmu Akan Seperti Merasakan Aura Tersebut, Itu Hanya Reaksi Yang Dibuat Otak Saat Mempercayai Sesuatu Dan Bertampak Pada Tubuh"
"…… Heeeh…"
"……"
"……"
"Omong Omong… Ada apa Memanggilku Malam Malam?"
"…… Aku Hanya Mau Membicarakan Satu Hal"
"Satu Hal…… Lalu, Apa Itu?"
"Aku… Hanya Mengira Ngira saja… Tapi…"
"………"
Chizuru Menundukkan Kepalanya.
[7]
"uh? Darimana? Sudah Larut Lhoo"
"Maaf Nee-san, Tadi Aku Ada Sedikit Urusan Tadi"
"Huuh… Tidak Apa apa Sih, Ganti Ke Piyama Dulu Sana"
"Uh^"
Chizuru Masuk Ke Ruang Tengah Dari Rumahnya, Melewati Chitose Yang Memakai Baju Piyama Putih.
[8]
Senin, 6 Mei.
Di Rumah Keluarga Sugiura, Ibu Ayano Sedang Menjilat Kecil Sebuah Bumbu Yang Di Sentuh Oleh Telunjuknya, Dibelakangnya, Ada Ayano Yang Sedang Memperhatikannya Di Sofa Didepan TV.
"Uh? Aya-chan, Mau Belajar Masak?"
"Belajar Masak?…mmm… (Kenapa ibu Tiba Tiba Menanyakan Itu Padaku, Maah, Itu Tidak Salah Sih, ada Kemungkinan Kalau Aku Sudah Harus Bisa Masak Makanan Sehari Hari Saat Sma Nanti Dan Juga Kemampuan Masakku Saat Ini Hanya Rata rata, Tidak Seperti Funami-san Yang Sudah Sangat Handal Memasak)
Bayangan soal Yui, Yang Memakai apron Putih Di Dapur, Memegang Sendok Sayur Dan Mengaduk Sup Di Panci, Lalu Memberi Senyuman Dan Piece Ke Kamera Dari Bayangan ayano, Yang Ntah Kenapa Membuat Ayano Tidak Mau Kalah Dari Seseorang Yang Bisa Dianggap Sahabatnya Sekarang, Dan…… Lebih Muda Darinya. Omong Omong, Yui Adalah Anak Kelas 3 Termuda Dari Anak Kelas 3 Yang Lain Di Smp Nanamori Saat Ini.Cukup Mengejutkan Ketika Mengetahui Soal Mandirinya Dia Saat Ini…
"Baik, Aku Juga Tertarik Untuk Belajar Memasak, Untuk Masa Depan"
"Huh, Bagus sekali Kata Katamu, Kalau begitu Kesini, Potong Bawang"
"Hai^"
"Santai Saja, Potong Bawang Tidak Sesulit Itu, Dan Juga, kamu Tidak Akan Menangis Asalkan Kamu Tidak Memotongnya Tepat Didepan mata"
"Aku Padahal tidak Bilang Apa apa"
Ayano Mendekati Ibunya, Dan Ibunya Mulai Memotong Bawang.
"Tapi Kaa~n, Anak anak Jaman sekarang Selalu Mengira Kalau Memotong Bawang Itu Sangat Membuat Nangis, Nyatanya, Tidak~ *Hiks *Hiks"
"Ibu, Kamu Nangis Lhoo"
"A-"
………
[9]
'Sakurako'
"Kapan Kau Akan Dapat Pertandingan Lagi?"
'Tarou'
"Minggu Depan, Tapi Bukan Turnamen"
'Sakurako'
"Heeh, Kalau Begitu Aku Tidak Akan datang"
'Tarou'
"Itu Terserahmu Saja, Aku Tidak Masalah"
'Sakurako'
"Kau Itu Terlalu Dingin"
'Tarou'
"Kalau aku Dingin, Aku Pasti Tidak bisa membalas chat Ini, Bodoh, Itu Berarti Aku Sudah Mati"
"*Buhuk!"
"uh? Kenapa? Sakurako?"
"Ti-tidak…"
Dirumah Keluarga Oomuro, Sakurako Menahan tawa Dari Obrolan Chatnya Dengan Tarou, Membaringkan Diri di Kasur. Sementara Himawari Duduk Di Kursi Belajar Dan Juga Memainkan Ponselnya, Melihat Lihat Berita Singkat Karna Dirinya bosan.
Lalu, Kotak Notifikasi Muncul Di atas layar Ponsel Himawari, Ia Men Ceknya.
'IsYu'
Himawari menekan notifikasi tersebut Dan Langsung Otomatis Masuk Ke Lime, ke Kontak IsYu
'IsYu --> Ichii'
'Ichii'
"Malam"
'Himawari'
"Selamat Malam"
'Ichii'
"Maaf untuk Yang Kemarin, Aku Cukup Sibuk Dengan pekerjaan Osisku Dan Melihat Oomuro-san Saat Bekerja. Dan Terimakasih Untuk Itu, itu Benar benar Enak"
'Himawari'
"Tidak Masalah, Aku Tau Kalau Kau itu Orangnya Sangat Sibuk, Jadi Tidak Perlu Minta maaf, Dan Syukurlah Kalau Makanan Itu Enak, Senang Membacanya"
***
(Ah, Dia Bilang 'Senang Membacanya', Bukan 'Senang Mendengarnya' Karna Dia Hanya membacanya………)
***
'Ichii'
"*Pesan suara"
(uh? Ada Apa Ini? Tiba tiba……)
Himawari Kemudian Menekan Gambar 'Play' Di Kotak Putih Dari Chat Yang di Kirim Ishii, Dan Mendengar…
"Makanannya Benar Benar Enak, Terimakasih"
Suara Ishii Yang Terdengar Serius, namun Tulus, Suara Besar Ishii Terdengar Di Jarak Diameter 70 Centi, Dan Terdengar Oleh Sakurako.
Himawari Kemudian diam, Dan Mendekatkan Bagian bawah Ponselnya Ke Mulut, Menaruh Ibu Jari Di atas Tombol Bergambar Microphone Di Pojok Kanan bawah Di layar, Kemudian menekannya, Dan Mulai Bicara…
"Uh? Kau Bicara Sama Siapa? Himawari?"
"Tidak~"
"benarkah? Aneh…"
"… ^_^"
"Napa Malah Senyum Senyum"
'Himawari'
"Senang Mendengarnya… Dan, Selamat malam"
[10] ---> [2.5]
"Jadi… Mau Bicarain apa?"
"Akari-san Itu… Masih Merasa Kalau Kamu Masih… Kecil Kan?"
"U-Um^, Akari Itu Masih Kecil, Aku Masih Mudah Panik, Dan Aku Juga Belum Bisa Mandiri Dalam Banyak Hal…"
Haruka Dan Akari Duduk Di Pojok Taman, Taman Yang Ditepati Sebagai Tempat Berangkat Awal Dari Acara Belanja Mereka.
"………"
"………"
"Jaa… A… Apakah… Kamu Mau Merasakan Apa Yang Dirasakan Oleh Orang Dewasa?"
"Uh? (Merasakan Apa Yang Dirasakan Oleh Orang Dewasa?…) Ka-kalau Boleh Tau… Apa Itu?"
Akari Memasang Wajah Bingung, Melihat Ke Haruka Yang Bermuka Terlihat Serius Dari Sampingnya, Tapi Pipinya Memerah.
"A-aku Bisa Bilang… Kalau… Hal Ini Bahkan Pernah Dirasakan Oleh Ikeda-san"
"Uuh… Baiklah, Tapi Memangnya Mau Apa?"
"…… Tu-Tutup Matamu"
"Uh, Baik. (Mencurigakan Sih Tapi Yasudahlah)"
Akari Menutup Matanya, Menaruh Tangannya Di Atas Paha Dan Duduk Tegak
"… Lalu Berdirilah"
"Uh^ Ah! Jangan Langsung Pergi Meninggalkanku Ya!"
"Ti-tidak Akan Kok"
Akari Kemudian Berdiri Tegak.
"Tahanlah… Dan Jangan Terkejut"
Keadaan Saat Ini Adalah Malam Hari,Hanya Beberapa Orang Yang ada Ditaman, Dengan Lampu Lampu Jalan Yang Dilewati Mereka. Sementara, Haruka Berdiri Dan Mendekati Akari Di Samping Kirinya.
Haruka Kemudian Berdiri Didepan Akari Persis, Dirinya Yang Lebih tinggi Dari Akari Membuat Dia Melihat Kening Akari Di Depan Matanya.
Lalu…
Haruka Memberanikan Diri, Ia Menggapai Tangan Kanan Akari Dengan Tangan Kirinya Dan Menggenggamnya Pelan, Akari Terhentak, Sambil Masih Menutup Mata, Lalu…
Haruka Menggenggam Tangan Kiri Akari Dengan Tangan Kanannya, Lalu Menarik Keduanya Ke Badannya.
Akari Merasakan Badan Hangat Haruka Yang Menyentuh Badan Depannya Dengan Pelan.
"……"
"……"
Akari Kemudian Membuka Matanya Perlahan, Wajahnya Agak Merah Dan Matanya Tertutup Oleh Baju Haruka Didepannya.
"… Bagaimana… Sekarang?"
"I… Ini… Membuatku Malu…"
"{Memang Itulah Yang Harus Kamu Rasakan}"
"!!"
Haruka Berbisik…
"Tutup Matamu Lagi…"
Haruka Berbicara Melalui Instingnya, Yang Merasa Kalau Akari Sudah Membuka Matanya Barusan.
Akari Menuruti Permintaan Haruka, Kemudian Haruka Mendorong Kedua Tangan Akari Mundur Dan Badan Akari Ikut Memundurkan Diri.
Haruka Memberanikan Diri Lagi, Memperhatikan Wajah Dengan Pipi Merah Akari, Dan… Melihat Ke Keningnya Lagi… Kemudian Menyentuhkan Pipi Kanannya Pada Kening Akari.
"………"
"……… Aku Menyukaimu"
"…!!"
"Uhm!?!? (A-APA YANG KU KATAKAN!!!)"
"A… A-"
Haruka langsung Melepas Pegangannya, Dan Memundurkan Diri, Lalu Berdiri Tegak Lurus Dengan Gugup Dan Panik.
"I-INI SUDAH MALAM, JADI AKU MAU PULANG! SELAMAT MALAAAAMM!!!"
Haruka Kemudian Meninggalkan Akari Di Taman, Dengan Beberapa Orang Yang Memperhatikannya.
"…… (A-apa Itu… Ugh… Ha-haruka-kun Mengatakan… Hal Yang Masih… Sangat Jauh Dari Pemi… Kiran Ku…)"
Akari Berwajah Merah Dengan Muka Yang Menahan Malu dan Mata Terbuka, Saat Ini… Ia Berada Dalam Pemikirannya Yang Mulai Tumbuh.