
Chapter 47: Penyelesaian Dari Masalah Yang Belum Menumpuk
[1]
"………" {Ah, Selamat Siang, Kei-kun}
"Woh, Siang, kenapa Rise-chan Disini?"
Rise, Memgerakkan Mulutnya Secara Minim, Dan Suara Yang Dihasilkan Juga Kecil, Namun Okuro Memahaminya.
"………" {Sekedar Belanja}
"Belanja Yaa… Mau Kubantu?"
"………" {Makasih, Tapi Tidak Perlu…}
"Heehh, Rugi Lho Menolak Tawaran Orang Tampan"
"………" {Mau Ku Laporkan Polisi?}
"Maaf"
"………" {Apa Kau Memang Selalu Seperti Ini?}
"Tidak! Hanya Padamu Lah, Aku Jadi Seperti Ini, Adikku"
"Aku Bukan" {Adikmu}
"!!!!!"
Okuro Terkaget Sendiri Ketika Berjalan Dengan Rise…
"………" {Apa?}
"Suara Mu Keluar!"
"………" {Aku Memang Suka Bersuara (Akukan Juga Manusia)}
"Guh, Jumpscare Yang Benar Benar Mengejutkan…"
"………" {Jumpscare? Artinya Kaget Kan?}
"Benar! Ah Ya, Coba Kamu Keluarkan Suaramu Di Telingaku?"
"………" {…… Baik…Lah?}
Okuro Yang Tinggi, Agak Berjongkok, Menyamakan Ketinggiannya Dengan Rise…
Rise Berbisik Ke Telinga Okuro, Mengeluarkan Suara Pelan…
"Aku…… Sudah Menyukaimu Dari Lama"
"…………"
\*\*\*
\*2 Tahun Yang Lalu
"………" (Dimana Ya……)
Rise Melihat Kertas Yang Ia Pegang, Tulisannya Seperti Menjelaskan Suatu Alamat…
Ada Beberapa Orang Yang Lewat Didepannya Ia Memakai Seragam Smp Nanamori, Dan Dia Masihlah Kelas 1.
Namun, Ia Saat Ini, Kesulitan Mencari Alamat Dari Rumah Gurunya, Karna Suatu Alasan Yang Membuatnya Harus Pergi Ke Rumah Guru…
"………" {Ano!}
"…… (Kenapa Anak Ini……)"
Rise Hanya Menggerakkan Mulutnya Dengan Minim
Orang Orang Mengabaikannya, Dan Melihatnya Seperti Orang Yang Membagikan Selembaran…
"……" {Ano}
"Uh? Apa Ini?"
Rise Didekati Seorang Yang Tinggi, Dengan Jas Formal Biru Gelap Putih, Membawa Tas Kotak…
"………" {A-aku Mau Menanyakan Alamat}
"Hoohh, Alamatnya Deka- Bukan, Ini Tetanggaku"
"………" {Be-benarkah? Bisa Tolong Antarkan Aku?}
"Uh^ Baiklah, Jaa, Siapa Namamu?"
"………" {Matsumoto Rise Desu}
"Okuro Kei… Nana-san Tidak Memberitahu Muridnya Dengan Benar Jadi Maklumi Saja"
"……" {Yaahh……}
"Etto… Rise-chan, Boleh Dipanggil Begitu?"
"………" {Boleh…… Kei-kun?}
"Uh-huh!… Itu Seragamnya Nanamori Kan? Kelas Berapa?"
"………" {Kelas 1}
"Hoohh……"
"………" {Kei-kun Kelas Berapa?}
"Kelas 2…"
"………" {Sma?}
"Smp"
"!"
Rise Berwajah Kaget, Tapi Tidak Bersuara…
"………" {Kamu Tinggi Sekali……}
"Yaah, Aku Mengikuti Tinggi Ayahku, Dia Ikut Basket Waktu Sma, Tapi Kalau Aku, Fokus Ke Dunia Musik"
"………" {Dunia Musik?}
"Eh^ Aku Main Piano"
"………" {Hebat}
"Benarkah? Haha, Menurutku Hal Itu Jadi Biasa Bila Kau Sudah Lama Menekuninya, Aku Berniat Main Piano Hanya Sampai SMA, Atau Mungkin Sampai Tamat Smp"
Jalan Dilewati.
"………" {Apa Kamu Baru Selesai Kompetisi?}
"Uh^ Di Gedung Besar, Sialan…… Aku Baru Bisa Juara 3, Tapi, Aku Tidak Berniat Mengikuti Semua Kompetisi Disini, Jika Selalu Gagal, Aku Yakin Aku Pasti Stres"
"………" {Itu Sudah Sangat Hebat, Kamu Pasti Jago Memainkannya…}
"Kamu Sendiri Belum Melihatnya……"
Okuro Membuka Pintu, Lalu Sadar…
"Gah! Ah, Maaf, Ini Rumahku, Rumahnya Nana-san Ada Disana"
Okuro Menunjuk Ke Rumah Di Samping Kiri…
Melihatnya, Rise Mengangguk Dan Membungkukkan Badannya, Lalu Pergi Meninggalkan Okuro…
(Okuro Kei Ya…… BerSemangat Lah!)
Rise Menekan Bel Dari Rumah Gurunya…
\*\*\*
\*Satu Tahun Kemudian…
Rise, Duduk Di Suatu Kursi Merah Dengan Banyak Orang Di Depan, Belakang, Kiri Dan Kanannya, Diruangan Yang Gelap Ini, Mereka Melihat Ke Satu Tempat Terang Didepan, Panggung…
Seorang Lelaki Duduk, Memainkan Piano Dengan Handalnya…
Rise Melihatnya Dengan Mata Berkilau, Pipi Merah Dan Mulut Yang Agak Terbuka, Lalu Pada Akhirnya, Penampilan Di Panggung Berakhir, Si Lelaki Yang Memainkan Piano, Bangun Dari Tempat Duduk Dan Membungkukkan Badannya Ke Para Penonton… Begitu Banyaknya Tepuk Tangan Terdengar Di Seisi Ruangan Besar Ini, Lelaki Yang Berada Dipanggung, Pergi Ke Sisi Panggung Dan Tidak Terlihat…
"Selanjutnya… Peserta Nomor…"
Beberapa Penampilan Orang Lain Yang Memainkan Piano Yang Sama, Sudah Terlewati, Lalu, Rise Pergi Keluar, Ke Ruang Tunggu Dan Resepsionis Dari Bangunan Besar Dengan Banyak Kaca Besar… Ia Duduk Di Suatu Kursi Besi Di Sisi Ruangan, Matahari Bersinar Dengan Terang, Beberapa Kali Tertutup Awan, Dan Terbuka Kembali…
Dia Duduk Selama 30 Menit, Dan…
"Yo, Rise-chan…"
"………" {Kerja Bagus…}
"Um Um, Pemenangnya Akan Di Beritahu Di Papan Informasi…"
Okuro Mengenakan Kemeja Dengan Corak Banyak Segitiga Hijau Dan Warna Abu Gelap Sebagai Warna Utama, Baju Putihnya Terlihat, Celana Hitamnya Juga…
Rise Mengenakan Baju One Piece Putih Dengan Warna Merah Sebagai Warna Tambahan Dibeberapa Sudut…
"Yah, Kita Tunggu Saj-"
'1st, Okuro Kei'
'2nd, ^\*^\*^\*^\*^'
'3rd, \*^\*^\*^^\*^\*'
Okuro, Diam Menatap Papan Pengumunan Yang Dikerumuni Orang, Dari Belakang…
"………" {Keliatan?}
"Eh^ Mau Liat, Sini Biar Ku Angkat"
"……" {Tidak, Terimakasih}
"Rise-chan, Juara Pertama… Okuro Kei…"
"………" {………}
"Juara Dua \*^\*^\*^\*^"
Mereka Berdua Pergi Ke Luar Dari Bangunan Besar, Rise Dan Okuro Keluar…
"………" {Apa Kamu Tidak Senang?}
"… Tentu Aku Senang, Tapi, Itu Adalah Tempat Yang Sama Dengan Juara 2 Dan 3, Jika Aku Bersikap Senang, Itu Hanya Akan Membuat Mereka Sakit, Jadi Kita Rayakan Dirumah Saja"
Rise Tersenyum Kecil Pada Okuro…
Okuro Juga Tersenyum Senang, Lalu, Pipinya Memerah Melihat Rise…
Iapun Mengelus Rambut Rise…
"Haahh, Imut Sekali… Kamu Harus Jadi Adikku, Ok^"
"……" {Tidak}
"Ayolah~"
"……" {Tidak}
"Aku Berniat Men Cat Rambutku, Warna Oren Mungkin Cocok, Seperti Sedikit Di Bagian Depan"
"………" {Kamu Pasti Akan Terlihat Seperti Anak Nakal}
"Jangan Bilang Begitu, Hahaha, Aku Bisa Saja Begitu Lho…"
Rise di Elus Lagi…
"Yosshh!!!! Mari Kita Rayakan!"
"………" {Ooohhh!!!}
\*\*\*
\*Sekarang
……
"………"
"………"
Okuro Kei, Berdiri Tegak, Di Jalanan Kosong Ini, Rise Mengatakannya… Berbisik……
"…… \*Huuff, Aku Jadi Malu Bila Kamu Bilang Begitu…"
"………" {Aku Yang Bilang Juga Malu…}
"Tidak Terlihat Sekali…… Aku Juga"
Okuro Menggaruk Kepalanya Dengan Ragu…
Rise Menundukkan Kepalanya Dengan Malu…
"………" {Jadi… Begini Rasanya Punya…… Pacar Laki Laki}
"W-wah… Aku Tidak Akan Menolak Hal Itu… Aku… Sangat Senang Kamu Mengatakan Itu…… Ayo Pulang"
"………" {Tidak…}
"Eh? Kenapa Tidak?"
"………" {Akukan Mau Belanja…}
"Ah, Benar Juga…"
Rise Tersenyum Lebar Pada Okuro, Sedikit Melihat Ke Atas Agar Dapat Melihat Wajah Okuro Dengan Jelas… Pipi Merah Mereka Tidak Terhindari……
\[2\]
"Tsurui-san…" \[Mas Curang\]
"Uugh…"
"Ahahaha, Jangan Gugup Begitu, Aku Tidak Melakukan Apapun Kok"
"Minimal, Ubahlah Nama Panggilannya, Jangan Disamakan Dengan NickName Lime Ku"
"Ahaha, Tapi, Benar Juga Ya, Aku Juga Jadi Susah Bila Ada Kata Kata Yang Penyebutannya Sama……"
"………… Sialan, Aku Benar Benar Buntu…"
"Pikiranmu Sekarang Lagi Pendek Ya, Rasanya Jadi Kasihan"
"……Nnnnngggg……"
"Mmmhh, Bagaimana Kalau Tsuru? hanya i Nya saja Yang Di Hilangkan, Tapi Cukup Baguskan"
"Tsuru Ya, Um Um^, Sepertinya Bagus, Kenapa Aku Tidak Bisa Memikirkan Hal Sesimpel Itu Sih!"
"Sudahlah, Kita Berdoa Saja Dulu…"
Sepasang Laki Laki Dan Perempuan, Merapatkan Tangan Di Depan Kuil… Berdoa.
~
"Mau Coba Keberuntungan?"
"Eh^ Kita Coba Dulu…"
Si Lelaki Berpikir…
(Aku Harus Dapat Bagus!! Aku Harus Dapat Bagus!! Aku Harus Dap-)
'Sangat Beruntung'
"…………" (YOOSSHHHAAA!!!!!!!!)
"Mmm Mmm"
"Kamu Dapat Apa?"
"Masa Depan Cerah"
"(Bi-biasa Sekali… Tapi!! Aku Dapat Yang Sangat Beruntung!! Aku Pasti Sedang Beruntung Karna Mendapatkan Sangat Beruntung Ketika Keberuntunganku Sangat Beru-)"
Mizaki… Di Guncangkan Di Pundak, Dan Ia Tersadarkan Dari Pikiran Nonstopnya, Ia Berbalik, Melihat Ke Chitose…
"Aku Tau Kok Kalau Ini Biasa Saja, Kalau Begitu, Ayo Kita Makan Dulu…"
"U-uh^" (Kenapa Kamu Tau……)
"ah, Chitose-chan, Apa Kamu Pernah Terpikirkan Dengan Cola Panas?"
"Uh, Apa Maksudnya?"
"Coca Cola, Tapi Yang Panas, Bukan Yang Dingin"
"Eeh? Bukannya Itu Mustahil, Dan Juga, Kalau Ada Panasnya, Airnya Akan Menguap Dan Hanya Akan Ada Karamel"
"Karamel?! Apa Kamu Pernah Mencobanya?"
"Ya, Yah, Aku Bodoh Sekali Sampai Mencoba Hal Itu……"
"Ya-yah… (Aku Juga Bodoh Karna Menanyakannya, Maaf…)
Mereka Sampai Di Restoran Cepat Saji, Dan Mengantri Pesanan…
Mizaki Membawa Sebuah Papan Angka 2, Dna Mencari Chitose Yang Sudah Duduk Duluan…
Mizaki Melihat Chitose Ada Di Sisi Tempat Duduk, Melambaikan Tangannya Pada Mizako Yang Melihat Kiri Kanan Barusan
Ia mendekatinya, Dan Duduk Di Sebrangnya…
"Tadi Kamu Pesan Susu Coklat Dingin Kan?"
Sambil Duduk, Mizaki Menaruh Papan Merah Nomor 2 Di Tengah
"Eh? Tidak Tuh"
"eh?… A-apa Aku Salah Dengar?"
"Ahaha, Tidak Kok, Aku Hanya Becanda"
"…… Kamu Jadi Sering Bercanda Akhir akhir ini"
"Benarkah? Hee… Aku Juga Tidak Mau Suasana Yang Dingin Dan Serius, Tsuru-kun Juga Begitu Kan?"
"Benar Sih……"
\*\*\*
28 Desember…
Mizaki Di Peluk Oleh Chitose Di Depan Stasiun Yang Kosong…
Mizaki Berwajah Panik, Dengan Beberapa Keringat Yang Muncul Dan Bertetesan…
"………"
"……… \*Huufff… Ike- Chitose-chan…"
"!!"
Chitose Bereaksi, Dan Melihat Ke Wajah Mizaki Perlahan, Karna Tinggi Mereka Hampir Sama, Wajah Mereka Berhadapan… Chitose Menutup Matanya Lama… Sedangkan Mizaki Menatapnya Dari Dekat Dengan Diam…
Chitose Perlahan Mendekat…
Mizaki Mengalami Kelebihan Pikiran, Dan Reflek…
Mizaki Mengangkat Tangannya, Dan Menutup Mulut Chitose, Dan Memundurkan Badan Chitose Dari Dirinya
Chitose Berwajah Bingung… Memiringkan Kepalanya…
Mizaki Menunduk Sambil Memegang Pundak Chitose…
"Nanti Saja…… Memang Benar Kalau Aku Menyukaimu Tapi, Bi-bisakah Kamu Melakukannya lagi Saat Aku Sudah Siap? Chitose-chan!"
"……\*Malu… U-Um^ Ba-baiklah…"
"…… Baiklah… Ja-janji?"
"U-uh^"
Mereka Merapatkan Jari Kelingking Didepan……
"Ugh, Memang Benar…"
"Mungkin Kalau Ku Panggil Tsurui-kun, Tidak Masalah Ya?"
"Uhh, aku Agak Menolaknya"
Begitulah Alasannya, Hubungan Mereka
\*\*\*
"Silahkan Dinikmati"
Pelayan Yang Membawa Nampan Besar, pergi, Setelah Mengambil Papan Nomor 2 Dan Menaruh Makanan Di Meja Chitose Dan Mizaki…
Mizaki Menumpahkan Kentang Goreng Di Alasanya, Dan Mengambil Satu Potong, Lalu Merasakannya…
"Geh, Rasanya Lebih Asin Dari Biasanya"
"Benarkah? Kapan Terakhir Kali Kamu Kesini?"
"kemarin"
"Heh? Sesering Apa kamu Kesini?"
"4 Kali Seminggu"
"Hooh, Cukup Sering Ya, Mungkin Para Staff Akan Kenal Dengan Wajahmu"
"Mungkin, Kalau Tau Begitu, Aku Jadi Ingin Dapet Diskon Sebagai Pelanggan Tetap"
"Benar Ya, Tapi Jangan Terlalu Berharap"
"Uh-huh"
"Ah, Chitose-chan Punya Adik Kembar Kan?"
"Uh^ Namanya Chizuru, Dia Manja Sekali Lho, Tapi Dia baik Kok… Oh Ya, Mengingat Soal Chizuru, Orang Bernama Souki Rejima Itu Sepertinya Sedang Dimarahi Chizuru Waktu Pulang Dari Kuil"
"Souki Ya, Dia Orangnya Hebat Lho, Dia Seperti Ninja Di Dunia Yang Damai Ini"
"Kamu Seperti Melebihkannya, Tapi Kalau Memang Benar, Chizuru Juga Pernah Bilang Kalau Souki Punya Kekuatan Aneh"
"Benar, Dia Seperti Bisa Langsung Berpindah Tempat Langsung Kebelakangmu"
*Mereka Malah Membicarakan Banyak Hal,
[3]
"Kenapa? Aya-chan, Dari Kemarin Kamu Murung Begitu, Apa Ada Masalah?"
"Ti-tidak Kok, Ibu, Hanya Ada Sedikit Masalah Osis, Belum Kuselesaikan"
"Aah, Yang Di Kotak Pos Itu Ya, Yaah, jangan Murung Kurung Ya, Cantiknya Hilang"
"Uh-huh, Terimakasih Ibu"
Mereka Berdua Mengobrol Di Meja Makan.
"\*Huufff, Tiap Kali Ku Ingat, aku Malah Kesal Dan Malu Sendiri, Hhnngg!!!!! MOU MOU MOU!!! Kase-kun Bodoh!!!!"
\* "Acchhoo!!!"
"Rakkun Tutup Mulutmu"
"Maaf"
\*
Ayano Memeluk Bantalnya Dengan Keras dan Erat, Menutupi Mulutnya Yang Berteriak, Dan Seperti Mau Menangis…
Di Balik Bantalnya, Ia Menggigit Gigit Dan Memasukkan Bibirnya Ke mulut, Merasakannya…
Lalu……
Senin, 7 Januari Di Sekolah…
Ayano Masuk Ke Kelas 2 - 5, Mendekati Tempat Duduknya, Ia menggantungkan Tasnya Dan Duduk…
Para gadis Sedang Mengobrol Di Tiap Kursi Mejanya, Lalu, Badai Yang Dulu Disukai Ayano, datang…
"Pagi Ayaanoo!!!!!!"
"Uwaahh!!"
Ayano Yang Lagi Lagi Menggigit Bibir Dan Memasukkannya Ke Mulut, Dikagetkan Oleh Kyouko Yang Tiba tiba memeluknya Dari Belakang…
"*Ndus Ndus, Hooh, Wangi Rambutnya Tercium Lebih Segar Sekarang"
"Mou, Tau Darimana Sih, Lepaskan Aku…"
"Haaaii^"
Kyouko Melepas Pegangannya dan menaruh Tasnya Di Gantungan Meja di Depan Kiri Ayano.
Kyouko Kemudian Mendekati Meja Ayano, menjatuhkan Badannya Ke Bawah Dan Perpegangan Di Kedua Sudut meja.
Ia melihat Ayano Yang Melakukan Gerakan Bibir Dari Bawah…
"………"
"………"
"……Hah!!"
"Gah!! Bikin Kaget Saja"
"A-ayano…… Aku Mau Bilang Sesuatu, Nanya Sih"
"Uh? Apa? Bilang Saja"
"Kamu…… Habis Ciuman Ya?"
"HAAHH!!!!! A-a-a-apa Yang Kau Bicarakan Ini!!!?!?!? (KENAPA DIA TAAUU!?!!?!?!?!?!)"
"Huuhh, Jadi Belum Ya, Rasanya Bibirmu Sering Dimainkan Daripada Biasanya"
"A-apa Maksudmu…?"
"Jadi, Waktu Aku Pertama Kali Melakukannya…"
Kyouko Membuat Kerucut di Tiap Tangannya, Dan Membuatnya Saling Bersentuhan, Seperti Ciuman.
"Setelah Itu, Aku Jadi Sering Memainkan Bibirku Seperti Itu, Atau Hanya Aku Saja ya?"
"I-itu Hanya Perasaanmu, Lagian, Mana Mungkin Aku Melakukannya Sekarang?! Humph!"
Ayano Menenangkan dirinya Dengan Wajah Yang Masih Ragu, Ia berSikap So Tegar…
(Heh?!? To-toshinou-san Pernah Mengalaminya Juga?!? A-apa Inikah Yang Namanya Pengalaman Dari Seorang Pro?!?)
"Pagi"
Yui Masuk, Pergi Ke Barisan Ke 4 Dan Menaruh Tasnya…
"Pagi! Yui-nyaa!"
"Iyah, Pagi"
"Pa-pagi, Funami-san"
Yui Ikut Ke Meja Ayano…
"Uh? Ada Apa Ini?"
"Gini Loh, Ayano Bertingkah Seperti Baru Ciu-"
"GAAHH!!!!!!"
Kyouko Di Tampar Dengan cepat Oleh Ayano…
Yui Hanya melihatnya Dengan Mata Biasa…
"heeh, Aku Penasaran Sih, Tapi Kalau Mau Dirahasiakan Juga Tidak Apa…"
"U-um^ Maaf, Funami-san"
"tidak Apa Lah, Orang Orang Pasti Punya Rahasianya Sendiri, Aku Juga Kok"
"Huff, Makasih, Funami-san"
Mereka Memaklumi, Bukan Pada ayano, Tapi Memaklumi Kyouko Yang Berdrama Tercampakkan Seperti Di Drama Setelah Ditampar.
"Chitose, mau Kekantin?"
"Uh^"
"aku Ikut"
"Ayo~"
"AYAANOO!!!!!!!"
Kyouko Memeluk Ayano Dari Belakang Lagi Ketika Dilorong, Beberapa orang Lain Melihatnya Dan Tertawa Kecil, Lalu Chitose Melihatnya Dengan Fokus…
(Ntah Kenapa, aku Jadi Tidak Terlalu Ingin Masuk Ke Mode Fokus \[Mimisan\], Jaa Biarku Coba Dulu)
Chitose Melepas Kacamatanya, tapi, Ketika Ia Sudah Membayangkannya, Darah Tidak Keluar. Karna Menyadarinya, Chitose Mengganti Pikirannya, Dengan Bayangan Tawaka dan Kyouko Yang Bermesraan, Darah Keluar.
"Haahh, Kenapa Ya~~? Seleraku Jadi Berbeda Sekarang, Haha~~"
"Gaah!! Chitose!!"
"Maaf Ya, Khayalanku Berlebihan (Sepertinya Pemicu Dari Hal Seperti Itu Sekarang Jadi Berbeda Buatku, Uuhh, Kenapa yaa……)"
"Mou"
"Chitose tidak apa Apa?"
"Tidak apa Apa Kok…"
"Jadi, Ada Apa, Toshinou-san"
"Aahh, Aku Mau Memastikan Lagi, Apa Karna Ciu-"
~
Kyouko Berbaring Di Lorong…
~~
"ahaha, Ada Apa Ini, Ayano-chan, kamu Jadi Sensian Sekali"
"Tidak Ada! Mou! Kita Kekantin Saja"
"Nah Chitose, A-apa Kamu Pernah Kepikiran…"
"Uh? Kepikiran Apa?"
"Ke-kepikiran So-soal Ciu…… Ciuman Pertama…"
"Aahh, Gimana Ya…"
Chitose Menunjuk Pelipis Kepalanya, Berpikir…
"Aku Pernah Mau Melakukannya"
"Ap- Chi-chitose Pernah?!?"
"Bukan Pernah, Hanya 'Mau' Melakukannya Dulu"
"Be-begitu Ya… \*Huuff…"
"Memangnya Kenapa Ayano-chan?"
"Ti-tidak Kok, A-aku Hanya ingin Tau Saja…… rasanya…"
Ayano Hanya berbisik Di Ujung Kalimatnya…
"Rasanya?? Hhmm, Mungkin Seperti Ciuman Biasa, Yah Aku Kurang Tau Sih"
Selasa, 8 Januari, Di Ruang Osis…
"Ayano-chan, Bibirmu Memangnya Kenapa?"
"Eh? Kenapa Kamu Menanyakan Itu?"
"Tidak, Rasanya, Ayano-chan Jadi Sering Memainkan Bibir Dari Kemarin"
"Be-be-benarkah?"
"Um^, Benarkan, Ketua"
"………" {Iya, Dari Kemarin Seperti Memainkannya Terus}
"???"
"???"
"………" {Kenapa?}
"Oh Ya, Ketua, nanti Setelah Lulus, Mau Lanjut Ke Mana?"
"………" {Ke Sma Seiri}
"Huh??"
Karna Sadar Omongannya Tidak Didengar, Rise mengeluarkan Buku Dari Tasnya, Dan Menulis, Dan membalikkan Bukunya.
'Ke Sma Seiri'
"(Ah, Begitu Juga Bisa ya…) Heeh, Begitu Yaa, Apa Alasannya"
'Karna Cukup Dekat Dan Aku Punya Kenalan Disana, Sekolahnya Juga Cukup Bagus Waktu Aku Diperlihatkan Fotonya'
"Begitu Ya…… Aku Juga Sepertinya mau Ke Sei-"
Kata kata Ayano Terhentikan, Ketika Pikirannya Berkata 'Aku Akan Bertemu dengan Kase-kun, Setiap Hari Setiap Jam Dan setiap Menitnya Bila sekelas Dan Satu Sekolah Dengannya'
"Gah!"
Ayano Menampar Dirinya Sendiri, Himawari, Chitose Dan Rise Terkejut, Sakurako Kaget Ketika melihat Sebuah patung Dari Mobil Keluarganya Di Jalan Di Acara keluarganya Hari Ini.
"Ke-kenapa, Ayano-chan?"
"Ti-tidak, Aku Hanya Terlalu Banyak Berpikir Barusan… Aku Harus menenangkan Diriku"
Ayano Menaruh Tumpukan Kertas di Meja, Berbalik Dan Mendekati Kulkas Kecil Di Pojok Ruangan, Membukanya, Dan Mengambil Satu Wadah Puding, Lalu Memakannya Sambil Duduk…
"Senpai Yakin Tidak Apa apa?"
"Tidak Apa Apa Kok, Tenang Sa-"
Perkataan Ayano Terhenti Ketika Dirinya membayangkan, Kase yang Memastikan keadaannya Barusan, dan Bukan Himawari.
Ayano Menaruh Pudingnya, Dan Menampar Dirinya Lagi Di Sisi Lain.
Himawari, Chitose dan Rise Terkejut, Sakurako Terkejut Ketika Ada belokan Tajam Yang Dilalui Mobilnya Yang Membuat Dirinya Terbawa Ke Kanan, Mendempet Adiknya, Iapun Dimarahi…
"Senpai……"
"Ti-tidak Apa Apa kok, Furutani-san, Terimakasih Karna Telah Mengkhawatirkanku…"
"Yakin Ayano-chan? Kalau Tidak Enak Badan, Kamu Bisa Pulang Duluan kok"
"Tidak Apa, Kita Selesaikan Saja Dulu Ini"
Ayano Keras Kepala
Pada Akhirnya, Ayano Menampar Dirinya Sendiri 5 Kali…
Selasa, 8 Januari, Sore Hari.
Ayano Berjalan Dengan Lemasnya, Memegang Pipinya yang Merah Sakit…
Ia Berjalan Di Sebuah jalan Kecil Selebar 2 Meter, Yang Hanya bisa Dilalui 2 Orang.
"*Huufff (Aku Malah Sakit Sendiri… Selain Itu, Jalan Ini Sepi Sekali, Aku Jadi Takut Kalau di Serang)"
Ayano Menyadari Sebuah Pertigaan Di Jalan kecil Ini, Dengan Waspada, Ia Berjalan Dengan Hati Hati Saat Mendekatinya, Dan.
"DAAARR!!!!!!!"
"Uwaah!!!!!!"
"Aduh!!!"
Ayano Melempar Tasnya, Ketika Seseorang Muncul Dengan Tiba tiba Dan mengagetkannya dengan Gerakan Dan Suara, Orang yang Dilempar, Berbaring Di Tanah…
"Ah, Ma- HAH!!! Ka-ka-ka-kase-kun?!?!?!"
"Itte… Ah- AAAWW!!!!"
Ayano Yang sudah Membawa Tasnya, Melemparnya lagi Ke Kase Yang Baru Berusaha Bangun.
"a- Ma-Mau Apa kau!?!?!?"
"Aduh, A-aku Mau Minta Maaf…"
"a-apa?!"
"Maaf Karna sudah Melakukan Itu Padamu"
Kase dengan Cepat Berdiri, Dan Menbungkukkan badannya 90*.
"………"
"………"
"…… (Ka-kalau Kupikir pikir Lagi, aku Tidak Bisa Begini Terus Dengan Kase-kun, Se-sepertinya Aku Harus Memaafkannya, Apa boleh Buat…)"
"Aku Pikir kau Sekarang Lagi Memikirkan Soal 'Serangga Sepertimu Mau Minta maaf?!"
Pukulan mendarat Di Atas Kepala Kase Yang Masih menunduk.
~
"Mou!! Kamu Niatnya mau Dimaafin Atau tidak sih!"
"Ma-mau"
"Guuh, Yasudah, aku Maafkan, Walaupun… Hal Itu Tidak Dapat Digantikan Dengan apapun"
"Itumah Apa Boleh Buat, Kamu Juga Tidak Akan Bisa Tenang Bila Aku Tidak Melakukannya"
"………"
(Eh? Kenapa Dia malah Diam? Apa Aku Berkata Salah Lagi? Eh? Eh? EEHH!!!???)
Kase Berpikir Keras Tentang Reaksi Ayano Ketika ia Mengungkitnya…
Ayano Menyandarkan dirinya Ke Suatu Dinding Dari Rumah Bata.
Memegang tasnya Didepan dengan Kedua tangan, berwajah Merah Dan Sekali kali Melirik Ke kase Yang Ada Didepannya denga Seragam Smp Seiri.
"Ja-jaa… Ka-karna Memang Tidak Tergantikan…… Bisakah… Kamu-"
(GAS SAJA LAH!!)
Memegang Kedua Pundak Ayano Tiba Tiba, Dan Menariknya, Lalu Menariknya Ke Pelukan Badannya…
Ayano Merasakannya, Hangat Dingin Dari Badan Kase, Pipi Kanannya Yang Bersentuhan dengan Leher Kase, Ia Merasakannya… Lalu… Ia Merasa Senang Ntah bagaimana…
~
"Hehe, Bukannya Sudah Cukup?"
"Aah, Maaf"
"Tidak Apa, Aku Sendiri Juga…… Ma-mau Melakukannya"
"Aahh, Imut Sekali, Ayano-san…"
"Bilang Apa Kamu Ini! Hmph! Hehe, Rakkun……"
"(Tsundere Ya, UWAAHH!!!! Mantap!!)"
Kase memundurkan Dirinya, Melepas Pelukannya Di Jalan Kosong Diantara Rumah Rumah Ini…
"Kalau Begitu, Aku Mau Pulang Dulu, Dadah"
"U-Um! Dadah!"
Ayano Melambaikan Tangannya Dengan Malu Senang, dan meninggalkan kase.
(Uwaahh!!!! Sialan!! Kawaii!!!!! Haahh!! Jadi Ingin Kukenalkan ke Ibuku……)
Kase Terlalu Senang…
Masalah Sudah tidak Menumpuk.
[Ada Kemungkinan Penambahan Atau Pengurangan Cerita. Ini Hanyalah Cerita Dari Seorang Amatir Yang Sering Menggunakan Kalimat Yang Sama. Banyak Karakter Di Cerita Ini Di Buat Oleh Pembuat Yuru Yuri Aslinya, Penulis Hanya Banyak Mengkhayal, Jadi DiMohon Untuk Tidak Mengambil Serius Cerita Ini]