
Kepanikan menyelimuti pagi hari Alma, dia kesiangan.
"Astaga, bagaimana bisa aku kesiangan seperti ini!' batinnya yang terus saja panik.
Almahyra Mairana, gadis berparas cantik berusia 16 tahun yang masih duduk di bangku SMA kelas 10.
Ia langsung mengeluarkan motor D-Tracker nya dari garasi dan mengendarai nya secepat kilat di tengah ramainya ibu kota.
Di dalam hatinya terus saja mengumpat karena banyak kendaraan yang menghalangi nya.
BRAK!
suara yang dihasilkan saat ada mobil yang menyerempet motor Alma hingga hampir jatuh mencium aspal, untung saja Alma bisa mengendalikan kendaraannya.
"Hei, apa kau tak punya mata untuk melihat manusia sebesar ini sedang menaiki motornya?!" Kesal Alma saat pemilik mobil sport itu keluar.
"Apa kau juga sama tak punya mata? Sudah tau jalan sedang ramai kau malah menghalangi jalanku!'
"apa solusinya harus menyerempet juga? tentu tidak mungkin, dasar gila!"
"Aku jadi terlambat gara-gara mulut bawelmu itu!"
"Aku juga terlambat karena kau seolah-olah jalan ini adalah milikmu!'
"Urusan kita belum selesai, aku akan buat perhitungan pada wanita liar seperti mu"
Laki-laki itu langsung meluncur dengan kecepatan tinggi, Alma hanya menggelengkan kepalanya dan menyusul tak kalah cepat.
...⛅...
"Hari Senin hanya kalian yang terlambat, hukuman yang akan bapak beri adalah membersihkan seluruh kamar mandi di lantai 3" ucap seorang guru piket yang mengetahui jika Alma dan pria yang menyerempet tadi juga terlambat.
Alma terus saja berjalan dengan rasa kesal yang sangat memuncak. sudah kesiangan, di serempet sama manusia gila dan di hukum pula.
"Ini semua gara-gara kau, bersihkan saja sendiri" Arlan, nama pria itu.
Arlan Septian, laki-laki kelas 12 dengan gelar si trouble maker dan tampan.
"Bisa-bisanya kau menyalahkan orang lain di atas kesalahan mu?! Kerjakan apa yang sudah diperintahkan, jangan mengganggu pekerjaan ku!" Alma kembali mengerjakan pekerjaan nya.
Alma merasa kesal, sangat kesal.
Bukannya mengepel, Arlan malah membuat lantainya becek.
"Apa kau tak bisa mengepel juga?"
"Tidak, Pekerjaan ini tak cocok dengan wajah tampanku"
Alma akting seolah-olah muntah.
Alma memegang gagang pel Milik Arlan, ia menuntut dan mengajari Arlan bagaimana caranya mengepel.
Arlan tertegun, detak jantungnya tak stabil. apa yang terjadi?
"sudah bersih, aku kembali duluan" Alma beranjak namun terhenti karena Arlan memanggil.
"Sorry, kau anak dari kelas mana? Aku tak pernah melihatmu"
"Aku dari 10 IPA 1, sudah? Aku harus pergi"
"Pergilah"
Siluet tubuh Alma sudah menghilang di balik pintu.
...☀️...
Keringat sudah membasahi pelipis Alma, dia sedang berlatih basket dengan teman-temannya.
Fokus, Alma sangat fokus. sampai tak sadar saat hendak shooting ternyata pukulannya terlalu keras hingga mengenai seorang siswa yang berjalan di sekitar lapangan.
Alma menghampirinya lelaki yang jatuh tersungkur itu, dia jongkok untuk menyamakan posisinya.
"Kau? Beraninya kau melempar ini padaku?!" Ucapnya sembari memegang bola basket.
"aku minta maaf" dengan berat hati Alma mengatakan itu.
"Astaga, kau lagi?! entah kesialan apa lagi yang mengikuti setelah bertemu denganmu" sungut Arlan saat tau ternyata itu adalah Alma.
"jadi kau mengataiku pembawa sial, huh?"
"tentu"
"Sialan"
"Bukan aku yang pembawa sial, tapi menang hidup manusia gila seperti mu yang penuh kesialan" Sinis Alma kemudian mengambil basket dari tangan Arlan kemudian pergi meninggalkannya yang masih terduduk di tanah.
"cih, pria tampan seperti ku di perlakukan seperti ini? cih, wanita gila"
...🍄...
Arlan pov.
"Bro, Korek" aku meminta korek ke temanku, Reyhan. Reyhan pun memberikan koreknya.
Aku pun menyalakan korek dan mulai menghisap satu buah rokok ku.
Hari ini pikiranku hanya di penuhi dengan wanita gila itu, bisa-bisanya dia yang masih kelas 10 berani nyolot dengan Kakak kelasnya yang sudah jelas tampan luar biasa.
"Kau kenapa? Wajahmu terlihat sedang kesal" tanya Reyhan yang juga sedang merokok.
"tentu saja, akhir akhir ini aku selalu tertimpa kesialan karena seorang perempuan kelas 10 di sekolah"
"dia terobsesi denganmu?"
"sebaliknya, dia malah menolakku dan memanggilku manusia gila"
Reyhan yang mendengar penjelasan ku langsung tertawa terbahak-bahak, baru kali ini dia mendengar seorang Arlan ditolak oleh adik kelasnya sendiri. aku hanya mendengus kesal melihat Reyhan yang tak henti-hentinya menertawai dirinya.
aku membuka segel kaleng bir ku dan menegaknya perlahan.
aku memikirkan gadis itu lagi. siapa dia? siapa namanya dan bagaimana asal-usul nya? sepertinya aku benar-benar tertarik dengan dia. aneh, dia menolak laki-laki sempurna seperti ku, bahkan aku merasa jika aku terlalu sempurna untuk dimiliki perempuan perempuan di luaran sana.
back to author pov.
batang rokok dan bir adalah sahabat terbaik Arlan setelah reyhan dan 2 temannya yang lain, farhan dan Miko.
"sudahlah hentikan, kau sudah hampir menghabiskan setengah bungkus rokok dan bir itu. nanti kau akan mabuk" Reyhan mencegah Arlan yang hendak mengambil bir lagi.
"diamlah, aku sedang frutasi!"
"terserah kau saja, jika kau terkena masalah karena papa Lo itu aku ga akan ikut campur"
tbc. . .