YOUNG | Unpublish

YOUNG | Unpublish
ngilang



"setan atau bukan? itu rambutnya berantakan mana di bawah pohon. samperin ga nih? masa ada setan siang bolong begini? samperin ah, lumayan juga kalo setan nya cantik"


Danish berjalan menghampiri nya. semakin dekat dia berjalan, semakin kencang juga detak jantung nya.


"mba Kunti, maaf ya. tapi gw baru tau kalo ada mba Kunti pake seragam SMA, canda SMA. bismillah mba Kunti pasti ga marah!" batin Danish.


sekarang, Danish sudah di depan nya. ia berjongkok dan bertanya.


"permisi, kamu kenapa disini? di kick dari neraka ya sampe muncul di dunia siang bolong begini?" tanya Danish dan kemudian dia mengangkat kepalanya menghadap ke Danish.


"hm?"


"Astagaa!! ini Lo Al? gw kira Lo mba kunti pake seragam SMA!"


"btw mata Lo? Lo nangis? kenapa Lo nangis?"


"jangan tanya gitu kak, ntar gue nya tambah nangis" Alma Menyebikkan bibirnya.


"lah emang kenapa?" Danish merasa bingung dengan jawaban Alma.


"udah kak, gue gapapa" ujar Alma.


"yakin? gw ga mau kalo ujung-ujungnya jadi masalah keluarga Al. gara gara Kak Arlan? bukan gara gara dia kan?" Danish memastikan kalau penyebab Alma menangis bukan lah Arlan.


"bukan kak, lupain aja gue gapapa kok" Elak Alma.


"gw ga maksa Al, tapi kalo ada sesuatu yang buat Lo ga nyaman Lo bilang ke gw Biar gua bisa bantu, apalagi kalo ini gara gara kak Arlan. gw bantu jelasin ke dia!"


"engga usah kak, biarin dia bebas"


"hah? gw makin ga paham Al. jelasin ke gw dikit-dikit" Danish duduk di sebelah Alma dan menatap matanya.


"d dia ngambil contekan Dari cewe yang udah jelas-jelas suka sama dia. mana dia caper, dia juga temennya Lidya yang pernah ikutan rencana Lidya" jelas Alma.


"sebentar, rencana apa maksud Lo?"


"lupain kak, intinya gitu"


"engga Al, Lidya itu urusan gw. jelasin!"


"Inget lebam di tanah gue?"


"iya-iya Inget, jangan bilang ini ulah mereka?"


"iya kak, ini ulah mereka tapi syukur gue bisa Handle nya"


"gila, Lo gua tinggal bentar gapapa kan?"


"iya gapapa kak, yang penting jangan bilang ini sama siapapun. gue percaya sama Lo kak"


"iya Al, gw ga bilang siapa-siapa",


kemudian Danish meninggal Alma di bawah pohon sendirian, 7 menit kemudian bel berbunyi. Alma segera Merapihkan rambutnya dan langsung berlari menuju ke toilet untuk mencuci muka nya.


perlahan, ia memasuki kelas nya. ia duduk di tempat duduk dan Mya memperhatikan Alma.


"Lo dari mana aja Al? daritadi kak Arlan nyariin Lo. Lo belum makan siang kan?"


"engga papa Ya, lo tenang aja"


"Lo kenapa Al? mata Lo bengkak. abis nangis?"


"lupain, guru nya udah Dateng"


Mya merasa aneh saat melirik Alma. Alma terlihat jauh dari biasanya. dari tatapannya saja kosong, dan terkadang melihat ke jendela dengan tatapan sendu. biasanya dia tersenyum dan memasang wajah bingung yang biasa saja, tapi kali ini dia terlihat sangat berbeda.


"ni anak kenapa lagi? biasanya juga paling bersemangat?"


ujian hari ini berakhir, Alma langsung buru-buru Berlari keluar kelas dan pulang lebih awal. Mya memanggil nya tetapi Alma sama sekali tak mendengar nya dan fokus Berlari kencang dan berlari lebih dulu.


Mya POV||•


Aku melihat Kak Arlan yang berlari menuju kelas ku.


dia menghampiri ku dan bertanya padaku.


"Alma kemana?" tanya nya.


"dia tadi buru-buru lari pulang, gw udah coba buat cegah dia tapi dia lari kenceng banget" jelas ku.


"haishh, sial!" kesal nya Meremas rambutnya Sendiri dan langsung keluar dari kelas.


Mya pov end


back to author POV||•


Arlan kembali berlari kencang menuju lantai pertama untuk bertanya ke kelas Vanya. barangkali dia menemukan Alma disana.


dia langsung memasuki kelas nya dan bertanya pada Vanya.


"Van, udah liat Alma?"


"panjang ceritanya, mendingan Lo ikut gw buat cari Alma!"


"iya kak!, guys gw duluan ya!" pamit Vanya lalu langsung berlari keluar dengan Arlan.


"iya Van!" ucap Raina.


"mereka berdua lari berdua, jangan-jangan mereka selingkuh?" ujar Zain.


"hust omongannya, mau gw geplak lu? ngomong kok aneh-aneh. ga mungkin Vanya kaya gitu, lagian kak Arlan udah sayang sama Alma"


~di halaman


"kak!" panggil seseorang.


Arlan dan Vanya menoleh ke belakang untuk Melihat siapa yang memanggilnya.


"kenapa? cepet bilang gw ga punya banyak waktu!"


"soal Alma" jawab Danish dan Arlan langsung mendekat ke Danish dan memegang kedua pundak Danish.


"jelasin cepet!"


"maafin gw Al, dia suami Lo dan gw harus bilang ke dia" batin Danish.


"Lo Inget soal Lebam di kedua tangan Alma? itu ulah Lidya sama temen-temen nya termasuk cewe yang kasih Lo contekan" jelas Danish.


Arlan langsung membulatkan matanya terkejut dan Vanya langsung menutup mulutnya dengan tangannya karena Kaget dengan pernyataan Danish.


"ga usah ngaco lu"


"buat apa gw ngaco? Alma yang jelasin ke gw tadi di bawah pohon beringin belakang sekolah! jagain dia yang bener kak, kalo Lo ga becus Lo bisa kasih Alma ke gw. gw bisa jagain dia, ga peduli bekas Lo atau siapapun gw terima Alma apa adanya. gw ga tega liat Alma kaya gini kak!" tekan Danish dan Arlan emosi mendengar itu. Arlan sudah bersiap memukul wajah Danish tapi Vanya langsung menahan tangan nya.


"kak, kita ga butuh Tonjok tonjokan sekarang, sekarang kita perlunya cari Alma" jelas Vanya lalu Arlan melepas cengkraman nya.


"kak, makasih ya!" ucap Vanya.


"iya, sama-sama" jawab Danish.


Vanya langsung membawa Arlan pergi ke mobil dan Arlan menyetir mobil nya.


"Van, telfon rumah nya Alma. gw coba terlfon Rumah gw" pinta Arlan.


"iya kak" Vanya mengangguk dan langsung mengambil ponselnya.


in call


"halo bi Lastri, Alma udah pulang ke rumah?"


"loh? belum pulang Van, bukan nya non Alma bareng kamu?"


"mm gapapa bi, makasih ya"


"iya sama-sama"


tut-!


panggilan pun berakhir, Arlan bertanya apakah Alma sudah pulang tetapi Vanya menggelengkan kepalanya, artinya Alma tidak pulang ke rumah.


"halo mah, Alma pulang ke rumah ga?"


"engga ada Ar, bukannya kalian berangkat bareng? emang kenapa, kalian ribut lagi kah?"


"engga ma gapapa"


tut-!!


"gimana kak?"


"engga ada juga"


"hp nya Alma?" tanya Vanya


"hp dia mati"


"astagfirullah!"


sementara Alma.


Alma duduk seorang diri di bangku taman, taman yang sepi.


dia melamun dengan tatapan kosong.


"gw harus kemana? gw ga bisa liat muka kak Arlan. gw kecewa sama dia"


"sebentar, gw bawa kartu yang dikasih kak Arlan kemarin. apa buat gw nyewa hotel? bisa juga tuh"


𝐄𝖓𝖉


𝐁𝖊𝖗𝖘𝖆𝖒𝖇𝖚𝖓𝖌