
Alma dan Arlan segera menyusul orang tua nya. saat sudah sampai di tempat duduk teman-teman bisnis Yufi dan Riko, Yufi mempersilahkan Alma dan Arlan duduk.
"ayo duduk sini Al, Ar" pinta Yufi dan di balas anggukan oleh Alma.
"ini yang cewe anak keberapa Yuf? cantik juga haha" ujar salah satu teman Yufi.
"ini anak kedua, namanya Alma" jawab Yufi.
"bisa nih di jodohin sama anak cowo 1 dirumah" ujar nya lagi.
"hah?!" Alma terkejut.
"kenapa Al? udah punya pacar ya? anak Tante kerja sambil kuliah, ganteng dan lumayan kompeten juga" jelas nya mencoba untuk membujuk Alma.
Arlan hanya diam seribu bahasa walaupun di hati nya ia merasa cemburu.
"maaf Tan, bukan maksud Saya buat menyinggung perasaan Tante, tapi saya udah punya suami" jelas Alma sembari menggenggam erat tangan Arlan.
"hah? hahahaha. jadi ini yang mau kamu kenalin ke aku Yuf. astaga, ga nyangka banget. aku kira anak pertama kamu yang mau dikenalin ternyata anak keduanya nikah duluan. hahahha!"
dia tertawa lepas karena terkejut, ia kira Alma sedang bersama kakaknya ternyata itu adalah suami nya.
"siapa suruh langsung ngomong" cibir Yufi.
"Tante minta maaf ya Al, Tante ga tau"
"iya Tan, gapapa kok"
"ya ampun, kenapa ga kenalin anak kamu ke aku dari dulu Yuf, pasti udah aku nikahin sama anak cowo aku" Dia mengelus rambut Alma.
"jangan ngomong gitu, suami nya cemburu itu" ujar Yufi melirik ke arah Arlan yang raut wajah nya sudah berbeda.
"haha, jodoh ga kemana. langgeng kalian berdua. Tante cuma bercanda"
"iya Tan"
saat itu juga, tiba-tiba ada seorang anak kecil perempuan yang menabrak kaki Arlan dari belakang, anak kecil itu langsung menangis kencang dan Arlan segera menggendong anak itu dan menghapus air matanya.
"kamu kenapa? kok jatuh? hati-hati jalan nya, cup cup udah ga boleh nangis ya" Arlan mencoba menghibur anak kecil itu.
Alma mendekati Arlan dari belakang dan menghibur anak kecil itu yang menangis di pundak Arlan.
"hai cantik, udah ya Nangis nya. jadi perempuan harus kuat, Adek kan cantik, imut, anak baik. jadi jangan nangis lagi ya?, janji sama kakak" ucap Alma dan mengacungkan jari kelingking nya sembari tersenyum manis.
"kamu ga boleh nangis, kamu kan anak baik. janji sama kakak gih" Arlan mengelus rambut nya dan melihat wajah anak kecil itu dan wajah Alma. dia mengaitkan jari nya dengan jari Alma dan dia perlahan berhenti menangis.
"nama Adek siapa?" tanya Alma.
"Tita" jawab nya.
"hai Tita, kenalin nama kakak Alma" ucap Alma menunjuk dirinya sendiri lalu mengelus rambut Arlan.
"yang ini namanya kak Arlan"
"hai kak Alma, hai kak Arlan"
"hai juga cantik, kamu umur berapa?" tanya Arlan.
"3 tahun" jawab nya.
"ah masih kecil kak ternyata, hehe" Alma terkekeh.
"orang tua Tita kemana?" Tanya Alma Karena tak melihat keberadaan orang tuanya.
"Tita gak tau kak, hiks" dia mulai menangis lagi.
"udah udah jangan Nangis, mau permen?" tawar Arlan lalu menurun kan Tita dari gendongan nya.
"mau kak!" jawab tita antusias.
Arlan merogoh saku nya, dan dia menemukan satu permen kopi di saku jas nya.
"aa maaf, kak Arlan lupa bawa permen. ada nya cuma ini aja, satu juga. kamu mau engga? atau kita beli lagi?"
"engga usah kak, tita mau" dia mulai mengangguk pelan dan mengambil permen dari tangan Arlan.
"makasih kak"
"iya sama-sama"
"hmm, parents'able Banget nih ceritanya" goda Yufi yang tiba-tiba sudah dirangkul oleh Andhika.
"udah pas ni kalo punya Ponakan" goda Andhika.
"astagfirullah bang, mah. ini cuma bocil jatuh"
"tapi lu udah cocok Al jadi seorang bunda, eaaa"
"Astaga, Tita. Oma disini" panggil seorang wanita paruh baya dan langsung memeluk Tita.
"Oma, Tita gapapa. ada kak Arlan sama kak Alma yang temenin Tita" ujar Tita memberi penjelasan ke Oma nya. ia pun menoleh ke arah Alma dan Arlan lalu kembali berdiri tegak.
"terimakasih ya udah jaga Tita, kalo ngerepotin sama dia nya nakal maaf ya"
"eh, gapapa Tan. tita anak nya lucu jadi seru juga hehe" ucap Alma.
"oh gitu ya, haha Makasih ya"
"nah itu yang sama cucu kamu" jawab Yufi santai.
"wahh, perasaan anak cowo kamu bukan kaya gini?" dia kebingungan.
"anak kedua yang nikah"
"Omo! anak kedua? 16 tahun? nikah?, ya Tuhan"
"jangan kaget, anak cewe satu-satunya harus dikasih yang terbaik"
"minta cucu gih, anak kamu ganteng sama cantik. apalagi anak nya nanti, pasti serbuk berlian" bisik nya ke Yufi.
"lagi usaha, masih gadis perjaka semua" balas Yufi.
"sabar ya, ditunggu aja" ucap nya lalu pergi.
beberapa jam kemudian pesta itu sudah selesai. banyak yang mengira Andhika lah yang telah menikah dan terkejut jika Alma yang menikah, bukan Andhika.
Sesampainya di rumah sekitar jam 9 malam, Alma langsung membaringkan tubuhnya di kasur.
"hadehh capek juga!" keluh Alma.
"ya sabar, namanya juga pesta" ucap Arlan sembari melepas jas dan membuka kancing kemeja nya satu persatu dan membuka kemejanya.
"mandi gih!" perintah Arlan.
"ga mau, ga suka, dingin!" jawab Alma yang tetap memejamkan matanya
"mandi Al!"
"ga mau kak"
"mandi atau gue siram air!"
"eumm, bangunin" ujar Alma merem dan mengangkat kedua tangannya.
Arlan meraih tangan Alma lalu menariknya untuk duduk. Alma mulai membuka matanya dan betapa terkejutnya dia melihat Arlan yang sudah bertelanjang dada di depan nya.
"omonack mataku ternodai!" Alma langsung menutup matanya dengan bantal.
"makanya mandi sana!"
"iya kak!" Alma mengangguk dan berjalan ke kamar mandi tanpa membuka mata nya.
45 menit kemudian mereka berdua sudah selesai mandi secara bergiliran. sekarang, Alma sedang memainkan ponselnya sembari berbaring di kasur dan Arlan sedang menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.
"tadi katanya maskeran sama si Vanya?" ucap Arlan dan Alma langsung membulatkan matanya dan baru saja mengingat nya.
"omonack gue lupa, ini gimana?!" panik Alma.
"besok aja, sekarang udah malem jangan ganggu orang istirahat"
"hm oke" Alma kembali berbaring dan memainkan ponselnya.
Arlan menggantung handuk basah nya di kamar mandi dan mendekati Alma, Arlan langsung menerobos tangan Alma lalu tidur di atas Alma, memeluk dan menenggelamkan wajahnya di dada nya.
"Weh ape nih? ini namanya pelecehan seksual heh!!" Alma langsung mematikan ponselnya.
"mana ada pelecehan seksual sama suami nya sendiri, gila!" ucap Arlan tanpa melepas pelukannya.
"hm yain, terus apa?"
"peluk gue"
"hah?"
"gue capek, peluk gue" pinta Arlan.
Alma memiringkan tubuhnya dan membiarkan Arlan tidur di lengan nya lalu mendekapnya di dada.
Alma mengelus rambut Arlan pelan.
"Lo kenapa kak?"
"gue marah!"
"marah kenapa lagi?"
"Lo selalu ditawarin buat perjodohan!"
"ya Allah, kan gue udah bilang kalo gue ga mau dan ngakuin Lo sebagai suami"
"mau baby" ucap Arlan.
"hah? baby?"
"gue mau Arlan junior, Lo liat kan mama pengen punya cucu pas mereka liat cucu temen-temen nya!"
"lah tambah ngaco! jangan bilang ini gara gara Tita? lupain kak mendingan Lo tidur Besok ujian lagi!"
"hm"
𝐄𝖓𝖉
𝐁𝖊𝖗𝖘𝖆𝖒𝖇𝖚𝖓𝖌