
"Alma! Lo kenapa?!" teriak Arlan.
ya, itu adalah Arlan. kelas Alma dan kelas Arlan sekarang satu koridor jadi 1 kamar mandi. jadi tadi Arlan pamit untuk ke kamar kecil dulu dan diberikan izin oleh gurunya namun saat ingin masuk toilet laki-laki, Arlan mendengar isakan yang terdengar mirip dengan isakan Alma.
"ngapain Lo kesini hah?!" Alma mendongakkan kepalanya dan melihat wajah Arlan.
grep
Arlan langsung memeluk Alma dengan erat lalai menyembunyikan wajahnya di leher Alma.
"lepasin!! lepas!! hiks lepasin gk!!" berontak Alma namun tenaga Arlan lebih kuat jadi ia hanya bisa pasrah dan tidak membalas sedikit pun pelukan itu.
"maafin gue, gue tau kalo gue salah plis maafin gue" ucap Arlan lembut.
"gk ada gunanya!" Alma langsung memberontak paksa dan akhirnya ia bisa lolos dari pelukan suaminya.
"udah cukup, gue gak mau debat!" Alma langsung beranjak dari kamar mandi dan meninggalkan Arlan sendiri di toilet.
"gue kuat! gue harus kuat! gue harus buktiin kalo gue gk kenapa-napa tanpa dia!" batin Alma.
"Al! maafin gue, semalem gue kelepasan pliss. semarah itu Lo sama gue. Al butuh Lo" batin Arlan.
Alma kembali ke kelas dengan keadaan menangis karena tak bisa menahan tangisnya sejak berada di kamar mandi.
Bu Irma pun bertanya.
"Alma, kamu kenapa?"
"gak papa Bu"
pelajaran jam terakhir pun sudah usai, para siswa-siswi sedang membereskan buku-bukunya dan bersiap untuk pulang. karena hari ini Alma berangkat menggunakan taksi jadi pulang pun menggunakan taksi.
Alma berjalan seorang diri, mencangklong tas nya dan berjalan menuju halte dekat sekolah. pandangan kosong, hati hancur, mental serasa terganggu dan depresi. itulah Alma sekarang. hanya bisa menunjukkan fake smile nya, berpura-pura bahagia dan tak apa padahal di hatinya hanya ada luka dan tangisan pilu mengenai nasibnya.
saat Alma duduk di halte dan menunggu taksi lewat, Alma membaca jadwal liga 1 dan peringkat skor bola. Alma ingin melupakan sejenak tentang suaminya itu.
"Alma!" teriak Andhika
"iya? loh abang lewat sini?" tanya Alma
"iya, ayo pulang!" ajak Andhika.
"oh ayo" Alma menerima ajakan sang kakak.
Andhika membonceng Alma dengan kecepatan sedang saja karena Andhika tau suasana hari adiknya itu. meskipun Andhika bersikap cuek tapi Andhika adalah tipikal orang yang penyayang dan pengertian tetapi tak melalui kata-kata saja. jika memang Andhika merasa adiknya terganggu atau apa ia akan langsung bertindak dan tak pernah bilang kalau dia menyayangi adiknya.
wihh pake tindakan bukan kata-kata. lawannya dilan ya bang ka?🤣_- author numpang lewat.
usai 18 menit perjalanan, akhirnya mereka sudah sampai di rumah nya. Andhika sengaja tidak mengantarkan Alma ke rumah Arlan walaupun tadi pagi Yufi memintanya untuk menjemputnya lalu mengantarkannya ke rumah Arlan.
Andhika menggenggam tangan Alma
"ayo masuk" ajaknya.
Alma tersenyum kecil lalu melihat tangannya yang digenggam oleh Andhika.
Alma mengangguk.
Andhika dan Alma memasuki rumah dengan keadaan bergandengan tangan. Andhika mengantarkan Alma ke kamarnya dan duduk di ranjang.
"Al Lo kenapa?" tanya Andhika.
"jujur sama gue kenapa Lo pulang?!"
Alma kembali menangis karena mengingatnya kembali.
Andhika memeluk Alma dan kembali bertanya.
"kenapa? Lo diapain sama suami Lo?"
"dia egois bang! dia cuma mikirin dirinya sendiri dia gk pernah mikirin keadaan Alma huaa!!" Alma menangis lebih keras.
"maksudnya?"
"pas gue sama Arlan di ruang tunggu, gue semangatin Revan biar gk terlalu sedih. gie pegang pundaknya Revan terus Revan liat tangan gue bukan liat gue tapi dia marah terus seret seret gue buat pulang. pas udah sampe kamar dia nge bentak gue. dia bilang kalo gue gk tau batasan!" jelas Alma.
"keterlaluan!! udah Lo disini aja biar Abang samperin Arlan"
Alma mengeratkan pelukannya.
"gk boleh, Lo gk boleh samperin dia bang. bang ka disini aja jangan sama bajing*n itu?"
Andhika membiarkan Alma menangis di pelukannya. mendengar isakan Alma yang keras membuat hati Andhika sedikit goyah, ia merasa hatinya seperti disayat mendengar isakan dan senggukan Alma itu.
saat ini Andhika tidak mendengar suara tangisan dan hanya merasakan sesenggukan Alma.
"oh dia tidur"
Andhika membaringkan Alma di kasur dan menyelimuti tubuh Alma sampai leher.
cup
Andhika mencium kening Alma.
"yang kuat ya, Abang yakin Lo kuat!" Andhika berbisik.
lalu Andhika keluar dari kamar Alma dan menelfon Arlan.
"halo bang. kenapa?"
"kita ketemu sekarang di resto Doremi"
"iya bang gue otw"
setelah sepakat, Andhika segera berangkat ke tempat yang dijanjikan tadi.
***
"kenapa bang?" tanya Arlan.
"gue cuma mau bilang Alma gk suka dibentak dia takut sama petir, dia keras kepala, dia susah menyukai, melupakan dan memaafkan jika dia merasa patah hati. pliss jangan buat dia nangis. gue giris dengernya" ujar Andhika.
"maaf bang gue kelepasan"
"gue tau Lo udah mulai cinta sama Alma tapi gue yajin dia masih suka sama cowo yang dia suka pas kelas 2 SMP" jujur Andhika.
"hah?!!" Arlan terkejut.
END
BERSAMBUNG~