YOUNG | Unpublish

YOUNG | Unpublish
Maafin?



"Arlan!!!??" teriak Nilam.


"kak Arlan!!!!!!!" teriak Alma dan langsung berlari.


Alma langsung berlari menuju Nilam dan anak-anaknya duduk. saat sudah Sampai, Alma langsung meraih kepala Arlan dan meletakkan ke paha nya.


"kak Danish, tadi kak Ghavin butuh Lo buat bocorin kalo the monster ball menyogok wasitnya. tolong samperin kak Ghavin. kak Arlan bias aku sama mama yang urus" ucap Alma.


"iya Al, gue kesana dulu" jawab Danish lalu langsung berlari ke Ghavin.


"ma, ini kok bisa pingsan?" tanya Alma panik.


"dari semalem dia tu demam. dia gak mau makan gak mau dibawa ke RS terus pas dia tidur terus ngigo dan dia sebut nama kamu sambil minta maaf. tadi pagi dia maksa banget buat dateng kesini padahal kondisi dia belum benar-benar fit" jelas Nilam.


"yaudah, bentar ya ma"


"iya"


"Zain!! Zain sini!!" Alma berteriak sembari melambaikan tangannya. saat Zain merasa dirinya terpanggil, jadi ia langsung menghampiri Alma.


"apaan?" tanya Zain.


"tolong bantuin dia dulu. kasian dia pingsan" jawan Alma.


"iya-iya"


Zain mengangkat tubuh Arlan dengan perlahan lalu Alma dan Nilam mengikuti dari belakang. sesampainya dia parkiran, Alma meminta untuk memasukkan Arlan me dalam mobil.


"makasih ya, udah gih samperin mereka"


"gitu amat lu Al ucapin makasih nya. dikasih imbalan dikit gitu kek lah ini malah jutek"


"kalo udah mulai sekolah gue traktir Lo cireng Bu Inah. gimana?"


"bolehh, makasih ya byeee"


"byee"


"udah belum Al? ayo kita langsung kerumah aja" Nilam memastikan.


"iya ma"


setelah Alma masuk ke mobil, Nilam langsung tancap gas supaya cepat sampai ke rumah. kira-kira Nilam menggunakan kecepatan 80km/jam.


18 menit berlalu, mereka sudah sampai di depan rumah dan menyuruh satpamnya untuk mengangkat Arlan.


"pak, ini Arlan tolong di angkat ya soalnya dia pingsan"


"baik Bu!"


satpam rumah yang bernama pak Harto itu langsung mengangkat tubuh Arlan menuju kamarnya. pak Harto meletakkan tubuh Arlan ke ranjang dengan perlahan-lahan.


"makasih ya pak. pak Harto boleh langsung kerja atau bisa makan nanti. nanti bisa langsung minta ke bi Lastri"


"iya Bu, saya kedepan saja"


"yauda"


pak Harto pun pergi. dan Nilam menelfon dokter keluarga nya.


"kak, kak Arlan ayo bangun kak. gue janji bakal maafin kakak kalau kalo kakak bangun" ujar Alma mengelus kening Arlan.


"Al, nanti dokternya bakal dateng. mama ada urusan jadi kamu urus bentar ya" pamit Nilam


"iya ma. hati-hati ya"


"iya"


Nilam sengaja berbohong supaya Alma bisa memaafkan Arlan. untuk tempat tujuan, Nilam akan pergi kerumah Yufi.


Alma menggenggam tangan Arlan erat-erat. bahkan Alma meneteskan air matanya karena tak tega melihat Arlan yang tak sadarkan diri.


20 menit menunggu dan menangis, akhirnya dokter Haris sudah Tiba.


"permisi"


"eh iya dok silakan masuk" Alma menghapus air matanya lalu mempersilahkan dokternya masuk.


dokter Haris mengeluarkan stetoskop dari tasnya dan menempelkan stetoskopnya di dada Arlan.


"apa kamu Alma? istri barunya Arlan?" tanya dokter Haris.


"i iya dok" jawab Alma.


"iya dok saya akan tetap disamping Arlan" jawan Alma.


"saya akan infus tangan Arlan untuk mendukung kesehatan nya"


"baik dok"


dokter harus mulai menusukkan jarum suntik ke tangan kanan Arlan lalu memasang Selang infusnya.


"baik, ini resep obatnya nanti bisa ditebus di apotek terdekat"


"iya dok"


Dokter Haris pun pergi, sekarang Alma beranjak dari sofa dan mandi. selesai mandi Alma mengganti bajunya dengan gaya casual yaitu kaos hitam bertuliskan Exo Exploration dan celana jeans selutut.


Alma duduk di sebelah Arlan dan menyenderkan tubuhnya di senderan kasur sembari mengelus kening Arlan.


"kak, ini pasti gara-gara gue ya. maaf ya kak gara-gara gue Lo jadi kayak gini"


"Al, ini mama bawa donat sama bubble buat kamu" ucap Nilam memberikan sebuah kantung kresek berisikan donat kentang dan bubble tea dari cha time.


"eh iya ma. makasih ya"


"iya sama-sama"


"ma, Alma buat bubur dulu ya tolong jagain kak Arlan bentar nanti kalo bangun suruh minum obat ini kata dokter Haris tadi" pinta Alma.


"iya Al kamu tenang aja"


"oh iya ma"


Alma keluar kamar dan berjalan menuju dapur untuk membuatkan bubur untuk Arlan. tapi saat Alma memasak di dapur. 10 menit kemudian, Arlan mulai membuka matanya dan menemukan sosok mamanya yabg duduk di sofa sembari memainkan ponselnya yang bertuliskan Samsung itu.


"Arlan? kamu udah bangun? sini minum obat dulu" ucap Nilam.


"enggak ma, Arlan gak mau! Arlan mau minum obat kalo Alma maafin Arlan" sela Arlan.


"udah! diminum aja nanti Alma juga maafin kamu kok. sekarang yang penting kamu minum obat dulu!"


"engga!!"


"ehh? siapa yang gak mau minum obat?" ucap Alma datar yang tiba-tiba masuk dan membawa nampan berisi bubur.


"hah?!" Arlan terkejut.


Alma pun duduk di sebelah Arlan dan bertanya dengan datar.


"gak mau minum obat?"


tanpa aba-aba, Arlan langsung memeluk Alma dengan erat dan menangis di leher Alma.


Alma menatap Nilam.


"kok nangis sih?" tanya Alma.


Nilam hanya bisa tersenyum kecil melihat putra sulungnya yang menangis tersedu-sedu di leher istrinya. baru pertama kali ini Nilam melihat Arlan begitu kalah dengan seorang wanita.


"makasih udah dateng dan makasih juga udah maafin" yang ujar Arlan.


"siapa bilang gue udah maafin Lo?"


Arlan langsung melepaskan pelukannya.


"hah? kenapa Lo dateng kalo belum maafin gue?"


"Minum obat terus makan bubur ini baru gue maafin" perintah Alma.


seketika Arlan langsung menyambar obat dan segelas air di nakas lalu meminumnya.


"udah?" tanya Arlan.


"makan dulu"


"iya"


Arlan memakan bubur itu dengan susah payahnya. tangan kanan yang diinfus membuat Arlan sulit makan jadi ia menggunakan tangan kiri dan membuat Arlan belepotan.


"ah, sini biar gue suapin" Alma mengambil mangkuk bubur di paha Arlan.


***END


BERSAMBUNG**~