
HUAAAAAAA!!!!!
"KYAAAAAAAAA!!!!!!!"
"ngapain?" Tanya nya bagai manusia tanpa dosa.
"KAK ARLAN!! KAK ROY!!! KAK MIKO!! KAK FARHAN!!!!" Teriak Alma, Raina dan Mya bersamaan.
"takut nih ye?" cibir Miko.
"bukan takut tapi kaget" ucap Alma.
"helleh ngeles bae kaya bajaj Al" sahut Roy.
"udah². ngapain sih nakutin kita?" tanya Mya.
"nah iya bener tuh . emang kenapa?" ucap Raina.
"ya kita liat kalian disini kaya nyari orang..ya kita kerjain lah! gila apa kita gak ngerjain kalian" jawab Farhan.
"dasar!" sahut Alma.
"yaudah Al tunggu apa lagi?! kita langsung ke roof top aja?" ajak Mya.
"iya-iya"
Arlan menahan tangan Alma.
"kenapa ke roof top? kan gak boleh kesana?" tanya Arlan dingin.
"ngejar Vanya!"
"yaudah kak. gue langsung aja! bye!" ucap Alma lalu langsung berlari bersama Raina dan Mya.
sesampainya di roof top. Mereka bertiga berjalan perlahan karena takut ada pengawas atau orang yang akan melaporkan mereka karena roof top dilarang untuk siswa siswi.
"Van!" panggil Raina.
"Vanya!" panggil Mya.
"Van!"panggil Alma.
tak ada sahutan sama sekali. akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk mengelilingi roof top itu. saat berjalan perlahan ke arah timur, mereka mendengar suara idaman tangis yang samar-samar.
"Na,Al..kalian denger kan?" ucap Mya pelan
"iya gue denger. itu pasti Vanya" ucap Raina.
"yaudah ayo kita samperin!" ajak Alma.
mereka berjalan perlahan menuju bagian timur tanpa bersuara.
sesampainya disana, mereka menemukan sosok Vanya yang berdiri di atap paling ujung seperti orang yang akan meloncat dari gedung.
"VANYA!! JANGAN GEGABAH!!" Teriak Alma.
"gegabah? gue gak kuat Al!. gue udah gak bisa sembunyi in kesedihan gue selama ini. gue gak bisa sembunyi in depresi gue lagi. Kehidupan rumah udah kaya neraka!! sekarang? bahkan orang yang gue suka malah bilang gitu! gue ngerasa jadi perempuan gak berguna! gak berhasil!" ujar Vanya diselingi Isak tangisnya.
"kenapa sih?" tanya Alma ke Raina.
"kok miris banget gitu? yaudah gue punya solusinya!" ucap Alma.
"apa Al?" tanya Mya.
"benar gue jelasin ke Vanya dulu" ucap Alma
"Vanya! kalo memang Lo gak kuat buat hidup, bagaimana kehidupan mama kamu? kamu anak tunggal kan?. kalo kamu loncat dan kamu pergi, mama kamu udah gak punya siapa-siapa lagi. mama kamu bakal tambah disiksa sama papa kamu. nanti gak ada yang menjaga mama kamu! pikirin mama kamu juga Al!" ucap Alma memberikan pengertian.
"ada apa ini?" ucap Danish yang tiba-tiba datang bersama Arlan,Roy,Farhan, dan Miko.
"itu kak! Vanya mau bunuh diri! katanya dia udah gak kuat menjalankan kehidupan nya" ucap Raina pelan.
"oh oke"
Danish dan Arlan langsung mendekati Vanya dan Alma karena mereka berdekatan.
Arlan yang sudah didekat Alma pun langsung merangkulnya.
"kak..Vanya gimana?" ucap Alma sendu dan langsung memeluk Arlan.
"udah Al. pasti Danish bisa atasin. kamu tenang aja ya" ucap Arlan membalas pelukannya.
"tapi_"
"hustt! udah diem! Vanya gak papa!" ucap Arlan sengaja memotong ucapan Alma.
"pstt! Mya! bukannya tegang malah lihat yang UwU UwU an" bisik Raina.
"udah diem aja! Namanya juga pacar sendiri!" bisik Mya.
"hm"
___
"Van! turun ya. kamu gak mikirin mama kamu kayak gimana?" ucap Danish.
"udahlah kak! semuanya sama aja! ketika semuanya mulai membaik karena sekolah tapi ternyata semuanya sama aja!! buat depresi!" teriak Vanya..
"Vanya! selesaiin dengan kepala dingin. kamu masih emosi..coba pikirin lagi!"
"gak ada yang perlu dipikirin lagi! hidup gue gak ada gunanya!! disaat gue nemuin orang yang bisa gue jadiin semangat idup malah kayak gitu!" teriak Vanya yang menangis keras.
"Vanya! gue bisa bantu Lo! gue bisa ngelindungin lo! udah Van. jangan gegabah!!" ucap Alma yang juga ikut menangis.
Raina dan Vanya hanya bisa diam membeku karena tak percaya Vanya bisa se nekat ini.
"bantu apa Al? balikin kehidupan gue yang lalu?!!" ucap Vanya.
tiba-tiba suasana hening~
"hiks! mungkin udah saat nya gue pergi!. sampai jumpa semuanya" ucap Vanya lalu loncat dari gedung sekolah.
END
BERSAMBUNG~