YOUNG | Unpublish

YOUNG | Unpublish
"oh my God, my eyes"



"gw harus kemana? gw ga bisa liat muka kak Arlan. gw kecewa sama dia"


"sebentar, gw bawa kartu yang dikasih kak Arlan kemarin. apa buat gw nyewa hotel? bisa juga tuh"


karena sudah memastikan, Alma segera pergi ke toko baju terdekat untuk membeli sepasang baju untuk satu malam saja. dia menggunakan uang cash karena kebetulan dia membawa uang 150 ribu dan harga bajunya 98 ribu. lalu Alma mencegat taksi untuk mengantarkan ke hotel bintang 3 terdekat.


sesampainya di hotel nya, Alma membayar ongkosnya dan masuk ke lobi hotel.


"selamat sore dan selamat datang, ada yang bisa kami bantu?" ucap resepsionis hotel nya dengan senyum yang ramah.


_skip


selesainya check in, Alma segera menuju ke kamar nya, dia berjalan cepat agar cepat sampai di kamar nya.


akhirnya sampai juga di depan kamar nya, ia menempelkan kartu nya dan langsung masuk di kamar nya.


dia menaruh barang-barang nya di meja dan merebahkan tubuhnya di ranjang.


"hmm, sampe kapan gw tinggal disini? gw ga tega juga liat mereka cariin gw. tapi gw sendiri juga males" gumam Alma sembari menatap langit-langit kamar.


hari sudah menjelang malam, lebih tepatnya pukul 18:15 wib.


Alma Bersiap untuk mandi dan ia akan bersantai di kamar mandi.


Alma mengisi bathup dengan sabun dan Alma berendam lalu mendengarkan music.


Sementara Arlan.


dia berada di apartemennya sendiri. ya, dia memiliki apartemen sendiri. dia baru saja menyewa nya, tidak terlalu besar tapi lebih dari cukup dan desain minimalis Didominasi warna hitam.


Arlan menggosok rambutnya keras menggunakan handuk. ia pusing dimana keberadaan Alma.


"aduh Al! Lo dimana?!" tekan Arlan melempar handuknya.


lalu Arlan iseng membuat ponselnya, tapi ada salah satu notifikasi yang menyatakan ada pengeluaran di kartu yang kemarin dia berikan ke Alma.


"hah? Alma pake kartu nya?"


lalu dia menelusuri lagi dan ternyata Kartu itu digunakan untuk check-in di sebuah hotel yang ditempati Alma tadi.


"hotel ********? gw harus siap-siap!"


Arlan segera keluar dari apartemen nya dan segera berangkat menuju hotel itu. 15 menit perjalanan, akhirnya dia sudah memasuki area parkir hotel nya. Arlan berpenampilan sederhana, kaos oversize hitam dan celana jeans diatas lutut dengan rambutnya yang agak basah dan sandal.


Arlan dengan gagah keluar dari mobil sport nya dan langsung berjalan memasuki lobi. para perempuan yang melihat Arlan pun terlihat terkesima dengan Arlan bukan hanya ketampanan nya, tapi juga terlihat seperti orang kaya. bahkan resepsionis hotel nya pun ikut terkesima juga.


"eum s selamat malam mas, Ada yang bisa kami bantu?" ucap nya gagap tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Arlan.


"saya mau cari perempuan bernama Almahyra Mairana" jawab Arlan.


"s sebentar" ujar nya dan Arlan mengangguk dan memainkan ponselnya sambil menyadar kan siku di meja.


karena tak mendapatkan jawaban, Arlan pun menoleh ke resepsionisnya. dan ternyata dia hanya mengetik saja tanpa mengalihkan pandangannya.


"maaf mbak, bisa dicari?"


"e eh, maaf mas" resepsionis itu langsung sadar dan Mencari nama yang disebut kan Arlan.


"Almahyra Mairana, umur 16 tahun mas?"


"iya mbak"


"ada di lantai 3 nomor 317 mas"


"boleh minta kartu nya?"


"maaf mas saya ga bisa soalnya harus menjaga privasi customer kami" tolak nya dengan sopan.


"adakah pengecualian orang?" tanya Arlan.


"suami sah nya mas" jawab nya.


"ini kartu nama saya" Arlan memberikan kartu namanya.


"Arlan? oh Tuhan, mimpi apa aku? aku bisa bertemu orang tampan ini? ya walaupun lebih muda dari aku tapi cinta ga Mandang usia kan. lumayan lah disini ada nomor telfon nya dan aku bisa PDKT sama dia" batin resepsionisnya.


"maaf, apa dia seperti di foto ini?" Arlan menunjukkan sebuah foto kecil yang ada di dompetnya.


"iya mas betul, dia baru check-in tadi sore jadi saya masih ingat betul wajahnya" jelas nya.


lalu Arlan mengeluarkan foto Alma dan foto nya yang serupa dan membuat ponselnya. dia membuka laman galeri lalu menunjukkan foto buku nikahnya.


"saya suami dari Alma, mungkin dari sini anda percaya perkataan saya?" ujar Arlan santai.


resepsionis Ini langsung membelalakkan matanya kaget karena ternyata dia sudah berumahtangga di usia muda bahkan istri nya masih 16 tahun.


"pupus harapan dah!" batin resepsionisnya.


"ini mas kartu nya, terimakasih"


"terimakasih kembali" Arlan memasukkan Foto tadi kembali ke dalam dompetnya lalu langsung memasuki lift.


"mas nya udah pergi kan? tapi lumayan lah dapet kartu namanya. kali aja bentar lagi jadi duda" gumam nya.


_


Arlan menempelkan kartunya lalu masuk ke kamar itu, dia duduk di sofa.


"eum bener, ini tas Alma" gumam Arlan lalu merebahkan diri di kasur perlahan dan memainkan ponselnya.


sementara Alma, dia sibuk di kamar mandi. bernyanyi serasa di konser sendiri, Bermain air dan terdengar dari luar seperti sedang loncat-loncat.


25 menit kemudian, Alma pun keluar. saat Keluar dia hanya menggunakan handuk yang tak terlalu besar karena itu hanya handuk hotel dan dalaman.


Arlan yang melihat itu pun hanya melongo, segitu tidak sadarkah Alma kalau ada Arlan di sana.


Alma memakai celana piyama tie die nya. lalu ia melepaskan handuknya dan memakai bajunya.


Arlan semakin terbelalak melihat itu, punggung Alma yang putih mulus membuat Arlan hanya menelan ludahnya.


Alma yang tetap tak sadar dia mengancingkan kancing baju nya dari bawah. saat sudah sampai di 3 kancing terakhir, Alma berbalik dan sudah melihat Arlan yang menatapnya.


"yaaa!!! ngapain Lo disini?" teriak Alma kaget dan buru-buru mengancingkan baju nya.


"oh **** my eyes, oh my God" Arlan pura-pura histeris.


"ga usah sok drama, ngapain Lo disini? bukan nya pengen bebas kan? mendingan Lo pergi dari sini terus bebasin diri dari gw" ucap Alma dingin.


Arlan beranjak dari ranjang dan berdiri di depan Alma. ia memegang kedua pundak Alma dan menatap nya, Alma mengelak itu. dia melepaskan pegangan Arlan tetapi Arlan kembali memegang kedua pundak nya.


"Al, dengerin gw!" pinta Arlan.


"hm" Alma mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"gw ga suka Al, tatap mata gw"


"apasih? tinggal ngomong aja apa susahnya? emang semua harus sesuai kesukaan Lo gitu? yang lain juga punya perasaan kak!" Tekan Alma menatap mata Arlan.


"kenapa Lo ga jujur sama gw? kenapa Lo ga bilang kalo yang nyakitin Lo tu Lidya sama temen-temennya? kalo semisal lo bilang pasti gw udah Dendam sama cewe cewe itu!"


"kalo gw ga bilang? Lo mau deket Deket. gitu?"


"engga gitu Al, gw paham betul status gw sekarang. tapi godaan setan lebih gede. jadi ga gw ambil contekannya"


"sekarang gw tanya sama Lo? LO GA MIKIRIN PERASAAN GW KAH?!" Teriak Alma yang mulai terisak.


𝐄𝖓𝖉


𝐁𝖊𝖗𝖘𝖆𝖒𝖇𝖚𝖓𝖌