
"eh Zain! Lo fans berat cireng nya Bu Inah ya?" tanya Danish.
"iya, menurut gue nih bang cireng nya Bu Inah tu enakk banget ngalahin masakan emak dirumah" jawab Zain.
"dasar laknat!!. dimana-mana tu ya masakan ibu adalah masakan terenak monyet!" sahut Vanya.
"mata Lo buta? Lo gk bisa bedain mana manusia mana monyet? astagfirullah Vanya! kursus cara melihat yuk!"
"gk, mata gue terlalu bersinar makanya gk bisa liat lu soalnya lu tu kaum buluque"
"eh! diem Napa!. kita sampe gk bisa pesen gara-gara Kalian gelud disini!" ucap Revan.
"ahh dia bang yang duluan" Zain menunjuk Vanya.
"lha kenapa lu nunjuk gue? Lo tu!!" kesal Vanya.
"udah lah Van. biarin aja tu monyet liar" Raina menenangkan Vanya.
"oh iya, kak Ghavin belum dateng Dateng kemana?" tanya Alma.
"sakit kali" ujar Vanya.
"hah? tiang listrik sakit? dia mana bisa sakit dulu pas masih kecil imunisasi 20 kali" sahut Zain.
"matilah Ghavin. lu tau darimana Ghavin imunisasi 20 kali ha?" tanya Danish.
"dari bidannya langsung soalnya gue kan idol favorit para bidan" jawab Zain dengan PD nya.
"alahh ngayal!! daripada Lo sibuk-sibuk ke PD an kek gini lebih baik Lo cari pacar aja sana" ucap Revan.
Zain menghela nafas panjang.
"pacar? makanan macam apa itu? apakah semacam cireng diabonin?"
"sampe sekarang jomblo aja Zain. itu saking terhormatnya atau saking gk lakunya? haahhah" tawa Raina langsung pecah dan membuat lainnya tertawa terbahak-bahak sedangkan Zain serasa di asingkan.
"eh kalian kesurupan?" tanya Zain dengan mata yang melotot.
"ya nggak lah goblog!" ucap Alma dkk bersamaan.
"oh syukur deh, kirain kalian pada kesurupan hehe" ujar Zain cengar-cengir.
"au ah! lo emang gila dah! Bu Inah pesenn" teriak Alma.
"eh iya mau pesen apa?" tanya Bu Inah.
"baso aja bu" pesan Alma.
"sama" serentak lainnya.
"iya, bentar ya"
"iya Bu"
**
"haii maaf agak telat" sapa Ghavin lalu duduk di sebelah Vanya.
"eh kak, kenape lu duduk di sebelah gue? udah tau kalo gue dekat Lo jantungnya maraton!" batin Vanya.
"eh kemane aja? katanya si Zain dulu pas kecil Lo imunisasi 20 kali hahah" ucap Danish.
"gile! kalo gue imunisasi 20 kali yang ada bekasnya di tangan gue gede lah ini kagak ada bekasnya sama sekali" jawab Ghavin.
"maap lah bang. sekali-kali candaa heheh" Zain terkekeh.
"ini baso nya" Bu Inah kembali dengan membawa 6 mangkuk baso.
"makasih Bu Inah" ucap mereka serentak.
"iya sama-sama. kompak terus ya nanti nikahnya kalo bisa bareng" goda Bu Inah.
"Bu kita masih SMA mana ada nikah hahaha" Vanya tertawa.
Alma dan Danish hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Bu Inah dan Vanya. selera makan Alma seakan hilang dalam sekejap. dan sepertinya mood Alma langsung buruk.
Alma langsung memakan baso nya dan tidak menghabiskannya. mungkin hanya memakan setengah nya saja.
"guys gue duluan ya mau ke perpus sama Mya" Pamit Alma.
"iya Al. byee hati-hati dijalan" Vanya melambaikan tangannya.
"iya Van. bye guyss"
"byee"
Alma berjalan dengan langkah lemas. berharap jika semua ini segera berakhir akan tetapi itu hanya angan semu saja.
sesampainya di perpustakaan, Alma langsung mencari sosok Mya yang katanya berada di perpustakaan.
"Al, gue disini!" Mya melambaikan tangannya lalu Alma menghampiri nya.
"ini lagi ngerjain"
"ah gue males banget ngerjainnya"
"yaudah, IQ Lo kan tinggi tinggal baca aja langsung inget kan?"
"iya sih"
"percaya deh Ama gue tanpa boraks dan formalin"
"Lo kira gue baso yang bisa dikasih boraks sama formalin!"
"ya gk gitu juga Al"
"udah ah. aku hari ini izin dulu ya nanti tolong izinin gue. bilang aja anemia gue Kumat" pinta Alma.
"yaudah sana balik nanti gue ijin in"
"yaudah makasih ya"
***
Alma terpaksa izin karena mood yang sedang buruk. Alma pulang menggunakan angkot.
Alma membuka pintu.
"assalamualaikum, Alma pulang!" ucap Alma lalu menutup pintunya.
"waalaikumsalam. loh? Alma udah pulang?" tanya Nilam.
"iya ma. Alma lagi bas mood" jawab Alma lemas.
"yaudah sana mandi. tadi Arlan udah lepas infus dia udah sehat" ucap Nilam.
"iya ma"
.....
Alma melempar tas nya ke lantai lalu langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Arlan yang sedang bermain ponsel di sofa pun kebingungan karena sekarang masih pukul 12:20. seharusnya Alma pulang jam 16:00 sore.
"kenapa sekarang udah balik?" tanya Arlan.
"badmood!"
"pms ya lu?"
"gk!"
"kenapa sih?"
"ya badmood aja!! males di sekolah!"
"yaudah, ayo jalan aja" ajak Arlan.
"kemana?" Alma langsung bersemangat
"ya nanti tau sendiri!"
"ah ogah lu mah rahasia-rahasian!" kesal Alma
"buruan mandi apa gue madiin nih!" ancam Arlan.
"gue punya tangan dan kaki kok jadi gk usah repot-repot mandiin gue. lagi pula Lo bakalan repot mandiin gue" ujar Alma.
"eh siapa bilang? kalo laki-laki mandiin perempuan yang hampir seumuran itu namanya anugerah ternikmat yang pernah dilakuin laki-laki" ucap Arlan.
"eh katanya ya. kalo mandiin doang gk Nikmat. tapi yang Nikmat itu pas bikin adonan nya" sahut Alma.
"Lo mau?" Arlan membelalakkan matanya.
"ya gk lah. gile apa umur gue masih 16 tahun udan gk perawan!"
"gpp lah. gk ada hukumnya!"
"ahhh masakkkk"
"serah!"
"yeee ngambek!"
"udah sana mandi!!"
"iye bawel!!"
END
BERSAMBUNG~