
setelah mandi, Alma lupa jika tidak membawa pakaian ganti karena tadi ia digendong Arlan dan tak membawa baju. dengan terpaksa Alma keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya. namun saat ia keluar Arlan melihat Alma dengan tatapan datar dan tak bisa diartikan.
"eh maaf kak, gue gk niat buat umbar aurat"
saking gugupnya, handuk itu tersangkut di gagang pintu membuat handuk sedikit tertarik dan hampir saja buah dada itu terlihat. sekira hampir diatas ****** nya.
"ah maaf lagi" Alma segera mengambil bajunya dan kembali lagi ke kamar mandi untuk mengganti bajunya. namun saat keluar kamar mandi ia melihat Arlan yang sudah berdiri tegak di depan pintu kamar mandi.
"minggir!" ucap Alma.
"Lo yang minggir! gue mau masuk!"
karena terus berdebat akhirnya mereka saling bertabrakan dan secara tidak sengaja paha Alma merasa kalau celana Arlan sesak dan ada sesuatu yang mulai berdiri.
setelah lolos dari perdebatan tak sengit itu. Arlan langsung masuk dan membasuh batangnya karena batangnya yang mulai berdiri sejak ia melihat Alma Dengan tubuh yang dibalut handuk saja.
"sial lu! gitu aja berdiri. dia datar goblog! eh enggak Ding. tadi dilihat-lihat gede juga sabar ya. ada waktunya kok" Arlan mengomel sendiri.
Arlan sudah keluar dari kamar mandi, sedangkan Alma sedang menyisir rambutnya di meja rias.
"kak ayo kerumah sakit! pliss" ajak Alma menunjukkan puppy eyes nya.
"gk dirumah dulu aja" sela Arlan.
"gk enak kak dirumah cuma berdua!"
"ih malah enak dong gk ada yang ganggu" goda Arlan menaik-turunkan alisnya.
"mesum!"
"sama istri sendiri gk dosa kali"
"sejak kapan lu ngakuin gue istri Lo?"
"sejak Lo nikah Ama gue lah!"
"serah lu kak! kalo Lo gk mau nganterin, gue berangkat sendiri kesana"
"yaudah sana berangkat"
kali ini Alma tak main-main dengan ucapannya. ia langsung mengambil tas nya dan bergegas keluar kamar dan berangkat. saat sudah berada di depan gerbang kebetulan, ada taksi lewat jadi Alma mencegat taksi itu.
"WOY!! Al Alma!!!" teriak Arlan dari balkon.
Arlan segera turun dan melajukan mobilnya untuk mengejar Alma akan tetapi taksi Alma sampai duluan di rumah sakit.
"ma gimana keadaan mbak Rara?" tanya Alma sendu.
"tunggu, katanya masih ditangani" jawab Yufi.
"mbak Rara yang kuat ya" gumam Alma.
"permisi, dengan keluarga pasien?" tanya dokter yang baru saja keluar dari UGD.
"saya adiknya!" sahut Alma.
"baik. jadi gini, pasien kehilangan banyak darah karena benturan di kepalanya dan tangan kakinya yang patah. apa disini ada yang bergolongan darah B?"
"saya lupa dok golongan darah saya" jawab Alma.
"saya akan mendonorkan darah saya dok, golongan darah saya B" sahut Andhika.
"baik, ayo langsung ikut saya" ajak dokter.
"iya dok"
Andhika mengikut kemana dokter itu pergi. dan sekarang mereka sudah tiba disebuah ruangan yang sudah tersedia jarum suntik dan beberapa kantung darah. tapi sepertinya darah itu hanya darah A dan O karena disitu terdapat tulisan A dan O.
"silakan mas" ucap seorang suster.
"iya sus"
sejujurnya, Andhika sangat takut dengan jarum suntik karena masa kecil yang buruk tentang suntikan. tapi demi Rara Andhika akan memberikan darahnya dan melupakan phobia nya itu.
"sudah mas, terimakasih ya" ucap suster yang mendampingi Andhika.
"iya sus, saya boleh ke keluarga saya?" tanya Andhika.
"sebentar ya, saya infus dulu karena tubuh mas masih lemah" jelas suster.
"baik sus"
Andhika pun langsung diinfus oleh sister itu dan diberi vitamin agar darahnya bisa normal kembali. sekarang Andhika sedang berjalan sambil memegang sebuah tiang infus dan berjalan menuju keluarganya.
"loh bang? Lo pake infusan?" tanya Arya.
"tau, susternya bilang suruh diinfus" jawab Andhika datar.
"gk teriak-teriak ka? kamu kan takut sama jarum suntik?" goda Yufi .
"engga sampe teriak-teriak juga lah ma"
"iya iya"
1 jam berlalu, Andhika sudah tidak diinfus lagi dan semua sudah berkumpul di ruang tunggu dan sedang menantikan kedatangan adik Rara yang baru saja dikabari.
"sore, maaf apa benar ini ruangan mbak Rara?" tanya laki-laki sepertinya dia adiknya Rara.
"sore, iya ini ruangan Rara. duduk sini nak" ajak Yufi.
oke, buat Nilam dan Arlan? mereka pulang duluan karena ada masalah kecil di kantornya dan sekarang tinggal Yufi Alma Andhika dan Arya.
"maaf saya Revan adiknya mbak Rara, kalau boleh tau apa yang terjadi dengan mbak Rara?" tanya Revan ke Alma.
"aku juga gk tau Gimana detik-detik nya. yang aku tau pas aku pulang sekolah, di jalan udah agak macet terus banyak kerumunan orang. pas aku liat ya mbak Rara udah kek gitu" jelas Alma
"astagfirullah, gue gak akan maafin orang yang nabrak mbak Rara!!"
"udah tenang ya, gue yakin kalo yang nabrak bakal kena balesan nya" Alma menepuk pundak Revan.
"makasih ya" Revan menatap Alma.
"Alma!!!" teriak____
RARA SAPUTRI.
END
BERSAMBUNG~