
"ya gue berhak dong Al Lo kan istri gue jadi istri harus mengabdi pada suami" ujar Arlan.
"au ah! gak bakal nemu ujungnya kalo ngomong sama titisan kadal!"
karena tak mau berdebat, Alma lebih memilih mengalah karena tau spesies seperti Arlan itu sangat keras kepala melebihi kepala kambing yang perang head to head.
8 menit perjalanan, mereka sudah sampai di tempat yang mereka tuju. Arlan segera keluar dan memesan.
Alma yang sedang badmood pun tak ikut turun dan tetap stay di dalam mobil dengan raut wajah yang terlihat bete.
pesanan pun sudah siap. Arlan segera memasuki mobil dan melajukan mobilnya.
ia tak terlalu memperdulikan Alma yang tetap diam karena fokus dengan jalanan dan sikap dinginnya yang mulai kumat.
_______
"nih Seblaknya semuanya sama. tinggal pilih aja" ucap Arlan yang menaruh 4 kantung kresek yang berisikan Seblak.
"wah makasih nih ye udah ditraktir lagi" ujar Miko.
"makasih" ucap serentak ArAl dkk.
"eh Al. kenape lu?" tanya Revan yang menyadari jika Alma sedang kesal.
"gapapa!" jawab Alma yang membuka Seblak nya dengan kasar.
Arlan yang melihat itupun sedikit merasa bersalah. ia ingat jika Alma sedang melalui siklus menstruasinya. jadi Alma akan lebih sensitif dari biasanya.
Arlan yang duduk di sebelah Alma mulai membukakan Seblaknya dan memesankan segelas es teh untuk Alma.
Ghavin yang melihat itupun merasa kesal dan cemburu karena gadis yang ia sukai dipacari kakak sahabatnya.
sebenarnya Danish juga merasakan hal yang sama tetapi ia bisa apa? dia tau posisinya sekarang.
"udah tuh makan" ucap Arlan.
"hm" ucap Alma cuek.
***
bel sekolah berbunyi, mereka pun bergegas masuk ke dalam kelas dan mengikuti jam pelajaran mereka.
berjam-jam mengikuti pelajaran, akhirnya jam pulang pun tiba.
seperti biasa, Arlan akan menunggu di kursi sebrang kelas Alma.
"kenapa? gue pulang naik taksi aja" ketus Alma.
"kenapa naik taksi kalau ada yang gratis?"
"gratis iya tapi lebih nyaman pake Taksi daripada Semobil sama titisan iblis pink!"
"au ah serah! yang penting sekarang kita pulang daripada debat disini!"
Arlan segera menarik tangan Alma dan Alma hanya diam tak berkutik.
sesampainya di parkiran, Arlan membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Alma masuk.
"sana masuk!"
setelah masuk, Arlan segera menyusul dan menyalakan mesin mobilnya.
saat hendak menginjak gas nya, Arlan melihat sabuk pengaman Alma yang belum dipakainya. Arlan segera meraih sabuk pengaman itu lalu memasang.
perlakuan itupun membuat Alma terkejut karena matanya yang mengarah ke jendela luar tiba-tiba ada sebuah tangan yang meraih sesuatu dan membuat wajah mereka tak berjarak.
Alma hanya memandang dan menatapnya. Arlan yang sibuk memasang sabuk pengaman itu pun mulai sadar jika ia sedang diperhatikan.
saat mendongakkan kepalanya, mata Arlan dan Alma pun bertemu. deru nafas mereka pun terasa.
diam sejenak dan rasakan. kedua mata hitam yang saling besitatap dengan muka datar.
klakson motor yang lewat membuat mereka tersadar dan membuat mereka memalingkan wajah masing-masing. Arlan segera melajukan mobilnya untuk pulang.
setelah menempuh perjalanan pulang, sampailah mereka didepan gerbang rumah yang menjulang tinggi dan terkesan mewah itu.
Arlan meng klakson untuk membukakan gerbang dan gerbang pun terbuka.
Arlan segera memasukkan mobilnya itu ke dalam garasi lalu mematikan mesin mobilnya.
"gue duluan!" ketus Alma yang melepaskan sabuk pengamannya lalu pergi meninggalkan Arlan yang seorang diri di dalam mobil.
"hadehhh! tu anak ada aja acaranya!" gumam Arlan.
END
BERSAMBUNG~